OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Saksi Bisu Pertumbuhan Nerium Oleander


__ADS_3

..."Gadis itu telah tumbuh dengan baik berkat anda. Kini ia menjadi sekuntum bunga yang indah." - Harry...


...🌸🌸🌸...


Seluruh tubuh Joey menegang dengan darah yang berdesir. Gadis itu terbelalak namun tak dapat menolak saat hembusan napas Rain menggelitiki kulit wajahnya, ditambah pula tangan kekar Rain merangkul pinggulnya. Pria itu benar-benar membuatnya merinding!


Dengan pasrahnya, Joey melahap nuget yang ada di bibir pria itu, tapi hanya setengah, ia tak berani melahap nuget yang setengahnya lagi. Meskipun Joey tak berani melahap nuget yang di mulut Rain, bibir mereka tetap bersentuhan.


Joey mendorong tubuh Rain berusaha melepaskan dirinya dengan sekuat tenaga, meskipun ia sadar bahwa tubuh kecilnya tak sebanding dengan tubuh kekar pria yang ada di depannya.


Melihat wajah Joey yang memucat karena kehabisan napas, Rain melepaskan rangkulannya diikuti Joey yang tersengal-sengal.


"Makan!" perintah Rain dengan nada dingin.


"Om! Mau Om apa, sih?!" Joey protes tak terima atas kelakuan Rain tadi. Gadis itu mengelap kasar bibirnya dengan tatapan yang penuh dengan kebencian.


"Kamu."


"Aku nggak nyangka, ternyata pria yang selama ini aku anggap malaikat merupakan seorang pria mesum! Ku pikir, Om tulus. Tapi aku salah!"


Joey bangkit dari duduknya, tak peduli kakinya masih sakit atau tidak. Gadis itu berjalan terpincang-pincang. Melihat Joey berjalan seperti itu, Rain menepikan tas belanja dan makanan yang ada dipahanya. Pria itu bangkit dan menggendong tubuh Joey memasuki kamar. Direbahkannya tubuh tersebut ke atas ranjang dan dia ikut memanjat tubuh gadis itu. Tubuh kekar Rain tertumpu pada kedua tangan dan kedua lututnya.


"Mesum?" tanya Rain. Pria itu berdecak sebal, selama ini dia menahan daging tak bertulangnya memberontak sendiri tanpa menyentuh Joey. Tapi sekarang gadis itu bilang bahwa dia adalah pria mesum?


"Benar! Aku belum pernah menemukan pria mesum seperti Om! Selama ini aku benar-benar tertipu dengan tampilan luar, Om!" sembur Joey. Dada gadis itu naik turun karena napasnya yang tak teratur akibat menahan amarah. Matanya memanas dan berkaca-kaca menahan sebak di dada.


"Selama ini aku selalu ngepoin Om lewat Nstagram dan Acebook, bahkan aku selalu cari tau kabar tentang Om lewat Oogle. Aku terkagum-kagum melihat pria yang menjadi penyelamat hidupku, bahkan aku nggak tau harus seperti apa untuk membalas rasa terima kasih itu. Sampai aku berpikir, andai nanti Om menikah dan punya anak, aku rela menjadi babysitter anak Om. Tapi sekarang, rasa kagum itu sirna!


Perlahan, airmata Joey berlinang, ia tak kuasa menahan sebak di dada itu. Hatinya benar-benar runtuh saat mendapati pria yang ia kagumi ternyata seorang bajingan yang dengan santainya melecehkan seorang gadis yang jauh lebih muda darinya.


"Om, kok tega sih?" tanya Joey sambil terisak. Gadis itu menangis sesenggukan. Matanya menatap nanar ke arah mata Rain.


Seketika hati Rain hancur, tubuhnya bergetar. Ia mengepalkan kedua tangannya yang tertumpu pada ranjang.


"Ck!" Pria itu berdecak sebal sambil menghela napas nya dengan keras. Ingin rasanya ia meminta maaf pada Joey karena kelakuannya yang menakuti gadis muda itu, tapi kerongkongannya tercekat untuk mengeluarkan kata maaf.


Entah karena dorongan apa, Rain mengecup lembut kelopak mata basah Joey kiri dan kanan. Lalu ia membelai lembut kepala gadis itu dengan tatapan yang penuh arti selama beberapa detik.


Setelah itu, tanpa sepatah kata pun, Rain menuruni ranjang tersebut dan bergegas meninggalkan kamar itu. Pria itu masuk ke kamarnya dan mengunci pintu.

__ADS_1


...****************...


Empat belas tahun yang lalu.


Pada malam itu, malam di mana Rain akan terbang ke Amerika, ia berpesan pada Harry melalui ponsel genggamnya sebelum ia memasuki boarding gate.


Pria muda bertubuh atletis berkulit sedikit kecoklatan itu terlihat trendy dengan sweater hitam dan celana jeans birunya yang dipadukan dengan sepatu Nike. Ditangan kiri pria itu, terlihat sebuah boarding pass yang diapit oleh paspor hijaunya.


"Lengkapi semua kebutuhannya dan beritahu saya setiap gerak geriknya tanpa satu pun yang terlewatkan."


...****************...


Sebelas tahun yang lalu.


Sorot mata Rain terfokus pada layar laptopnya. Harry mengirimkan email yang berisikan tentang video dan foto-foto Joey karena hari ini merupakan hari pertama gadis kecil itu masuk sekolah.



..."Pak Rain, hari ini adalah hari pertama Joey masuk SD. Sesuai permintaan Bapak, dia sudah terdaftar menjadi siswa di Bonus School Sempruk." - Harry...


Rain tersenyum simpul melihat foto yang ada di layar laptopnya, dia tak menyangka gadis yang kumal saat ditemukan, ternyata sangat menggemaskan setelah dirawat dengan baik.



..."Hari ini saya ke apartemen untuk mengantarkan buah-buahan segar yang Bapak perintahkan. Kebetulan sekali saya bertemu dengan Joey yang sedang bermain dengan kucing di taman bawah ditemani Bibi Teti." - Harry...


...****************...


Lima tahun yang lalu.



..."Ini hari pertama Joey masuk SMP, Pak. Dia meminta saya untuk mengambil fotonya. Kata Bibi Teti, Joey menyukai semua hal yang berbau makeup." - Harry...


...****************...


Tiga tahun yang lalu.


Entah kenapa hari ini cuaca sangat cerah. Padahal, waktu baru saja menunjukkan pukul tujuh pagi, mentari keluar lebih cepat dari biasanya.

__ADS_1


Sosok pria yang sedang berlari pagi dengan tubuh yang basah oleh keringat itu menyeka dahinya menggunakan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya memegang botol air minum.


Perlahan, ia memelankan kecepatan larinya dan menuju ke sebuah kursi yang ada di taman di mana ia melakukan rutinitas pagi.


"Oh iya, kemaren Harry mengirimkan email," gumam Rain sambil membuka tutup botol yang tadi ia pegang.


Rain meneguk air putih yang ia bawa sambil membuka email dari Harry.


Rain mendadak tersedak sesaat setelah Rain membuka email yang dikirimkan oleh Harry. Matanya melebar sambil menaruh botol minum tadi ke kursi yang ia duduki. Sorot matanya menatap lekat ke arah foto yang ia terima.


Seorang gadis berbalut seragam SMA yang sedang duduk menatap kamera sambil tersenyum. Di mata Rain, senyuman gadis itu mengalahkan cerahnya mentari di pagi ini.



..."Hari ini adalah hari pertama Joey masuk SMA. Dia meminta saya menemaninya hingga ke depan lapangan basket, sekaligus meminta saya untuk mengambilkan fotonya. Saat kami memasuki gerbang sekolah, ada banyak sekali mata yang terfokus ke arahnya. Gadis itu telah tumbuh dengan baik berkat anda. Kini ia menjadi sekuntum bunga yang indah." - Harry...


"Ck! Bunga? Sejak kapan Kupu-Kupu menjadi bunga?" Rain bergumam sendiri sambil tersenyum sinis.


...****************...


Kembali ke masa kini.


Rain menghempaskan tubuhnya ke atas kasur dan terlentang sambil menatap langit-langit kamarnya, lalu ia menaruh lengan kanannya ke atas dahi. Pria itu mengingat kembali peristiwa yang terjadi sejak kemaren.


Ini adalah hari kedua Rain di apartemen itu, seatap dengan gadis yang selama ini hanya bisa ia pantau dari kejauhan melalui Harry.


Di hari kedua saja, sudah banyak hal yang terjadi karena obsesinya yang tak pernah bisa berkompromi, apalagi jika ia berlama-lama seatap dengan gadis itu? Mungkin gadis itu akan selalu menatapnya dengan penuh kebencian. Tapi, sulit juga baginya untuk kembali menghadirkan jarak antara dia dan gadis itu, pasalnya, kini hatinya terpaut dan tak ingin lepas.


"Ck! Jadi babysitter? Mending jadi emaknya aja sekalian!" celetuk Rain.


Rain mencoba memejamkan matanya untuk melupakan peristiwa tadi. Bukannya melupakan, malah Rain tiba-tiba saja jadi membayangkan Joey sedang di rumah sedang bermain dengan dua orang anak kecil yang sedang memanggilnya 'ibu', lalu ia datang mendekati mereka dan terdengar suara mungil dari kedua anak kecil tadi yang memanggilnya 'ayah'.


"Hah!" Rain mendengus sambil membuka paksa matanya. Pria itu memijat pelan pelipisnya.


"Ternyata, dengan melihatmu tumbuh aja nggak cukup! Rasanya inginku makan sampai tak berdaya! Kau benar-benar penuh dengan racun, Joey!"


...****************...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2