OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Baju Dinas untuk Oleander-ku


__ADS_3

..."Ntar bebas kamu mau pilih warna apa. Kalo modelnya, biar aku yang pilih." - Rain...


...🌸🌸🌸...


"Kenapa sih, pilihan yang Om kasih selalu menguntungkan, Om?!” rajuk Joey.


“Itu juga akan menguntungkanmu.”


“Apa untungnya buatku?”


Rain memeluk gadis yang ada dipangkuannya, lalu ia membenamkan wajahnya di da da gadis muda itu. “Untungnya, kamu akan merasa tenang dan damai, seolah-olah sedang berada di surga.”


“Dih! Itu ‘kan surga Om, bukan surga ku,” rengek Joey sambil mengangkat kepala Rain yang terbenam di da da nya. “Om bener-bener ya! Makin ke sini, makin mesum!”


Rain hanya tertawa nakal saat mendengarkan rengekan manja gadis itu. “Jadi, kamu pilih opsi yang mana?”


“Nggak keduanya!” ucap Joey dengan mata yang mengerling.


Rain yang melihat kerlingan mata gadis itu, segera meraih tengkuk Joey dan melum at bibir cemberut gadis itu. Tangannya memegang erat kepala gadis tersebut sampai-sampai Joey tak dapat bergerak sedetikpun.


“Eumhh! O- ... mmm!” Joey berusaha berteriak dengan mata yang melotot di balik bibirnya yang bungkam. Namun sayang, tak ada gunanya. Karena Rain, tetaplah Rain Si Pria Mesum yang tak terobati selagi gai rahnya tak tersalurkan dengan benar.


Saat Joey mulai melunak dan pasrah, tangan kanan Rain mulai menjalar ke da da gadis tersebut, lalu ia mere mas da d a tersebut dengan rem asan lembut yang perlahan mulai menjadi kasar karena nafsu Rain yang sudah di ubun-ubun.


“A-aku pasrah! Hah… haahh… hahhh…” Joey langsung berbicara dengan nafas yang terengah-engah sesaat setelah pautan bibirnya terlepas dari pautan bibir Rain. “Tapi sebelum itu, aku ingin pelepasan kesucianku dilakukan dengan romantis.”


Rain menaikkan alisnya sebelah menatap ke arah Joey tanpa berbicara sepatah kata pun.


“Bukannya Om sempat nyari-nyari lingerie untukku?” tanya Joey sambil bangkit dari duduknya. “Apa mungkin lingerie itu bukan untukku?”


“Ya untukmu lah,” jawab Rain datar.


“Yaudah. Mending Om pesan dulu, terus tunggu lingerie-nya dateng, baru deh kita nganu-nganu.”


“Nganu-nganu?” tanya Rain sambil mengernyitkan alisnya.


“Dih! Om, itu aja nggak tau. Makanya jangan kelamaan tinggal di luar,” ledek Joey sambil menjulurkan lidahnya ke arah Rain. “Nganu-nganu tu kalo bahasa Om, making love.”


“Oh … yaudah,” Rain bangkit dari duduknya dan meraih kunci mobil yang ada di meja kecil samping ranjang. “Ayok!”

__ADS_1


“Huh?”


“Katanya mau pake lingerie?” tanya Rain dengan wajah datar.


“Kan harus pesen dulu di online?”


“Lama. Kita langsung ke mall aja, ntar bebas kamu mau pilih warna apa. Kalo modelnya, biar aku yang pilih,” ucap Rain santai sambil membetulkan rambutnya yang berantakan.


Lagi-lagi, Joey terjebak dengan ucapannya sendiri. Padahal, niat gadis itu menyuruh Rain memesan lingerie, biar dia memiliki waktu untuk bernafas selama beberapa hari. Tapi sekarang? Pria itu malah mengajaknya langsung ke mall. Pria dewasa itu benar-benar di luar dugaan!


“T-tapi ….”


“Yaudah, nggak usah pake lingerie, polos aja! Nggak usah pake apa-apa.”


Rain meletakkan kunci mobilnya ke atas meja kecil tadi, lalu ia membuka kancing kemejanya satu per satu. Sepertinya, dia sudah tak tahan lagi ingin segera menyelami lembah hangat nan sempit milik gadis muda itu. Rain benar-benar gila!


Di waktu yang sama, Joey terperangah melihat kelakuan Rain yang tidak sabaran itu. “Ehhh… Om!”


“A-ayok! Kita ke mall. K-kita beli lingeri-nya.”


...****************...


“Selamat malam," sapa salah satu pramuniaga yang ada di toko terkenal merek Nictoria Nevret di Mall Grand Nendisia. Ia menyambut kedatangan Joey memasuki tokonya. Sedangkan Rain, pria itu terlihat sedang menunggu di luar toko karena tidak diizinkan masuk oleh Joey setelah perdebatan yang panjang.


“Eum… b-bukan, Kak. Aku liat-liat dulu ya,” ucap Joey disambut senyum hangat dari pramuniaga toko tersebut.


Joey melihat-lihat ke arah lingerie seksi yang ada di sekelilingnya tanpa berani menyentuh. Gadis itu takut jika pandangan orang yang ada di toko tersebut menjadi aneh kepadanya saat gadis muda membeli pakaian dinas itu. Untung saja Rain tidak mengikutinya ke dalam, kalau saja pria itu ikut ke dalam, mungkin harga dirinya hilang saat itu juga karena dia akan di cap menjadi Sugar Baby bagi Rain.


“Duh! Kenapa harus kepikiran sampai ke sini, sih! Kan mendingan pesen online!” gerutu Joey sambil menghentakkan kakinya ke lantai. “Terus, ini modelnya kok nggak ada yang sopan sih!”


“Mbak, di mana-mana, model baju dinas memang begitu,” celetuk tanta-tante yang ada di sebelah Joey.


“Eh… i-iya, Tan. Hehehe.”


“Nih, kamu coba ini deh, modelnya bagus buat kamu. Udah cantik, mulus, pasti cocok kalo pake baju yang banyak bolongannya. Terus pilih warna hitam, biar makin seksi,” tante-tante tersebut menyodorkan lingerie hitam yang ada dua bolongan di da da.


“T-tapi, ini kan bikin ujung itu kita keliatan,” ucap Joey ragu-ragu. Namun gadis itu meraih lingerie yang disodorkan oleh tante-tante tadi.


“Makin keliatan, makin bagus, Cantikkk. Biar makin panas loh,” goda tante-tante tersebut. “Yaudah, aku mau bayar dulu. Dadaaa.”

__ADS_1


Kini, Joey kembali sendiri sambil memegang lingerie yang disarankan oleh tante-tante tadi. Ia membayangkan bagaimana saat tubuhnya mengenakan lingerie seksi itu.


“Huft! Membayangkannya saja membuatku takut!” gumam Joey sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Gimana? Kok lama banget?” tanya Rain yang tiba-tiba muncul di belakangnya.


“Baru satu?” celetuk Rain tanpa membiarkan Joey menjawab pertanyaannya.


“Mbak! Sini deh!” panggil Rain sambil melambaikan tangannya ke arah pramuniaga yang tak jauh dari mereka.


“Om. Ngapain masuk, sih?” bisik Joey sambil menarik baju Rain. Gadis itu menutup mukanya menggunakan sebelah tangan. “Aku ‘kan malu. Masak beli lingerie sama Om-Om!”


“Bungkus semua model baru yang ada di sini,” perintah Rain kepada pramuniaga yang datang ke arahnya. Pria itu tak menggubris Joey yang sibuk menggerutu karena kehadirannya yang membuat semua mata terpana ke arah mereka berdua.


“Ish! Om, dengerin aku kek! Malu tau, aku di anggap Sugar Baby!” ucap Joey setengah memekik dengan suara yang perlahan.


Rain menatap ke arahnya. “Aku ‘kan sudah bilang ….”


“Aku itu, orangnya nggak sabaran,” ledek Joey sambil mencebik. Gadis itu mengejek Rain dengan mengikuti intonasi pria itu berbicara dengan dingin seperti biasa.


"Ck! Udah bisa ngeledek. Liat aja ntar," kecam Rain sambil menyeringai nakal. Sepertinya, otak pria itu sudah dipenuhi dengan pikiran-pikiran kotor yang akan ia lakukan nanti dengan Joey.


"Huh! Dasar pria mesum!" Joey melipat kedua tangannya ke dada sambil berjalan mengikuti Rain menuju kasir. Kepalang basah, gadis itu menjadi bodoh amat dan tak peduli lagi dengan tatapan-tatapan penuh penasaran dari pengunjung di toko itu.


Setibanya mereka di kasir, Rain mengeluarkan dompetnya dan memberikan black card kepada kasir tersebut.


"Om!" panggil Joey tiba-tiba. Gadis itu menarik baju Rain agar pria itu mencondongkan tubuhnya agar berdiri sejajar dengannya. Rain hanya mengikuti permintaan gadis itu.


Setelah itu, Joey menangkupkan kedua tangannya ke telinga Rain. "Om, nanti beli pengaman ya, aku takut hamil. Kan nggak lucu kalo aku hamil sebelum nikah!"


Mendengar perkataan polos gadis tersebut, Rain kembali berdiri tegap dan menatap ke arah kasir yang sedang menghitung perbelanjaannya.


"Mbak, di sini jual kon-dom nggak?" tanya Rain frontal dengan suara yang lantang. Ucapan pria itu membuat semua mata yang mulai tak peduli kembali memusatkan perhatian mereka ke arah Rain dan Joey. Mata-mata yang merendahkan bahwa ada seorang gadis matre di toko itu sedang memberikan tubuhnya demi uang.


"Om!" pekik Joey dengan suara kecil yang tercekat. Gadis itu mencubit pinggang Rain dengan kesal.


"Maaf, nggak ada, Pak." Ucap kasir tersebut dengan wajah yang memerah.


"Yaudah, ntar aku keluarnya di luar aja," ucap Rain frontal dengan wajah yang datar tanpa reaksi sambil menatap Joey yang wajahnya sudah merah seperti udang rebus.

__ADS_1


...****************...


BERSAMBUNG....


__ADS_2