
Tokyo Jepang
Bayu dan Ajeng sekarang berada di restauran hotel tempat mereka menginap bersama dengan Luke, Rin, Shinichi dan Kedasih. Mereka berada di ruang VIP yang private apalagi Luke adalah pemiliknya jadi mereka bisa bebas.
"So, habis ini kalian ke Dubai?" tanya Luke ke Bayu dan Ajeng.
"Yup. Habis dari Dubai, kita berencana ke Italia. Milan, Turin dan Sisilia bertemu dengan Sakura dan Alessandro, Raveena dan Alexis, Deya dan Tomat, Leia dan Dante serta Gemini dan Michel. Lagipula Luke, aku sepuluh tahun kerja belum ambil cuti besar aku juga" jawab Bayu santai.
"Mbak Ajeng, kira-kira nih kalau mbak Ajeng sama mas Bayu punya anak, bakalan ikut siapa gen nya?" tanya Shinichi yang memanggil Ajeng jadi ikutan mbak karena memanggil Bayu dengan sebutan 'mas'. Bagi Shinichi Ajeng patut dipanggil mbak karena satu server soal keabsurdan.
"Ikut aku lah!" sahut Bayu.
"Kok bisa? Bagaimana kamu tega mas mengkompeni semuanya? Mbak Ajeng cuma bagian bawa kemanapun macam Mbah Surip yang nyanyi ta gendong kemana-mana? Tega nya teganya teganya..." omel Shinichi membuat Ajeng dan Kedasih cekikikan.
Rin menatap ipar dan calon iparnya dengan wajah bingung. "Apa itu mbah surip? Dukun?"
Ajeng dan Kedasih semakin terbahak sedangkan Luke, Bayu dan Shinichi menatap ibu dari Hyde Bianchi itu dengan wajah tidak percaya.
"Mbak Rin, Mbah Surip itu bukan dukun..." ucap Shinichi gemas.
"Lha kata Luke, kalau dukun biasanya diawali dari Mbah... Begitu kan pas kita nonton film horor Indonesia yang ada dukunnya itu?" Rin menatap Luke dengan wajah polos.
"Kayaknya aku salah jelasin deh ..." gumam Luke.
"Memaaanngg !" sahut Shinichi dan Bayu.
"Mbak Ajeng nggak mampir ke Brussels? Kan bisa sekalian sebelum ke London" celetuk Kedasih, mengacuhkan Luke yang dipelototi oleh Bayu dan Shinichi.
"Ketemu mbak Zee dan bang Sean? Duh, Dasih, mbak itu apalah. Remahan rengginang yang ada di kaleng Khong Guan guna menipu semua orang saat lebaran..." ucap Ajeng mendrama membuat Kedasih terbahak.
"Mbak Ajeng tuh..."
"Apaan rengginang? Mana? Mbak Ajeng bawa rengginang? Aku mau. Mbok bawa tho..." pinta Shinichi heboh.
"Nggak ada rengginang Shinchan... Maafkan" senyum Ajeng dengan wajah meminta maaf.
"Awwww... Mbak Ajeng teganya... teganya..."
"Shin, mbok sudah tho. Kamu itu sudah 25 tahun, sudah mau nikah sama Kedasih, kok ya masih macam cah cilik tho" gerutu Luke.
__ADS_1
"Lho Shin itu sudah bilang sama mommy kalau tetap jadi bayi kalau ke mommy tapi ke Kedasih jadi suami yang dibanggakan." Shinichi menatap ke semua orang dengan wajah jumawa yang membuat semua orang sebal termasuk Kedasih.
"Dasih, jika kamu sudah menikah dengan Shinchan, aku rasa kamu akan awet muda karena suamimu nanti tetap akan bersikap sok imut meskipun sudah semakin amit!" ucap Luke judes membuat Shinichi menatap tajam ke Luke.
"Babang Lukie itu kok sukanya begitu sih? Asal babang Lukie tahu, aku tuh sampai kapan pun tetap menjadi si anak imut, you know."
"Kamu itu nggak selamanya bakalan imut Shinchan, kamu itu akan tua dan berkerut" balas Luke judes.
"Bang Lukie, apakah suatu hari nanti, appa dan mommy akan meninggalkan aku? Seperti Opa Takeshi? Terus aku nanti bagaimana? Siapa yang akan memarahi aku kalau nakal? Siapa nanti yang akan memanggil aku Ichi lagi... " Tiba - tiba mata Shinichi memerah menahan tangis. "Aku sampai kapan pun belum siap ditinggal appa dan mommy..."
"Lho kok tiba-tiba kamu jadi melow begini sih?" tanya Bayu bingung melihat adiknya langsung nangis.
"Aku nggak tahu mas Bayu, tiba-tiba aku merasa ketakutan jika ditinggal appa dan mommy."
"Shinichi, suatu saat hal itu akan terjadi. Bisa dengan proses hingga kita bisa mempersiapkan diri, meskipun tetap tidak bisa atau mendadak seperti kedua orangtuanya mbak Ajeng. Siapa yang menyangka disaat mbak Ajeng berharap papa dan mama kembali dari Suriname dengan selamat, ternyata mereka sudah di peti jenazah dan dimakamkan di taman makan pahlawan karena sudah berjasa... Mereka dapat penghargaan dari pemerintah Amerika Serikat tapi sejujurnya, mbak Ajeng tidak perlu itu. Mbak Ajeng lebih suka mereka kembali dalam keadaan hidup, bisa menikahkan mbak Ajeng dengan mas Bayu, mama bisa tag team dengan Bu Gandari karena mas Bayu modusnya minta ampun... Dan papa pasti senang dengan mas Bayu karena sayang sama mbak Ajeng..." Ajeng tersenyum sedih membuat Bayu memeluknya. "Jadi saat waktu itu masih ada, gunakanlah semaksimal mungkin bersama dengan orang tua, opa dan Oma kalian... Yang sekarang menjadi orang tua, opa dan Oma mbak Ajeng."
Semua orang yang mendengar tampak langsung melow.
"Mbak Ajeng, jangan bikin aku mewek kejer dong" rengek Shinichi.
"Iya lho mbak. Tapi semua ini kan gara-gara Kamu mas Shin! Kalau mas Shin nggak opening yang melow melow, nggak bakalan seperti ini !" hardik Kedasih.
"Iyalah ! Siapa juga yang bikin semua melow duluan coba? Mas Shin kan?" Kedasih menatap Shinichi judes.
"Dih, kenapa kamu jadi marah sih?"
"Lha mas Shin bikin mbak Ajeng jadi sedih !"
"Lho aku yang sedih kenapa jadi aku yang dimarahi? Apa salahku?" Shinichi menatap semua orang.
"Shin, kalau kamu nggak insyaf - insyaf, aku tidak kebayang macam apa anakmu nanti!" gerutu Bayu.
"Insyaf kenapa? Memang aku khilaf kemana?"
"Khilaf akibat kekampretan dirimu, Kungkang" jawab Luke judes.
"Lho kan aku memang anggota trio kampret. Salahnya dimana coba?" balas Shinichi dengan wajah dibuat imut.
Ajeng cekikikan.
__ADS_1
Ya ampun, makin kacau saja nih adiknya mas Bayu.
***
Kamar Bayu dan Ajeng di Hotel AJ Corp Shibuya Tokyo Jepang
"Mas Bayu..." panggil Ajeng.
"Ya Ajeng..." jawab Bayu sambil melepaskan sepatunya.
"Apakah Shinichi serius akan menikah dengan Kedasih?" tanya Ajeng yang masih membersihkan makeup di wajahnya.
"Yup. Mereka sudah pacaran lama tapi mereka tidak bisa menikah karena kontrak kerja JAXA hingga satu setengah tahun ke depan. Makanya meskipun mereka ingin menikah tahun depan, mereka harus menunggu."
"Mas Kal-el, kira-kira pernikahan mereka bakalan macam apa ya?" senyum Ajeng.
"Kemungkinan mereka tidak akan menikah mewah dan pasti akan ada sesuatu yang membuat kita darting." Bayu melepaskan baju dan celana panjangnya meninggalkan boxer di tubuhnya dan menuju kamar mandi.
"Mas, apakah kita akan ke Brussels?" tanya Ajeng.
"Kenapa?" balas Bayu sambil meletakkan odol di atas sikat giginya.
"Kata Kedasih coklat disana enak-enak. Berbeda dari yang di New York atau Jepang."
Bayu melongokkan kepalanya dari kamar mandi. "Oke, kita mampir ke Brussels sebelum ke London. Gimana?"
"Saya suka. Saya suka." Ajeng tersenyum lebar.
Bayu menggelengkan kepalanya. "What are you? Mei-Mei?"
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1