My 100th Secretary

My 100th Secretary
Ajeng Puyeng


__ADS_3

Ruang Para Wanita Generasi Keenam


Ajeng menyesap tea bobanya sembari melihat kehebohan para sepupu Bayu yang ternyata tidak berbeda jauh dengan yang pria. Rusuh, Membagongkan dan ... ancur. Gadis itu bisa melihat bagaimana Gemma tampak luwes berbaur dengan para calon iparnya.


Ya iyalah, Gemma kan sudah ikut bang Tomat... Eh bang Antonio dulu terus ikut mas Kal-el, jadi sudah paham lah bagaimana keluarga Sultan ini. Mana calon suaminya Emir pulak... Benar-benar Gemma sangat beruntung...


"Halo?"


Ajeng menoleh dan melihat seorang wanita cantik berhijab pink duduk di sebelahnya. Siapa lagi ya ini? Duh mas Kal-el, Kowe nduwe sedulur kok ya akeh men tho ya. ( Kamu kok punya saudara banyak banget sih ). Apalanku bubar Kabeh !


"Halo. Mbak siapa ya?" tanya Ajeng dengan bahasa Indonesia karena melihat ada darah Melayu di wajah wanita itu.


"Aku Elane... tunangannya mas Eagle, adiknya mbak Nadira. Kamu Ajeng ya? Pacarnya mas Bayu?" sapa Elane dengan suara lembut sembari mengulurkan tangannya yang disambut Ajeng.


"Iya. Aduh Alhamdulillah... Ada yang bisa bahasa Indonesia... Aku sudah pusing mendengar para wanita disana ngobrol dengan berbagai macam bahasa. Aku kan cuma bisa bahasa Jawa, Indonesia, Inggris dan bahasa kalbu." Wajah Ajeng tampak lega.


Elane tertawa kecil. "Sebenarnya aku keturunan Korea Malaysia tapi memang bisa bahasa Melayu. Indonesia Melayu kan hampir mirip meskipun satu kata jadi beda arti kadang - kadang."


"Mbak Elane nggak pusing dengan keluarga Sultan ini?" tanya Ajeng.


"Duh Jeng, panggil Elane aja. Kan sepertinya kita sebaya deh..." senyum Elane yang membuat Ajeng terpana.


Ya Allah ayunee. Pantas kalau masuk jadi bagian keluarga Sultan ini.


"Eh ... Gitu ya."


Elane mengangguk. "Aku awal juga kaget kok Jeng. Sampai pusing hampir pingsan karena bingung menghapal satu persatu tapi Alhamdulillah mas Eagle selalu bantuin aku. Meskipun tampaknya mereka sedikit mengintimidasi tapi aslinya baik-baik lho ... " Elane berbisik. "Kadang suka lupa mereka itu siapa. Mbak Zee malah sering nggak ingat kalau dia ratu Belgia."


Ajeng cekikikan. "Ternyata sebagai orang luar yang tahunya keluarga Sultan ini kesannya sombong tapi ternyata setelah aku terlibat dengan kekacauan di Jakarta, aku melihat bagaimana bobroknya mereka..."


"Hobinya saling menistakan sesama kan Jeng?" kekeh Elane.


"Iya lho El. Ampun deh ! Aku sampai... Astaghfirullah... Kalian itu apa nggak sadar kalau kalian itu kebanyakan orang-orang yang ditakuti di dunia bisnis lho..." Ajeng menggelengkan kepalanya. "Dan ini pertama kalinya aku kumpul dengan kalian semua."


Elane menepuk tangan Ajeng lembut. "Disini semuanya sangat welcome karena sebelumnya kita itu di screening Jeng."


"Iya, pak Bayu juga bilang begitu."


Elane menoleh bingung. "Pak?"


"Eh kebiasaan..." Ajeng menggaruk kepalanya kikuk.

__ADS_1


Elane tertawa kecil.


"Kamu dan Mas Eagle kapan, El?"


"Insyaallah besok Mei. Kami maunya sederhana saja hanya keluarga yang datang. Soalnya kan kita sudah pesta wah di Dubai dan mas Eagle hanya ingin yang simpel saja."


"Rencana di kota mana?" tanya Ajeng lagi.


"London. Dan Opa Arjuna, opanya mas Eagle, minta acara dilaksanakan di kastil keluarga McCloud."


Ajeng terbelalak. "Kastil? Kastil macam di cerita putri dan pangeran itu?"


Elane mengangguk. "Kastil itu memang milik keluarga McCloud turun temurun. Dulu katanya menjadi mas kawin Opa buyyt Elang ke Oma buyut Rain. Sekarang ditinggali Opa Arjuna dan Oma Sekar." ( Baca Elang Untuk Rain )


Ajeng semakin pusing. Kastil buat mas kawin. Alamaaakkk... Iki keluarga opo tho Yaaaa?


"Oh biasanya Jeng, kalau acara pernikahan di Dubai, pasti ada even balapan di Autodrome Dubai. Kan kamu tahu sendiri saudara kembar Raine, Radhi itu pembalap F1 dari Ferrari. Jadi mereka suka menyewa arena sirkuit balapan mobil itu buat keluarga sendiri."


"Ba... balapan? Sewa sirkuit?" cicit Ajeng.


Elane tertawa melihat wajah pucat Ajeng. "Kamu seperti aku awal bersama keluarga mas Eagle. Oh, kamu harus ikut kalau mas Bayu ngajak kamu ke sirkuit. Koleksi mobil mereka ada kayaknya 100 mobil mewah dan Supercar."


Kepala Ajeng makin berdenyut. "Sera...Tus mobil?! Bayar pajaknya gimana?"


Ajeng hanya memegang pelipisnya. "Aku ora ( tidak ) lucu, El... Aku puyeng."


Elane memeluk Ajeng sambil cekikikan. "Welcome to keluarga Sultan yang wow !"


***


Ajeng merasa senang bisa satu kamar dengan Kedasih Jayanti, pacar Shinichi Park. Kamar mereka berada di sayap kiri istana. Para orang tua sengaja mengatur para gadis-gadis yang masih berstatus kekasih anak-anak mereka untuk menginap di istana Al Jordan, bukan di hotel karena banyaknya kamar kosong dan menjaga dari kemodusan putra - putra mereka.


"Mbak Ajeng kenapa?" tanya Kedasih melihat gadis itu tampak kebingungan.


"Dasih, eh boleh kan aku panggil begitu?" Ajeng menatap gadis blasteran Jepang Indonesia itu.


"Boleh mbak. Mbak Ajeng bingung ya? Bingung sama keluarga mas Shin?" senyum Kedasih.


"Jujur iya. Ya Allah kalian itu ... Satu, sudah banyak dan membuat aku pusing. Kedua, kalian itu bangsawan, pengusaha terkenal, dokter, ilmuwan... tapi kok bobrok..."


Kedasih tertawa terbahak-bahak. "Mbak Ajeng baru melihat sebagian kecil. Mbak Ajeng belum ketemu mas. Shin. Dijamin mbak, kamu akan lebih pusing menghadapi pacarku itu!"

__ADS_1


"Memang kenapa Dasih?" tanya Ajeng bingung.


Kedasih pun menceritakan bagaimana Shinichi Park yang super Membagongkan hingga membuat Ajeng tertawa terbahak-bahak.


"Astaghfirullah... bulu ketek singa? Kok ya kepikiran ya bilang begitu?" gelak Ajeng sampai mengeluarkan air mata akibat kebanyakan tertawa. ( Baca The Story of Three Brothers ).


"Kalau mbak Ajeng mengira mas Arka sudah kacau dengan Oom Bima, itu masih belum ada apa-apanya dibandingkan aku yang dipanggil dengan berbagai nama burung sama mas Shin."


"Karena namamu Kedasih?"


"Hu um. Bilangnya begini 'Salah siapa papa mamamu kasih nama Kedasih, kan bikin aku gatal pengen manggil berbagai macam nama-nama burung'. Kesannya kan jadi aku yang salah kan mbak?"


Ajeng tertawa terpingkal-pingkal. "Oh astagaaa dragon ball !"


"Mbak Ajeng, kalau besok ketemu dengan mas Shin, jangan kaget ya. Fisik imut tapi yang keluar dari mulutnya super random. Sering tidak jelas dan unfaedah. Aku saja sampai bingung meskipun begitu mas Shin otaknya encer lho soal fisika dan matematika."


"Saking cerdasnya itu makanya sering random dan kreatif, Dasih. Tapi setidaknya sumbut, gemas - gemas njelehi gitu kan?"


"Iya lho mbak. Sampai kadang aku kepikiran kena pelet mas Shin..." gumam Kedasih. "Habis aku kok ya bisa cinta banget sama cowok Absurd begitu..."


"Itu namanya Jodoh."


Kedasih tersenyum sambil mengangguk. "Mbak Ajeng sendiri ... Gimana bisa jatuh cinta sama mas Bayu?"


Ajeng tersenyum kikuk dan lama-lama wajahnya memerah. "Meh piyeee... Aku terjebak dengan kemodusannya yang super haqiqi..."


Kedasih tertawa terbahak-bahak.


***


Meanwhile di Hotel Burj Khalifa


"HAAATSSSYYIIINNGGGG!!!" Bayu dan Shinichi sama - sama bersin di kamar hotel masing-masing.


"Siapa sih yang ngerasani ( ngomongin ) gue !" teriak keduanya kesal.


***


Yuhuuuu Up Sore Yaaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2