OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Ingin Kuungkapkan Rinduku


__ADS_3

...Dari kejauhan tergambar cerita tentang kita,...


...Terpisah jarak dan waktu,...


...Ingin kuungkapkan rinduku lewat kata indah,...


...Tak cukup untuk dirimu....


...(Komang – Raim Laode)...


...🌸🌸🌸...


“Pak Luca?” ucap Luca dengan tatapan sinis ke arah Kale. Pria tersebut menepuk pelan perut Kale sambil tertawa terbahak-bahak. “Lo bener-bener ya, nggak terima banget kalo gue itu lebih muda.”


Kale ikut tertawa saat perutnya ditepuk oleh Luca. Ia memegang bahu Luca sambil tersenyum dan menatap ke arah Joey.


“Joey, ini Luca. Direktur utama agensi ini sekaligus adik dari sahabat dekatku sejak SD,” ucap Kale memperkenalkan Luca kepada Joey yang sedari tadi hanya diam membisu.


“Luca,” ucap Luca sambil menyodorkan tangannya.


“Joey,” Joey meraih tangan Luca dan mereka saling berjabat. Ia tersenyum namun dengan tatapan yang masih menyirat pertanyaan yang sedang berkelabat dipikirannya saat ini. Siapa pria ini? Dan di mana ia pernah menemukannya?


“Shall we go now?” tanya Luca kepada Joey dan Kale. Ia menatap kedua tamunya silih berganti sambil tersenyum ramah. “Gue nggak sabar dengerin suaranya.”


“Hahaha… sure,” ucap Kale sambil menaikkan kedua alisnya.


Sesaat setelah itu, Luca berjalan ke arah pintu di susuli Kale dan Joey. Keduanya menuju ke sebuah studio rekaman yang berada di lantai 31. Jadi, mereka naik lift untuk turun satu lantai. Setibanya di depan studio rekaman, Luca membuka pintu studio tersebut dan mempersilahkan Joey dan Kale masuk ke dalamnya.


Joey tertegun saat ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam studio besar tersebut. Sebuah ruangan kedap suara bernuansa cream dengan pantulan lampu biru yang ada di dinding, di lengkapi alat musik, alat rekaman, komputer dan banyak lagi alat-alat yang tak begitu familiar baginya. Ia kembali dibuat tertegun saat melihat ada sebuah ruangan lagi di dalam studio tersebut. Sebuah ruangan yang dibatasi kaca, di dalamnya ada mic stand dan sebuah kursi, sepertinya nanti ia akan masuk ke ruangan tersebut. Seketika, ia tak lagi memikirkan siapa Luca dan di mana ia pernah menemui pria tersebut.


“Wahhh… ini nyata, ‘kan?” gumam Joey dalam hati.

__ADS_1


“Maaf kalo kamu kurang nyaman dengan studio kecil ini,” ucap Luca pada Joey yang sedari tadi tak henti-hentinya melihat sekeliling.


“Ha? Ke-kecil? I-ini besar banget, Pak. Ini pengalaman pertamaku ke studio rekaman. Jadi, maaf kalo aku sedikit canggung di sini, hehehe,” Joey menjadi kikuk saat Luca meminta maaf padanya.


“It’s okay, itu hal yang wajar kok,” ucap Luca sambil menaikkan kedua alisnya.


CEKLEK!!!


Tiba-tiba ada seorang pria yang masuk di balik pintu studio. Pria yang berpakaian casual mengenakan topi dan sepertinya usia pria tersebut masih muda.


“Pagi, Pak Luca!” sapa pria tersebut. “Sorry, abis dari toilet. Biasa, mules pagi, hehehe.”


“It’s okay,” ucap Luca sambil tertawa kecil.


“Kenalan dulu. Ini produser musik kita, Garry. Lalu ini Pak Kale dan ini Joey, yang akan menjadi bintang besar kita,” ucap Luca sambil memperkenalkan Kale dan Joey kepada Garry.


Ketiga orang tersebut saling berjabat tangan dan kenalan satu sama lain. Lalu setelah itu, tanpa berlama-lama, Luca mempersilahkan Joey masuk ke dalam ruang rekaman. Luca, Kale dan Garry terlihat sedang mengamati dan menunggu Joey yang akan menyanyikan sebuah lagu.


Berulang kali ia mencoba meyakinkan dirinya agar bisa mengatasi rasa gugup ini. Tapi tetap saja perasaan khawatir, cemas dan gelisah ini tak kunjung hilang. Ia berusaha memikirkan hal-hal yang membuatnya tenang, hingga akhirnya, entah atas dorongan apa, ia mencoba memejamkan matanya secara perlahan. Sekilas, bayangan sosok pria yang ia cintai mulai hadir di kepalanya saat ini. Sosok pria dingin yang berhati hangat terlihat sedang tersenyum dan memberikan sebuah kecu pan lembut di dahinya. Bayangan tersebut semakin membuatnya tak mampu menahan perasaan rindu yang ingin meledak saat itu juga, ingin rasanya ia berlari ke kantor pria itu dan memeluknya mengatakan bahwa ia rindu.


Joey hanya tersenyum getir sambil perlahan bibirnya mulai bernyanyi bertemankan bayangan Rain tersayang.


...Dari kejauhan tergambar cerita tentang kita...


...Terpisah jarak dan waktu...


...Ingin kuungkapkan rinduku lewat kata indah...


...Tak cukup untuk dirimu...


...Sebab kau terlalu indah dari sekedar kata...

__ADS_1


...Dunia berhenti sejenak menikmati indahmu...


Suara emas gadis itu mulai terdengar, menghanyutkan dan membuat ketiga pria yang sedang mendengarkannya menjadi terbawa suasana. Luca dan Kale tak mampu menahan senyumannya saat mendengarkan suara indah gadis cantik di dalam ruang rekaman tersebut. Ada perasaan hangat yang sedang menyelimuti perasaan mereka berdua saat suara emas itu dilantunkan.


...Dan apabila tak bersamamu...


...Ku pastikan kujalani dunia tak seindah kemarin...


...Sederhana tertawamu sudah cukup...


...Lengkapi sempurnanya hidup bersamamu...


Akhirnya, Joey menyelesaikan nyanyiannya dengan sangat baik. Gadis itu terlihat sudah tak lagi gugup. Perlahan ia membuka matanya saat liriknya telah habis ia nyanyikan.


“Thank you, Om Rain,” gumam Joey lirih di dalam hatinya. Entah kenapa, seketika hatinya mendadak hangat setelah membayangkan Rain saat menyanyikan lagu Komang yang dipopulerkan oleh Raim Laode. Tak dapat ia pungkiri, pria tiga puluh dua tahun itu memberikannya kekuatan meski hanya lewat bayangan. Apa cinta memang seluar biasa itu?


Joey keluar dari ruang rekaman dengan wajah yang khawatir dan tak percaya diri, namun seketika perasaan khawatirnya mendadak hilang saat ketiga pria yang ada di depan matanya memberikan tepukan tangan yang meriah dengan mata yang berbinar-binar.


“Gilaaa!!! Akhirnya gue nemuin penyanyi yang pas!” seru Garry girang.


“Please, rekrut dia jadi penyanyi kita!” pinta Garry pada Luca dengan memasang wajah yang memelas.


“Hahaha… nggak usah begging gitu, karna saya juga tetap akan merekrut dia. Suara emas seperti ini mau di sia-siakan?” celetuk Luca sambil menghela nafasnya. Ia terlihat sangat puas setelah mendengarkan suara emas gadis muda yang cantik itu.


“Gue titip dia di agensi lo ya. Pokoknya, bikin dia jadi penyanyi terkenal!” tuntut Kale dengan sangat antusias kepada Luca.


“Tenang, serahin aja ini sama gue,” ucap Luca sambil menepuk dadanya sendiri.


Joey hanya tersipu malu saat mendapatkan pujian dari ketiga pria tersebut. Ia merasa lega karena mendapatkan respon positif dari pria-pria tersebut. Sepertinya hari ini semesta mendukungnya untuk mulai menginjakkan kaki ke dunia hiburan. Mungkin ini awal yang baru baginya untuk perlahan mulai menjauh dan tak bergantung lagi pada Rain, pria yang ia cintai.


...****************...

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2