
...“Kamu bertanggung jawab menjadikanku suamimu. Sedangkan aku, aku akan bertanggungjawab menikahi dan menafkahimu.” - Harry...
...🌸🌸🌸...
Di sudut café pinggir jalan yang terkenal itu, Zea dan Harry terlihat sedang saling bertatapan dengan pikiran mereka masing-masing. Dari kaca luar café, mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang menatap dan meluapkan isi hati menggunakan bahasa cinta mereka.
“Tapi kesucianku sudah diambil pria lain,” lirih Zea tak percaya diri. Ia merasa, hal itu harus ia katakan dengan jujur sebelum mereka terlibat perasaan lebih dalam lagi.
“Memangnya aku peduli? Yang penting, aku menjadi pria terakhirmu,” ucap Harry dengan tegas. Baginya, itu bukanlah hal yang perlu dipermasalahkan bukan? Lagipula, itu telah terjadi di masa lalu, waktu tak dapat diputar lagi. Apa yang harus dilakukan adalah merajut kisah baru dengan seseorang yang baru.
Zea menghela napasnya. Entah ia harus merasa senang atau tidak, yang jelas saat ini ia teramat sangat senang. Pasalnya, sulit sekali menemukan pria yang begitu terus terang bahkan kembali mengejarnya setelah terlibat cinta satu malam yang tak sengaja itu.
Zea mengulum senyum. Wajah anggunnya memancarkan kebahagiaan dan kepuasan. Seolah-olah ia telah menemukan cinta sejatinya. Apa ini hadiah semesta karena dulu ia dicampakkan begitu mengenaskan, kini ia dipertemukan dengan sosok pria yang bertanggung jawab seperti ini?
“Aku menganggap diammu sebagai jawaban iya,” ucap Harry. Pria itu menghela napas lega. Ia juga tak mampu menyembunyikan senyum bahagia dari wajah tampannya. Entah kenapa, rasa resah dan gelisah yang berkecamuk selama dua hari ini mendadak hilang.
“Tapi …” Zea mendadak gusar. Dahinya mengerut dengan tatapan yang khawatir.
Harry yang semula bahagia, wajahnya pun ikut mengkerut. Sepertinya, kebahagiaan yang ia rasakan barusan tak akan berjalan dengan mulus.
“Aku belum kerja. Jadi, aku nggak bisa menafkahi dan bertanggungjawab seut—”
“Hahaha… apa kamu serius memikirkan itu?” Harry tertawa terbahak-bahak. Gadis di depannya ini, benar-benar polos atau hanya pura-pura polos?
“Kan Om menyuruhku tanggung jawab,” ucap Zea lirih sembari menunduk dengan suara yang perlahan mengecil. “Aku juga salah karna malam itu memaksa Om melakukan itu.”
Harry memberanikan dirinya memegang kedua tangan Zea yang sedari tadi ada di atas meja.
__ADS_1
“Aku menyuruhmu bertanggung jawab karna aku kesal kamu menyuruhku melupakan kejadian malam itu,” sesal Harry sambil tersenyum.
“A-aku … aku hanya trauma dengan … kejadian masa lalu,” tutur Zea lirih.
Harry menatap Zea dengan seksama. Wajahnya mendadak serius dan ia menajamkan pendengarannya. “Apa yang terjadi?”
Zea terdiam sejenak dan menghela napasnya dengan berat.
“Maaf, nggak usah diceritakan kalo berat,” Harry mencoba mengalihkan topik karena merasa terlalu lancang. Padahal, ini adalah pertemuan pertama mereka secara empat mata.
“Malam promp night, aku dibawa ke hotel saat mabuk oleh senior yang sejak dulu ku kagumi,” jelas Zea tiba-tiba. “Ku pikir dia akan membalas perasaanku, makanya aku merelakan mahkotaku, ternyata setelah malam itu dia menghilang tanpa kabar.”
“Menyedihkan sekali, ‘kan?” kekeh Zea memaksakan senyumnya. Jujur, ia lebih merasa sakit hati ketimbang sedih. Ingin rasanya ia bertemu dengan pria itu lagi dan memberikan pukulan bertubi-tubi pada pria tak bertanggung jawab itu.
“Ck! Bocah jaman sekarang benar-benar nggak punya otak!” umpat Harry sebal. Ia menyeruput es americano yang tadi ia pesan. Entah karena haus atau kesal, es americano yang tadinya masih penuh tak tersentuh, kini tersisa setengah.
“Hahaha… biarin aja, Om. Aku sedang berusaha melupakannya,” tutur Zea cekikikan melihat tingkah lucu pria dewasa di depannya. Lalu sorot matanya menatap fokus ke arah Harry dengan wajah yang serius.
Harry mengulum senyumnya mendapatkan sinyal hijau dari gadis kecil di depannya. Sepertinya, ia tak perlu lagi pusing-pusing memikirkan hal-hal rumit. Harry bergegas mengambil cincin yang ada di dalam kotak perhiasan tadi. Kemudian sembari ia menyarungkan cincin tersebut, ia juga berkata dengan sangat lembut dengan sorot mata yang melekat ke mata Zea.
“Kamu bertanggung jawab menjadikanku suamimu. Sedangkan aku, aku akan bertanggungjawab menikahi dan menafkahimu,” tutur Harry percaya diri.
“Om, cincinnya longgar,” ucap Zea yang tiba-tiba merusak keromantisan mereka kala itu.
Harry tak sengaja menepuk dahinya. Ia baru sadar bahwa tadi ia asal-asal saja membeli cincin karena ia tak tahu berapa ukuran jari gadis itu. Pikirnya, nanti ia bisa membelikan cincin yang baru jika ukurannya tak sesuai. Yang penting, ia telah melamar gadis itu dan mengutarakan niat hatinya yang ingin serius tanpa main-main.
“Ayo, habisin minumnya,” ucap Harry sambil ia juga menenggak habis es americano di gelasnya.
__ADS_1
“Kita mau pulang?” raut wajah Zea mendadak sedih. Sepertinya ia tak ingin berpisah dengan pria itu. Tapi karena tak ingin terlihat agresif di pertemuan pertama, Zea memutuskan untuk tak membantah dan hanya mengiyakan saja. Sepertinya, Om Harry sibuk karena ada kerjaan lain, pikir Zea saat itu.
Setelah menghabiskan minumannya, Harry bergegas membayar tagihan mereka ke kasir, kemudian ia balik lagi ke meja di mana Zea sedang menunggunya. Harry meraih tangan Zea dan menggenggamnya dengan erat.
Zea dibuat merona dan tertunduk malu akibat tingkah spontan pria dewasa itu. Sepertinya benar yang orang katakan. Memiliki hubungan spesial dengan pria yang jauh lebih tua dari kita akan memberikan kebahagiaan tersendiri. Pasalnya, pria yang usianya jauh di atas wanita lebih dewasa, pengertian, penuh kejutan dan penuh kasih sayang.
Harry menuntun gadis kecil itu berjalan di sisinya dengan tangan yang bergandengan. Pria itu membawanya menuju ke sebuah toko perhiasan, lalu ia membawa gadis itu masuk ke dalamnya.
“Pilihlah, cincin yang kamu suka,” ucap Harry. Kemudian, ia mendekatkan bibirnya ke telinga Zea dan berbicara dengan suara yang pelan dan berbisik. “Ini akan menjadi cincin lamaran dariku untukmu.”
Wajah Zea memerah dan ia bergegas melepaskan tangan Harry menuju etalase toko untuk memilih cincin yang ia suka.
Setelah memilih cincin yang ia sukai, Harry pun mengantarkan Zea pulang ke rumahnya. Setibanya di depan rumah Zea, gadis itu membuka seatbeltnya dengan hati yang sedih. Sebenarnya ia masih tak ingin berpisah.
“Om—”
“Besok kamu ada jadwal kuliah?” potong Harry sambil memegang tangan gadis itu. Ia memposisikan tubuhya menghadap Zea dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.
“Nggak. Kenapa? Om mau ajak aku jalan-jalan?” tanya Zea dengan raut wajah yang girang.
“Ayo, menginap di tempatku,” pinta Harry frontal tanpa basa basi.
Zea terbelalak. Ingin rasanya ia langsung mengatakan iya. Tapi entah kenapa bibirnya mendadak kelu, padahal hatinya saat ini berdebar-debar karena senang. Apa pria itu bisa membaca isi hatinya?
“Diammu ku anggap iya,” tutur Harry sambil tersenyum.
Tanpa berlama-lama, Harry mengambil seatbelt Zea dan memakaikannya. Kemudian, sebelum ia menginjak pedal gas, pria itu menge.cup lembut bibir ranum gadis itu. Lalu ia berbisik dengan lirih di telinga gadis itu. “Aku ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi denganmu.”
__ADS_1
...****************...
BERSAMBUNG…