
Ruang Kerja Bayu O'Grady
Bayu tampak dingin saat Ajeng masuk membawakan kopi keduanya pagi ini. Entah kenapa rasanya hari ini pengen marah-marah. Apa gara-gara tahu acaranya Mintang dan Raj diawasi jadi bikin aku jengkel ya?! For God's sake, mereka berdua biarkan bahagia kenapa sih!
"Your coffee, Mr O'Grady" ucap Ajeng.
"Thank you Jeng."
Ajeng mengangguk dan berniat untuk keluar dari ruang kerja bossnya.
"Jeng..."
"Ya pak?"
"Kamu nanti makan siang sama saya ya."
Ajeng melongo. "Lha bapak, saya kan sudah diajak makan siang sama pak Radeva. Nggak enak saya pak..."
Bayu hanya menatap Ajeng dingin. "Boss kamu saya atau Deva?"
"Bapak. Tapi namanya sudah janji harus ditepati, pak" eyel Ajeng. Prinsipnya tadi dia sudah oke dengan Radeva ya tidak bisa dibatalkan.
"Ajeng..." Nada suara Bayu terdengar dalam dan tidak mau dibantah tapi Ajeng is Ajeng.
"Pak, apa bapak kalau di posisi pak Radeva nggak bakalan kecewa? Sudah janjian tapi dibatalkan sepihak? Nggak ilok ( nggak pantas ), pak."
Bayu menggenggam erat pulpen yang dipegangnya tapi tetap menatap dingin ke sekretaris nya yang memasang wajah polos.
"Terserah kamu!" hardik Bayu. "Sudah, kamu kembali ke meja mu!"
"Njih pak." Ajeng pun keluar dari ruang kerja Bayu meninggalkan pria itu yang merasa gondok ditolak ajakan makan siangnya oleh sekretaris nya sendiri.
***
Jam Makan Siang
Radeva datang ke meja Ajeng sambil tersenyum yang dibalas oleh gadis itu.
"Yuk makan di cafetaria" ajak Radeva.
"Baik pak Radeva." Ajeng mengambil dompetnya dan menyimpan tas nya di lemari kecil dekat meja kerjanya yang terkunci dengan sidik jari.
"Mas Bayu kemana?" tanya Radeva yang melihat ruang kerja kakaknya kosong dari layar monitor Ajeng.
"Kurang tahu saya pak. Tadi sepertinya lagi bad mood terus main pergi gitu saja. Cuma bilang 'Jeng, hold semua. Saya mau pergi!' Gitu doang" jawab Ajeng apa adanya.
Radeva mengerenyitkan alisnya. "Mas Bayu memang lagi bad mood ya Jeng?"
"Iya pak." Ajeng mengangguk sambil berjalan bersama Radeva menuju lift khusus.
"Kamu tahu Jeng, aku tuh suka ngobrol sama kamu itu bukan ada tendensi apa-apa lho..." ucap Radeva. Dia tahu Ajeng bukan cewek ganjen dan gampang baper tapi mengingat dulu dia mantan playboy, Radeva merasa perlu meluruskan.
"Lha saya nggak berpikir apapun. Bagi saya ketemu dengan orang yang bisa bahasa Indonesia dan Jawa itu sudah bikin hati senang."
Keduanya masuk ke dalam lift. "Aku tuh kangen saudara kembar aku Jeng."
__ADS_1
Ajeng menatap Radeva. "Saudara kembar pak Radeva dimana?"
"Ikut suaminya ke Turin Italia. Mana sekarang lagi hamil, sensitif nya minta ampun. Biasanya aku ada teman cewek receh, eh gadha. Terus ketemu kamu, jadi ingat sama Raveena. Nama saudara kembar ku Raveena biasa dipanggil Veena."
"Wah, pak Radeva mau jadi paklek dong!" celetuk Ajeng sambil tertawa.
"Paklek? Ya Allah Jeng, nggak sekalian uncle?"
"Dih, sudah biasa itu pak Radeva. Sekali-kali panggilannya beda, paklek" gelak Ajeng.
"Asal kamu nggak bilang pakdhe saja..." gumam Radeva.
"Pak Radeva dan mbak Veena duluan siapa lahir?"
"Aku."
"Berarti pakdhe!"
Radeva mendelik judes lalu menepuk kepala Ajeng pelan. "Makin ndodro ( makin menjadi )!"
Ajeng terbahak sambil memegang kepalanya yang kena tepuk.
***
Gym Milik Keluarga McGregor dan Blair
Bayu tampak terengah-engah usai menghajar samsak di gym milik keluarganya yang dibuka secara eksklusif dan hanya selected member yang bisa masuk sana. Kebijakan ini dibuat oleh Abi dan Reana agar bisa latihan bersama dengan rekan bisnis dan sahabat mereka.
"I guess..." jawab Bayu.
"Kamu menghajar samsak macam kamu menghajar Triad Wong" kekeh Eddie.
"Hah?" tanyanya dengan nafas masih memburu.
"Lihat tuh, sampai rusak. Kamu apain sih?"
Bayu melihat samsak milik gym, sobek hingga mengeluarkan serbuk karet yang merupakan isiannya. "Lha?"
"Malah lha!" gelak Eddie. "Mandi, Bay. Biar segar. Aku traktir kamu makan siang" ajak Eddie Hamilton yang merupakan salah satu CEO Hamilton Mall.
Bayu hanya mengangguk. Kenapa rasa kesal ini tidak hilang-hilang?
***
Cafetaria PRC Group Building Manhattan New York
Radeva dan Ajeng tampak asyik mengobrol menggunakan bahasa Indonesia membuat para pegawai tampak bergosip tentang keduanya. Apalagi Radeva termasuk eligible bachelor selain Bayu O'Grady.
Magdala adalah salah satu yang naksir Radeva tapi pria itu tampak acuh dan saat melihat bagaimana akrabnya Ajeng dan Radeva, membuatnya cemburu, begitu juga dengan para wanita lajang di gedung itu.
Yang dicemburui malah seperti tidak paham dan tetap mengobrol santai dengan lajang incaran para kaum Hawa.
"Jadi suaminya mbak Veena itu asistennya saudara sepupunya Pak Luke Bianchi?" tanya Ajeng.
__ADS_1
"Hu um. Veena itu seperti kamu, asal njeplak, cerewet, ramai tapi bang Alexis ... Duh, kebalikan dari Veena. Pendiam, kalem, kalau ngomong kaku dan pelan. Nggak ngerti kok bisa jatuh cinta sama kembaranku yang bisa dibilang cewek urakan."
"Kok pak Radeva manggil pak Alexis, bang?" tanya Ajeng bingung.
"Karena jarak usia antara Veena dan Bang Alexis lumayan jauh. Sekitar delapan tahun. Jadi kami biasa manggil bang."
"Oooohhh I see. Paham lah! Terus sekarang mbak Veena lagi hamil dan bikin heboh?"
"Yup. Ini bang Alexis tadi pagi sampai mengeluh ke mami kalau Veena minta dibuatkan bubur kacang hijau. Dan harus bang Alexis yang buat!" Radeva cekikikan saat mendengar bagaimana Reana dengan sabar mengajari menantunya membuat bubur kacang hijau sesuai dengan resep keluarga. "Mamiku untung nya sabar tingkat gunung Olympus! Jadi mengajari iparku itu super telaten."
Ajeng terbahak. "Ohya ampun..."
"Beneran deh! Cewek kalau hamil itu merepotkan!" sungut Radeva.
"Eh, nggak boleh bilang begitu! Nanti pak Radeva punya istri, bisa lebih parah lho ngidamnya dari mbak Veena" tegur Ajeng.
"Amit-amit!" ucap Radeva membuat Ajeng cekikikan.
"Pak Radeva..."
"Ya?"
"Pak Radeva sudah punya pacar?" tanya Ajeng.
"Masih penjajakan, Jeng. Doanya saja..." senyum Radeva.
"Siapa kah itu?" goda Ajeng dengan wajah kepo.
"Gadis blasteran Amerika Indonesia, kuliah semester akhir di New York University. Adik kelas aku dulu" senyum Radeva. "Hanya saja dia masih malu-malu aku ajak kencan."
"Kenal dimana?"
"Kami satu tim olimpiade menembak jadi sudah kenal lama. Waktu olimpiade kemarin, aku mendapat medali emas, dia mendapatkan medali perak."
"Namanya siapa?" Ajeng tampak antusias.
"Namanya Ganiya, panggilannya Aya." Radeva menunjukkan foto seorang gadis dengan gaun bewarna peach.
Introducing Ganiya Redford.
"Cantik. Semoga jodoh ya pak" ucap Ajeng tulus.
"Aamiin." Radeva tersenyum manis.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1