
..."Kan aku bakalan jadi istri Om, sedangkan dia, cuma alat doang biar Om jadi CEO." - Joey...
...🌸🌸🌸...
"Terus?" tanya Rain datar.
"Ya ... aku mau nyanyi di acara launching new project Om."
"Emangnya biaya kuliah kurang? Jajan juga kurang?"
"Nggak. Aku cuma pengen bakat aku di akui aja sama publik, hehehe..."
"Nggak boleh. Ntar yang ada kamu sakit hati," jelas Rain sengit.
"Sakit hati?"
"Hmm." Rain hanya mendehem dan menaikkan alisnya.
"Oh ... karena ada Anya di acara lauching? Emangnya aku peduli?" ucap Joey percaya diri. "Kan aku bakalan jadi istri Om, sedangkan dia, cuma alat doang biar Om jadi CEO."
BRAKKK!!!
Rain menghentikan mobilnya mendadak sehingga kepala Joey terbentur kaca mobil depan.
"Aww!" pekik Joey sambil mengusap-usap kepalanya. "Om kena-"
Rain me lu mat habis bibir Joey sesaat. Lalu ia lanjut mengendarai mobil. Sedangkan Joey? Gadis itu dibuat melongo karena sifat aneh pria tersebut.
"Oke. Kamu yang nyanyi di acara launching, nggak usah seleksi. Aku udah tau bakat kamu sejak dulu," ucap Rain.
Joey tersenyum simpul. Ada gunanya juga ia menggunakan status 'calon istri' yang diberikan Rain padanya, setidaknya status itu bermanfaat di saat-saat seperti ini. Padahal, hingga saat ini dia masih tak dapat menerima status tersebut, karena ada wanita lain yang lebih dulu menggunakan status yang ia dapatkan.
"Jadi, kita makan apa, Om?" tanya Joey. Mata gadis tersebut berkeliling melihat ke kiri ke kanan, ada beberapa restoran yang menarik perhatiannya sejak tadi, namun terlewatkan karena mobil yang ia tumpangi tak kunjung berhenti.
"Makan kamu," ucap Rain. Lalu mobil tersebut berhenti di sebuah hotel.
"Ish! Om yang bener deh! Ini 'kan masih siang!"
"Mau siang, malam, badai, tsunami, kamu tetap menjadi santapanku!" goda Rain sambil keluar dari mobilnya. Pria tersebut menutup pintu mobil tanpa membiarkan Joey menjawab ucapannya terlebih dahulu.
"Ayo!" panggil Rain saat membukakan pintu untuk bunga kesayangannya.
Joey pun turun dari mobil dan mereka berdua berjalan memasuki hotel di mana mobil mereka berhenti. Kedua orang tersebut di sambut dengan hangat oleh beberapa staff yang ada di sana.
__ADS_1
"Selamat siang, Pak Rain."
"Selamat siang, Mbak Joey."
"Selamat siang!"
Joey merasa canggung dengan senyuman dan keramahan yang ia terima dari beberapa staff yang ada. Bagaimana bisa ada yang mengenalinya? Lalu, hotel ini? Apakah milik pria mesum ini?
"Om..." panggil Joey sambil berjalan di sisi Rain.
"Hmm."
"Kok mereka tau aku? Ini hotel Om?"
"Kepo!" celetuk Rain singkat.
"Ish! Nyebelin," rutuk Joey.
Gadis itu berjalan sambil menikmati keindahan hotel berkelas yang ia masuki saat itu. Hotel mewah dengan interior yang tertata rapi dan pengunjung-pengunjung yang sepertinya dari kalangan atas.
Rain menarik tangan Joey menuju sebuah restoran yang ada di dalam hotel tersebut. Ia disambut dengan hangat oleh beberapa orang pria bertubuh tegap dan kekar. Ada yang rambutnya gondrong, cepak, hingga botak.
Salah seorang pria bertubuh tegap dengan pakaian rapi layaknya waiters pada umumnya, ia menarik kursi dan mempersilahkan Joey duduk. Pria bertubuh tegap tersebut terlihat tak asing buat Joey.
"Sok kenal," celetuk Rain sambil menarik kursi yang ia duduki agar lebih maju mendekati meja yang menjadi pembatas antara dia dan Joey.
"Ya 'kan feeling aku aja tadi, sewot banget deh ni Om-Om," gerutu Joey kesal.
Rain memberikan tatapan tajam ke arah Brown sebagai isyarat bahwa, 'jangan sampai ketahuan' bahwa selama ini dia yang ditugaskan untuk mengawal dan menjaga Joey.
"Om, aku lupa liat tadi sebelum masuk, nama hotel ini apa?" tanya Joey sambil mengeluarkan ponselnya dari totebag.
"Hotel Leonidas," jawab Rain singkat.
"Nama yang unik. Itu Om sendiri yang ngasih namanya?" tanya Joey sambil membuka aplikasi Nstgram di ponselnya.
"Hemm." dehem Rain datar.
Merasa tak tertarik lagi bercakap-cakap dengan Rain, gadis itu mulai keasyikan selfie sambil menunggu makanan disajikan di meja mereka.
"Oh... aku dianggurin," lirih Rain. Pria tersebut sibuk membuka tabletnya memantau pekerjaan.
"Lah, Om aja sibuk, kok aku yang disalahin?" protes Joey. Gadis itu tetap fokus dengan selfienya sambil tersenyum dan memamerkan gigi putihnya yang rapi.
__ADS_1
"Taro hp-nya," perintah Rain dingin.
"Taro tabletnya!" bales Joey dengan menirukan gaya bicara Rain. Gadis itu mencibir tanpa menoleh ke arah Rain yang melotot menatapnya.
"Om, kok nggak makan siang sama Anya?" celetuk Joey.
"Ngapain bahas dia, sih?"
"Ya 'kan calon istri Om pengen tau," jawab Joey malas, tapi penasaran.
"Ck! Benar-benar ya bocah satu ini."
"Ish! Tinggal jawab kenapa sih, Om," desak Joey ingin tahu,
"Ya ngapain makan sama orang lain? Mending makan sama pasangan sendiri."
"Emangnya, aku mau jadi pasangan Om?" cibir Joey tanpa melihat ke arah pria tersebut yang sedang mempelototinya.
CTAKK!!!
Sebuah sentilan mendarat di dahi lebar gadis muda tersebut.
"Aww!!!" pekik Joey dengan tatapan yang cemberut. "Sakit, Om!"
"Ngapain ngomong kayak tadi?"
"Ya 'kan aku cuma becanda," jawab Joey lagi.
"Jangan pernah ngomong kayak gitu. Atau aku perkosa di tempat ini juga!" ancam Rain.
"Ihhh... takutttt," ejek Joey dengan wajah yang pura-pura ketakutan.
"Brown!" panggil Rain.
Pria bertubuh tegap tersebut mendekat menuju meja yang sedang Joey dan Rain tempati.
"Anter makanan ke kamar," titah Rain sambil bangkit dari duduknya.
Joey melotot kaget dan mengalihkan pandangannya dari ponsel. Ia menatap Rain tanpa berkedip. "Om, becanda 'kan?"
"Sejak kapan aku suka becanda," jawab Rain datar. "Ayo, ikut aku!"
...****************...
__ADS_1
BERSAMBUNG...