OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Jalan Terbaik Untuk Oleander-ku


__ADS_3

...“Baiklah! Aku akan menandatangani surat ini dan ayo kita menikah, Anya!” - Rain...


...🌸...


..."Ku mohon, bunuh saja aku kalo Om nikah sama dia! Aku nggak mau bayiku lahir tanpa seorang ayah!" - Joey...


...🌸🌸🌸...


"Bangsat!!!"


Suara lantang Rain menggelegar dan menggema di ruangan kecil yang kumuh itu. Ruangan di mana tempat ia menyandera Pak Teddy yang merupakan tangan kanan Pak Shailendra.


Seluruh tubuhnya bergetar dengan darah yang berdesir. Matanya melotot marah dengan rahang yang menegang. Ia menggertakkan giginya sambil mengepalkan tangan.


Hatinya begitu hancur saat melihat Joey, gadis Oleander-nya yang terikat tak berdaya dengan pipi yang memerah dan ada darah segar yang terlihat di sudut bibir. Rambut gadis itu juga acak-acakan dengan mata yang dibanjiri air bening yang sedang berdesakan keluar di sudut mata.


^^^"Gimana, Mas?"^^^


^^^"Nggak kamu aja yang punya kejutan."^^^


^^^"Bahkan kejutanku lebih menarik bukan?"^^^


Wajah seringai Anya yang terlihat di panggilan video membuat Rain tak mampu berucap banyak.


"Apa maumu?!!!"


^^^"Aku bakalan share lokasi."^^^


^^^"Tapi Mas sendiri aja ke sini ya."^^^


^^^"Awas bo'ong loh, Mas. Gadis ini akan ku siksa lebih dari ini."^^^


Sesaat setelah Anya mengatakan sebuah kalimat ancaman, panggilan tersebut langsung mati. Kemudian, ada sebuah notifikasi masuk di ponsel Rain.


Ternyata Anya mengirimkan lokasi mereka saat ini.

__ADS_1


"Charlie!" panggil Rain dengan tegas.


"Kerahkan Leons ke alamat yang ku kirimkan padamu. Jika perlu, bunuh semua orang yang menyakiti Miss A kalian!"


"Siap!" seru Charlie sambil berdiri tegak. "Bagaimana dengan and-"


"Aku akan ke sana sendiri." Potong Rain tak sabar sambil berjalan menuju pintu keluar.


Kemudian punggung pria itu tak lagi terlihat.


...****************...


Saat menuju gudang usang yang Anya kirimkan lokasinya, Rain menelfon Brown. Ingin rasanya ia memaki dan memukul pria itu. Bagaimana bisa mereka tak menjaga dengan baik amanah yang sudah ia berikan tempo hari.


Berulang kali ia memanggil, tapi tak ada jawaban dari Brown. Bahkan ia juga berusaha menghubungi David, juga tak di angkat. Ada apa dengan mereka berdua? Mereka sedang di mana?


Rain terpaksa menghentikan mobilnya saat berada di lampu merah. Ternyata, malam ini ia melewati lampu merah dan halte di mana pertama kali ia bertemu dengan gadis cinta terakhirnya itu.


"Sial!!!" umpat Rain sambil memukul stir mobil. Ia merasa tak sabar ingin segera menancap gas, namun saat itu lalu lintas begitu padat merayap.


"Jangan sampai dia dan bayiku kenapa-kenapa," gumam Rain lirih sambil kedua tangannya mencengkeram dengan kuat stir mobil tersebut. Sorot matanya tak sabar menunggu lampu merah itu berubah hijau.


Di sebuah gudang tua yang berada tak jauh dengan pelabuhan yang ada di Kota Jakarta, Rain terlihat keluar dari mobilnya. Sorot matanya melihat ke sekeliling, di mana ada banyak sekali semak belukar yang menjulang tinggi disertai beberapa pria-pria bertubuh tegap dan mengerikan sedang menatap ke arahnya.


“Lumayan juga keamanannya,” gumam Rain dalam hati sambil sudut bibir kirinya naik setengah.


“Bawa aku pada Anya!” seru Rain dengan lantang kepada pria-pria yang ada di sana.


Sesaat setelah ia mengatakan hal tersebut, ada dua orang pria botak bertubuh hitam legam berjalan mendekatinya.


“Ikuti kami, Pak.” Ucap salah satu dari mereka.


Rain berjalan mengikuti kedua pria hitam legam tadi menuju pintu masuk gudang tua tersebut. Ia menyusuri lorong-lorong gelap yang hanya bercahayakan lampu kuning redup dengan lantai yang sangat kotor karena debu dan bau pesing.


Rain tak mempedulikan semua itu. Dipikirannya saat ini adalah bagaimana keadaan Joey sekarang? Dia benar-benar tak tenang sampai ia dapat melihat langsung gadisnya itu.

__ADS_1


KRIEETTTT…


Pintu besi usang yang sudah berkarat itu berderit saat kedua pria hitam legam tadi membukakan pintu yang langsung menuju kamar kecil di mana Joey disekap.


Rain tak mampu berkata-kata saat melihat gadis yang ia cintai tertunduk lemah di atas kursi dan sedang terikat. Wajah gadis itu sangat berantakan.


“Om Rain… hiks… hikss….” Panggil Joey lirih sambil terisak-isak.


Suara gadis muda yang sedang hamil itu terdengar begitu pilu dan menyayat hati. Rahang Rain menegang dengan kedua tangan yang ia kepalkan karena menahan amarah. Urat di matanya terlihat saat ia melotot sembari menggertakkan gigi. Saat ia ingin melangkahkan kaki mendekati gadis itu, Anya mengeluarkan sebuah pistol dan menodongkannya ke kepala Joey.


“Brengsek!” umpat Rain geram. “Aku udah di sini.”


“Sekarang katakan apa maumu?!!!” sambungnya emosi.


Anya terkekeh terpingkal-pingkal. Wanita cantik itu kini terlihat bengis dan menyeramkan. Ia memberikan aba-aba pada bawahannya. Tak lama setelah itu, seorang pria mendekati Rain sambil membawakan selembar kertas.


Rain meraih kertas tersebut tak sabar sambil mendengus. Dadanya naik turun akibat menahan emosi yang sedang meluap-luap.


“Ck! Nikah dan tak boleh cerai sampai maut?!” ucap Rain setelah membaca isi yang tertulis di kertas tersebut.


“Hmm.” Anya menaikkan alis kanannya sambil menyeringai dengan tatapan yang sinis. "Aku juga tak akan mengganggu gadis ini lagi."


“Tapi, kalau Mas nggak tanda tangan, aku nggak akan takut untuk membunuh gadis ini,” ancam Anya sambil tersenyum dengan penuh kemenangan. Ia merasa telah menemukan titik terlemah Rain dan pria itu tak dapat menolak permintaannya sama sekali.


“Baiklah! Aku akan menandatangani surat ini dan ayo kita menikah, Anya!” ucap Rain dengan lantang dan tegas. Sepertinya ia tak main-main dengan apa yang ia ucapkan barusan.


Dibenak pria itu saat ini, biarlah ia hidup menderita seumur hidup dengan wanita yang tak ia cintai, ketimbang harus melihat gadis yang ia cintai terluka bahkan ia harus kehilangan bayi yang di dalam perut gadis itu. Ia tak ingin kejadian yang pernah menimpa ibu kandungnya dulu juga terjadi pada Joey, meninggal mengenaskan saat mengandung. Jangan sampai hal itu terjadi. Asalkan ibu dan bayi selamat, ia rela melakukan apapun.


“Nggak! Nggak boleh!!!” pekik Joey sekuat tenaga. Gadis itu amat sangat keberatan saat Rain memutuskan untuk menikahi Anya, Si Lalat Hijau itu. Joey tak mampu menahan ekspresi terkejutnya saat mendengarkan ucapan Rain saat itu juga.


"Berikan aku pulpennya!" Rain mengucapkan hal tersebut tanpa melihat ke arah Joey. Karena jika ia melihat ke arah Joey, hatinya pasti akan goyah.


"Ku mohon, bunuh saja aku kalo Om nikah sama dia! Aku nggak mau bayiku lahir tanpa seorang ayah!" tukas Joey lantang dengan tangis yang membuncah.


"Cukup aku aja yang ngerasain pedihnya hidup karna seorang ayah yang brengsek, jangan sampai anakku merasakannya," sambung Joey lirih dengan nada yang putus asa.

__ADS_1


...****************...


BERSAMBUNG...


__ADS_2