My 100th Secretary

My 100th Secretary
Diajak Makan Siang


__ADS_3

Ruang Kerja Bayu O'Grady PRC Group Building Manhattan New York


Bayu membawa sang ibu duduk di sofa dan menatap wanita yang sangat dicintainya. "Mom, ada apa mommy kemari?" tanyanya sambil duduk berhadapan dengan Gandari.


"Jadi itu sekretaris kamu yang baru? Yang keseratus?" Gandari mengacuhkan pertanyaan putra semata wayangnya.


"Iya. Namanya Ajeng Pratiwi."


"Usia? Orangtuanya? Asli mana? Lulusan mana? Sejauh mana dia tabah sama kamu?" cerocos Gandari membuat Bayu melongo.


"Mom! What the hell? Mommy mendadak jadi emak-emak HRD?"


"Dia kan yang membuat kamu tidak konsentrasi di Brussels?" tembak Gandari. "Dengar Angin topan bukan anak jalanan..."


"Ali Topan anak jalanan, mom..." koreksi Bayu.


"Suka-suka mommy karena ini adalah hak prerogatif seorang emak!" balas Gandari judes. "Jawab pertanyaan mommy tadi!"


"Ajeng usianya 24 tahun, kedua orangtuanya dokter yang menjadi relawan waktu ada wabah di Suriname tapi akhirnya malah menjadi korban disana saat Ajeng kuliah. Dia bekerja sambil kuliah jurusan bisnis, sudah lulus dan dia asli Solo. Sudah punya green card juga kok."


Gandari menatap wajah putranya yang gabungan wajah Abiyasa, Rhett O'Grady dan Edward Blair tapi sifatnya campuran Abimanyu Giandra, Edward dan Abiyasa. "Kamu naksir dia?'


Bayu terkejut. "Hah? Naksir? No, mom. Gemas iya!! Dia sekretaris paling ngeyel yang pernah bekerja sama aku! Gemma saja nggak sengeyel Ajeng!"


Gandari menyipitkan matanya untuk mencari kebohongan dari mata biru putranya dan feeling seorang ibu pasti tidak pernah salah. Gandari yakin Bayu ada perasaan khusus ke Ajeng tapi tetap tidak menyadarinya.


"Ngeyelnya macam gimana?"


"Kalau ngomong sama aku pakai bahasa Indonesia mix Jawa. Padahal sudah aku tegur tapi tetap saja dia ngomong dengan dua bahasa itu. Dia juga keras kepala kalau sudah punya opini."


Gandari tersenyum smirk. Lha podho Karo Kowe tho cah bagus ( lha sama dengan kamu tho anak ganteng ). Ajeng itu gambaran kamu!


"Biar mommy nilai sejauh mana dia ngeyelnya!" Gandari pun berdiri dan menuju pintu.


"Mom! Mom mau ngapain?" Bayu mengejar Gandari.


"Interogasi dan interview sekretaris kamu!" jawab Gandari cuek.

__ADS_1


Bayu hanya bisa mematung, tidak bisa membantah dan melarang ibunya kalau sudah punya karep ( keinginan ).


***


Ajeng menunggu sampai Gandari keluar dari ruangan Bayu karena dia hendak memberikan permohonan para klien, kolega dan partnership yang hendak bertemu dengan Bayu langsung. Ajeng merasa tidak enak jika harus mengganggu perbincangan antara ibu dan anak itu.


Suara pintu ruang kerja Bayu terdengar dibuka dan tampak Gandari menatap Ajeng tajam membuat gadis itu sedikit keder melihat raut wajah ibu suri. Jebule mas Kal-el nurun emaknya kalau soal judes perjudesan ...


"Kamu masih ada pekerjaan yang penting tidak Jeng?" tanya Gandari dingin.


"Errr hanya hendak memberikan berkas ini ke pak Bayu, Bu Gandari" jawab Ajeng sopan dan formal dengan bahasa Indonesia karena Gandari bertanya menggunakan bahasa Indonesia juga.


"Kamu kasih ke Bayu sekarang lalu ikut saya!"


"Kemana Bu?" tanya Ajeng.


"Makan siang!"


Ajeng tertegun.


"Sejujurnya saya sudah ada janji dengan Alesha, divisi desain tapi jika saya harus makan siang dengan ibu, saya bisa rain check ( menundanya ) ke dia" jawab Ajeng tenang.


Dalam hatinya Gandari memberikan nilai plus ke Ajeng yang mengatakan apa adanya.


"Ya sudah, kamu serahkan itu ke Bayu, lalu ikut saya. Kamu kan bisa bilang ke Alesha di perjalanan." Gandari memberikan kode ke Ajeng untuk masuk ke dalam ruangan Bayu untuk menyelesaikan tugasnya.


"Pak Bayu, ini semua permintaan pertemuan dengan semua orang yang sudah menghubungi saya pada saat bapak pergi. Untuk jadwal Minggu ini, sudah saya kirimkan ke kalender digital bapak di iMac bapak. Mohon diperiksa kembali" ucap Ajeng ke Bayu yang berdiri di ruang kerjanya dengan terus menatap ibunya.


"Thanks Ajeng" ucap Bayu sambil menerima map tebal dari beludru itu.


"Ajeng, ayo!" ucap Gandari tidak sabaran.


"Baik Bu." Ajeng pun keluar dari ruang kerja Bayu dan mengambil tasnya yang sudah dia siapkan karena hendak makan siang dengan Alesha tadinya tapi perubahan cuaca... eh acara membuat semuanya harus dischedule ulang.


Ajeng pun mengekor Gandari yang pergi tanpa mengatakan apapun pada Bayu. Disaat hendak masuk lift, Alesha melihat Ajeng bersama dengan Gandari dan gadis itu hanya mengangguk ke Ajeng paham bahwa mereka harus membatalkan makan siang berdua karena ibu Bayu O'Grady datang.


***

__ADS_1


Di dalam mobil Gandari


"Kamu sudah bekerja dengan Bayu berapa lama?" tanya Gandari saat berada di dalam mobil.


"Hampir tiga bulan Bu."


"Bagaimana? Betah? Atau karena iming-iming bonus enam digit?" selidik Gandari.


"Bolehkah saya berbicara jujur Bu?" Ajeng menatap Gandari serius.


"Silahkan. Saya lebih suka kamu bilang apa adanya." Gandari sengaja bersikap seperti ibu yang menyebalkan demi mengorek siapa gadis di hadapannya meskipun Astuti sudah bilang kalau Ajeng gadis yang baik.


"Munafik jika saya tidak tergiur dengan tawaran kompensasi enam digit di dollar Amerika untuk bisa bertahan setahun dengan pak Bayu. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, saya sangat mencintai pekerjaan saya. Meskipun terkadang saya harus mengelus dada membaca tulisan tangan pak Bayu yang bentuknya melebihi jelek nya ceker ayam dan dokter sekalipun!" Ajeng membasahi bibirnya. "Baru kali ini saya mendapatkan pekerjaan yang lingkungannya sangat kondusif dan kekeluargaan. Setidaknya saya hanya mengurus Pak Bayu, tidak seperti pada saat saya bekerja di butik."


"Jika kamu bisa bertahan setahun, apakah kamu akan keluar dan mengambil kompensasi enam digit itu?" tanya Gandari.


"Bisa jadi Bu. Sebab dengan uang sebanyak itu, saya bisa kembali ke Solo dan berwirausaha disana. Meskipun di New York saya mendapatkan banyak cuan tapi bagaimana pun hujan batu di negeri sendiri itu lebih nyaman."


Gandari tertegun mendengar jawaban Ajeng. Alamat si Twister bisa patah hati kalau gadis ini kembali ke Solo. "Kalau misalnya Bayu meminta kamu tetap menjadi sekretarisnya, meskipun kamu sudah mendapatkan uang kompensasi itu, bagaimana?"


Ajeng terdiam. "Saya belum bisa menjawabnya sekarang, Bu."


"Kenapa?"


"Kita tidak tahu kedepannya nasib saya usai setahun kontrak bagaimana. Dan untuk sementara, saya memang berkeinginan untuk kembali ke Solo usai saya menyelesaikan pekerjaan disini." Ajeng tersenyum manis. "Dan saya bukan seorang gambler karena saya tidak pernah beruntung soal gambling."


Gandari mengangguk. Satu lagi nilai plus Gandari ke Ajeng yaitu gadis satu ini realistis dan tidak ada tendensi apapun ke Bayu.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2