OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Menyerahlah!


__ADS_3

...“Menyerahlah, aku nggak akan pernah menikahimu.” - Rain...


...🌸🌸🌸...


Di sebuah bangunan usang yang berdebu dan minim cahaya tersebut, terlihat seorang pria tua dengan penampilan yang berantakan dan kumuh. Ia duduk sambil berjaga dengan beberapa orang yang berotot serta bertubuh tegap dan penampilan yang sangar di depan pintu kamar kecil. Kurang lebih sepuluh orang yang sedang berjaga di sana.


Di sebuah kamar kecil yang tak kalah kumuh dan berdebu dari tempat pria tadi berkumpul Joey terlihat lemah di atas kursi tua karena tangan yang terikat ke belakang dengan mulut yang di tutup pakai lakban hitam. Ia perlahan mulai sadar sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. Kepalanya terasa pusing dan sakit saat ia membuka mata. Dilihatnya dengan seksama ke sekitar.


“A-aku di mana,” gumamnya lirih.


Joey mencoba mengingat lagi bagaimana ia bisa berada di tempat itu dalam keadaan terikat. Seingat dia, tadi saat ia sedang di dalam taksi, ia mencoba menelefon Om Harry. Namun, belum sempat panggilan tersebut di jawab oleh Om Harry, tiba-tiba saja mulutnya di bekap dari belakang. Entah siapa itu. Yang jelas, tak lama kemudian ia merasa pusing dan tak sadarkan diri.


“Ugh…” ringis Joey berusaha melepaskan dirinya dari ikatan yang kuat tersebut.


Samar-samar terdengar suara lirih Joey di telinga pria tua tersebut. Ia bangkit dan berjalan masuk menuju kamar kecil yang sedang di tempati oleh Joey.


“Wah wah wah… peliharaan orang kaya,” celetuk Dandy Ainsley, ayah kandung Joey.


Kepala Joey yang pusing dan sakit saat itu membuat pandangannya sedikit kabur dan tak dapat melihat dengan jelas objek yang ada di depannya. Ia memicingkan matanya mencoba melihat ke depan ke arah pintu di mana ada seorang pria tua yang masuk mendekatinya.


Sekujur tubuh Joey bergetar dengan hebat, matanya yang semula layu mendadak terbelalak dengan sempurna saat melihat pria yang ada di depannya. Rasanya seluruh darahnya membeku dan jantungnya seperti berhenti berdetak. Keringat dingin perlahan mengucur di dahi dan tubuhnya.


“Empat belas tahun kabur, hidup enak, tapi lupa sama orangtua,” ucap Pak Dandy sambil duduk jongkok di depan Joey.


“Dasar anak durhaka!” umpat Pak Dandy dengan suara yang lantang.


Joey tak mampu menahan rasa takutnya. Ia benar-benar berharap pria yang ia cintai berada di sana saat ini juga mendekap tubuhnya dengan erat. Namun sepertinya tak mungkin, karena pria itu saat ini sedang berada di rumah sakit karena kecelakaan.


“Tunggu, apa semua ini jebakan? Om Rain nggak kecelakaan, ‘kan?” pikir Joey saat itu.


SRETTT!!!


Pak Dandy membuka paksa lakban hitam yang tertempel di mulut Joey sehingga mengakibatkan gadis itu tak sengaja berteriak karena kesakitan. Kemudian, Pak Dandy memegang dengan kasar dan kuat wajah gadis itu dan ia mengarahkan wajah gadis tersebut ke arahnya.


“Ternyata selama empat belas tahun ini jadi pela.cur om-om lo ya,” bentak Pak Dandy dengan sorot mata yang tajam. Kemudian ia membuang dengan keras wajah pucat Joey yang sudah basah akibat keringat.


“Dasar anjing!” umpat Joey sambil menggertakkan giginya.


Pria yang ada di depannya tersebut merupakan pria yang sangat tak ingin ia temui di sisa hidupnya. Bahkan jika ia harus terlahir lagi sebagai anak dari pria tua tersebut, ia lebih baik mati daripada harus mempunyai ayah yang seperti itu.


PLAK!!!

__ADS_1


Sebuah tamparan dari tangan kasar yang kumuh itu mendarat ke pipi mulus Joey. Pak Dandy yang terkenal dengan tempramen yang tinggi sejak dulu, ia merasa sakit hati karena anak yang tak tahu diri itu pergi menghilang dan ternyata hidup dengan nyaman dan bergelimang harta.


“Tampar!” bentak Joey dengan sorot mata yang tajam dan dingin. “Tampar brengsek! Dari dulu bisanya nampar doang ‘kan?!!!”


PLAK! PLAK! PLAK!


Pak Dandy menampar wajah Joey tepatnya di kedua pipi silih berganti. Ia merasa dengan menampar pipi gadis tersebut, rasa sakit hatinya dapat terlampiaskan.


Sesaat setelah Pak Dandy bertubi-tubi memberikan tamparan pada Joey, gadis itu langsung meludah ke wajahnya. Ia menjadi naik pitam akibat ludahan gadis tersebut.


“Bangsat!” umpat Pak Dandy sambil melayangkan sebuah tamparan yang sangat keras dari sebelumnya.


Darah segar perlahan mengalir dari sudut bibir Joey. Namun, bukannya menangis, gadis itu malah tertawa terkekeh-kekeh. Rasa sakit yang menghujam wajahnya sehingga membekas dan merah, rasanya tak sakit sama sekali. Yang lebih sakit dari tamparan tersebut adalah kenangan masa kecilnya yang begitu menyakitkan. Meskipun empat belas tahun telah berlalu, rasa trauma yang begitu dalam tak dapat ia singkirkan begitu saja.


“Hahaha… pantes aja hidup lo sampai sekarang masih melarat,” ejek Joey sambil mengamati keadaan kumal pria tua itu dari atas hingga bawah. “Kelakuannya masih begini.”


Pak Dandy semakin kesal karena ejekan yang dilontarkan oleh Joey. Ia meraih leher gadis tersebut dan mencekiknya dengan kuat.


“Stop!”


Suara lantang seorang wanita terdengar saat memasuki ruangan tersebut.


Joey dan Pak Dandy secara serentak menoleh ke arah pintu.


Melihat Anya yang masuk ke ruangan tersebut diiringi beberapa bodyguard yang kekar, Pak Dandy bergegas melepaskan tangannya dari leher Joey. Sebaliknya, ia berdiri tertunduk di samping Joey.


“Sungguh reunian ayah dan anak yang mengharukan,” ucap Anya sambil berjalan ke arah Joey dan Pak Dandy.


“Gimana?” tanya Anya sambil menyeringai. “Suka sama hadiah dariku?”


Anya membungkukkan tubuhnya ke arah Joey yang sedang terikat tak berdaya. Tatapannya kepada Joey penuh dengan kebencian.


“Aku nggak nyangka Mbak sejahat ini,” ucap Joey lirih.


“Jahat?” tanya Anya sambil kembali berdiri tegak.


Kemudian wanita itu menjambak rambut Joey dengan kuat sehingga kepala Joey mendongak ke atas dan menatap langsung ke arah Anya. “Yang jahat itu lo!”


“Udah tau Mas Rain punya tunangan, tapi lo masih aja kegatelan!” sambungnya dengan suara yang tinggi. Matanya yang melotot dengan lipstick merah yang terlose dibibir membuat wajahnya terlihat mengerikan.


“Ck!” Joey berdecak sambil tertawa mengejek. “Om Rain nggak akan suka sama wanita yang modelan lo!”

__ADS_1


PLAK!


Lagi-lagi Joey mendapatkan sebuah tamparan. Namun kali ini bukan dari Pak Dandy, sebaliknya dari Anya. Sesaat setelah wanita itu melepaskan jambakannya, ia langsung menampar pipi Joey dengan sangat kuat.


Tak ingin membuang waktu, Anya berusaha mengeluarkan ponselnya dari tas sambil menjauhi Joey, kemudian ia menelefon Rain. Tak membutuhkan waktu lama, panggilan tersebut langsung di angkat oleh Rain.


^^^“Aku punya kejutan untukmu.”^^^


Belum sempat Anya berbicara, ternyata Rain sudah berbicara duluan.


“Apa, Mas?” tanya Anya girang. Suara wanita itu mendadak lemah lembut.


^^^“Mbak, me-menyerah … lah.”^^^


Suara seorang pria paruh baya yang tak asing membuat wajah riang Anya mendadak berubah menjadi pucat. Pasalnya suara pria itu adalah suara Pak Teddy yang sedang mereka cari-cari karena sedang disandera oleh sekelompok orang asing yang tak mereka ketahui asal usulnya.


“P-Pak Teddy?!” ucap Anya dengan tubuh yang bergetar.


^^^“Gimana?”^^^


Tanya Rain membuyarkan kebekuan Anya karena terkejut.


“Se-semua ini … ulah, Mas?” tanya Anya gemetaran.


^^^“Menyerahlah."^^^


^^^"Aku nggak akan pernah menikahimu.”^^^


Anya tak mampu menahan rasa sakit hati saat pria yang ia cintai menolaknya secara terang-terangan. Ia merasa harga dirinya benar-benar tercoreng akibat penolakan pria tersebut.


“Mas,” panggil Anya dengan wajah yang suram. “Aku juga punya surprise untukmu.”


“Aktifkan panggilan video-mu, Mas.”


Anya bergegas mendekati Joey yang sedang tertunduk tak berdaya. Ia menjambak lagi rambut gadis itu sampai kepalanya mendongak ke atas.


“Bicaralah pada Sugar Daddy-mu!” ketus Anya sambil menyeringai dan mengarahkan ponselnya ke arah Joey sehingga terlihat wajah tak berdaya dan lemah gadis itu di dalam panggilan video tersebut.


Tanpa jeda, tangis Joey seketika membuncah dan meledak saat melihat Rain dari panggilan video tersebut. Rasa takut yang tertahankan sejak tadi kini segera ia luapkan meskipun hanya lewat sebuah panggilan.


“Om Rain… hiks.. hikss… a-aku … takut…”

__ADS_1


...****************...


BERSAMBUNG…


__ADS_2