
Ritz-Carlton Hotel New York, ballroom area lelang
"Lelang pertama adalah wine Cabernet Sauvignon tahun 1960... Kita buka di harga $30,000." Suara Pejabat lelang terdengar di ballroom itu. Ajeng hanya melongo mendengar harga satu botol minuman bewarna merah itu.
Memangnya seenak itu kah? - batin Ajeng. Kayaknya masih enak sirup Marjan deh...
"Ya, nomor 9. Ada lagi?"
Ajeng menolehkan kepalanya untuk melihat siapa yang menawar. Dante Mancini? Ajeng menatap Bayu yang hanya menepuk tangan gadis itu.
Seberapa kayanya kah seorang Dante Mancini? Tiba-tiba kepala Ajeng terasa pening. Keluarga O'Grady sendiri disinyalir memiliki kekayaan aduhai, apalagi keluarga besar Pratomo? Tunggu, keluarga Bianchi dan Mancini Turin kan pengusaha wine dan anggur... Ajeng memegang pelipisnya. Ya wajar kalau menawar, kan mereka juga seorang kolektor.
Bayu melirik ke arah Ajeng yang tampak sibuk dengan pikirannya sendiri. Diam-diam pria itu tersenyum tipis karena merasa gemas dengan sekretarisnya yang terpana dengan acara lelang.
Akhirnya wine langka itu terjual dengan harga $74,000 dan yang membelinya adalah Antonio Bianchi. Ajeng menjadi semakin pusing. Duh, mereka itu yaaa. Jeng, Ajeng.... level kamu berbeda. Level mu itu mendang mending, sedangkan mereka di level nirwana.
Beberapa wine dikeluarkan dan Dante Mancini akhirnya mendapatkan Cheval Blanc di harga $100,000. Ajeng langsung terbayang bonus enam digitnya disamakan dengan minuman yang sekali teguk saja.
Ya ampun Jeng, pola pikir mu dirubah, ini bukan Solo ya Jeng. Ajeng menyandarkan punggungnya di sandaran kursi merasa lelah mendengar bagaimana para kaum elit bisa mengeluarkan uang sedemikian mudahnya.
"Kamu kenapa Jeng?" bisik Bayu.
"Saya pusing pak. Baru kali ini saya ikut lelang dan mereka tampak tidak sayang uangnya..." jawab Ajeng apa adanya.
"Selamat datang di dunia kami Jeng."
Ajeng hanya menatap melas ke Bayu. "Pak, sepertinya saya tidak cocok disini... Tidak cocok ikut lingkungan bapak..."
Bayu terkejut dengan pernyataan Ajeng. "Pelan-pelan Jeng... Kamu nanti akan terbiasa."
Ajeng menggelengkan kepalanya. "Saya ingin pulang pak, kepala saya pusing."
Bayu menatap gadisnya yang tampak tidak enak badan. Pria itu lalu memberikan kode kepada Radeva kalau dia pulang duluan. Beruntung saat itu sedang jeda lelang.
"Kamu mau kemana?" tanya Dante melihat Bayu menggandeng tangan Ajeng berjalan keluar dari ballroom.
"Mengantarkan Ajeng pulang..."
"Maaf, hari pertama Mbak Leia, pak Dante" senyum Ajeng.
"Oh pantas. Dah tidak apa-apa. Hari Pertama memang tidak nyaman" senyum Leia maklum.
"Kami pulang dulu." Bayu mengangguk kepada semua keluarga dan koleganya.
"Hati-hati" ucap Antonio dan Alexis.
Bayu dan Ajeng keluar dari ballroom setelah mengambil Coat mereka yang dititipkan lalu langsung dikawal Hunter dan Doogie menuju area parkiran.
__ADS_1
"Kok sudah pulang? Lelang nya sudah selesai?" tanya Hunter.
"Belum tapi Ajeng lagi nggak enak badan." Bayu memeluk Ajeng yang sudah memakai coatnya. Gadis itu tampak pucat dan Bayu takut jika tiba-tiba pingsan kan bisa berabe.
"Bawa ke apartemen Ajeng atau apartemen kamu Bay?" tanya Doogie usai masuk ke dalam mobil.
"Apartemen aku. Apartemen Ajeng kejauhan."
"Resiko ditanggung penumpang lho Bay. Aku dan Doogie tidak ikutan kalau Tante Gandari tahu kamu bawa Ajeng ke apartemen kamu" tukas Hunter.
"Kamu lihat sendiri muka Ajeng pucat begini? Setidaknya kan apartemen aku dekat dengan apartemen Bee dan Samuel. Kalau ada apa-apa, dekat lah!" sahut Bayu sambil menyandarkan kepala Ajeng ke bahunya.
"Baiklah..." Doogie menstater Range Rover milik Bayu dan mereka pun menuju apartemen Bayu.
***
Apartemen Bayu di Manhattan
Bayu menggendong Ajeng yang tampak lemas menuju apartemennya. Bayu tidak tahu kenapa tiba-tiba gadisnya mengatakan hal yang tidak-tidak dan kesannya dirinya merasa tidak pantas berada di kaum high class.
Ajeng hanya pasrah di dalam gendongan Bayu karena kepalanya sangat sakit dan terasa semuanya berputar.
"Sabar ya Jeng, kita segera sampai" ucap Bayu di dalam lift bersama Hunter dan Doogie.
"Kayaknya Ajeng terlambat makan deh, jadi asam lambungnya naik." Hunter juga tampak khawatir melihat gadis Indonesia yang sudah dianggap seperti adiknya sendiri itu tampak tidak berdaya. "Jeng, segera sehat. Aku lebih suka melihat kamu durjana ke Bayu daripada sakit begini."
Suara lift sampai di lantai apartemen Bayu berbunyi dan Doogie segera membuka pintu apartemen Bayu dan Bayu bergegas membawa Ajeng ke kamarnya yang terdapat tempat tidur luas.
"Jeng, maaf tapi Coat mu harus dibuka" ucap Bayu lembut sambil membukakan Coat panjang milik Ajeng yang hanya pasrah. Bayu juga melepaskan sepatu high heels milik Ajeng dan diletakkan di bawah tempat tidur. Pria itu menarik selimutnya dan menyelimuti Ajeng yang tak lama memejamkan matanya.
Bayu melepaskan jas dan dasinya lalu membuka dua kancing atas kemejanya serta menggulung lengannya. Dilihatnya Ajeng terlelap dan Bayu mengusap kepala gadis itu lalu mencium keningnya. Perlahan pria itu keluar tanpa menutup rapat pintu kamarnya.
"Bagaimana Ajeng?" tanya Hunter yang sedang menyiapkan air panas untuk teh dan kopi.
"Tidur."
"Sebenarnya ada apa sih Bay? Tadi berangkat baik-baik saja" tanya Doogie bingung.
"Katanya baru dapat hari pertama..." jawab Bayu apa adanya.
Hunter dan Doogie saling berpandangan. "Pantas..."
"Aku telpon mbak Bee buat periksain Ajeng." Bayu pun menelpon kakak sepupunya. "Wa'alaikum salam mbak Bee. Mbak dimana?"
***
Kamar Bayu O'Grady
__ADS_1
Ajeng mengerjapkan matanya dan melihat seorang wanita cantik dengan wajah judes dan memiliki mata abu-abu sedang menatapnya intens. Ajeng melihat dirinya diinfus dan membuat nya bingung. Kok aku sampai diinfus?
"Halo. Aku Blaze Bianchi, kakaknya Bayu. Bagaimana keadaan kamu?" sapa wanita canti itu.
"Bla...ze Bian..chi? Sahabat...dokter Victoria...Black?" tanya Ajeng perlahan.
"Yup. Kamu sering pingsan nggak Jeng?" tanya Blaze tanpa basa basi.
Ajeng menggelengkan kepalanya.
"Kamu terakhir makan jam berapa?"
"Jam makan siang..."
"Habis itu kamu belum belum makan lagi kan? Minum apa kamu di acara lelang tadi?" cecar Blaze.
"Sparkling water..."
"Makan sesuatu disana ?"
Ajeng menggeleng. "Keasyikan mengobrol."
"Yup. Itu yang membuat kamu naik asam lambung nya. Ini aku berikan infus supaya badanmu kondisinya benar lagi. Obat juga sudah aku masukkan di dalam infus." Blaze menatap Ajeng serius. "Apa benar kamu hari Pertama?"
Ajeng hanya diam.
"Jeng, kamu tidak masa periodenya, aku sudah memeriksa tadi. Maaf tapi aku harus memeriksa kamu secara menyeluruh. Jadi, selain asam lambung kamu naik karena perut kosong, aku rasa ada sesuatu yang memicu nya Jeng. Aku seorang dokter Jeng, hapal kenapa seseorang mengalami hal seperti kamu. Karena ada yang memicunya."
Ajeng menatap selimut yang menyelimuti dirinya.
"Apakah Bayu? Dia apain kamu?"
Ajeng tampak terkejut. "Bukan... bukan pak Bayu..." ucapnya lekas-lekas.
"Lalu? Apa Jeng?"
Ajeng menghela nafasnya berulangkali. "Saya sendiri yang memicu mengalami asam lambung..."
Blaze semakin bingung. Fix gadis ini pasti terlalu over thinking tapi apa?
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️