
Ruang Kerja Bayu O'Grady
Bayu menghampiri Ajeng yang memegang pipi kirinya akibat tadi main teriak ke Bossnya.
"Kamu tuh sudah tahu habis kena hajar, malah teriak-teriak. Eling ( ingat ) Jeng!" omel Bayu gemas melihat sekretarisnya yang memegang wajahnya sambil mengerenyit kesakitan. "Ada kompres kan?"
Ajeng mengangguk. "Di kantong obat. Tadi diberi dokter Victoria."
"Sudah, keluar. Kamu kompres di perjalanan" ucap Bayu sambil menghela gadis itu keluar dari ruang kerjanya dan menutup pintunya hingga mengunci otomatis.
"Kamu tuh... " kekeh Radeva melihat wajah manyun Ajeng. "Betul itu tugas kamu tapi ingat lah wajah kamu lagi sakit."
"Yuk pulang. Hunter, Doogie, kalian bawa Aston Martin nya. Deva, kamu masih kerja?" Bayu menatap ke ketiga pria itu.
"Yup. Ini masih jam empat ya mas, masih ada sejam lagi aku pulang. Hati-hati kalian" senyum Radeva.
"Saya pulang dulu pak Radeva" pamit Ajeng.
"Selamat beristirahat dan lekas sembuh. Besok kan ada Aya jadi kamu tidak sendirian."
Ajeng mengangguk. "Dik Moru juga!"
"Mamoru jadi ke apartemen kamu?" tanya Bayu.
"Hu um. Tadi pagi Mrs Hamilton sudah bilang."
Bayu menggelengkan kepalanya. Maunya sih Ajeng beristirahat tapi dia sangat mengenal gadis itu, kalau sudah berjanji, pantang membatalkan. Keempat orang itu pun berjalan menuju lift khusus sedangkan Radeva memilih ke ruangan divisi desain yang satu lantai dengan ruang kerja Bayu.
"Alesha!" panggil Radeva membuat semua orang di divisi desain menoleh dan terkejut melihat adik Bayu disana.
"Ya Mr Dewanata" jawab Alesha yang kemudian menghampiri Radeva. "Apakah Ajeng sudah pulang?"
"Ya. Terimakasih sudah membawa Ajeng ke dokter Victoria."
"Sama-sama Mr Dewanata" jawab Alesha dengan nada lega karena takut kalau Radeva menegur dirinya karena membuat Ajeng terluka.
"Apakah Preston dipecat, Mr Dewanata?" tanya salah seorang rekan Alesha.
"Bisa jadi."
"Thanks God!" ucap banyak orang. "Sebab dia sudah berani main tangan ke wanita."
"Apa maksud kalian?" tanya Radeva yang tidak terlalu ikut campur kehidupan pribadi pegawainya yang banyak. Selama tidak mempengaruhi kinerja dan jam kantor mereka, para petinggi PRC Group tidak ambil pusing.
"Banyak pak cerita soal Preston. Tapi dia main rapi tidak di jam kantor."
__ADS_1
Radeva menatap serius ke arah pegawainya. "Apa yang kalian ketahui?"
***
Bayu membukakan pintu penumpang buat Ajeng dan gadis itu pun naik tanpa memperhatikan kalau tangan Bayu terulur untuk membantu nya naik ke dalam mobil. Ajeng is Ajeng yang naik mah naik saja selama mobilnya bukan tank atau model Jeep tinggi yang membutuhkan bantuan, jadi selama dia bisa sendiri why not?
Hunter dan Doogie yang melihat sikap gentleman Bayu dikacangi Ajeng, hanya bisa cekikikan melihat wajah manyun Bossnya.
"Tá Ajeng ag déanamh neamhairde air ( dia dikacangi sama Ajeng )" ucap Doogie sambil membuka pintu mobil Aston Martin nya.
"Níl Ajeng íogair ( Ajeng memang tidak peka )" kekeh Hunter membuat Bayu menatap tajam ke arah dua pengawalnya.
"Stoptar beirt agaibh ( Diam kalian berdua )!" hardik Bayu yang semakin membuat dua pria Irlandia itu tertawa terbahak-bahak.
"Bí foighneach ( Bersabarlah )!" cengir Hunter sebelum masuk ke dalam mobilnya.
Bayu menyipitkan matanya dan masuk ke dalam mobilnya. "Brengseeekkk mereka berdua!" umpatnya sambil menstater mobilnya dan menyalakan AC nya.
"Pak Bayu kenapa? Kok ribut pakai bahasa Krypton?" tanya Ajeng polos.
"Tidak apa-apa!" Bayu menatap Ajeng untuk memeriksa wajahnya lagi membuat gadis itu mundur ke belakang.
"Pak Bayu... mau ngapain?" tanya Ajeng dengan nada gugup. Jujur setelah dokter Victoria dan Radeva mengatakan Bayu ada rasa kepadanya, Ajeng agak takut. Bukan takut Bayu ngegombal tapi lebih takut ke dirinya sendiri. Masa iya aku disukai sama mas Kal-el? Secara aku tidak ada anggun anggunnya, ngomong seenaknya, bukan dari keluarga konglomerat...
"Sakit kah?" Mata biru Bayu menatap lembut. "Bibirmu sampai ikutan bengkak begitu."
Bayu pun menarik dirinya lalu mengambil kompres yang diberikan oleh Victoria dari kantong obat. "Nih, kompres lagi." Pria itu memberikan kompres itu ke Ajeng.
"Pak, lama-lama muka saya jadi igloo saking bekunya" ucap Ajeng sambil mengompres wajahnya.
Bayu melirik. "Igloo?"
"Iya pak... Igloo itu..."
"Saya tahu igloo itu apa, Jeng! Tapi apa kamu tidak menemukan istilah yang lain?"
"Saya keingatnya itu" jawab Ajeng cuek membuat Bayu mengelus kepala gadis itu.
"Sehat-sehat ya Jeng, jangan sampai terluka lagi."
Ajeng membeku mendapatkan perlakuan lembut dari Bayu hingga tidak mampu berkata apapun. Bayu lalu menjalankan mobil mewahnya keluar dari area parkiran.
Sementara itu Hunter dan Doogie yang tadinya masih berada di dalam mobil menunggu Bayu pergi, saling berpandangan kepo. "Ngapain dia lama-lama di dalam, Doog?"
"Berani cium Ajeng, berarti ngaco! Muka dan bibir masih bengap kok disosor!" gerutu Doogie.
__ADS_1
"Kayaknya dia nggak berani deh cium Ajeng. Bisa pingsan adik kita satu itu" gelak Hunter.
***
Di dalam mobil Bayu
"Mamoru serius mau belajar membuat klepon besok?" tanya Bayu sambil serius menyetir.
"Kata Bu Alea sih begitu."
"Dasar Moru. Kalau dengar makanan enak langsung deh. Terus Aya besok jadi datang juga?"
"Iya. Dik Aya sekalian bawa Aloe Vera buat saya. Kata pak Radeva, ibunya menanam banyak di halaman belakang rumah nya. Kan dik Aya kalau habis latihan menembak suka memar bahunya kena popor jadi sama ibunya yang perawat sering diolesi pakai itu" papar Ajeng.
"Alhamdulillah, Aya punya Aloe Vera."
"Iya pak. Tahu sendiri kan pak harga nya kalau di mini market berapa? Kalau ada yang gratisan, masa mau nolak? Rugi bandar pak! Gak usah gengsi kalau kamu suka barang gretongan. Gengsi itu sering bikin nyesel pak."
"Gitu ya Jeng?"
"Iya pak" jawab Ajeng yang bersyukur mending ngobrol hal-hal begini daripada kepo dengan perasaan Bossnya ke dirinya.
"Jeng, boleh saya tanya sesuatu?"
"Mau tanya apa pak?" jawab Ajeng dengan sedikit berdebar debar. Please, jangan bilang sayang atau cinta sama aku dulu mas Kal-el. Masih belum siap hati ini ... Tunggu kok seperti lirik lagu ya. Lagu apa ya?!
"Kalau kamu menyelesaikan kontrak kerja selama setahun bekerja dengan saya, dan kamu mendapatkan bonus enam digit itu, apa yang akan kamu lakukan?" Bayu menoleh ke arah Ajeng dengan wajah serius apalagi sedang macet sekarang.
"Pak Bayu janji jangan marah ya?" pinta Ajeng.
"Kalau uang itu kamu pakai foya-foya dan judi di las Vegas, ya bakalan marahi kamu lah Jeng!"
Ajeng tersenyum. "Saya tidak mungkinlah seperti itu. Namanya tidak menghargai hasil kerja keras terus dipakai maksiat. Saya akan berhenti dari PRC Group pak setelah kontrak selesai dan bonus didapatkan."
"Kamu mau kemana Jeng?" tanya Bayu ingin tahu.
"Pulang ke Solo pak. Saya ingin kembali ke kota asal saya dan berwirausaha disana" jawab Ajeng tenang.
Bayu hanya terdiam mendengar rencana Ajeng. Jangan kembali ke Solo lah Jeng, disini saja.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaaa readersku
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️