
PRC Group Building Manhattan New York
Ajeng mulai mengerjakan tugas yang diberikan oleh Bayu dengan melakukannya di dalam ruang kerja pria itu. Jika Bayu bilang itu penting berarti tidak boleh keluar dari ruang kerja Bayu dan itu final.
Dengan tekun Ajeng mengerjakan semuanya sesuai dengan instruksi Bayu yang dikirim via email tadi pagi. Ajeng membukanya saat tiba di kantor dan mulai mengerjakan. Hari ini hingga Jumat besok, adalah hari berkutat di ruang kerja Bayu putra Lisus, Twister, angin ribut, angin... Ajeng cekikikan sendiri.
Pak Bayu itu anaknya Pak Àbiyasa O'Grady dan Bu Gandari bukan putra Lisus apalagi Topan. Tunggu, bukannya mereka berdua pelawak ya? Ajeng tersenyum sendiri.
"Ya Allah Jeng! Kamu memang mulai sedeng deh! Kerja yang benar, jangan cekikikan nggak jelas!" monolog Ajeng sambil tangannya terus bekerja.
Tanpa disadari Ajeng, Bayu melihat semua perilaku Ajeng yang ngomong sendiri seperti menghilangkan rasa sepinya. Pria bermata biru itu tersenyum tipis melihat kelakuan sekretaris nya.
"Bay..." panggil Àbiyasa.
Bayu segera menutup MacBooknya. "Yes Dad?"
"Acara Mintang selesai, kita langsung pulang ya. Daddy ada pertemuan dengan Isobel hari Senin."
"Lha kan acaranya Mintang Sabtu. Minggu kita semua sudah pulang lagian aku juga sudah penuh jadwal yang sudah disusun oleh Ajeng."
"Ya sudah. Daddy nggak mau ada acara pulang Senin" ucap Abiyasa.
"Yang lain gimana?" tanya Bayu sambil melihat sekelilingnya.
"Semua oke pulang Minggu pagi. Nelson ada sidang hari Senin, Pedro dan Nadira harus balik ke Maryland juga kan."
Bayu mengangguk. "Oke dad." Perjalanan dari New York ke Brussels membutuhkan waktu sekitar delapan jam dan Bayu tahu, hari Minggu pasti usai subuh, semua sudah masuk pesawat untuk kembali pulang ke New York.
"Oke lanjutkan pekerjaan kamu" ucap Abiyasa yang kemudian berjalan menuju sang istri, Gandari.
Bayu membuka MacBooknya lagi dan terkejut melihat sekretarisnya bekerja sambil menonton Netflix.
Ajeeeennnggg!!!!
***
"Haatttsssyyyiiiinnngggg!" Ajeng mengusap hidungnya setelah bersin cukup keras. "Sopo sih sing ngerasani aku ( siapa sih yang ngomongin aku )? Dasar Tuyul! Aku tuh anak baik hati tidak sombong! Malah dighibah! Wong gek kerjo kok malah dirasani ( orang lagi kerja kok malah diomongin )!"
Gadis itu sudah menyelesaikan pekerjaannya yang pertama sambil menonton Netflix di ruang kerja Bayu yang ada tv layar lebar disana. "Lha Ono tv nganggur, lah opo dijarno. Setel wae ( lha ada tv nganggur , ngapain dicuekin. Nyalain saja )."
Ajeng tetap tekun bekerja meskipun layar tv nya tampak episode ketiga Lucifer disana. Gadis itu seperti menghilangkan rasa sepi di ruang kerja Bayu. Bosan dengan Netflix, akhirnya gadis itu menyetel Spotify.
__ADS_1
Bayu sampai harus menjauhkan airpods nya ketika mendengar suara jelek Ajeng saat menyanyikan lagu milik Whitney Houston.
Duh Jeng, alamat Whitney Houston bangkit dari kubur denger suara kamu! Falsetto kagak, fals iyaaa! - batin Bayu sambil terus menatap layar MacBook.
Bayu melihat Ajeng menoleh ke arah pintu dan seperti sekretaris profesional lainnya, sebelum membuka pintu, gadis itu menyimpan semua berkas ke dalam lemari besi untuk menghindari kehilangan. Setelah yakin terkunci, Ajeng berjalan menuju pintu ruang kerja Bayu.
Pria itu langsung mengganti kamera CCTV yang berada di depan pintu ruangannya dan dia mengenali jika yang datang adalah Magdala, sekretaris Alea Hamilton. Keluarga Hamilton memang tidak satu pesawat dengan keluarga O'Grady dan Blair karena mereka menggunakan pesawat pribadi sendiri.
Bayu mulai mendengarkan percakapan kedua gadis itu.
***
"Hai Mag! Ada apa ?" sapa Ajeng sambil menutup kembali ruang kerja Bayu.
"Makan siang yuk! Mumpung semua boss nggak ada, kita bisa duluan makan siangnya" ajak Magdala.
Ajeng melirik jam tangannya. "Okelah, kita makan siang sekarang. Tunggu aku ambil dompet aku dulu." Gadis itu membuka lemari berkode di bawah mejanya tempat dia menyimpan tas dan mengambil dompet nya. Setelahnya memeriksa pintu ruangan Bayu untuk mengetahui apa sudah terkunci atau belum.
Setelah dirasa aman, Ajeng pun berjalan bersama Magdala menuju cafetaria. Bayu masih tetap memeriksa perjalanan Ajeng. Pria itu pun berpindah CCTV ke cafetaria dan melihat Ajeng memesan menu nasi mandhi dan kambing beserta segelas besar es teh.
Magdala memilih memesan grilled chicken with wedges dan segelas besar es lemon tea. Keduanya lalu duduk di meja pojok dan Bayu bersyukur mereka dibawah CCTV. Pria itu lalu mengaktifkan mikrofon di CCTV itu.
Aku macam stalker saja. Bayu tersenyum dalam hati.
***
"Enak kalau boss pada pergi, kita bisa makan siang lebih duluan jamnya" ucap Magdala sambil menggigit kentangnya.
"Aku malah nggak perhatiin jam kalau sudah waktunya makan siang" sahut Ajeng.
"Memangnya kamu dikasih pekerjaan banyak sama Mr O'Grady?" tanya Magdala.
"Lumayan. Dia kan nggak bisa lihat aku menganggur. Jadi dikasihlah pekerjaan kantor bejibun."
"Jeng, aku mau tanya."
"Tanya apa?" sahut Ajeng cuek sambil memasukkan nasi dan daging kambingnya.
"Apa kamu dan Mr Radeva ada hubungan?"
Ajeng yang sedang mengunyah, langsung menghentikan acara makannya dan perlahan menelan nasi beserta daging kambingnya.
__ADS_1
"Nggak ada. Kenapa? Kamu naksir Mr Radeva?" Ajeng balik bertanya. "Lebih baik diurungkan saja."
"Kenapa?"
"Karena Mr Radeva sudah punya kekasih diluar sana dan itu bukan aku. Mr Radeva bisa akrab denganku, karena aku seperti saudara kembarnya. Jadi sebelum kalian memikirkan macam-macam, aku bilang dulu. Mr Radeva sudah bukan eligible bachelor" senyum Ajeng.
"Apakah kamu tahu siapa?"
"Tahu wajahnya. Cantik."
Bayu mendelik. Ajeng tahu lebih dulu dari semua keluarganya?!
"Tapi tidak tahu namanya? Kerja dimana?"
Ajeng menatap Magdala dengan tatapan geli. "Ya ampun, memang aku tukang gosip?! Mr Radeva bilang sama aku saja itu sudah suatu kehormatan bagiku. Jadi aku tidak mau terlalu ingin tahu. Cukup tahu beliau sudah punya kekasih ya sudah."
"Benar kamu tidak tahu siapa?" Magdala masih menatap Ajeng dengan wajah menyelidik.
"Aku tidak tahu Mag. Suatu saat pasti Mr Radeva bawa kekasihnya kesini sekalian launching couple" jawab Ajeng cuek. "Sudah, kita makan saja. Urusan pribadi boss, biarkan menjadi urusan mereka. Selama kita atau boss tidak menyenggol masalah pribadi, dunia damai sentosa dan bekerja pun enak."
"Kamu betah dengan Mr OGJ?" tanya Magdala.
"So far, aku fine-fine aja. Dibentak itu biasa apalagi kalau aku yang salah. Cukup mewek di pojokan, tapi habis itu harus kembali stand up. Selama boss kamu masih makan steak, aman. Tapi kalau sudah makan beling, nah harus dicurigai boss kamu kuda lumping" jawab Ajeng cuek.
Magdala melongo. "Haaaaahhh?"
***
Meanwhile di dalam pesawat menuju Brussels
Bayu melotot tidak percaya dengan ucapan Ajeng soal kuda lumping.
Brengseeekkk!!! Ajeeeennnggg!!!!
***
Yuhuuuu Up Sore Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️