
PRC Group Building Manhattan New York
Ajeng kembali ke lantai tempat dia bekerja dan bertemu dengan beberapa rekan kerjanya yang di lantai 15.
"Jeng, tadi Preston cari kamu" ucap salah seorang rekannya.
"Ngapain?" balas Ajeng cuek.
"Katanya mau ajak makan siang kamu."
Ajeng mengedikkan bahunya. "Aku udah makan sama Magdala."
"Jeng, hati-hati sama Preston. Dia playboy." Salah satu rekan wanita Ajeng berbisik ke gadis itu.
"Aku sudah tahu. Thanks buat infonya." Ajeng pun berjalan menuju mejanya dan terkejut melihat Hunter disana. "Lho ngapain Hunter kemari?"
"Menemani kamu lah!" jawab Hunter sambil berdiri dari sofa.
"Lha aku macam anak TK ditungguin" kekeh Ajeng membuat Hunter tersenyum.
"Disuruh boss. Katanya takut kamu hilang." Hunter ikut masuk ke dalam ruangan Bayu.
"Astaghfirullah pak Bayu. Aku tuh mau hilang kemana? Wong aku nggak kemana-mana sampai jam pulang kantor ya disini" gerutu Ajeng. "Lho kok Hunter ikutan masuk?"
"Disuruh si boss. Nih pesannya kalau tidak percaya." Hunter menunjukkan pesan Bayu di ponselnya.
Hunter, kamu jaga Ajeng dua hari ini. Dia berurusan dengan berkas-berkas penting.
Ajeng melongo. "Segitunya kagak percayanya?"
"Bukan begitu Jeng. Kamu kan disini sendirian soalnya. Biasanya ada Bayu tapi posisi kamu kan memegang banyak berkas penting dan Bayu tidak mau sampai kamu ada yang terlupakan." Hunter menatap gadis cantik yang sedang cemberut itu.
"Dasar Sherlock Holmes! Sama saja itu tidak percaya sama Enola Holmes! Benar-benar deh! Awas kalau pulang! Itu lengannya aku kempesin pakai obeng!" amuk Ajeng yang merasa Bayu masih saja tampak ragu-ragu dengan kinerjanya.
Hunter hanya tersenyum smirk sambil melihat ke arah CCTV. Matanya seolah mengatakan 'Mampoos lu Bay. Bakalan dikempesin pakai obeng!'.
***
Brussels Belgia
Bayu hanya tertawa geli mendengar sekretarisnya ngamuk tapi setelahnya dia melihat Ajeng menyuruh Hunter duduk manis sedangkan dia bekerja sambil duduk di atas karpet tebal.
__ADS_1
Hunter menolak duduk tapi melihat wajah galak Ajeng membuat pengawalnya harus mengalah.
Suara notifikasi ponselnya membuat Bayu membacanya.
đź“© Hunter McDouglas : Mampoos lu Bay. Sekretaris mu yang ini jauh lebih galak dari Gemma.
Bayu hanya tersenyum smirk.
đź“© Bayu O'Grady : Kamu duduk manis dan nanti jangan lupa antar anak itu pulang.
đź“© Hunter McDouglas : Bay, kamu belum pernah seperti ini lho. Sama Gemma pun tidak yang notabene tidak terlalu banyak beda dengan Ajeng. Apa kamu sudah tertarik dengan sekertaris mu ini?
đź“© Bayu O'Grady : Just do your job!
***
Ruang Kerja Bayu O'Grady
Hunter tertawa kecil membaca pesan terakhir dari Bayu. Sebenarnya Hunter menikmati acara libur nya dari mengawal Bayu karena acara mereka diawasi oleh agen federal jadi dia tidak membutuhkan pengawal. Tapi liburannya harus dipending karena pria besar itu macam kebakaran jenggot melihat seorang pegawainya mendekati meja kerja sekretaris nya.
*** Flashback ***
"Aku libur Bay!"
"Hunter! Tá Ajeng ina aonar le go leor comhad tábhachtach ( Ajeng sendirian dengan banyak berkas penting )!"
"Dia bekerja dimana?"
"mo Seomra ( Ruanganku )."
"Tá do sheomra sábháilte ( Ruangan mu aman ) Bay. Ná bà buartha ( Don't worry )."
"Hunter!"
"Jeez! Ya ampun Bay! Lebay!" sungut Hunter gemas karena baru kali ini Bayu merengek aneh. "Aku berangkat! Bonus jangan lupa!"
"Done!"
*** Flashback End ***
Hunter melihat bagaimana efisiensinya Ajeng bekerja meskipun dengan santainya diatas karpet. Gadis itu seolah tidak menganggap Hunter disana dan tetap mengerjakan semua tugasnya.
__ADS_1
Melihat Ajeng sibuk, Hunter lalu memeriksa rekaman CCTV di ruang kerja Bayu dan mencari tahu apa yang membuat Bayu panik. Hunter melihat seorang pegawai PRC datang ke meja Ajeng setengah jam usai Ajeng pergi bersama dengan Magdala.
Dengan menggunakan zoom kamera, Hunter membaca tag nama nya 'Preston North'. Pria berdarah Irlandia itu lalu mencari tahu siapa itu Preston.
Rupanya ini yang membuat Bayu panik. Ada yang mengincar sekretaris nya, playboy karbitan. Hunter tersenyum mengingat bagaimana dalam waktu dua bulan, Ajeng Pratiwi mampu merubah Bayu menjadi pria yang irasional.
Hunter tidak heran jika Bayu bisa tertarik dengan Ajeng karena selain Gemma, dia adalah gadis yang tidak gampang terpesona dengan wajah tampan Bayu. Bahkan Gemma langsung terpesona dengan Gasendra pada saat pertama kali bertemu.
Ajeng pun sama dengan Gemma dan Ada sesuatu yang mirip dengan Tante Gandari. Hunter tidak tahu apa wajahnya atau perawakannya, tapi Ajeng memang mirip Gandari dan Bayu adalah pemuja sang mommy.
Bukan berarti Bayu termasuk mother complex tapi bagi Bayu, Gandari adalah ibu tercintanya. Semua orang bisa melihat bagaimana paniknya Bayu saat Abiyasa ditembak dan Gandari diculik. ( Baca The Story of Three Brothers ). Ngamuknya seorang Bayu O'Grady saat tahu ibunya dibawa pergi oleh seorang pembunuh berantai dan hampir tewas. Dan ini sekarang, melihat Ajeng didekati Preston sudah heboh nggak karuan.
"Akhirnya selesai jugaaaaa!" seru Ajeng sambil meregangkan tubuhnya. "Ya Allah jika ada yang mau memijat punggung ku..."
"Jeng, kamu juga aneh. Sudah tahu ada meja ya duduk diatas karpet" kekeh Hunter.
"Enak lesehan eh apa ya bahasa Inggrisnya... On the carpet. Duh, angel tenan nek wis metu jowone ( susah sekali kalau sudah keluar jawanya )" sungut Ajeng membuat Hunter bingung mendengar bahasa gadis itu.
"What are you talking about ( kamu ngomong apa )?" tanya Hunter.
"Ngomong Jawa." Ajeng membereskan semua pekerjaan nya dan segera menyimpan di lemari besi dan menguncinya. Gadis itu memeriksa dua kali dan Hunter pun juga membantu Ajeng memeriksa pintu itu. Setelah aman, keduanya keluar. Ajeng mengunci ruang kerja Bayu dengan Doble lock.
"Jeng, aku antar kamu pulang" ucap Hunter.
Ajeng yang sedang membereskan mejanya tampak terkejut. "Hah? Kok aku pakai diantar?"
"Perintah Boss."
Ajeng hanya menyipitkan matanya sambil berkacak pinggang. "Seriously Hunter! Jika besok Senin ada kasus penganiayaan boss oleh sekretaris, jangan lupa telpon NYPD!"
Hunter terbahak.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1