
...“Ahh… jangan-jangan Mbak Joey pacaran dengan Pak Luca?” - Anya...
...🌸🌸🌸...
Joey tak mampu menahan tawanya. Pria yang ada di depannya saat ini benar-benar lucu dan pintar sekali mencairkan suasana. Baginya, judul yang disebut oleh direktur tampan itu hanya lah sekedar judul, tak berarti apa-apa. Tapi tidak bagi Luca. Judul Gadis Pemilik Hati Direktur Tampan itu mengandung arti tersendiri baginya.
“Nggak kerasa, udah jam dua lewat aja,” gumam Joey saat melirik jam di ponselnya. Niatnya melihat ponsel sebenarnya bukanlah melihat jam, melainkan berharap ada sebuah pesan singkat yang dikirimkan oleh Rain. Tapi mustahil, dia sendiri yang telah memutuskan untuk mengakhiri kisah cintanya, jadi tak mungkin pria itu mengirimkan pesan singkat untuknya lagi. Ibaratnya, ia telah menolak mentah-mentah ketulusan pria itu.
“Hahaha… iya, waktu cepat sekali berlalu,” sahut Luca sambil menghela nafasnya berat. Ia merasa ingin sedikit lebih lama lagi dengan gadis itu.
“Apa ku minta saja nomor ponselnya? Bilang saja untuk pekerjaan?” pikir Luca ragu-ragu.
“Eum… boleh aku minta kontak Bapak?” tanya Joey ragu-ragu. “Karna, saya akan menjadi karyawan Bapak juga, ‘kan?”
Luca terbelalak. Ia benar-benar tak menyangka bahwa apa yang ia pikirkan barusan, langsung dilakukan oleh gadis tersebut. Tanpa ia harus memikirkan sejuta alasan, gadis itu sendiri yang meminta kontaknya agar mereka dapat saling terhubung satu sama lain.
“Of course!” seru Luca dengan senyum yang sumringah. Ia langsung mengambil ponselnya. “Berapa nomor mu?”
“Ha?” kini, Joey yang dibuat terkejut.
“M-maksudku, simpanlah nomor ku ini,” elak Luca menutupi rasa gugupnya. “087878xxxxxx.”
Lagi-lagi Joey dibuat tersenyum melihat tindak-tanduk pria itu. Ternyata, seorang direktur utama perusahaan ternama juga bisa bertingkah konyol.
Tak lama setelah mereka saling bertukaran nomor ponsel, Joey bangkit dari duduknya. “Pak, aku ke toilet sebentar ya.”
“Okay,” ucap Luca sambil tersenyum.
Tanpa sepengetahuan Luca, Joey bukan ke toilet, tapi ia malah ke kasir untuk membayar tagihan makanan mereka. Ia merasa sungkan jika makan siang ini dibayarkan oleh pria itu. Di ajak makan siang oleh seorang direktur saja merupakan sebuah kehormatan baginya yang bukan siapa-siapa. Jadi, tak ada salahnya jika ia yang membayar makan siang kali ini.
Setelah membayar makan siang tersebut, Joey kembali ke meja di mana Luca sedang menunggunya.
__ADS_1
“Pak?” panggil Joey.
Luca menoleh ke arah Joey sambil menaikkan kedua alisnya.
“Ayo? Aku akan memesan taksi online,” ucap Joey tanpa basa basi.
“Are you sure?” tanya Luca. Ia tak ingin memaksakan mengantar gadis itu pulang. Karena jika terlalu dipaksakan, nanti gadis itu akan merasa tak nyaman.
“Yes,” Joey mengangguk sambil tersenyum.
Keduanya pun bangkit dari duduk sambil berjalan menuju kasir yang searah dengan pintu keluar. Saat Luca ingin mengeluarkan dompetnya menuju kasir, Joey menahan pria itu.
“Udah dibayar, Pak.” Ucap Joey sambil tersenyum. “Sebagai ucapan terima kasihku untuk hari ini.”
“Haaa… kamu membuatku malu sebagai seorang pria,” protes Luca dengan mimik wajah yang cemberut.
“Hahaha… nggak apa-apa, Pak.”
“Baiklah,” Joey tersenyum mengikuti Luca menuju parkiran mobil.
Saat Joey berjalan menuju mobil, kala itu matahari sedang terik dan menyilaukan mata. Entah kenapa, penglihatan Joey mendadak kabur dan buram. Sekelilingnya terlihat gelap dan menghitam. Ia mempercepat langkahnya dan bergegas mendekati mobil Luca agar ia bisa memegang mobil tersebut dan menyangga tubuhnya agar tak jatuh.
Luca yang melihat Joey hampir tumbang, ia sadar bahwa gadis itu sedang tak baik-baik saja. Ia bergegas mendekati Joey dan memegang kedua lengan gadis itu dengan raut wajah yang khawatir.
“Are you okay?” tanya Luca panik. Ia tak henti-hentinya menatap ke arah Joey yang terlihat pucat.
“O-okay,” jawab Joey terbata-bata. Entah kenapa, tiba-tiba saja malam panas yang ia lalu bersama Rain berkelabat dipikirannya. Ia tersentak kaget saat kembali teringat bahwa pria itu melepaskan semua sel-sel sper ma ke dalam rahimnya. Apa jangan-jangan dia hamil? Opini tersebut membuat seluruh tubuhnya bergetar hebat karena ketakutan.
“Kita ke rumah sakit,” ucap Luca saat merasakan getaran tubuh Joey. Dipikiran pria itu saat ini, Joey menggigil karena sedang tidak sehat.
“Ngg… jangan. Aku pulang aja,” Joey ketakutan setengah mati saat diajak ke rumah sakit. Ia khawatir apabila direktur perusahaannya tahu jika benar ia sedang hamil. Bisa-bisa, kontraknya batal saat itu juga. Lalu, ia kembali harus menggantungkan hidupnya kepada Rain.
__ADS_1
Di saat yang sama, tepatnya di parkiran, Rain terlihat keluar dari mobil bersama Anya. Entah takdir atau memang permainan semesta, keempat orang tersebut tak sengaja bertemu.
Melihat Joey ada di parkiran yang sama, Anya bergegas merangkul lengan Rain dengan manja. Berbeda dengan Rain, ia tak mampu menahan rasa terkejut dan cemburunya saat melihat Oleander kesayangannya sedang dipegang oleh seorang pria muda tampan yang tak asing di matanya.
“Pak Rain?” ucap Luca. Ia mengenali sosok pebisnis terkenal tersebut saat berpapasan di parkiran.
“Wah, Pak Luca, ‘kan?” tanya Anya. “Bukankah ini Mbak Joey? Kenapa wajahnya pucat sekali?”
“Ahh… jangan-jangan Mbak Joey pacaran dengan Pak Luca?” sambung Anya tanpa basa basi.
Mendengarkan pertanyaan Anya bahwa apakah Joey pacarnya atau bukan, Luca terlihat tak keberatan bahkan ia juga tak membantah tudingan tersebut. Sebaliknya ia hanya kesengsem dan tersenyum penuh arti.
Rain dibuat kesal melihat gerak-gerik Luca yang salah tingkah karena pertanyaan tersebut. Tapi, ketimbang merasa kesal, ia lebih khawatir melihat Oleander-nya yang terlihat pucat dan tak berdaya. Apa terjadi sesuatu? Apa jangan-jangan gadis itu sedang sakit? Ingin rasanya ia bergegas meraih tubuh itu dan bergegas membawanya ke rumah sakit, tapi ia lebih takut lagi jika Anya berbuat sesuatu yang menyakitinya.
“A-aku baik-baik aja,” ucap Joey sambil berusaha menurunkan tangan Luca dari kedua lengannya. Ia terlihat begitu pucat dan kesulitan berdiri. Tapi yang lebih membuatnya heran adalah, seluas ini kota Jakarta, kenapa ia bisa bertemu dengan Rain di tempat ini? Lalu, Rain dan Anya juga terlihat semakin intim, sepertinya pernikahan bisnis itu akan menjadi pernikahan sungguhan.
“Pak, sepertinya aku harus segera pulang,” pinta Joey dengan wajah yang memelas kepada Luca. Ia sudah tak lagi sanggup menahan sakit yang menusuk-nusuk di kepalanya. Terlebih lagi saat ini tubuhnya mendadak lesu dan tak berdaya.
Tanpa berfikir panjang, Luca bergegas memegang kedua lengan Joey untuk memapahnya ke dalam mobil. Ia juga tak lupa pamit kepada Anya dan Rain sebelum pergi. “Pak Rain, Mba Anya, maaf aku nggak bisa berlama-lama, soalnya gadisku sedang kurang sehat. Aku pamit dulu ya. Di lain waktu, mungkin kita bisa dinner bersama.”
“Gadisku?” batin Rain kesal. Pria itu mengepalkan tangannya saat mendengarkan pria lain berkata bahwa Oleander itu milik mereka.
“Iya nggak apa-apa. Tapi aku setuju dengan ide dinner bareng,” celetuk Anya sambil tersenyum. “Mungkin nanti aku akan mengantarkan undangan khusus untukmu dan Joey.”
Sesaat setelah berpamitan, Luca bergegas masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan parkiran tersebut.
“Kayaknya, Joey hamil deh. Soalnya tindak-tanduk gadis itu aneh,” celetuk Anya sengaja. Ia berharap Rain menjadi kesal dan segera meninggalkan Joey. Karena, hamil di luar nikah merupakan sebuah perbuatan mencoreng nama baik keluarga besar Ravindra.
“Tapi, Bapaknya siapa ya? Nggak mungkin Mas, ‘kan? Soalnya dia juga dekat dengan Kale dan Luca. Ck! Dasar gadis murahan!” sambung Anya menyumpah serapah Joey.
...****************...
__ADS_1
BERSAMBUNG…