My 100th Secretary

My 100th Secretary
Ada Kalanya Kamu Harus Menahan Diri


__ADS_3

Apartemen Bayu O'Grady di Manhattan New York


"Aib nya apakah Membagongkan?" tanya Ajeng masih dengan posisi duduk diatas pangkuan Bayu. "Apakah saya berat mas?"


"Nope. Aku suka kalau kita mengobrol dengan posisi begini. Jadi ceritanya ini sudah menjadi aib umum di keluarga besar ku. Dan setiap ada yang hendak lamaran atau menikah, selalu diungkit tanpa pandang bulu kamu dari generasi ke berapa."


"Segitu parahnya kah mas?" Ajeng mengernyitkan dahinya.


"Parah. Dua kali. Dan yang melakukannya adalah pak Abiyasa Giandra Blair O'Grady."


"Haaahh?" Ajeng melongo. "Pak Abi? Bagaimana?"


"Jadi begini Jeng. Saat Daddy mau lamaran mommy, dia sangat gugup..."


"Siapa yang tidak..." senyum Ajeng.


"Dan... " Bayu berdehem untuk tidak tertawa mengingat video yang direkam Benjiro Smith dari berbagai sudut. "Saat hendak memasangkan cincin ke jari manis mommy, cincin itu gelinding..."


Ajeng menutup mulutnya yang menganga. "Nooooo..."


Bayu mengangguk. "Gelinding Jeng. Almarhum Grandma ku memiliki lemari jati di rumahnya dan cincin itu gelinding di bawahnya. Kamu bayangkan bagaimana beratnya lemari jati tulen dengan isinya di dalam yang merupakan berbagai macam barang dan artifak karena Grandpa dan Grandma aku adalah dosen art."


Ajeng menatap Bayu dengan tatapan tidak percaya dan geli menjadi satu. "Terus gimana itu mas?"


"Well Oma Kaia memukul Daddy sih saking kesalnya... Ada kok rekaman nya. Kami kan memiliki semua dokumentasi dari generasi kedua hingga keenam hasil koleksi yang dikumpulkan dari jaman Opa Joshua Akandra hingga ke Oom Benjiro Smith."


"Cincinnya?"


"Untung saat itu Tante Alea ikut dan kamu tahu dia sangat kurus tapi bongsor saat itu. Dengan bantuan spatula atau apalah itu, tangannya bisa masuk di bawah kolong lemari dan berhasil mengeluarkan cincin Daddy."


Ajeng tertawa geli. "Oh ya ampun. Benar kata Oma Kaia, semua keturunan keluarga Blair dan Giandra itu tidak ada beres."


"Tampaknya semua keturunan klan Pratomo tidak ada yang beres! Semua Membagongkan!" gerutu Bayu.


"Termasuk mas Kal-el kan?" kerling Ajeng.


"Termasuk pasangannya juga. Memang kamu pikir yang masuk ke keluarga kami semuanya beres dan normal? No Jeng, mereka sama bobroknya terutama yang menantu pria."


Ajeng jadi teringat cerita Arka soal ayahnya Bimasena Baskara yang main datang mengklaim Arimbi Giandra pada saat masih mengenakan seragam putih abu.


"Dan yang pria-pria termasuk nekad..." gumam Ajeng.


"Buat yang ingin mendapatkan gadis - gadis klan Pratomo memang harus nekad Jeng. Nekad dalam arti begini. Kamu tidak harus berasal dari keluarga kaya raya tapi kamu tulus, jujur dan benar-benar mencintai kami. Dan Alhamdulillah, semua mendapatkan jodoh yang memang sesuai." Bayu menatap Ajeng serius. Meskipun kami semua juga menscreening mereka sebelumnya.


"Padahal di jaman sekarang mas, jarang ada pria atau wanita yang tidak memikirkan itu. Pasti ada udang di balik tahu gimbal apalagi saat tahu bahwa cowok atau cewek yang kamu incar adalah keluarga Sultan."

__ADS_1


"Memang tapi kami juga tidak sembarangan kan Jeng. Macam kamu. Memangnya aku tidak tahu latar belakang kamu? Aku sudah tahu nama ayahmu, Argono Prawiro dan ibumu bernama Estiningtyas."


"Mas Kal-el kan melihat dari biodata saya kan?" Ajeng menatap Bayu geli.


"Aku juga tahu mereka dari panti asuhan di Solo."


Ajeng terkejut. "Mas Kal-el tahu?"


"Ajeng sayang, aku kan harus tahu segalanya soal kamu. Jadi wajar kan jika aku mencari tahu soal kamu. Tidak hanya kamu, Gemma dan DeeDee juga sekretaris lainnya pun kami cari tahu latar belakangnya karena, aku tidak mau mendapatkan pegawai yang tukang judi, mabuk dan pemada karena bisa mempengaruhi nama perusahaan."


"Kalau pak Bayu tahu, kenapa pak Bayu tidak bilang?" Ajeng merasa kesal karena kalah start dari Bayu yang membuat Ajeng menjadi bersikap seperti sekretaris lagi.


"Karena, aku ingin mendengar dari bibirmu sendiri Jeng. Kita kan jarang berbicara tentang keluarga dan persoalan pribadi."


"Mas Kal-el juga tahu keluarga saya?" Ajeng merasakan degup jantung nya semakin cepat karena dia tidak ingin zona nyamannya terusik.


Bayu menggelengkan kepalanya. "Tidak. Hanya tahu mereka dari panti asuhan yang sama di Solo."


"Mereka bukan kakak..."


"No, Jeng. Ayahmu, Argono dan ibumu Estiningtyas bukan kakak beradik jadi bukan incest."


Alhamdulillah...


"Pihak panti asuhan tempat mereka tinggal sudah membuktikan bahwa mereka tidak ada hubungan darah apalagi saat mereka menikah kan saksinya ibu pengasuh panti asuhan. Mereka berdua kan dokter Jeng, jadi sudah pasti ada pemeriksaan kesehatan sebelum menikah."


"Apa kamu yakin tidak mau aku menggali keluarga kamu lebih dalam?"


Ajeng menggeleng. "Tidak pak. Seperti yang sudah aku bilang tadi, aku sudah di zona nyaman dan aku tidak mau ada drama atau friksi yang membuat berantakan semua rencana aku..." Ajeng mengangkat wajahnya dan menatap Bayu yang belum mencukur rahangnya. "Bukankah rencana aku menyelesaikan kontrak, terus pulang ke Solo..."


Bayu mendelik. "Enak saja ! Habis kontrak, kamu itu nikah sama aku Jeng !"


Ajeng cekikikan. "Masa sih?"


Bayu mencium bibir Ajeng. "Kamu itu benar-benar menjelehikan !"


Ajeng terbahak. "Bahasa apa itu mas, menjelehikan? Tidak ada di KBBI maupun kamus bahasa Jawa."


"Kata baru ! Nanti aku patenkan !"


Ajeng cekikikan. "Love you mas Kal-el."


"I love you more Jeng."


***

__ADS_1


Menjelang sore, Bayu mengantarkan Ajeng pulang ke apartemennya setelah mereka memutuskan jalan-jalan dulu sambil berbelanja isi kulkas Ajeng yang mulai berkurang.


Sesuai dengan janjinya, Bayu hanya mengantarkan tanpa mampir daripada nanti terkena sita ibu negara. Ajeng pun maklum karena Bayu adalah tipe anak yang tidak mau melawan Gandari.


Usai dari apartemen Ajeng, Bayu menyetir mobilnya menuju apartemen Benjiro Smith dan Jang Geun-moon. Pria itu sangat penasaran tentang silsilah keluarga Ajeng karena bagaimana pun, jika hendak menikah, setidaknya kalau masih ada keluarga, sudah sepatutnya ada wali nikah dari keluarga Ajeng.


Giordano, putra Benjiro dan Jang Geun-moon yang membukakan pintu, tersenyum melihat wajah kakaknya.


"Masuk mas Bayu" ucap Giordano yang biasa dipanggil Gio sambil mempersilahkan tubuh besar kakaknya masuk ke dalam apartemen Benji.


"Thanks Gio. Oom Benji dan Tante Moon.. ada?"


"Daddy ada tapi eomma sedang pergi dengan Tante Aruna. Sebentar. Duduk dulu mas." Gio pun berjalan menuju kamar kerja Benjiro sedangkan Bayu duduk di sofa ruang tengah. Seorang pelayan datang membawakan kopi hitam dan sebotol air mineral karena sudah hapal kebiasaan Bayu.


"Bayu... Tumben... Ada ide barang baru?" goda Benji saat keluar dari Ruang Kerja bersama Giordano.


"No Oom." Bayu berdiri sambil bersalaman dengan Benji. "Hanya minta tolong."


"Aibnya siapa?" kerling Benji jenaka.


"Bukan aib. Lebih menjurus silsilah."


"Ajeng?" tebak Benji membuat Giordano tersenyum.


"Yup. Aku dan Ajeng insyaallah akan menikah tahun depan usai Eagle. Tapi sepatutnya kalau Ajeng masih memiliki keluarga, mereka bisa menjadi wali nikah kan Oom?"


"Apakah Ajeng ingin tahu siapa keluarganya?"


"No Oom. Dia tidak mau kehilangan zona nyamannya."


"Bay, hemat Oom, kamu turuti Ajeng. Bukan apa-apa, bagaimana jika Ajeng malah marah padamu karena terlalu ikut campur mencari tahu keluarga nya yang dia sendiri juga tidak mau tahu. Baginya tahu kedua orangtuanya dibuang di panti asuhan itu sudah membuatnya sakit hati apalagi kalau tahu alasannya. Pikirkan perasaan Ajeng, Bay. Orang tua Ajeng yatim piatu, Ajeng yatim piatu. Dan kalau kalian mau menikah, cukup pakai wali hakim. Selesai."


Bayu tampak tercenung.


"Bay, ada hal-hal yang tidak perlu dibawa ke permukaan, karena demi kebaikan dan menjaga perasaan masing-masing. Kecuali jika Ajeng sendiri yang memintanya. Paham ya Bay." Benji menatap Bayu serius.


Bayu mengangguk meskipun masih penasaran tapi demi menjaga gadisnya yang sering overthinking, jiwa keponya harus ditahan.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2