
Ajeng terkejut ketika Bayu menariknya dan memeluknya. Tak lama pria itu mencium bibirnya lembut membuat Ajeng melotot tidak percaya.
Manusia Krypton ini ingat nggak sih bibir aku habis bengep? Ajeng berusaha melepaskan diri tapi apa daya body Bayu yang besar sudah mengungkung tubuhnya yang mungkin tidak ada setengahnya dari tubuh Bossnya.
Ajeng hanya bisa menatap tajam ke arah Bayu yang menutup matanya saat mencium bibirnya. Duh kok ya bulu matanya mas Kal-el lentik juga. Gadis itu mulai merasakan sesuatu dalam dirinya. Jantungnya berdebar-debar, dirinya bisa tahu bagaimana isi hati Bayu dari ciumannya.
Ajeng memang tidak... ralat. Belum pernah berciuman jadi dia tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Harusnya aku membuka tutorial bagaimana cara membalas ciuman.
Ajeng mulai merasakan bibirnya senut-senut lalu bereaksi mencoba melepaskan pagutan Bayu. Dirinya lebih merasakan tidak nyaman di bibir nya daripada jantungnya yang bertalu-talu.
Bayu pun melepaskan pagutannya dan menatap Ajeng lembut. "Kenapa Jeng?"
"Bibirku sakit Ndes!" umpat Ajeng lupa kalau dia sedang bersama siapa karena lebih fokus dengan sakit di bibir nya.
Bayu tertawa kecil. "Ya ampun, maaf Jeng. Habis kamu menggemaskan sih!"
"Pak Bayu! Seriously! Aku kan habis kena hajar, ini masih kelihatan biru dikit meskipun sudah aku samarkan ! Kok ya mbok Ambu ( cium ) tho!" omel Ajeng kesal.
Bayu memeluk Ajeng erat. "Aku suka kalau kamu ngomel-ngomel pakai bahasa Jawa. Lucu!"
"Pak Bayu, ini sangat tidak lucu! Amat sangat tidak lucu!" gumam Ajeng sambil menyesap harum tubuh Bayu. Aduuuh otakku ngelag! Pak Bayu parfumnya apa sih?
"I love you Jeng" ucap Bayu penuh perasaan.
"Aku nggak pak!"
"Hah?!" Bayu melepaskan pelukannya dan menatap Ajeng dengan tatapan bingung. "What did you say ( kamu bilang apa )?"
"Aku benci bapak!" Mata Ajeng tampak berkaca kaca dan ada rasa terkejut, bingung dan sakit disana.
"Why?"
"Karena bikin bibir aku Jontor lagi!" isak Ajeng. "Sama bapak ambil ciuman pertama aku!" Gadis itu pun langsung menangis lebay membuat Bayu merasa bersalah berlapis-lapis.
Bayu lalu mengajak Ajeng duduk di kursi taman sambil memeluk gadis itu. "Maaf sayang. Habis kamu tampak cantik dengan sepatu baru, ditambah aku..."
"Tapi kan gak cium bibir juga pak! Aduuuh..." Ajeng memegang bibirnya. "Pak Bayu jahara!"
Bayu menatap Ajeng geli. "Kamu itu kalau cari istilah... Jeng, cepat atau lambat kamu dan aku akan berciuman juga."
"Tapi nggak pas begini juga pak..." Ajeng menatap Bayu sebal .
"Apa? Kurang romantis pas ciuman pertama?" goda Bayu. "Nanti aku buat yang romantis. Lagipula mana aku tahu kalau kamu belum pernah dicium sebelumnya." Pria itu tersenyum lebar penuh kemenangan. "Berarti bibir kamu hanya untuk aku Jeng..."
"Pak..."
"Ya?"
"Kalau bibir saya buat bapak, saya ngomongnya gimana? Makan dan minum gimana? Acara nyanyi di kamar mandi gimana? Punya Boss kok ya sadis temen ( beneran - Jawa ) tho..." keluh Ajeng.
Bayu hanya menggelengkan kepalanya. "Kamu terlalu hiperbola!"
__ADS_1
"Lha bapak pakai bahasa kiasan plus kalbu tapi jadi harafiah!"
Bayu semakin erat memeluk Ajeng. "Inilah yang membuat aku tidak bisa jauh darimu Jeng. Kamu itu selalu membuat aku gemas dan kesal bersamaan, membuat aku terhibur disaat banyaknya pekerjaan..."
"Pak Bayu... "
"Ya Jeng?"
"Pak Bayu kok bisa sih jadi tukang merayu gombal mukiyo sih? Kemana pak Bayu yang menyebalkan?" Ajeng menatap Bayu bingung.
"Lho bukannya sekarang aku lebih baik Jeng?"
Ajeng menggelengkan kepalanya. Air matanya sudah menguap entah kemana setelah mereka berdebat Unfaedah. "Semakin menyebalkan!"
Bayu melongo. "Lha?"
"Pak, saya minta bapak harus tahan diri kalau di kantor ya! Lagipula saya dicium bapak bukan berarti saya mau sama bapak! Kan saya masih harus memantapkan hati saya dulu..."
"Apa ciuman saya nggak enak?" potong Bayu.
"Hah?! Nggak e... Bukan itu pak! Saya bukan model kena cium pertama langsung jatuh cinta meskipun tadi dada saya deg-degan... " Ajeng membasahi bibirnya. "Intinya, saya ingin kita pelan-pelan saja pak. Saya lebih berusaha realistis pak..."
"Ajeng, ini sudah paling realistis. Saya sayang kamu dan kamu pun pasti akan sayang sama saya."
"Pak Bayu, itu namanya memaksakan kehendak dan bisa masuk ke pasal perbuatan tidak menyenangkan..."
"Perbuatan yang menyenangkan..." Bayu mencium pipi Ajeng yang sebelah kanan karena yang kiri masih tampak sedikit bengkak.
"Ya Allah Jeng, cuma pipi!"
"Tapi nggak di public place juga!"
"Apa mau di kamar? Addduuuhhh...!" Bayu memegang dahinya yang kena keplak Ajeng.
"Enak saja di kamar!" bentak Ajeng galak.
"Lho mau dimana?"
"Nggak dimana-mana! Pak Bayu makin ngaco deh!"
"Coba kamu lihat sekeliling kamu, mana ada yang memperhatikan kita? Nggak ada! Karena apa, hal seperti itu lumrah disini. Tapi kalau di Jakarta, langsung pada julid dan diviralkan!"
Ajeng pun melihat ke sekelilingnya dan memang benar ucapan Bayu. Orang-orang yang sibuk berjalan - jalan mengacuhkan sekitarnya seolah tidak urusan orang lain. Ajeng juga melihat pasangan kekasih asyik berciuman di sebuah kursi taman seberang kursi tempat Bayu dan dirinya duduk. Orang-orang yang berjalan di dekat pasangan itu pun mengacuhkan mereka karena masih batas ciuman dan tidak lebih dari itu.
"Benar aku kan? Disini orang-orangnya tidak mau ikut campur urusan pribadi orang lain terutama orang pacaran. Jadi kamu santai saja..."
"Bukan begitu pak! Kalau ada yang lihat dari kantor gimana?" Ajeng menatap cemas ke Bossnya.
"So? No problemo kan selama kita profesional..."
Ajeng memicingkan matanya. "Kok aku nggak yakin ya soal pak Bayu bisa profesional..."
__ADS_1
"Bisa Jeng. Yakin!" senyum Bayu sambil menyisipkan rambut Ajeng ke belakang telinganya.
Ajeng menatap Bayu dengan perasaan tidak percaya. "Masih belum yakin aku pak!"
"Kita lihat saja nanti."
"Mas Bayu? Ajeng? Ngapain?"
Bayu dan Ajeng menoleh ke arah suara. Tampak Radeva sedang bersama Devan berdiri di hadapan pasangan itu.
"Sepatu baru mbak?" goda Devan saat melihat paper bag bertuliskan Christian Louboutin.
"Iya. Hadiah Halloween" senyum Ajeng.
"Oh hadiah Halloween..." goda Radeva dan Devan ke arah Bayu. "Apakah sudah diterima?"
"Belum..." jawab Bayu manyun.
"Owalaahhh. Jeng, diterima lah mas Bayu." Radeva menatap serius ke Ajeng.
"Sabar lah pak Radeva. Saya harus memastikan perasaan saya. Sebab ini bukan hal yang sepele" jawab Ajeng.
"Why?" tanya Devan.
"Apakah kalian tidak sadar kalian itu siapa, saya itu siapa? Menerima pak Bayu berarti saya harus siap menjadi bagian keluarga Sultan yang mana saya tidak boleh melakukan kesalahan sedikit pun karena berakibat skandal." Ajeng menatap ke ketiga pria itu bergantian.
"Jeng..." panggil Bayu.
"Ya pak?"
Bayu menepuk kepala Ajeng. "Mikirmu kejauhan!"
"Skandal itu seperti nama panggilan kami Jeng. Jadi kamu tenang saja" kekeh Radeva.
Ajeng semakin panik. Duh kalian itu gimana sih?
***
Radeva O'Grady Dewanata
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️