OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Pemanasan untuk Oleander-ku


__ADS_3

...“Oleander-ku, sudah tau ya apa itu pemanasan dalam berhubungan?” - Rain...


...🌸🌸🌸...


“Praktek langsung?!” Joey terbelalak, seketika jantungnya langsung berdetak kencang dengan darah yang berdesir.


“Hmm… pilih, praktek langsung atau nonton bareng?”


Pria itu mendekatkan bibirnya ke telinga Joey, sesekali ia meniup lembut telinga gadis itu.


“Yaudah, nonton bareng. Tapi nonton aja ‘kan?” Joey meragukan pria dewasa itu. Mustahil jika pria itu hanya nonton tanpa melakukan apa-apa, dia kan mesum?


“Iya,” jawab Rain singkat. Pria itu menggigit telinga Joey karena gemas.


“Om! Sakit ih! Katanya mau nonton, kok jadi pemanasan?!” Joey bergidik ngeri mengusap pelan telinganya yang sakit dan basah karena gigitan gemas Rain. Jangan-jangan, pria itu memang langsung mau praktek?


“Oleander-ku, sudah tau ya apa itu pemanasan dalam berhubungan?” tanya Rain sambil bibirnya me nge cup lembut pipi tembam gadis yang ada di pangkuannya. Joey mendadak menggelinjang karena geli.


“Ish! Om. Siapa pun juga tau dong kalo mau olahraga itu butuh pemanasan! Memangnya aku anak kecil? Hal dasar begitu aja nggak tau!” rengek Joey. Ia lupa bahwa kelakuan menggemaskannya mengundang angin panas dari tubuh pria dewasa itu.


"Olahraga?"


"Ya olahraga kasur. Nggak usah pura-pura nggak tau deh, Om. Emangnya aku itu kayak Om? Yang seenaknya aja nyebut hal-hal mesum secara frontal." Joey mencebik manja. "Aku menggunakan bahasa yang sedikit sopan."


Rain menyeringai mendengarkan ucapan polos gadis muda yang ada dipangkuannya. Gadis itu benar-benar menguji kesabarannya. Sejak tadi, juniornya sudah merengek-rengek ingin bebas dari ruangan sesak dan sempit itu.


"Kamu benar, olahraga itu butuh pemanasan,"ucap Rain sambil melu mat bibir merah gadis muda itu.


Ciuman tersebut mulai menghanyutkan Joey di sela-sela bunyi rin tih an gadis yang ada di dalam video p0r n o tadi. Tanpa sadar, Joey memejamkan matanya menikmati bibir hangat Rain yang sangat aktif melu mat bibirnya.


"Eumh! Om!"


Seketika Joey tersadar, gadis itu membuka matanya dan mendorong tubuh Rain. Ia benar-benar dibuat lupa diri. Padahal, sebelumnya ia juga pernah berciuman dengan pria itu. Entah kenapa, tiba-tiba saja ciuman kali ini terasa berbeda dan mendebarkan.

__ADS_1


"Kenapa, Sayang?" tanya Rain sambil mengecup lembut telinga Joey. Jarak wajah mereka kurang dari setengah jengkal. Benar-benar dekat! Bahkan hampir tak ada jarak yang tersisa.


"K-kita nggak jadi nonton?" tanya Joey sambil melihat ke arah layar tablet yang dipegang Rain.


"Nggak usah. Kita lanjut aja pemanasannya," goda Rain sambil menaruh tabletnya ke atas ranjang. Sepertinya, Rain sudah tak tahan ingin segera memakan gadis yang ada dipangkuannya.


"A-aku ingin nonton!" Joey mencoba mencari alasan agar ia tak menjadi santapan Rain saat itu juga. Bagaimanapun, butuh waktu baginya untuk melakukan s e x yang pertama kalinya. Apalagi ukuran benda sakti milik Rain sangat besar, dia benar-benar ketakutan saat membayangkan miliknya robek karena benda sakti itu.


"Hmm... setelah itu, kita praktek ya?" Rain menatap lekat ke arah wajah pucat Joey. "Kamu takut?"


"Iya lah! Gimana nggak takut, punya Om gede gitu, masuk ke punyaku yang kecil dan sempit! Robek dah ntar!" ambek Joey dengan raut wajah cemberut.


Rain tak menggubris gadis tersebut. Ia mengambil kembali tabletnya dari atas kasur, lalu mencari sesuatu di kolom pencarian yang ada di situs p0 r n 0 itu.


"Hah? Virgin?" tanya Joey sambil menatap ke arah Rain.


"Hmm... biar kamu tau, sebesar apapun yang masuk, sakitnya cuma sebentar, selebihnya ...." Rain kembali mendekatkan bibirnya ke telinga Joey.


"Ugh! Om membuatku merinding! Sebaiknya aku duduk di samping Om aja ya, nggak usah kayak gini."


Lagi-lagi Rain tak menggubris perkataan gadis itu. Ia memencet tombol play pada layar tabletnya, dan video tersebut di mulai.


Pada detik-detik awal, seorang gadis muda sedang melakukan pemanasan dengan seorang pria yang sepertinya sudah berkepala tiga. Suara terisak-isak gadis muda itu saat men de sah membuat bulu kuduk Joey berdiri dengan tatapan seriusnya ke tablet, sejujurnya adrenalin gadis itu mulai terpancing. Rain yang menyadarinya, tersenyum menyeringai, sepertinya gadis dipangkuannya mulai terpancing.


"Udah basah?" bisik Rain frontal.


Joey terbelalak sambil menatap ke arah Rain. "Dih! Om, siapa yang basah!"


"Sini liat."


"Om!" pekik Joey sambil memegang kedua pipi Rain.


"Kita lanjut nonton ya!" Joey mengecup lembut bibir Rain sesaat agar pria itu mau mendengarkannya.

__ADS_1


"O-oke." Ucap Rain terbata-bata.


Mereka berdua kembali menatap layar tablet tadi. Kini, pemeran video panas tadi sudah mulai ke titik utamanya. Pria dalam video tersebut mengarahkan miliknya yang besar masuk ke dalam lembah kecil yang sudah becek milik gadis muda yang ada di dalam video.


Joey terlihat sedang menelan salivanya. "Apa punya Om Rain juga sebesar itu ya kalo yang aslinya?"


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" goda Rain.


"Ng-nggak! Nggak ada!"


Joey menggenggam erat lengan Rain saat milik gadis muda di video tersebut dirobek dan disentak paksa oleh pria yang ada di video tersebut. Terlihat darah yang merembes keluar dari milik gadis muda itu. Ia berteriak kesakitan, namun pria dewasa itu tetap melakukan gen jo tannya tanpa ampun. Perlahan, suara isakan gadis itu berubah menjadi le ngu han enak.


"Gimana?" tanya Rain tiba-tiba.


"Hah?"


"Materinya udah, sekarang tinggal praktek!"


Rain meletakkan tabletnya ke atas ranjang, lalu menempelkan bibirnya ke bibir Joey. Namun, gadis itu mendorong tubuhnya ke belakang.


"Om ... Hehehe, a-aku belum siap," kekeh Joey dengan raut wajah yang tegang.


"I-itu. Punya Om terlalu besar. A-aku takut! Sumpah aku takut!"


"Tenanglah, aku akan memberikan Oleander-ku pemanasan di awal," ucap Rain sambil memelintir dan mengendus rambut hitam gadis itu.


"T-tapi 'kan ...."


"Pilih, menyerahkan diri atau diperkosa?"


...****************...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2