
Perjalanan menuju Soho, Apartemen Ajeng
"Jeng, apakah tulisan saya segitu buruknya?" tanya Bayu sambil melirik sekretaris nya.
"Pak, saya mending disuruh baca hanacaraka atau Arab gundul atau Hangul atau hiragana atau kanji sekalian deh pak. Lha tulisan bapak itu tidak mewakili huruf-huruf yang saya sebutkan tadi! Bahkan huruf Rusia yang isinya konsonan semua pun tidak! Saya sampai berpikir apakah bapak ahli arkeologi Mesir sebab huruf nya mirip Hieroglif! Atau jangan - jangan, bapak beneran Alien dari planet krypton jadi tanpa sadar menulis huruf bahasa krypton... Addduuuhhh!" Ajeng memegang kepalanya yang terkena keplak oleh Bayu.
"Jeng, tidak usah sampai kemana-mana pikiran kamu! Kalau mommyku dengar kamu bilang aku anak Krypton, bisa diamuk! Secara mommy ku yang bawa aku sembilan bulan dalam perut!"
"Iiissshh pak Bayu nih! Kalau kepala saya benjol gimana?" sungut Ajeng sambil mengusap kepalanya. Meskipun Bayu tidak mengeplak keras tapi bagi Ajeng, mendrama sedikit itu perlu!
"Kompres nanti! Gampang kan?" balas Bayu cuek yang membuat Ajeng gemas ingin meninju lengan kekar itu.
"Bossku kok ya ngene tho ( Bossku kok seperti ini sih )?" gerutu Ajeng.
"Kenapa memang bossmu?"
"Terkadang bikin nyesek hati."
Bayu tertawa. "Dasar!"
Setelah melewati kemacetan khas kota New York, akhirnya mobil Range Rover Bayu tiba di tempat parkir umum dekat komplek apartemen Ajeng. Keduanya pun turun dan berjalan bersama menuju gedung tiga lantai itu.
"Pak, nggak usah diantar nggak papa kok!" tolak Ajeng tidak enak membawa bossnya sampai ke apartemen nya.
"Sudah, kamu diam saja!" Bayu pun menghela punggung Ajeng untuk berjalan lebih dulu.
Ajeng hanya menurut kemauan bossnyan dan mulai masuk ke dalam gedung apartemennya. Bayu melihat lingkungan apartemen Ajeng cukup aman dengan keamanan yang oke.
Syukurlah kalau lingkungannya termasuk aman. Bayu juga melihat ada precinct ( Polsek ) Soho yang hanya satu blok dari apartemen Ajeng membuat dirinya lega.
"Pak Bayu Blair O'Grady, terimakasih sudah mengantarkan saya ke apartemen." Ajeng berdiri di depan pintu apartemennya.
"Kamu tidak mengajak saya masuk Jeng?"
Ajeng terkejut. "Waduh, bukan gimana-gimana, pak tapi saya yang tidak enak. Masa boss datang ke gubuk saya."
"Ajeng..." Nada suara Bayu terdengar berat dan tidak mau dibantah.
"Kalau bapak memaksa ya sudah. Gubuk saya berantakan lho, macam tulisan bapak" ucap Ajeng cuek lalu membuka apartemen nya.
Rasanya Bayu ingin menjitak kepala Ajeng yang lagi-lagi memperjelas tulisannya yang naudzubillah! Bayu pun masuk ke apartemen satu kamar Ajeng yang lebih luas dari studio. Dan pria itu tersenyum tipis melihat bagaimana rapinya Ajeng.
"Nice apartment Ajeng" puji Bayu.
"Terimakasih pak. Mau kopi atau beer?"
Bayu mendelik. "Beer?"
"Bercanda pak! Mana mungkin saya sedia beer. Kalau sparkling soda adalah, macam coke, dr pepper, dan A&W ada."
"Kamu suka minum minuman begitu?" tanya Bayu sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Jarang pak. Tombok pengen ( kalau ingin ) saja" jawab Ajeng.
__ADS_1
"Kopi saja Jeng."
"Oke pak. Monggo pinarak ( silahkan duduk )." Ajeng langsung menuju dapur imutnya untuk membuat kopi.
Bayu lebih memilih membuka pintu geser menuju balkon untuk melihat situasi di apartemen Ajeng. Harum kopi membuat Bayu menoleh dan tampak Ajeng sudah menyiapkan kopi untuk Bayu di meja makan Lalu gadis itu sibuk memasak sesuatu di atas kompor.
"Kamu goreng apa Jeng?" tanya Bayu sambil masuk ke dalam apartemen dan menutup pintu geser.
"Cireng."
Bayu mendelik. "Cireng?"
"Iya pak Bayu, Aci digoreng.. kanji digoreng."
Bayu tertawa kecil karena ingat cerita Omanya.
"Pak Bayu nggak suka cireng?"
"Bukan Jeng, ingat cerita Omaku."
"Tunggu pak Bayu. Kalau mau cerita bin dongeng, tunggu sampai cireng ini matang!" potong Ajeng dengan wajah serius.
"Kamu itu hobi banget dengar cerita?"
"Lha dengan begitu, aku jadi tahu kan soal pak Bayu." Lima belas menit kemudian cireng itu matang dan Ajeng menyiapkan saus cocolannya.
"Kamu dapat dari mana nih Jeng?" tanya Bayu sambil mengambil cireng denga menggunakan tissue.
"Oh Astagaaa." Bayu menggigit cireng itu dan tersenyum lembut. "Ada ceritanya nih Jeng soal cireng."
"Ayo pak. Dongeng" pinta Ajeng sambil tersenyum manis.
"Dulu Oma buyutku, Rhea Blair sedang hamil omaku Kaia Blair. Yang jadi masalah adalah Oma Rhea ngidam cireng dan Oma tidak bisa masuk dapur untuk membuatnya sendiri..."
"Mabuk dapur?"
"Yup. Setiap masuk dapur, pasti muntah-muntah."
Ajeng mengangguk. "Lalu?"
"Oma Oom Rama McCloud adalah chef pastri bernama Rain Reeves sebelum menikah dengan Opa Jeremy McCloud. Opa buyutku, Duncan Blair minta tolong dibuatkan cireng sama Oma Rain."
"Oma Rhea di..."
"New York."
"Oma Rain di..."
"Jakarta."
Ajeng melongo. "WHAAATTT? Jadi Opa Duncan meminta Oma Rain membuatkan cireng di Jakarta dan ..."
"Dan opa Duncan mengirimkan pesawat demi mengambil cireng dan makanan khas Indonesia lainnya di Jakarta untuk dibawa ke New York." ( Baca Elang Untuk Rain ).
__ADS_1
Ajeng menatap Bayu dengan bibir terbuka. "What! Astaghfirullah... ternyata keluarga Sultan itu memang aneh-aneh ya?"
Bayu terbahak. "Opa Duncan kan bucin nya minta ampun sama Oma Rhea, apalagi hamil anak pertama jadi apapun dilakukan lah!"
"Astaghfirullah... Untung kalian keluarga Sultan ! Coba kalau rakyat jelantah..."
"Jelata Ajeng..."
"Salah sak uprit pak. Wis ga kebayang bakalan ngeces Omanya pak Bayu nggak keturutan maem cireng!" ucap Ajeng mengacuhkan koreksi Bayu.
"Kamu tuh!" Bayu menoyor dahi Ajeng.
"Pak Bayu..."
"Hhhmmmm."
"Kasus Hongkong belum selesai dongengnya... Masa bapak tega nanti saya nggak bisa tidur saking penisirinnya."
"Penasaran Ajeng..."
"Yeeee... akhirnya bapak bisa ngomong dua arah dengan bahasa Indonesia setelah dari tadi bahasa Inggris versus bahasa Indonesia mix Jowo. Kita itu bagaikan ketoprak humor pak, ketidaksinambungan ini sangatlah agak haqiqi."
Bayu menggelengkan kepalanya gemas dengan ucapan sekretarisnya. "Memangnya apa yang ingin kamu ketahui lagi soal Hongkong?"
"Apakah dipenjara tidak enak?"
"Ya jelas tidak enak lah Jeng! Kasurnya keras, tempat tidur sempit... "
"Kalau itu salah bapak!"
"Lho kok salah saya Jeng?" balas Bayu tidak terima.
"Siapa suruh badan bapak besar cenderung buntek!"
Giliran Bayu yang melongo. "Ajeng! Kamu kok lama-lama ngajak gelut sih?"
"Pak, saya tahu bapak pusing dengan acara diawasi agen federal. Jadi daripada bapak sebal dan jengkel plus emosi, mending bapak saya ajak bercanda..."
"Jeng, ini bukan bercanda tapi bikin jengkel, tahu nggak!"
"Bapak mending jengkel sama saya. Yakin deh! Soalnya saya kan baik hati dan tidak sombong."
"Benar, tapi kamu njelehi!" sungut Bayu manyun.
Ajeng tertawa terbahak-bahak. "Jebule ( ternyata ) pak Bayu ngerti kata njelehi ( menyebalkan )!"
Entah kenapa Bayu ikut tertawa melihat sekretarisnya receh seperti ini. Sudah lama dirinya tidak merasakan suasana rusuh yang Membagongkan diluar keluarganya. Secara tidak sadar, impact dari dipenjara membuat Bayu sedikit mengalami perasaan unpleasant, tapi melihat gadis di depannya membuat dirinya gemas, perlahan rasa tidak nyaman itu terkikis.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️