My 100th Secretary

My 100th Secretary
Ke Poughkeepsie New York


__ADS_3

Ballroom St Regis Hotel New York


Para tamu undangan tampak tertawa geli melihat kehebohan keluarga Sultan itu yang seolah tidak perduli dengan sekitar karena lebih mementingkan peristiwa Lamaran yang romantis tapi bikin rusuh.


Ajeng dan Bayu saling berpandangan lalu keduanya tertawa karena ternyata tidak hanya mereka yang kacau tapi Nadya dan Omar juga sami mawon!


"Mas Bayu, apa Oom Travis nggak ngamuk tuh?" bisik Ajeng yang melihat wajah terkejut Travis dan Rahajeng Blair saat mendengar kata 'Again'.


"Well, benar kata trio kampret... Hanya keluarga Blair yang epic kacaunya..." gumam Bayu yang melihat Travis Blair mendatangi Omar usai mencium bibir Nadya.


Semua orang terdiam dan terdengar nada tegas serta dingin dari pengacara senior itu. "Zidane ! A Word !" Pria bermata biru itu pun berbalik dan Omar Zidane berjalan mengikuti Travis usai memegang tangan Nadya.


"Alamat disidang macam Aku dan Alexis deh!" kekeh Antonio Bianchi ke istrinya, Savrinadeya McCloud yang hanya tersenyum manis.


Keluarga kami memang kacau, bang ucap Savrinadeya dengan menggunakan bahasa isyarat.


"Tapi aku suka. Kacau yang terhaqiqi dan terstruktur" sahut Antonio yang mendapatkan cubitan mesra Savrinadeya di lengannya.


Acara resepsi itu pun dilanjutkan dan menjelang pukul sepuluh malam, para tamu pun pulang dan para generasi keenam bersiap-siap menuju Poughkeepsie.



Yang ajang resepsi nya jadi rusuh



Gaunnya Ajeng pas resepsi


***


Presidential Suite St Regis Hotel New York, milik Bayu


Ajeng menatap suaminya... Cieee demi dari Cinere ke Cijantung, suami bok!


Bayu yang sedang membuka jas dan melepaskan tuxedonya, menoleh ke arah Ajeng yang tampak melamun. "Kamu kenapa Jeng?"


"Mas..."


"Apa?"


"Ikut ke Poughkeepsie... Boleh?" Ajeng menatap penuh harap.


"Mau lihat kayak apa?"

__ADS_1


Ajeng mengangguk. "Penasaran melihat koleksi senjata kalian. Kata mbak Dira dan Veena, banyak tapi kata mbak Leia itu belum seberapa dibandingkan yang di London dan Tokyo serta Dubai."


Bayu melongo. Dasar Leia ! "Ya udah, yuk ganti baju, kita ke Poughkeepsie."


"Naik apa mas kesana?" tanya Ajeng sambil menghampiri Bayu dan memunggungi suaminya. "Tolong mas, kancing di belakang."


"Deva dan Devan sudah menyiapkan bis." Bayu melepaskan kancing-kancing di bagian belakang gaun Ajeng. "Duh Jeng, kalau nggak ingat pasukan durjana, durjaksa, durpengacara dan durhakim, aku sudah bawa kamu ke kasur deh !"


"Sabar mas. Kata Oma Kaia, aku bakalan mbok kekepi seumur hidup kamu, ora bakalan Ono sing main sita kok" senyum Ajeng sambil berbalik ke arah Bayu. Gadis itu mengalungkan tangannya ke leher suaminya lalu mencium bibir Bayu dan pria itu langsung membopong istrinya macam koala tidak perduli besarnya gaun Ajeng.


Bayu meletakkan tubuh Ajeng diatas tempat tidur empuk itu dan melepaskan gaun pengantin istrinya pelan - pelan karena dirinya juga sayang kalau sampai rusak. Kan bisa dipakai putriku nanti kalau menikah. Bayu tersenyum dalam hati. Unboxing saja bakalan gagal gara-gara pasukan huru hara kok sudah memikirkan punya anak perempuan.


Gaun pengantin itu pun diletakkan Bayu diatas sofa dan Ajeng hanya mengenakan korset serta penutup area bawahnya yang bewarna putih. Bayu merasakan miliknya mulai bereaksi dan segera mencium bibir Ajeng yang membuka kancing kemeja suaminya. Dan pada saat Ajeng melepaskan kemeja putih itu, suara telepon kamar mereka berbunyi membuat kegiatan mereka terhenti.


Bayu dan Ajeng yang masih memburu nafasnya saling berpandangan. Tak lama Ajeng mendengar semua umpatan berbagai bahasa khas Bayu yang kemudian berguling dari atas tubuh istrinya dan menerima telepon yang berbunyi tanpa akhlak.


"Apa !" bentak Bayu sedangkan Ajeng turun dari tempat tidur dan mengambil baju casualnya dari dalam koper lalu menuju kamar mandi.


"Duh galak nya ... Apakah kami menganggu kalian lagi ihik-ihik?" goda Shinichi tanpa ada rasa takut disana.


"Eh kampret tiga, ada apa ? To the point !"


Shinichi melongo. "Beneran? Mas Bayu tadi lagi ihik-ihik sama mbak Ajeng? Wooiii mas, mbok sabar tho ! Ayo siap-siap! Sepuluh menit lagi pada kumpul di lobby. Mbak Ajeng ikut nggak?"


***


Bayu dan Ajeng turun ke lobby sambil bergandengan tangan. Keduanya tampak kompak dengan mengenakan kaos hitam, jaket hitam dan celana jeans biru serta sepatu boot.


"Sabar sek tho Yu... Seumur hidup kok, tenang saja" goda Samuel yang berdiri bersama Blaze. "Jeng, semoga besok pagi bangun, jangan sampai macam Bee ya. Lupa kalau sudah menikah dan main jotos aku." Samuel melirik ke arah istrinya yang melengos. "Bayu saksinya."


"Kok bisa mbak? Lupa kalau sudah menikah?" tanya Ajeng geli.


"Namanya juga lupa" jawab Blaze cuek.


"Ini para istri dan pacar ikut semua?" Luke melihat hampir semua ikut kecuali Elane, Gemintang dan Zinnia karena Alisha lagi rewel. Sean pun membatalkan ikut sebab Avaro ikutan tantrum kalau saudara kembarnya sedang sakit. Alisha memang sedang tidak enak badan akibat kecapekan.


"Cukup nggak bisnya Deva?" tanya Dante.


"Cukup, aku sewa tiga kok" jawab Radeva.


Para generasi keenam klan Pratomo itu pun masuk ke dalam bis mewah yang disewa Radeva dan Devan lalu menuju gedung milik keluarga McGregor dan Blair di Poughkeepsie.


***

__ADS_1


Gedung Milik keluarga McGregor dan Blair Poughkeepsie New York


Ajeng melihat sebuah bangunan yang terbuat dari bata merah dan mungkin sudah berusia lebih dari seabad dengan tatapan tertarik. Gadis itu memperhatikan Radeva yang turun dari bis memasukkan password dan retina recognition serta sidik jari disebuah alat yang tersembunyi di tembok gerbang. Tak lama pintu gerbang besar dengan ditutupi baja itu terbuka, dan Radeva masuk ke dalam bis lagi. Tiga bis mewah itu pun masuk dan semua orang pun turun, tidak terkecuali Bayu dan Ajeng.



Halaman luas dengan tatanan taman yang asri dan terawat dilengkapi dengan keamanan tingkat tinggi, membuat suasana area ini memang area private dan tidak sembarangan orang bisa masuk.


"Ini bekas apa mas?" tanya Ajeng sambil melihat sekelilingnya.


"Ini dulu bekas sekolah kemudian jadi pabrik lalu mangkrak. Kamu lihat bangunan di sebelah sana?" Bayu menunjukkan sebuah bangunan yang juga menggunakan bata merah.


"Iya."


"Itu gedung Jang Corp. Pusatnya. Tempat semua peralatan spionase dibuat disan. Kalau gedung ini dulu bekas pabrik mangkrak dibeli oleh Opa buyut ku Duncan McGregor untuk aset saja terus oleh opa Edward Blair dirubah menjadi tempat latihan dan opa Duncan Blair semakin meningkatkan fungsinya. Sekarang menjadi tempat kita healing."


"Apa semua orang bisa masuk?" tanya Ajeng.


"Hanya keluarga dan pengawal terpilih karena isinya sangat wow !" senyum Bayu yang membawa Ajeng masuk. Di dalamnya, Ajeng melongo melihat bagaimana modernnya interior gedung itu dibandingkan luarnya. Tempat matras untuk bela diri, ring tinju, semua peralatan gym ada disana. Ajeng melihat para pengawal masing-masing generasi keenam juga ada di gedung itu.


"Kamu belum melihat yang bagusnya." Bayu mengajak Ajeng semakin ke dalam dan gadis itu melihat arena untuk latihan menembak yang bisa menampung sepuluh orang berjejer.


"Keren..." ucap Ajeng.


"Masih ada yang lebih keren lagi." Bayu mengajak Ajeng ke pintu besi dan pria itu membuka dengan kode dan sidik jari. Mata Ajeng terbelalak melihat banyaknya jumlah senjata disana baik api, tajam maupun panah.


"Ya Allah..."


"Gimana?" tanya Bayu.


"Aku mau coba !" jawab Ajeng penuh semangat.


Bayu tersenyum senang. "That's my wife !"


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2