OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Ini Perintah!


__ADS_3

..."Brown, jangan katakan apapun ke Om Rain. Ini perintah!" - Joey...


...🌸🌸🌸...


Tiga hari telah berlalu. Harry dan Zea sibuk dengan bulan madu sebelum menikah mereka, sedangkan Joey dan Rain kembali disibukkan dengan realita yang harus mereka hadapi.


Pagi itu, cuaca masih sama seperti biasa. Hujan deras dan guruh saling berdentuman. Mentari pagi benar-benar enggan menampakkan diri setiap akhir tahun di negara yang hanya memiliki sedikit iklim ini.


"Om beneran nggak apa-apa aku tinggalin bentar?" tanya Joey ragu-ragu dengan lengkungan bibir ke bawah serta alis yang turun.


"Kalau aku mengatakan jangan pergi, memangnya kamu akan mendengarkan ucapanku?" Rain menaikkan kedua alisnya sembari kedua tangannya menyilang di dada.


Joey tertawa kecil melihat respon dari pria yang ia cintai tersebut. Pria yang dulunya hanya dapat ia gapai dalam mimpi, kini berada di depannya dengan status 'suami'. Ia membungkuk dan mencondongkan tubuhnya ke arah Rain sembari kedua tangannya memegang kedua pipi Rain.


"Om-ku Sayang, maaf aku benar-benar ingin menjadi penyanyi," bujuknya sambil menge.cup lembut bibir pria itu.


"Aku janji untuk tak berlama-lama dengan Luca. Sebatas membahas pekerjaan dan pulang," imbuhnya meyakinkan pria yang ia cintai itu.


"Hmm... kalau sampai lama, aku tak akan segan untuk mengurungmu di rumah dan memakan tubuhmu-"


"Ish... Om!" Joey membulatkan matanya menatap ke arah Rain. Wajahnya merah merona. Meskipun telah menikah, kenapa sikap mesum dan bar-bar pria itu masih saja tak hilang-hilang.

__ADS_1


"Benar 'kan? Having se x s denganmu itu menjadi hobby baruku sejak di Indonesia," gumam Rain dengan gamblang.


"Ya deh iya," tutur Joey singkat. Ia ingin segera mengakhiri pembicaraan pagi itu agar ia bisa segera menemui Luca dan menyelesaikan urusannya lalu kembali ke penthouse.


"Brown menunggumu di lobby, dia akan mengantarkanmu ke sana," ucap Rain serius. Ia tak ingin membiarkan gadisnya itu pergi sendiri bertemu dengan pria yang jelas-jelas menaruh perasaan pada Oleander-nya.


...****************...


Saat Joey sedang berada di dalam mobil menuju kantor Luca, ponselnya bergetar.


Drrttt... Drrtttt...


"Halo?"


^^^"Halo, Mbak Joey Ainsley."^^^


"Maaf ini siapa?"


^^^"Aku akan menjemputmu di lobby Williams Production."^^^


^^^"Ada yang inginku bahas tentang anakku, Rain Ravindra."^^^

__ADS_1


Joey terbelalak. Yang menghubunginya saat ini adalah Ravi Ravindra! Ayah kandung suaminya sekaligus ayah mertuanya saat ini. Apa yang terjadi? Kenapa pria itu mengajaknya bertemu? Lalu, bagaimana pria itu bisa tahu bahwa sekarang tujuannya adalah menuju Tower Williams Production?!


Di saat yang sama, Brown menangkap sinyal tak baik dari mimik wajah Joey yang berubah pucat saat menerima panggilan dari seseorang. Pikirnya, ia harus segera melaporkan pada Alpha-nya.


Joey menangkap mata Brown yang menangkap basah raut wajah cemas dan paniknya lewat kaca spion dalam mobil. Ia berusaha mengumpulkan keberanian dan mencoba berbicara dengan ayah mertuanya itu.


"Baiklah."


Sesaat kemudian, panggilannya berakhir.


Joey menatap kembali ke arah kaca spion dalam mobil dengan tujuan ingin menatap ke arah Brown yang sedang mengendarai mobil. Ia menyilangkan kedua tangannya ke dada.


"Brown, jangan katakan apapun ke Om Rain. Ini perintah!" ucap Joey dengan tegas.


Brown terperangah. Kini ia sedang terjebak di antara dua situasi. Satu sisi ia harus menjaga Miss A-nya agar berada dalam keadaan baik-baik saja. Di sisi lain, ia juga terikat pada ucapan Rain yang mengatakan bahwa ia harus menuruti semua perintah Miss A-nya.


"B-baik, Ms," sahut Brown terpaksa.


...****************...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2