My 100th Secretary

My 100th Secretary
Masih di Poughkeepsie


__ADS_3

Gedung Milik keluarga McGregor dan Blair di Poughkeepsie New York


Semua orang menunggu hasil tembakan kesembilan pria disana termasuk para Mafioso yang akan bertanding berikutnya.


"Aku benci Revolver !" teriak Shinichi kesal. Tangannya dikibaskan karena tidak nyaman.


"Siapa yang persisi?" tanya Dante penasaran. Baginya, iparnya adalah saingan yang wajib di awasi.


Juliet dengan ditemani Kalila dan Leia memperhatikan masing-masing kertas target saudaranya.


"Yg paling persisi... Kungkaaannggg!" ucap Juliet heboh.


Sontak Radeva, Bayu dan Luke menoleh ke arah Shinichi yang masih memegang tangannya. Bagi ketiga orang yang dikenal sangat persisi menembak apalagi Radeva adalah atlet menembak nasional dan internasional, ada rasa tidak rela dirinya dikalahkan sepupu absurdnya.


"Kok bisa ?" Radeva tidak terima dan melihat hasil kertas target. Dari enam peluru yang ditembakkan, memang hanya Shinichi yang menembak di tengah-tengah.


"Lha ini bolongnya pas di tengah-tengah" ucap Leia sambil memperlihatkan kertas yang bolong lumayan besar.


"Kamu kan benci Revolver! Kok bisa nembak bener?" tanya Bayu.


"Mbuh ! Aku nembak sambil merem dan ogah-ogahan" jawab Shinichi cuek membuat yang lain terbahak sedangkan tiga abangnya menatap sebal.


Ajeng dan Sakura tertawa geli melihat ekspresi Shinichi yang hanya menatap polos tanpa dosa.


"Sudah, sekarang giliran para Mafioso. Bang Dante, Bang Tomat, Bang Alexis, Bang Michel, Bang Alessandro" panggil Giordano.


"Kita pakai apa nih?" tanya Alessandro yang melihat deretan pistol disana.


"Smith and Wesson 500" seringai Mamoru.


Kelima Mafioso itu melongo. "Kamu kira kita cowboy apa Moru?" hardik Dante sebal.


"Sekali-kali lah... Kalian mengharap pakai dessert Eagle kan? No way Férguso. Smith and Wesson 500 !" Mamoru memberikan kode ke para pengawal untuk meletakkan senjata yang banyak dipakai para cowboy.



Smith and Wesson 500

__ADS_1


Kelima pria Italia itu pun menempatkan diri di tempat arena menembak lalu memasang kacamata khusus serta ear Muff. Kelimanya pun memasukkan enam peluru kaliber 9mm ke dalam clyinder dan bersiap untuk menembak.


"Ready? FIRE !" teriak Mamoru.


Kelima pria tampan itu pun menembakan enam peluru disana membuat semua iparnya tampak penasaran siapa yang paling jago memegang Smith and Wesson.


Mamoru dan Giordano pun mengambil hasil kertas target masing-masing. Keduanya pun nyengir tahu siapa yang paling persisi.


"Siapa pemenangnya Moru?" tanya Luke penasaran.


"Bang Alexis" senyum Mamoru.


"Yeeeeaaaahhhh ! Laki gue menang !" teriak Raveena sambil menghampiri Alexis dan langsung menubruk suaminya yang menggendongnya macam koala. Raveena mencium mesra Alexis yang sudah memberikan satu putra bernama Raul. Mereka seolah lupa tidak sendirian membuat para anggota keluarga lainnya melengos.


"Ampun deh Veena dan Alexis. Macam Nadya dan Omar" sindir Nelson ke arah pasangan bucin yang saling berpelukan itu.


"Giliran Law Enforcement dan yang terlibat di Hongkong tapi belum menembak. Bang Pedro, Bang Omar, Gabriel, Jayde, Wira dan Alexander !" panggil Garvita.


"Hah?! Aku juga ikutan?" tanya Gabriel bingung sambil menatap istrinya.


"Iyalah ! Kan kalian kena kasus Hongkong !" cengir Garvita.


"Pakai apa ini Garvita?" tanya Pedro yang berdoa tidak memegang revolver.


"Magnum Desert Eagle !"



Magnum Desert Eagle .357


"Iyeeesss !" seru Pedro dan Sadawira.


"Curaaaannnngggg !" teriak para pria yang sudah menembak sebelumnya.


"Dilarang komplain !" balas Garvita judes. "Ayo bersiap semuanya."


Pedro, Omar dan Sadawira tampak senang karena bisa memegang senjata klasik yang biasanya dipakai oleh polisi tapi sudah digantikan ke SIG atau Glock sekarang.

__ADS_1


"Siap boys ?" tanya Garvita sambil mengenakan ear Muff nya.


"Siap!" jawab keenam pria itu yang sudah siap dengan kacamata khusus dan ear Muff.


"1...2...3 !"


Suara tembakan terdengar dan dalam waktu sekejap 12 butir peluru pun habis ditembakkan keenam orang itu.


Garvita bersama Kalila memeriksa hasil tembakan keenam pria itu dan keduanya tersenyum.


"Ada yang seri" senyum Garvita.


"Siapa?" tanya para anggota keluarganya.


"Duo vampir."


Jayde dan Sadawira saling berpandangan lalu bergegas melihat hasil kertas target.


"Kalian berdua menembak tepat sasaran, bang Pedro meleset ke poin 8, bang Omar ke poin 9, Alexander ke poin 8 dan Gabriel ke poin 7. Hanya kalian berdua yang konsisten di angka 10 tengah-tengah." Kalila menatap dua pria yang dipanggil vampir oleh para saudaranya.


"Aku tidak tahu kamu jago juga Wir" kekeh Jayde.


"Padahal aku lebih sering pegang scaple sekarang" cengir Sadawira.


"Yuk, kita masih habiskan waktu sampai jam tiga subuh. Dan ini masih jam setengah dua. Siapa lagi yang mau main tembak, panahan atau crossbow?" tanya Radeva.


Ajeng hanya bisa mengelus dadanya melihat bagaimana aslinya keluarga suaminya yang tanpa ragu memegang senjata apapun dengan keributan yang sangat haqiqi.


Pantas kasus Brazil dan Hongkong, mereka santai saja. Wong mainnya kayak gini.... Ampun deh Gusti Allah.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2