My 100th Secretary

My 100th Secretary
Urusan Rumah


__ADS_3

Kantor Notaris Siti Subekti SH Solo Hari Senin


Ajeng dan Bayu sudah tiba di kantor notaris bersamaan dengan sang penyewa bernama Pak Rohmat yang memiliki usaha rumah makan selat Solo dan berbagai macam hidangan khas Solo lainnya.


Sejujurnya pak Rohmat ingin memperpanjang kembali dan memang semuanya harus dilakukan hitam diatas putih agar semuanya transparan serta jelas. Notaris yang dipercaya oleh almarhum ayah Ajeng sudah siap dengan berkas sewa menyewa sebelumnya.


"Mbak Ajeng, akhirnya ketemu lagi njih setelah bapak sama ibu Sedho terus mengurus asetnya semua" senyum notaris paruh baya itu.


"Iya Bu. Saya langsung pulang ke Solo buat membereskan semua administrasi supaya nggak berantakan dan tersilap."


"Ini siapa mbak Ajeng?" tanya Bu Siti ke arah Bayu yang berdiri di belakang Ajeng.


"Oh perkenalkan ini mas Bayu, suami saya. Mas, ini Bu Siti notaris nya papa dan mama. Kalau ini pak Rohmat yang menyewa rumah aku."


Bayu menyalami semua orang di sana. "Bayu Aarav.." ucapnya sambil tersenyum.


"Senangnya bertemu dengan suami mbak Ajeng Tapi bule kok namanya Bayu" goda Bu Siti.


"Mommy saya wong Jowo tapi Daddy bule dan saya kecipratan bulenya jadi biarpun casing begini, nama harus tetap Jowo" senyum Bayu.


"Root Jowone tetap ada ya mas Bayu. Sampai bisa fasih bahasa Indonesia nya " timpal pak Rohmat.


"Leres ( benar ) pak" balas Bayu.


"Baik, dengan tidak menunda lagi karena mbak Ajeng dan mas Bayu pasti harus balik ke Amerika tapi menyempatkan datang kemari, bagaimana pak Rohmat. Apa masih mau diperpanjang kontraknya atau mau gimana?" Bu Siti menatap pria yang di bawahnya usianya tapi lebih tua dari pasangan pengantin baru itu.

__ADS_1


"Sejujurnya saya ingin membeli rumah nya mbak Ajeng tapi saya tahu itu rumah peninggalan almarhum orang tua jadi saya memilih perpanjangan saja dan agak lama mbak, sekitar sepuluh tahun begitu."


Ajeng menatap Bayu yang memberikan semua keputusan di tangan istrinya. Ajeng pun berdiskusi dengan Bu Siti dan pak Rohmat tentang apa-apa saja hak dan kewajiban penyewa serta kenaikan uang sewa yang disesuaikan dengan harga tanah.


Bayu tidak mau terlalu intervensi tapi disaat Ajeng membutuhkan pendapat, baru dia masuk. Akhirnya disepakati akan ada kenaikan sewa rumah dan Ajeng juga tidak mamu memberatkan pak Rohmat.


Dan menjelang makan siang, semua urusan pun beres termasuk dengan pembayaran yang langsung masuk ke dalam rekening Ajeng. Bayu akhirnya meminta Ajeng untuk membawa semua berkas - bekas penting di Solo yang selama ini dipegang Bu Siti untuk dibawa ke New York dan disimpan di brankas arsip apartemen Bayu.


***


Usai dari kantor Notaris, Bayu mengajak Ajeng ke Manahan untuk melihat rumah keluarga Pratomo dan Al Jordan yang masih kokoh berdiri setelah mengalami renovasi dan pembaharuan fondasi.


Ajeng baru tahu jika rumah mewah itu adalah milik keluarga Bayu terutama keluarga Emir Al Jordan dan Bianchi. Bayu juga memperlihatkan rumah mewah yang hanya Berbeda gang dan Ajeng bisa memandang rumah milik Adrian Pratomo yang kemudian menjadi milik Savitri Pratomo ( Baca Guruku Bar-bar Sekali ) dan sekarang menjadi milik Dewananda Hadiyanto.


"Dulu Oma buyutnya Dewa tinggal disini?" tanya Ajeng. Keduanya boleh masuk ke rumah itu setelah penjaga mendapatkan ijin dari Dewananda.


Ajeng menatap Bayu. "Serius mas, motor nya dikasih nama?"


"Serius. Oma Savitri itu bar-barnya minta ampun dan Opa Jaehyun kalemnya puoolll. Makanya pada heran mereka malah pacaran terus menikah." Bayu mengajak Ajeng masuk ke dalam rumah yang masih tertata rapi dan wanita itu melihat foto Savitri dan Jaehyun disana.


"Ya ampun Oma buyutnya Dewa cantik banget ! Opa nya juga ganteng, Korea ganteng."


"Memang... Mereka berdua itu baik-baik tapi malah Dewa kacaunya macam papanya Oom Bagas."


"Tapi kayaknya Dewa sudah jinak sama Alina."

__ADS_1


"Semoga saja, macam Oom Bagas dulu. Setelah gak jadi dengan Tante Falisha dan Tante Freya, dapatnya Tante Safira. Ada istilah yang ketiga yang cocok" senyum Bayu sambil menunjukkan foto pernikahan Bagas dan Safira disana. "Oom Bagas terkenal playboy dan biasa one night stand tapi setelah mengejar Tante Falisha dan kepentok dengan Tante Safira, auto tobyat."


"Kayaknya memang begitu mas. Kalau sudah dapat pawangnya yang cocok, barulah bisa anteng. Dan aku lihat Alina juga galak lho sama Dewa. Mungkin karena guru ya, jadinya kalau Dewa nakal, langsung dimarahi... Aku sudah pernah lihat Alina marahi Dewa macam muridnya membuat kita-kita tertawa."


"Pas kamu diculik sama duo kadal kadut itu ya?" kekeh Bayu.


"Iya."


"Yuk, sudah... Kita jalan-jalan lagi. Mau kemana?"


"Tawangmangu ! Mas Kal-el aku traktir ! Kan aku habis dapat rejeki rumah !" cengir Ajeng.


Bayu tertawa lalu memeluk Ajeng erat. "Kamu itu lho... Menggemaskan!"


"Dari dulu ! Memang selama ini mas Kal-el kemana? Pengsan?" goda Ajeng.


Bayu mencium bibir Ajeng lembut. "Yuk udahan, bisa kebablasan nanti !" Pria itu lalu menggandeng Ajeng keluar rumah keluarga besar Pratomo setelah berpamitan dengan penjaga rumah yang juga bagian bersih-bersih.


Setelah di dalam mobil, penjaga Bayu dan Ajeng merangkap sopir, membawa Range Rover itu menuju Tawangmangu.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2