OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Kisah di balik Kupu-Kupu Malam


__ADS_3

..."Itu ... lagu kesukaan ibu. Setiap hari, aku mendengarkan ibu ngamen dengan membawakan lagu itu." - Joey...


...🌸🌸🌸...


"Aku akan memberikan seluruh hidupku untuk, Om. Termasuk tubuh," ucap Joey tiba-tiba.


"Ohookk... ohokkk..." Rain tersedak mendengarkan ucapan Joey saat ia sedang menelan makanan yang ada di mulutnya. Pria dewasa itu bergegas meraih gelas jus apel dan menyeruputnya.


"Seharusnya memang begitu sejak awal," gumam Rain lirih tanpa melihat ke arah Joey. Pria itu kembali menaruhkan gelas minumannya dan ia meraih garpu untuk menyuapi pasta ke mulutnya.


"Tapi ...." Joey tak melanjutkan perkataannya, sebaliknya ia membuat Rain tak jadi menyuapkan pasta yang sudah hampir masuk ke dalam mulutnya.


"Aku punya syarat."


Rain menaikkan alisnya sambil menatap ke arah Joey. Pria itu meletakkan garpu kembali ke atas piring, lalu ia duduk dengan tegap menghadap ke arah Joey. "Katakan."


"Cih! Giliran bahas selang kang an aja, langsung dengerin!" gerutu Joey dalam hati. Gadis itu memonyongkan bibirnya dengan raut wajah yang kesal.


Rain menanti dengan tenang menunggu Joey mengatakan syarat yang akan ia berikan. Pria itu menyilangkan kedua tangannya ke dada, menyandarkan tubuhnya ke sofa dan menopang kaki kanannya ke atas paha kaki kiri.


"Pertama ..." Joey mengacungkan jari telunjuknya ke arah Rain.


"Memangnya ada berapa syarat?"


"Ih! Dengerin dulu, Om!" Joey menjadi gregetan karena pria dewasa itu memotong perkataannya.


"Pertama, hilangin sifat dingin Om dan ayo kita berkomunikasi dengan baik. Memangnya aku Kupu-Kupu Malam yang bisa Om pakai kapan saja tanpa adanya komunikasi yang baik di antara kita?"


"Ck! Kamu sendiri yang membuat dirimu menjadi Kupu-Kupu Malam," jawab Rain dengan raut wajah yang serius. Sepertinya pria itu tidak sedang bercanda.


"Sejak kapan aku jadi Kupu-Kupu Malam?!" tandas Joey dengan nada yang tak suka.

__ADS_1


"Sejak empat belas tahun yang lalu."


"Hah?" Joey mengerutkan keningnya sambil menatap tajam ke arah pria yang ada di depan matanya. "Waktu itu 'kan, aku masih kecil. Empat belas tahun yang lalu loh, Om."


"Terus, ngapain anak kecil kayak kamu ngamennya pake lagu Kupu-Kupu Malam?" tanya Rain acuh dengan wajah yang datar.


Joey terhenyak mendengarkan pertanyaan Rain yang baginya bagaikan menancapkan duri pada daging yang sedang terluka. Raut wajah gadis itu seketika berubah menjadi sendu dan ia tertunduk ke bawah.


"Itu ... lagu kesukaan ibu. Setiap hari, aku mendengarkan ibu ngamen dengan membawakan lagu itu. Hehehe," Joey tertawa pahit dengan mata yang berkaca-kaca.


Mendengarkan jawaban simple gadis muda yang ada di depannya, Rain mendadak merasa bersalah. Bukankah ibunya telah tiada saat ia kecil dulu?


"Ibu ... merupakan PSK yang terpaksa menjalani kehidupan pahitnya karena diperkosa. Baginya, itu juga merupakan salah satu mata pencariannya selain ngamen. Yang memperkosanya adalah ayah kandungku sendiri. Jadi, ibu terpaksa menikahi ayah karena kehadiranku di rahimnya."


Rain terdiam, kerongkongannya tercekat mendengarkan penjelasan Joey yang menceritakannya dengan tatapan nelangsa yang tak bertumpu.


"Mungkin Om heran, kok bisa gadis kecil berusia empat tahun mengetahui kenyataan buruk seperti itu?" ucap Joey lagi.


Joey terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. Ada rasa sesak di dada yang tak dapat ia jelaskan pada siapapun. Ini pertama kalinya gadis itu bercerita panjang lebar tentang kejadian kelamnya di masa kecil. Kejadian kelam yang selama ini ia pendam sendiri dan kejadian kelam yang selama ini menjadi salah satu alasan kebencian pada sosok ayahnya sendiri.


"Terkadang ... menjadi Kupu-Kupu Malam itu tak sepenuhnya keinginan mereka. Ada kisah tragis dibalik itu yang kita nggak pernah tau. Bahkan mungkin, itu merupakan satu-satunya jalan terakhir yang mereka miliki untuk melanjutkan hidup yang keras ini. Hidup mereka ... banyak yang tidak beruntung. Aku hanya beruntung karena bertemu dengan orang sebaik Om."


"Kurangnya satu, mesum," sambung Joey dengan suara perlahan dan berbisik.


"Aku dengar," ujar Rain. Pria itu dengar bahwa Joey mengatakannya 'mesum'.


"Hahaha... benar 'kan?"


"Syarat selanjutnya?" Rain mencoba mengalihkan topik pembicaraan mereka. Dia benar-benar dihantui rasa bersalah karena selama ini telah menganggap bahwa gadis yang ada di depannya merupakan Kupu-Kupu Malam hanya karena lagu ngamen yang gadis itu bawakan.


"Kedua ... biarkan aku ngekos sen-"

__ADS_1


"Nggak!" potong Rain. "Itu nggak akan pernah ku izinkan."


"Tapi 'kan-"


"When i say, no. It means, always no!" bantah Rain dengan suara yang lantang. Pria itu hanya khawatir bahwa gadis yang ada di depannya menjadi tak terurus dan mengalami bahaya karena tinggal di luar dari pengawasannya. Bagi Rain, gadis muda itu tetaplah masih muda dan butuh pengawasan yang baik agar tidak terjadi apa-apa padanya. Meskipun gadis itu akan melebarkan pahanya pada seorang pria, maka pria itu adalah dia. Tak ada yang dapat mengganggu keputusannya yang satu ini.


Joey terlihat semakin sendu. Sepertinya tak ada lagi kesempatan baginya untuk terbebas dari pengawasan pria dewasa di depannya. Gadis itu merasa bahwa hidupnya akan menjadi menegangkan jika dia harus berada di atap yang sama dengan pria dingin itu.


"Syarat selanjutnya?" suara berat Rain memecah keheningan sesaat setelah ia mengatakan tidak pada syarat kedua Joey.


"Sebenarnya satu aja. Karna kunci dari semua syarat yang ku berikan adalah komunikasi," jelas Joey sambil menghela nafasnya.


"Aku hanya ingin kita berkomunikasi dengan baik. Seperti, aku menanyakan sesuatu, Om menjawabnya dengan baik. Bukan hanya diam dan tak memberikan respon apa-apa. Karna, melalui komunikasi kita akan saling mengetahui siapa diri kita masing-masing. Dan mungkin aku akan sedikit lebih nyaman dengan pria yang akan mengambil ...."


"Oke. Aku terima syaratnya." Ucap Rain. "Ayo, sekarang kita mulai komunikasinya. Mumpung masih di hotel, dengan nuansa yang menenangkan ini, sepertinya waktu yang baik untuk mengambil ke-"


"Ih! Om... nggak sekarang juga. Step by step, Om. Dan aku belum pernah melihat itu secara langsung, jadi ... aku masih takut."


Rain berdiri dari duduknya. Pria itu berjalan mendekati Joey.


"Om mau ngapain?"


"Katanya belum pernah melihat secara langsung?" jawab Rain datar. Pria itu mulai membuka kancing celananya.


"O-om, maksud aku bukan gini!" Joey menutup wajahnya menggunakan kedua tangan. Wajah gadis itu mendadak memerah bak udang rebus.


"Yaudah, sentuh aja dulu dari luar. Say hello to my junior," celetuk Rain. Pria itu tak jadi membuka kancing celananya, sebaliknya, ia malah mempertontonkan sebuah tonjolan besar yang sepertinya sedang sesak di balik celana hitam yang ia pakai.


"Ih! Om! Kok mesum banget deh!" pekik Joey yang masih enggan membuka kedua tangannya. Pria di depannya benar-benar mesum, saking mesumnya, dia sampai kehilangan urat malu!


...****************...

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2