My 100th Secretary

My 100th Secretary
Gandari dan Ajeng


__ADS_3

RR's Meal Soho New York


Ajeng mengikuti Gandari yang masuk ke dalam restauran high end dimana untuk makan disana harus waiting list beberapa Minggu. Tapi bu Gandari main masuk saja?


"Steffi, dimana Mas Jendra?" tanya Gandari ke gadis yang berada di meja resepsionis.


"Oh Mr McCloud berada di dapur, Mrs O'Grady. Apakah anda hendak memakai ruang VIP?" ucap Steffi ramah.


"Boleh, Stef. Tolong dibuka ya."


Steffi pun mengambil kunci khusus dan berjalan mendahului kedua wanita itu untuk membuka sebuah pintu yang terbuat dari kayu jati. Setelahnya mereka pun masuk dan Steffi menyalakan AC di ruangan itu.



Ajeng melihat ruangan VIP yang tertata rapi dan tampak sangat Exclusive dan sophisticated, membuat dirinya antra minder dan senang bisa masuk ke dalam restauran yang tidak terbayang main masuk tanpa harus mengantri.


"Hanya dua orang, Mrs O'Grady?" tanya Steffi.


"Ya, hanya dua orang."


Steffi pun mengangguk lalu menyiapkan peralatan makan untuk dua orang. Setelah semuanya siap, gadis itu pun memberitahukan menu siang ini dan Gandari pun setuju untuk ikut menu yang sudah ditentukan sedangkan Ajeng hanya mengangguk saat Gandari bilang mereka memilih menu hari ini.


Usai memasukkan pesanan di tabletnya, Steffi pun pergi meninggalkan Gandari berdua dengan Ajeng. Gadis itu merasa bahwa ibu dari angin Twister ini sedang berusaha menginterogasi dan meneliti tentang dirinya.


***


"Sekarang, kamu cerita sama saya. Bagaimana kamu bisa menjadi sekretaris Bayu?" Gandari menatap tajam ke Ajeng membuat gadis itu sedikit keder dengan ibu suri.


Ajeng pun menceritakan tentang dirinya yang akhirnya direkrut oleh Gemma dan Gandari hanya bisa melongo mendengar alasan absurd Ajeng yang ingin bekerja dengan orang yang bisa berbahasa Indonesia dan Jawa.


"Bagaimana kamu bisa bilang begitu?" tanya Gandari.


"Saya mengetahui bahwa CEO nya bernama pak Abiyasa O'Grady dan hanya orang yang memiliki darah Jawa atau Indonesia yang memiliki nama seperti itu."


"Bukankah orang India juga memakainya? Bahasa Abiyasa, Bayu, Radeva itu berasal dari bahasa sansekerta yang juga salah satu akar bahasa Jawa?"


"Bukan begitu Bu Gandari. Tulisan Jawa itu bermula dari abad ke 9 dalam bentuk bahasa Jawa kuno. Nah dari situ bahasa Jawa berevolusi dengan berbagai influence dari para pedagang India dan Arab hingga menjadi bahasa Jawa baru seperti yang kita kenal di abad ke 15. Awal mulanya tulisannya masih mengikuti aksara India, yang kemudian dibuat sendiri menjadi huruf hanacaraka yang kita kenal sekarang ini. Jadi bahasa sansekerta India itu bukan akar bahasa Jawa melainkan salah satu influence ke bahasa Jawa kuno" papar Ajeng membuat Gandari melongo.

__ADS_1


"Hah? Bagaimana kamu tahu?" tanya Gandari dengan terheran-heran.


"Saya pernah baca sejarah Jawa Bu termasuk sejarah huruf Jawa" jawab Ajeng malu-malu. "Jadi kalau nama pak Abiyasa, pak Bayu dan pak Radeva itu mengambil dari campuran bahasa Jawa dan Sansekerta itu memang benar tapi bahasa sansekerta mempengaruhi bahasa Jawa kuno sebelumya. Kan dulu bangsa Jawa menganut animisme yang berkembang menjadi kejawen..."


Gandari menatap kagum dengan pengetahuan Ajeng. "Benar kata Astuti, kamu itu cerdas."


"Ah nggak juga Bu. Hanya kebetulan saja saya suka membaca buku sejarah disamping membaca novel dan komik..." senyum Ajeng merendah.


"Tapi Jeng, jaman sekarang mana ada wong jowo asli yang masih mau mempelajari sejarah sukunya. Aku dhewe sing wong Jowo, gek ngerti Iki nek kowe ora kandani ( aku sendiri yang orang Jawa, baru tahu ini kalau kamu tidak kasih tahu )" ucap Gandari.


"Bu Gandari ngunu ik ( begitu ih ) ..." senyum Ajeng membuat Gandari terbahak.


"Ya Allah Wis suwi ora krungu aksen khas Semarangan ( sudah lama tidak mendengar aksen khas Semarangan )" gelak Gandari.


"Soalnya Bu Gandari masih bisa bahasa Jawa jadi saya latah deh!"


"Memangnya kamu sama Bayu tidak memakai bahasa Jawa atau Indonesia?" Gandari mengehentikan ucapannya ketika pelayan masuk membawakan makan siang untuk mereka. Setelah para pelayan pergi, Gandari dan Ajeng pun mulai makan siang.


"Pak Bayu tidak mengijinkan saya menggunakan bahasa Indonesia apalagi Jawa di kantor tapi saya sih ngeyel saja soalnya kadang tho Bu, enak ngomong pakai bahasa Jawa yang tidak bisa diimplementasikan ke bahasa Inggris. Seringnya tho Bu, saya ngomong campur aduk Indonesia dan Jawa tapi pak Bayu membalas dengan bahasa Inggris. Tapi itu kalau kami berdua di ruang kerja pak Bayu. Macam ludruk atau ketoprak humor nggak jelas gitu tapi nyambung..." jawab Ajeng sambil menyuap mashed potatoes nya.


Sekali lagi Gandari melongo mendengar ucapan Ajeng. Fix! Ini sekretaris paling Membagongkan!


Ajeng tertegun. "Nyuwun Sewu Bu Gandari, tapi saya sudah terikat kontrak dengan PRC Group bahwa saya harus mengopeni pak Bayu. Jadi saya berkomitmen untuk tetap menjadi sekretarisnya pak Bayu meskipun kadang boss saya itu sukanya berubah sesuai dengan mata angin tidak jelas."


"Maksudnya gimana Jeng? Berubah sesuai dengan mata angin tidak jelas?" tanya Gandari bingung.


"Maaf Bu Gandari bukan maksud saya menjelekkan anak ibu tapi pak Bayu itu bisa lho pagi angin sepoi-sepoi dari Utara .. eh siang berubah jadi angin topan dari tenggara. Sore menjelang pulang, agak kalem macam angin dari barat ... Kan mata anginnya tidak jelas Bu."


Gandari tertawa terbahak-bahak mendengar analogi sekretaris putranya. "Ya Allah Ajeng, kamu kok ya kucluk ngene tho ( lucu begini )."


"Bu, hidup itu sudah berat jadi digawe penak wae lah ( dibuat enak saja lah ). Nek kabotan nyunggi pikiran, marakke lara ( kalau keberatan berpikir, membuat sakit )" ucap Ajeng kalem.


"Touché ( betul ). So, selain Inggris, Indonesia dan Jawa, kamu bisa bahasa apalagi?"


"Bahasa kalbu, termasuk nggak Bu?" balas Ajeng dengan memasang wajah polos.


"Astaghfirullah! Ajeng!"

__ADS_1


***


PRC Group Building Manhattan New York, Ruang Kerja Abiyasa O'Grady


Bayu duduk bersama dengan ayahnya sambil mengaduk-aduk macaroni saladnya. Matanya tampak melamun dan pikirannya tidak berada di meja ruang kerja Abiyasa O'Grady.


"Kamu kenapa Bay?" tanya Abiyasa yang melihat putranya tampak galau.


"Ajeng dibawa mommy."


Abiyasa terkejut. "Mommymu tadi kesini? "


"Iya. Terus menculik sekretaris aku..." adu Bayu.


"Ya paling kamu tinggal bayar ransomnya ( tebusannya )" sahut Abiyasa cuek lalu memasukkan potongan daging ke dalam mulutnya.


"Dad!"


"Lha mau gimana Bay? Mommymu itu kalau sudah punya karep ( keinginan ) gak bisa diganggu gugat, apalagi kepo soal sekretaris kamu!"


"Tapi Ajeng nggak ngapa-ngapain!"


"Ajeng memang nggak ngapa-ngapain tapi kamunya yang kenapa-kenapa cumiii!" balas Abiyasa sambil menatap tajam ke Bayu.


"Lha memang aku kenapa?"


"Bay, kamu kan cerdas. Cumlaude MIT. Pikir saja sendiri!"


Bayu pun manyun. Emang aku kenapa?


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2