My 100th Secretary

My 100th Secretary
Dibawa Pergi


__ADS_3

Ruang Kerja Bayu O'Grady


Ajeng masih berdiri menunggu Gandari yang mode emak-emak ngamuk ala macan. Ibu cantik itu lalu menelpon Hunter dan Doogie memintanya datang ke ruangan Bayu.


"Ada apa Mrs O'Grady?" tanya Hunter yang melihat wajah manyun Bayu dan wajah takut Ajeng.


"Hunter, Doogie, saya minta seminggu ini kamu jadi sekretarisnya Bayu! Biar bocah satu ini merenungi nasib dan kelakuannya !" perintah Gandari.


"Lho Ajeng mau kemana, Mrs O'Grady?" tanya Doogie bingung


"Mau saya karungin, bungkus dan kirim ke Solo !" jawab Gandari cuek membuat Bayu melotot dan Ajeng melongo.


"MOM!" protes Bayu.


Gandari hanya menatap tajam ke arah putranya yang langsung terdiam. "Ajeng, bereskan semua bawaan kamu. Kasih tutorial pekerjaan kamu secara singkat ke Hunter dan Doogie. Jika kalian ada yang tidak paham, tanya nanti sama Ajeng. Ayo, kalian bertiga keluar!"


Hunter, Doogie dan Ajeng lalu keluar tapi dua pengawal berdarah Irlandia itu menatap gadis yang tampak menunduk.


Setelah ketiganya keluar dan menutup pintu, Gandari menatap putranya. "Kamu itu! Mommy tidak melarang kamu sama Ajeng! Tapi lihat-lihat tempat! Iya benar ini ruangan kamu ! Kamu bebas mau ngapain! Mbok ya diingat! Ini masih jam kantor, angin Lisus! Kalau kamu tidak bisa profesional seperti kata Ajeng, mending mommy kirim Ajeng pulang ke Solo !" bentak Gandari.


"Mom, kan Ajeng masih ada sisa kontrak..."


"Mommy yang akan bayar penalti nya Ajeng! Kamu mikir nggak sih perasaan Ajeng? Dia tidak nyaman, Bayu! Dan mommy setuju Ajeng belum menerima kamu sampai sekarang karena kamu bikin dia amburadul!" Mata coklat Gandari tampak berkilat marah. Sungguh Gandari rasanya ingin bejek-bejek putra tunggalnya satu ini tapi dirinya kalah kuat.


Bayu menatap ibunya dengan wajah memelas. "Mom, jangan bawa pergi Ajeng. Aku ... tidak bisa konsentrasi bekerja kalau Ajeng pergi..."


"Biarin ! Mommy tidak suka melihat kamu merusak anak gadis ! Bayu, mommy dan Daddy pernah muda, pernah seperti kamu ! Tapi kamu, kamu sering tidak lihat tempat! Mommy Kaia sampai laporan sama mommy kalau kamu terlalu over romantis ke Ajeng. Bayu, dia belum jadi istri kamu, nak. Bersabarlah, Ajeng tidak akan kemana-mana asal kamu bisa profesional! Paham ?" Gandari menepuk pipi Bayu. "Mommy bawa Ajeng kamu seminggu !"


Bayu melongo. "Moooommmm!" rengeknya.


"Sampai kamu tidak bisa merubah sikap kamu, Ajeng tetap tidak akan kembali kesini !" Gandari lalu membuka pintu ruang kerja Bayu dan menutup nya. Bayu hanya bisa menggebrak mejanya yang untungnya kuat.


"AAAARRRGGHHHH! Mommy menyebalkan !!!" umpat Bayu.


***

__ADS_1


Gandari melihat Ajeng sedang mengajari dua pengawal Bayu tentang cara menggunakan schedule dan jadwal yang sudah disusunnya Minggu ini dan Minggu depan.


"Kalau ada yang tidak paham, kamu bisa hubungi aku Hunter" ucap Ajeng.


"Bayu paham nggak?" tanya Hunter.


"Pak Bayu tipe yang tahu beres. Oh jangan lupa kopinya pak Bayu gula satu cube small sama camilan wajib. Terserah apa tapi memang satu paket kopi dan camilan" jawab Ajeng.


"Oke noted!" ucap Doogie sambil mencatat di buku notesnya.


"Sudah? Kalian sudah tahu caranya?" tanya Gandari.


"Yes Mrs O'Grady. Tidak paham tinggal tanya Ajeng" senyum Hunter.


"Tolong ya boys, seminggu ini saja. Biar anakku satu itu bisa merenung meskipun aku tidak yakin dan pasti bakalan ada Twister F-5 ! Hajar saja kalau mulai ngaco !"


"Tenang saja Mrs O'Grady, aku dan Hunter bisa menghandle Bayu" jawab Doogie menenangkan istri Abiyasa O'Grady itu.


"Kamu sudah selesai?" Gandari menoleh ke arah Ajeng.


"Sampun Bu."


"Semangat Jeng ! Aku yakin demi kebaikan kamu tapi musibah buat Bayu" kekeh Hunter bahagia.


"Tolong jaga Pak Bayu ya kalian berdua. Kalau macam-macam, seperti kata Bu Gandari, hajar saja!" senyum Ajeng.


"Sure my little sister" jawab Doogie sambil menepuk kepala Ajeng pelan.


"Aku pergi dulu." Ajeng bergegas menyusul Gandari yang ternyata sedang menelpon seseorang.


"Iya mas. Ta bawa pergi saja!" ucap Gandari menggunakan bahasa Indonesia. "Ben Bayu mikir ( biar Bayu mikir ). Bocah ora nggenah, marakke Ajeng ora nyaman tho ( Anak nggak beres, bikin Ajeng tidak nyaman lah )!"


Ajeng hanya berdiri menunggu Gandari.


"Wis Jeng ( Sudah Jeng )?" tanya Gandari saat menoleh melihat Ajeng di sebelahnya

__ADS_1


"Sampun Bu."


"Wis yuk lungo ( Ayo kita pergi ). Mas, aku tak lungo sek Karo Ajeng ( mas, aku pergi dulu sama Ajeng. )..." Pamit Gandari ke suaminya Abiyasa. "Ke galeri... Ben Ajeng seminggu rewangi aku ( Biar seminggu ini Ajeng bantu aku )." Gandari lalu menyimpan ponselnya setelah selesai menelpon suaminya.


Gandari masuk ke lift khusus bersama Ajeng. Wanita cantik itu menatap Ajeng dari refleksi kaca dinding lift.


"Jeng, apa kamu juga suka sama Bayu?" tanya Gandari.


Ajeng menatap ibu Bayu itu dengan wajah memerah. "Bu, meskipun saya berusaha untuk menghindari pak Bayu tapi saat di Jakarta, melihat pak Bayu melongo dengan wajah patah hati kecele mendengar saya dan duo Dev sudah balik ke New York, saya terharu Bu. Bagaimana pak Bayu tenanan ngoyak ( beneran ngejar ) saya sampai Jakarta. Ada perasaan hangat gimana gitu Bu... Mungkin sejak itu saya mulai jatuh hati sama pak Bayu... "


"Jeng, aku senang kamu juga suka dan sayang sama Bayu. Oom Bara dan Tante Gendhis sudah cerita ke kami. Dan aku juga salut dengan pendirian kamu untuk tetap profesional tapi Bayu adalah orang yang ekspresif dan spontanitas. Jika dia sudah suka, maka dia tidak akan tanggung - tanggung. Kamu bisa merasakannya kan?"


"Iya Bu. Jujur saya suka Keluarga ibu yang menerima saya dengan tangan terbuka di Jakarta apalagi pada saat berkumpul dengan para sepupu pak Bayu...."


"Mereka brutal kan?" kekeh Gandari.


"Iya lho Bu. Tega nistain satu sama lain" senyum Ajeng saat mengingat bagaimana Valentino, Arka, Dewa dan Radyta menistakan Radeva, Devan dan Bayu.


"Mereka hanya menistakan antara keluarga saja dan bersama orang yang dianggap cocok masuk ke lingkungan kami tapi tidak dengan orang asing. Kami cenderung dingin dan kaku jika berhubungan dengan urusan bisnis." Gandari dan Ajeng keluar dari dalam lift yang sudah sampai area parkiran.


"Bu, bagaimana dengan pak Bayu?" tanya Ajeng cemas saat mereka masuk ke dalam mobil Gandari.


"Hei, baru kamu tinggal 15 menit kamu sudah panik?" kekeh Gandari.


"Saya lebih mengkhawatirkan Hunter dan Doogie. Kan berabe kalau pak Bayu sudah ke level F-5..." gumam Ajeng sambil menatap gedung PRC Group dari kaca jendela mobil.


"Tenang saja. Hunter dan Doogie bisa menghandle Bayu. Macam-macam, kasih stun gun kan beres !" jawab Gandari cuek membuat Ajeng terperangah.


Astaghfirullah Al Adzim. Bu Gandari rupanya sama saja bar-barnya.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2