My 100th Secretary

My 100th Secretary
Empat Wanita


__ADS_3

Pameran Wine di Ritz-Carlton New York


"Jeng, aku perkenalkan ini mbak Leia Bianchi, istri bang Dante Mancini. Lalu ini Deya, kakaknya Devan istrinya Bang To... eh Antonio. Dan yang wajahnya super kepo, Raveena kembaran Radeva yang lebih usil dari bocil kematian itu..."


Raveena tertawa mendengar istilah Bayu. "Tapi memang iya kok."


"Oke, ini Veena istrinya bang Alexis." Bayu menyipitkan matanya ke Raveena.


"Yuk Jeng, tinggalkan saja buang angin, mari kita mengghibah" ajak Raveena sambil menarik tangan Ajeng.


"Buang angin? Veena !!!" protes Bayu tapi Ajeng sudah ditarik ketiga wanita cantik itu.


"Bay, ayo kita lihat wine terbaru." Suara Dante membuat Bayu menoleh.


"Tapi..."


"Bay, Ajeng di tangan yang aman." Dante merangkul iparnya dan berjalan menuju para kolega para pengusaha wine itu berada.


***


Ketiga wanita cantik itu menatap Ajeng dari ujung rambut hingga ujung kaki. Jujur Ajeng merasa insecure dan dipelajari ... Sangat berbeda dengan Nadya... Lebih mirip Katya, Arabella dan Juliet tapi ini lebih intens.


Keempatnya kini berada di sebuah meja kosong dan duduk disana.


"So, Ajeng. Bagaimana kamu bisa bekerja dengan angin ribut?" tanya Raveena.


"Dari mana mbak Veena?" tanya Ajeng.


"Dari tadi. Ya dari awal lah Jeng!" gerutu Raveena mengingatkan Radeva wajahnya.


"Saya dipecat dari butik tempat bekerja sebelumnya lalu melihat lowongan di sebuah perusahaan mencari sekretaris dan saya coba melamar ternyata malah diterima." Ajeng menatap ketiga wanita cantik disana.


Savrinadeya atau Deya menggerakkan tangannya membuat bahasa isyarat, mengingatkan Ajeng dengan Astuti.


Ajeng kamu bodoh ! Nyonya Astuti adalah ibunya mbak Deya. Bukankah dik Devan bilang kakaknya tuna rungu. Hampir Ajeng menepuk jidatnya.

__ADS_1


"Jeng, Deya tanya. Apakah bekerja dengan mas Bayu menyenangkan?" Raveena menatap Ajeng.


"Well terlepas dari kemodusannya yang super haqiqi, it's fun" jawab Ajeng serius.


Leia dan Raveena terbahak sedangkan Deya tersenyum simpul.


"Dia penuh modus bukan? Macam Dante saja" kekeh Leia.


"Bagaimana rasanya pacaran dengan mas Bayu?" tanya Raveena. "Okelah kalau kerja menyenangkan tapi kalau pacaran? Pasti super modus!"


Ajeng mengangguk.


"Dan saudara kembar ku membuat mas Bayu nyaris menangis karena takut kalian berselisih jalan?" kekeh Raveena.


"Nggak seperti itu juga..." jawab Ajeng. "Tapi hampir sih..."


Ketiga wanita cantik itu pun langsung terbahak.


"Bisa aku bayangkan" kekeh Leia.


"Aku dan Dante bertemu karena rebutan wilayah di Turin... Oh bagaimana kabar Omar Zidane? Apa masih bersama Nadya?"


Ajeng tersenyum. "Masih."


"Kamu sudah bertemu Nadya kan? Bagaimana mereka berdua?"


"Bucin satu sama lain" jawab Ajeng.


"Alhamdulillah. Aku ikut senang Omar sudah mendapatkan pasangan yang mencintai nya sepenuh hati. Jujur jika saat itu aku belum ada perasaan ke Dante, aku bisa bersama Omar..." ucap Leia.


"Tapi Omar nggak bisa bikin kamu excited mbak. Kamu panasan, bang Dante panasan dan kalian cocok satu sama lain." Raveena menatap kakaknya.


"Iya sih. Dan pada dasarnya memang aku dan Omar tidak berjodoh. Dan Vicenzo tidak akan lahir" senyum Leia.


"Kalian semua sudah punya anak?" tanya Ajeng yang melihat body ketiganya masih bagus.

__ADS_1


"Sudah. Aku dan Dante punya Vicenzo. Sekarang sudah sekolah" jawab Leia.


"Aku dan Alexis punya Raul. Masih batita. Kalau Deya dan Bang Tomat, punya batita juga bernama Alano" sahut Raveena.


"Resep kalian punya badan bagus?" tanya Ajeng penasaran.


"Gym dan bela diri. Tapi kalau kamu besok punya anak Jeng, kamu nge-gym saja. Soalnya kalau kami, dari kecil sudah belajar bela diri" jawab Raveena.


"Hanya bela diri?" Ajeng bertanya lagi.


"No, kami semua bisa menembak." Leia menatap Ajeng serius.


"Menembak? Menembak dengan pistol? Serius?"


"Ajeng, sebagai keturunan keluarga Pratomo, kami semua diwajibkan untuk bisa menembak dan bela diri. Jadi, serius lah!" ucap Raveena.


Ajeng memegang pelipisnya. "Pantas saat di Brussels, kalian biasa saja termasuk Nadya."


"Kamu belum tahu saja. Adik kami yang di Dubai, bernama Kalila, adalah sniper" senyum Leia.


Tiba-tiba kepala Ajeng terasa pening.


Oh boy...



***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaaaa gaaaeeessss


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2