
Perpustakaan Keluarga Giandra
Ajeng menikmati acara membaca bukunya yang sudah lama tidak dia temukan baik versi hard copy, maupun pdf nya sedangkan Bayu hanya melihat gadisnya yang seperti berada di zona Zen nya sendiri seolah melupakan dirinya yang super big bagaikan halimun yang tidak kasat mata.
Bayu merasa gabut lama kelamaan karena Ajeng sangat serius kalau sudah membaca apalagi ini buku ketiga yang dia baca. Ajeng baru tersentak ketika Bayu meletakkan kepalanya diatas pahanya ... lagi.
"Pak Bayu kalau bosan, saya ditinggal saja nggak papa" ucap Ajeng sambil melanjutkan membaca hingga wajah Bayu tertutup buku yang sedang dipegangnya.
Bayu melongo karena dirinya benar-benar... benar-benar dikacangi! Bayu pun manyun sambil memejamkan matanya. Fix! Besok kalau kita menikah, tidak ada buku atau pun kamus di kamar! Bisa-bisa kami tidak ngapa-ngapain!
Ajeng mengacuhkan Bayu yang masih niat tidur berbantalkan pahanya. Kapan lagi aku bisa membaca buku - buku langka disini? Belum tentu juga bisa kembali lagi secepatnya.
***
Entah berapa lama Bayu tertidur hingga akhirnya dirinya membuka matanya dan melihat Ajeng yang tertidur dengan buku yang masih terbuka di sebelahnya. Suasana tenang, dengan AC menyala, siapapun pasti akan terkena aji sirep. Bayu pun bangun lalu mengambil buku yang sedang dibaca Ajeng lalu mengembalikan ke tempatnya.
Bayu lalu duduk disebelah Ajeng sambil menatap wajah gadis itu yang sedang tertidur lelap. Bayu menyandarkan kepalanya dengan tangan kirinya yang berada di kepala sofa lalu tangan kanannya mengelus wajah Ajeng dengan jarinya.
"Kamu tahu Jeng, aku sebal sama kamu tapi kamu itu ngangenin. Apa kamu tahu aku nyaris tertawa gara-gara kamu membalas panggilanku dengan 'Njih mas' di lift?! Seriously, baru kali itu ada cewek yang menjawab panggilan seperti kamu." Bayu memperhatikan struktur tulang wajah Ajeng yang sangat Jawa dan Indonesia.
"Kamu itu ternyata bisa membaur di keluarga aku yang banyak orang mengira keluarga Sultan yang dingin, kejam dan galak. Padahal... Kamu tahu sendiri kan aslinya. Tapi mereka tidak seperti itu ke sembarangan orang. Mungkin karena kamu sama-sama wong Solo, memiliki attitude yang disukai Opa dan Oma termasuk mommyku, jadi mereka dengan mudah menerima kamu. Satu hal yang aku takutkan pada saat sebelum mengenal kamu, apakah aku akan mendapatkan calon istri yang bisa diterima semua anggota keluarga..." Bayu melihat bulu mata Ajeng yang lentik alami mulai bergerak dan pria itu buru-buru menarik tangannya dari wajah Ajeng.
Gadis itu perlahan membuka matanya dan melihat Bayu di sebelahnya. "Lho manusia Krypton belum balik kandang?" gumam Ajeng dengan mata sayu masih mengantuk.
Bayu tidak menjawab tapi langsung mencium bibir Ajeng lembut membuat gadis itu melotot. Lagi-lagi demen ciumin aku sih!
Tak lama Bayu melepaskan pagutannya dan memegang wajah Ajeng. "Love you Ajeng..."
"Bapak kok hobi sih main cium-cium saya?" balas Ajeng tanpa menjawab balik ucapan Bayu.
"Karena saya sayang kamu Jeng. Kan kalau orang pacaran, jatuh cinta itu menyatakan perasaannya salah satunya ya dengan ciuman lah..."
Ajeng memicingkan matanya. "Memang ya pak Bayu makin kesini makin sok modus tingkat Mahadewa!" Gadis itu pun berdiri lalu berjalan keluar perpustakaan.
"Jeng! Mau kemana kamu?" tanya Bayu bingung dengan sikap gadisnya yang tiba-tiba langsung pergi.
__ADS_1
"Mau ke kamar mandi. Bertapa! Bapak mau ikut?" jawab Ajeng cuek.
Bayu melongo. "Jorok ih!"
Ajeng cekikikan lalu keluar perpustakaan.
***
Bayu dan Ajeng menghabiskan sisa hari di Jakarta dengan berkumpul bersama dengan para sepupunya yang berada disana. Semuanya mendukung hubungan Bayu dan Ajeng karena tahu, jika angin topan mulai ngamuk, sudah ada pawang kryptonite yang tepat hingga bisa menghilangkan Twister level F-5.
Dan hari Minggu pagi, Bayu dan Ajeng sudah berada di dalam pesawat milik Giandra Otomotif Co New York yang sudah datang sehari sebelumnya untuk menjemput CEO yang main kabur ke Jakarta. Ajeng melihat kalau pesawat milik keluarga Bossnya berbeda dengan pesawat yang kemarin dia naiki bersama dengan Radeva dan Devan.
Memang pesawat pribadi milik Giandra sudah di custom dan membuat penumpangnya merasa nyaman.
"Jeng, nanti kamu ikut saya dulu ya" ucap Bayu sambil memeriksa pekerjaan nya di Jang Corp via MacBook nya.
"Ikut kemana pak? Kalau ke kuburan atau hutan Sandy, ogah! Saya nggak mau ikut uji nyali macam Bu Freya ngerjain pak Bima" jawab Ajeng.
"Iiissshh nggak bakalan kesana Jeng. Kamu mau tahu nggak hukuman buat Radeva dan Devan?" seringai Bayu.
"Kan ada Hunter dan Doogie. Mereka yang jadi pengawas Deva dan Devan disana."
"Memang pak Bayu kasih hukuman apa?" bisik Ajeng kepo.
"Nanti kamu akan tahu sendiri."
***
JFK Airport New York
Bayu dan Ajeng sekarang sudah berada di dalam mobil Range Rover milik pria itu yang sengaja diparkiran di tempat parkir bandara. Gadis itu hanya diam memikirkan hukuman apa yang dilakukan oleh Bossnya ke kedua adiknya.
Apa dikirimkan ke hutan Sandy? Atau jangan-jangan ke penjara Alcatraz? Duh kok ya Kabeh ga Ono sing apik ( semua kok tidak ada yang bagus ).
Bayu menyetir mobilnya keluar dari exit road menuju Staten Island, area yang berada jauh dari Manhattan dan membuat Ajeng bingung kenapa harus kesana. Karena dari Jakarta mereka berangkat pagi usai sholat subuh dan menempuh waktu 24 jam, sesampainya di New York siang jam satu.
__ADS_1
Ajeng tidak bertanya apapun sampai mereka tiba di sebuah gerbang mewah dengan logo singa di pagar yang Ajeng tahu adalah logo keluarga Blair. Ini rumah sopo maning ( ini rumah siapa lagi ). Mansion ini mah! Ajeng melihat Bayu memencet angka di gate key sebelum akhirnya pintu gerbang itu terbuka otomatis dan Ajeng bisa lihat adanya beberapa penjaga disana.
Bayu memarkirkan mobilnya dekat pintu utama mansion dan mengajak Ajeng turun.
"Pak Bayu, ini istananya siapa?" tanya Ajeng tanpa memperhatikan kalau dirinya digandeng oleh Bayu.
"Opa dan Omaku kandung. Adik sepupunya Opa Bara dan Oma Danisha."
"Anaknya Opa Duncan dan Oma Rhea?! Oma Kaia?! " desis Ajeng tertahan.
"Yup." Bayu pun masuk ke mansion Blair yang dulu dibangun oleh Edward Blair.
Ajeng tampak terpesona dengan tatanan mansion yang mewah dan terdapat banyak foto disana. Ajeng bisa melihat foto Edward dan adiknya, Stephen Blair yang merupakan opa buyut Nadya Blair.
Ajeng juga melihat foto candid wajah julid Edward Blair dan Abimanyu Giandra dipasang disana.
"Astaghfirullah!"
"Kenapa Jeng?" tanya Bayu bingung.
"Foto ini kok dipajang disini?" kekeh Ajeng melihat bagaimana ekspresi keduanya sangat lucu.
"Sengaja. Biar yang datang terhibur."
Ajeng tersenyum sambil mengangguk menyetujui ucapan Bayu.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1