OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Hal yang Tabu


__ADS_3

...“Papa pernah muda, lagi pula kamu besar di Amerika. Bukan hal yang tabu jika tinggal dengan seorang wanita yang belum berstatus istri.” – Ravi Ravindra...


...🌸🌸🌸...


Sore itu, mobil Merci yang Rain kendarai berhenti di lobby rumah mewah dan megah empat tingkat di mana keluarga Ravindra berkembang biak. Ia keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah dengan langkah yang berat.


Memikirkan repetan panjang yang akan keluar dari mulut ayah kandungnya saja sudah membuatnya pusing. Apalagi mendengarkan secara langsung repetan tersebut. Hah! Benar-benar membuat kepalanya ingin pecah saat itu juga.


“Rain!” suara lantang Pak Ravi menggema saat Rain menginjakkan kakinya masuk ke ruang tamu.


Di tengah-tengah ruang tamu tersebut terlihat Anya yang sedang menangis sesenggukan. Ia duduk bersebelahan dengan Ibu Hana yang merupakan ibu tiri Rain. Di sebrang sofa yang yang di duduki oleh Ibu Hana dan Anya, terlihat Pak Ravi yang sedang duduk dengan angkuh sambil bersilang kaki.


“Dari mana saja kamu?!” bentak Pak Ravi dengan mata yang melotot menahan amarah.


Rain hanya diam tak bergeming, ia berjalan mendekati ketiga orang tadi yang sedang duduk berkumpul di ruang tamu. Kemudian, Rain duduk di sofa yang berada tak jauh dari sofa yang di duduki oleh ketiga orang tadi.


“Siapa gadis murahan itu?!” bentak Pak Ravi. “Ingat! Pernikahanmu dan Anya kurang dari dua bulan lagi!”


“Pikirkan martabat keluarga besar ini kalo sampai beredar skandal perselingkuhanmu dengan seorang gadis yang tak jelas asal usulnya itu!”


Rain menatap tajam ke arah Anya yang sibuk memegang tisu sembari menyeka buliran airmata palsunya itu. Wanita tersebut menyeringai puas tanpa sepengetahuan Pak Ravi dan Ibu Hana, namun ia mempertontonkan seringainya pada Rain. Seolah-olah memberikan isyarat peringatan bahwa ini hanya awal dari ancaman yang sempat ia beritahukan sebelumnya.


“Kamu tuli?!” bentak Pak Ravi kasar. Giginya gemetaran menahan amarah karena sejak tadi Rain tak menggubris semua yang telah ia ucapkan.

__ADS_1


“Sayang, jangan emosi,” bujuk Ibu Hana menenangkan sambil berpindah duduk ke sisi Pak Ravi. Wanita paruh baya tersebut merangkul lengan Pak Ravi sembari memijat-mijat bahu pria paruh baya itu.


“Aku nggak ngerti dengan apa yang Papa bicarakan. Gadis mana? Aku nggak pernah dekat dengan gadis manapun!” elak Rain. Ia berusaha menutupi keberadaan Oleander-nya. Jangan sampai pria tua di hadapannya ini mengetahui tentang Joey sebelum rencananya tercapai.


“M-maaf, sepertinya aku salah melihat Mas Rain dengan gadis lain, Pa. Mungkin waktu itu Mas Rain hanya bertanya sesaat, setelah itu pergi,” bela Anya. Ia berusaha menjadi pahlawan di saat di mana Rain menjadi bahan pelampiasan amarah pria paruh baya tersebut.


“Hah! Anak ini benar-benar membuatku pusing!” Pak Ravi memijat pelipisnya sembari menghela napasnya dengan kasar. Dada pria paruh baya itu terlihat naik turun karena berusaha meredam emosi yang sempat meledak-ledak sesaat.


Cukup lama ruangan tersebut hening tanpa sepatah kata pun yang terucapkan karena masing-masing sedang terhanyut dalam pikiran masing-masing sembari meredam amarah.


“Mulai besok, Anya akan mengikutimu ke apartemen yang sering kamu tempati sejak pulang ke Indonesia,” tutur Pak Ravi gamblang.


Pria paruh baya itu selalu mengambil keputusan seenaknya tanpa memikirkan persetujuan dari pihak lain. Lagi pula, bagaimana bisa seorang ayah membiarkan anaknya tinggal seatap dengan seorang wanita yang belum berstatus sah dengannya?


“Mulailah hidup berdua karena sebentar lagi juga kalian akan menikah,” sambungnya.


“Pak Shailendra memangnya enggak keberatan?!” tanya Rain dingin. Ia berusaha menggunakan nama itu untuk menolak perintah tinggal seatap dengan wanita yang ia benci.


“Papa udah mendiskusikan ini dengannya. Nggak apa-apa karena dua bulan itu bukan waktu yang lama untuk kalian menikah,” jawab Pak Ravi datar.


“Pa! Masak Papa nyuruh aku tinggal sama wanita yang belum sah jadi istriku?!” protes Rain tak suka.


"Lagi pula aku ini pria normal!" sambungnya.

__ADS_1


Bukan masalah ia tak suka tinggal bersama wanita yang belum sah menjadi istrinya, pasalnya ia sudah melakukan itu sejak lama dengan Joey gadis yang ia cintai. Hanya saja, kini ia disuruh tinggal seatap dengan wanita yang tak tahu diri itu.


“Nggak usah munafik Rain. Papa juga pernah muda, lagi pula kamu besar di Amerika. Bukan hal yang tabu jika tinggal dengan seorang wanita yang belum berstatus istri,” ucap Pak Ravi tanpa sedikitpun rasa bersalah.


“Ck! Itulah kenapa Papa selingkuh dan berpaling dari Mama. Karena hal tabu yang Papa anggap biasa,” gumam Rain kesal.


Rain tiba-tiba dibuat teringat akan ibunya yang diselingkuhi dan disakiti oleh ayah kandungnya karena tahta dan wanita yang kini berstatus Nyonya Ravindra, istri kedua dari Ravi Ravindra. Ia mengepalkan kedua tangannya menahan amarah yang ingin meledak saat itu juga karena teringat bagaimana bengisnya pria paruh baya itu membiarkan ibu kandungnya meninggal dengan mengenaskan.


“Anak kurang ajar!” Pak Ravi bangkit dari duduknya dan bergegas menampar pipi Rain dengan sangat kuat.


Tubuhnya yang mulai tua itu bergetar hebat saat ia diingatkan kembali tentang kenangan pahit yang sudah susah payah ia lupakan. Anak semata wayang yang ditinggalkan oleh istri tercintanya kini berubah menjadi anak yang pelawan dan tak patuh, padahal dulu setelah ibunya meninggal, anak itu tak pernah membantah setiap perintah yang ia berikan. Lalu kenapa hari ini ia mendadak melawan perintah yang ia berikan?


Rain bangkit dari duduknya sambil memegang pipinya yang panas akibat tamparan yang dilayangkan oleh ayah kandungnya tersebut. Sorot matanya yang memerah menahan amarah sejak tadi, kini terlihat tegang dengan bibir yang bergetar.


“Baiklah! Aku akan melakukan yang Papa mau. Tapi, berikan aku posisi CEO, baru wanita murahan ini bisa menginjakkan kakinya ke tempat tinggalku!” ucap Rain tak kalah lantangnya dengan suara pria paruh baya yang ada di depannya saat ini.


“Sejak dulu aku nggak pernah membantah setiap perintah yang Papa berikan, lalu sekarang? Pasangan hidupku pun kenapa Papa yang atur?!” sambungnya.


Rain bergegas pergi dan menapaki tangga yang berada tak jauh dari ruang tamu. Lalu ia masuk ke kamarnya dan menghempaskan pintunya dengan sangat kuat.


Sesaat setelah masuk ke dalam kamar, Rain menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang sambil memejamkan matanya. Dadanya naik turun akibat emosi yang meledak-ledak.


“Haaa… aku kangen Oleander-ku.”

__ADS_1


...****************...


BERSAMBUNG…


__ADS_2