My 100th Secretary

My 100th Secretary
Pokoke Ayem Sek


__ADS_3

Mansion Blair di Staten Island New York


Rhett pun menghampiri Kaia dan Ajeng yang sedang asyik mengobrol sambil menikmati camilan di halaman belakang mansion.


"Z, cucu kita itu kayaknya minta ditendang deh ke Tibet !" ucap Rhett sambil duduk di sebelah Kaia.


"Siapa? Bayu?" tanya Kaia sambil menatap mata biru Rhett.


"Siapa lagi?" kekeh Rhett.


"Bikin ulah apalagi?" Kaia semakin tambah gemas dengan cucu satunya itu.


"Well, dia kan kamu hadang CCTV nya dan sekarang dia menelpon dengan telepon biasa ke mansion. Martin yang terima dan tetap tidak diberikan ke Ajeng. Ngamuk deh tuh Lisus ..." kekeh Rhett.


"Astaghfirullah... Mbok ya nunggu seminggu kenapa sih?! Dasar bocah bucin !" gerutu Kaia. "Wis Jeng, kamu telepon Bayu sana ! Timbang nanti malah mencolot mrene macam maling ( daripada loncat kesini seperti maling )!"


Ajeng terbahak. "Yakin Oma, kalau mas Bayu Tibo ( jatuh ), bakalan gempa bumi lokal."


Rhett dan Kaia tertawa. "Kowe kiiieee jebule ya podho durjanane Karo Radeva ( Kamu itu ternyata sama durjana nya dengan Radeva )."


Ajeng hanya memberikan senyum manis.


"Nih pakai ponsel Oma saja. Tunggu, biar Oma yang opening." Kaia mengambil ponselnya dan menelpon cucunya yang super ngeyel.


"Wa'alaikum salam. Heh, bocah ndablek ( bandel )! Dasar cicitnya pak Edward dan pak Abimanyu, memang kamu itu tukang ngeyel kok Yu !" omel Kaia galak. "Nih daripada kamu nekad jadi Spiderman !" Kaia menyerahkan ponselnya ke Ajeng.


"Good morning Mr O'Grady ..." sapa Ajeng usil.


"Ajeennggg... Kok kamu jadi sekretaris aku sih..." rengek Bayu.


"Ada yang salah pak Bayu...?" Ajeng sudah mulai cekikikan membuat Bayu jadi tersenyum di ruang kerjanya.


"Jeng, kamu nggak dijahili Oma kan?"


"Nggak, senang aku disini. Mas Bayu, mbok ya sabar tho. Kalau mas Bayu kemrungsung terus, rasanya lama. Digawe santai wae tho mas."


"Kalau sudah dengar suara kamu itu aku sudah ayem Jeng..." rayu Bayu.


"Udah dengar kan mas? Ya sudah, jangan telpon lagi ya. Manut sama Oma dan Bu Gandari."


"Iya sayang. Love you."


"Love you too." Ajeng mematikan ponselnya dan menyerahkan kembali ke Kaia.


"Wis ayem bocah Kuwi?" tanya Kaia sambil menerima ponselnya


"Ayem Oma."


"Dasar Lisus !" Kaia menggelengkan kepalanya.


***


Ruang Kerja Bayu O'Grady

__ADS_1


Bayu tampak tersenyum senang karena bisa mendengarkan suara calon istrinya. Bagi Bayu, mood booster tersendiri mendapatkan sesuatu dari Ajeng meskipun hanya suaranya dan cenderung mengomeli macam Gandari, tapi baginya sudah semacam siraman rohani demi memadamkan Twister yang bergejolak di tubuhnya.


"Mas Bayu mbok ya sabar tho ..." Bayu mendengarkan rekaman percakapannya dengan Ajeng barusan. "Love you too."


"Haaaaahhh... Nggak sabaarrr ijaaabbb !!!" seru Bayu heboh.


***


Hari Selasa


Pagi ini Ajeng sudah dijemput sopir Gandari untuk fitting kebaya yang dipesannya ke seorang desainer asal Indonesia yang berkarier di New York. Mereka akan bertemu di butiknya yang berada di Fifth Avenue Manhattan.


Ajeng tiba lebih dulu sepuluh menit dan tak lama Gandari datang. Ajeng pun Salim ke calon ibu mertuanya dan mereka pun masuk ke butik Sartika.


"Wah Bu Gandari..." sapa Sartika yang sebaya dengan Gandari.


"Jeng Tika. Gimana kebaya mantu saya?"


"Sudah bu, tinggal finishing. Bisa di fitting mbak Ajeng. Monggo Mbak."


"Njih Bu Tika." Ajeng pun diajak masuk ke dalam ruang ganti butik diikuti oleh Gandari. Ajeng pun dibantu oleh asisten Sartika sedangkan sang pemilik butik memilih mengobrol dengan Gandari.


"Bu Gandari, mas Bayu pintar ih cari calon istri. Sudah wong Jowo, njawani, mannernya bagus lagi."


"Almarhum kedua orangtuanya Ajeng kan dokter, mbak Tika dan dari cerita Ajeng, mereka mendidik Ajeng sangat Jawa."


"Owalaahhh, almarhum kedua orang tuanya dokter tho. Meninggal nya kenapa Bu?" tanya Sartika.


"Ingat pandemi di Suriname? Kedua orang tua Ajeng, dokter relawan disana tapi malah terkena wabah dan meninggal disana."


"Miss Sartika, Miss Ajeng is ready ..." panggil asistennya.


Salah satu asisten Sartika membuka pintu kamar ganti dan Gandari bisa melihat kebaya yang dipakai Ajeng.


"Masyaallah... Ayune ..."


***


Hari Jumat H-1 sebelum Ijab


Para keluarga besar klan Pratomo sudah hadir di New York dan Abiyasa sudah membooking St Regis Hotel untuk semua anggota keluarganya. Semua orang pun datang termasuk Fathir dan keluarganya yang datang jauh-jauh dari Queensland Australia.


Radyta senang bertemu dengan sepupunya Pahlevi yang memang jarang bertemu karena kesibukan putra Fathir itu di ranchnya.


Para generasi keenam pun tampak berkumpul tanpa ingat kalau mereka adalah raja Belgia, Emir Dubai, Mafioso Italia, Yakuza Jepang, dokter, peneliti dan CEO berbagai perusahaan keluarga.


Seperti biasa, generasi keenam pria memilih untuk berkumpul di kamar presidential suite St Regis tempat Bayu menginap.


"Kagak jadi pakai beskap lu mas?" tanya Arka.


"Nggak."


"Ajeng katanya pakai kebaya" celetuk Shinichi. "Eh tapi jangan deh. Nanti mas Bayu nggeblak macam Arka... Kita seksih repot gotong..."

__ADS_1


"Nah kan ! Aku sama Shinchan sama pikirannya" sambung Radeva.


"Lho Deva, kamu kepikiran juga?"


"Mamoru dan Giordano juga, Shin" kekeh Radeva.


"Oh, kalian memang adiknya Shinichi bukan Kudo. Didikannya bagus bukan? Menistakan dan membuat orang lain kesal itu mendapatkan doubel pahala. Pertama, kita dapat bahagia, kedua hiburan buat yang mendengarkan dan bikin ketawa. Benar kan?"


"Konsepnya nggak gitu, Kungkaaannggg !" hardik Luke Bianchi yang kesal dengan adiknya yang sering membuat orang lain darting.


"Eh ngomong-ngomong, kalian mau bulan madu kemana?" tanya Sean Léopold, sang raja Belgia yang kali ini seperti tidak ingat gelarnya.


"Solo."


"HAAAAAHHH? Kok ke Solo ?" teriak semua pria disana.


"Golek opo mas? Nasi liwet ?" celetuk Valentino.


"Jangan bilang kamu mau ke Tawangmangu... Ga banget ih !" sambung Arkananta.


"Pertama Ajeng kan sudah lama nggak ke Solo. Kedua, rumah orang tua Ajeng kan habis kontraknya jadi mau ada urusan dulu. Ketiga, setelah dari Solo kan bisa bablas ke Bali, atau balik ke Jakarta atau malah bisa ke Australia atau Jepang. Aku ingin mengajak Ajeng ketemu dengan keluarga kita di kota dan negara masing-masing. Kan dia belum ke Queensland tempatnya Pahlevi, belum ke Tokyo lihat markas Yakuza, belum ke London lamaan, belum ke Turin, Sisilia dan Milan, belum ke Dubai ke istana Al Azzam, belum ke Brussels dan belum ke Mumbai."


"Mas, kamu beneran mau keliling dunia?" tanya Giordano. "Mas Bayu benar-benar mau bahagiain mbak Ajeng ya?"


"Iya Gio... Jangan bilang kamu tahu juga?" Bayu memicingkan matanya ke putra Benjiro Smith itu.


Giordano hanya mengedikkan bahunya.


"Apaan? Masa lalu Ajeng?" tanya Luke.


"Iya" jawab Giordano.


"Aku tidak mau tahu Bay tapi yang kita tahu, kedua orang tua Ajeng orang baik dan mati syahid karena meninggal pada saat menolong banyak orang. Jangan sampai Ajeng tahu ! Dia bisa ngamuk dan insecure dengan kita-kita. Oke !" Luke menatap tajam ke Bayu. "Kamu juga Gio ! Jangan sampai keceplosan!"


"Iya bang" jawab Bayu dan Giordano bersamaan.


Trio kampret tampaknya tidak memperdulikan larangan Luke Bianchi, berusaha mencari tahu latar belakang Ajeng dari gadget canggih mereka dan mereka cukup paham kenapa Bayu dan Giordano menyimpan rahasia itu rapat-rapat. Ketiganya bersyukur Ajeng menjadi pribadi yang baik dari hasil didikan kedua orangtuanya.


"Shin, blokir semua orang-orang yang berkaitan dengan mbak Ajeng. Aku tidak mau kita kecolongan dan memanfaatkan mbak Ajeng karena menikah dengan mas Bayu!" bisik Arkananta ke Shinichi.


"Absolutely !" Shinichi lalu memblokir semua data dengan kemampuan hackernya. "Ternyata sudah kok Ka. Tidak ada yang bisa mengakses dan mengkaitkan mbak Ajeng."


"Siapa yang ... Oom Benji" gumam Valentino pelan.


Shinichi nyengir.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2