OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Pria Dewasa Lebih Menggoda


__ADS_3

..."Ternyata, pria berusia lebih menggoda ya ketimbang pria yang masih muda. Lihatlah, dua orang sahabat yang bersuamikan Om-Om ini!" - Rain...


...🌸🌸🌸...


Keesokan malamnya, Joey dan Rain telah bersiap-siap menyambut kehadiran Zea dan pacar barunya. Makan malam yang mewah pun telah di hidangnya di meja makan di penthouse Hotel Nerium Oleander.


"Astaga! Om!" pekik Joey sambil menoleh ke sebelah kanan di mana Rain juga saat itu sedang merapikan rambutnya bersebelahan dengan istrinya.


Kedua orang ini duduk berdampingan dan merias diri bersamaan di satu meja rias. Rain duduk di atas kursi roda, sedangkan Joey duduk di kursi meja rias.


Rain tersentak kaget dan menoleh ke arah istrinya. Ia semakin dibuat kaget saat melihat ada lipstick yang tergores lurus ke dagu gadis itu. "Kenapa, Sayang?"


"Kemaren 'kan aku nyuruh Zea ke apartemen? Sedangkan kita sekarang di penthouse? Gimana kalo dia sekarang udah sampe ke apartemen? Terus kalo mau muter ke sini kan makan waktu kurang lebih setengah jam biarpun lewat tol? Kalo macet-"


"Sayang? Tarik nafas ... hembuskan," potong Rain saat melihat istrinya yang berbicara tanpa henti. Ia juga sambil memperagakan cara mengatur nafas agar menjdu stabil.


Joey pun menarik nafasnya sampai kedua bahunya terangkat ke atas, kemudian perlahan bahunya beringsut ke bawah seiring dengan ia menghembuskan nafasnya.


"Okay. Sekarang, kamu telfon Zea. Tanyain dia udah di mana?"


Joey mendengarkan perkataan suaminya. Ia meraih ponsel genggamnya yang berada di meja rias dan bergegas menelefon Zea.


Di saat yang sama, Rain meraih tisu dan membersihkan lipstick yang berlepotan di pipi istrinya.


"Halo!" Joey langsung berbicara sesaat panggilannya diangkat oleh Zea.


^^^"Lagi di jalan."^^^


^^^"Tapi udah deket kok sama hotel."^^^


"Huh? Hotel?"


^^^"Lu lagi di penthouse, 'kan? Bukan di apartemen?"^^^


"Kok lu tau?"


Sesaat setelah Joey bertanya, Zea terdiam. Tak ada suara sahutan di sana.


"Halo?"


^^^"Pokoknya ntar aku ceritain."^^^


"Kabarin kalo udah di bawah."


^^^"Yaudah. Dahhh!"^^^


"Ntar gue suruh seseorang buat aksesin-"

__ADS_1


Tut ... tut ... tut ....


Joey melirik ke arah suaminya yang telah selesai membersihkan lipstick di wajahnya.


"Om ... kok Zea bisa tau kita di penthouse?"


"Kan dia pernah ke sini, Sayang."


"T-tapi ...."


"Nggak usah cemas. Dia pasti ngabarin kamu kalo udah di bawah.


Joey menghela nafasnya dan kembali berdandan. Ia juga tak lupa melihat ke arah suaminya, memastikan pakaian suaminya telah rapi tanpa ada sedikitpun noda atau debu yang menempel. Yah ... walaupun saat itu Rain hanya mengenakan kaos kerah hitam dengan celana cream selutut. Tapi gadis itu menjadi ribet karena tak ingin ada pria lain yang menandingi ketampanan suaminya.


"Udah," gumam Joey sambil tersenyum. Ia menepuk pelan kedua bahu suaminya setelah merapikan pakaian suaminya. "Udah ganteng."


"Hahaha... kamu ini ya," gumam Rain sambil mengecup lembut bibir istrinya.


TING TONG!


"Siapa ya malam-malam gini?" tanya Rain ke arah Joey. Pasalnya, tak ada yang bisa naik ke penthouse tanpa mengabari mereka dahulu selain Harry. Lagi pula, yang memegang kartu akses menuju penthouse hanya orang tertentu.


"Ayo kita lihat," ucap Joey sambil mendorong kursi roda suaminya.


Mereka pun menuju pintu dan Joey membuka pintu tersebut.


"Om Harry?!" seru Joey terkejut. "Eum ... apa ada kerjaan?"


"Ada apa, Harry?" tanya Rain dengan wajah yang bingung. Pasalnya, sekretarisnya itu tak pernah muncul secara mendadak di depannya kecuali di situasi darurat.


"Hai," sapa Zea yang tiba-tiba menampakkan kepalanya di balik punggung kekar Harry. Gadis kecil itu ternyata sejak tadi bersembunyi di belakang tubuh kekar kekasihnya.


Joey dan Rain saling menoleh karena terkejut.


"Kalian ketemu di bawah?" tanya Joey bingung.


Zea tak berucap sepatah katapun. Ia menampakkan seluruh tubuhnya dan berdiri di samping Harry. Lalu, ia menggenggam tangan Harry di depan Rain dan Joey.


"Dia orangnya," tutur Zea dengan perasaan yang bangga. Gadis itu tersenyum sambil menatap ke arah Harry. Pupil matanya membesar dan senyumnya begitu lebar.


"Hah? Gimana? Gimana?" Joey masih tak mengerti dengan apa yang terjadi di depannya saat ini. "Terus pacar lu mana? Katanya mau ngenalin?"


"Bukan pacar ... tapi calon suami," tegas Zea dengan gamblang. Ia melihat ke arah Joey dan Rain silih berganti sambil tersenyum lebar. Sejujurnya ia merasa gugup, tapi entah kenapa perasaan bahagia itu lebih besar dan mendominasi.


"Hmm... minggu depan kami akan menikah," tutur Harry yang sejak tadi diam. "Maaf jika ini dadakan dan saya benar-benar minta maaf karena ...."


"Hahaha!!!" Rain tertawa terbahak-bahak sampai-sampai Harry tak dapat melanjutkan perkataannya. Semua orang yang ada di depan pintu melihat ke arah Rain secara serentak.

__ADS_1


"Kita masuk dulu sambil dinner. Ntar makanannya keburu dingin," ucap Rain sambil terkekeh kecil. Ia juga menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tak henti-hentinya menghela nafas.


"Om...?" Joey menatap tajam ke arah suaminya sambil melotot. Pasalnya ia masih belum puas dengan apa yang dikatakan oleh Zea dan Harry. Semua yang kedua orang itu katakan masih menyisakan teka-teki yang belum terpecahkan.


"Kita makan dulu. Setelah itu kamu bebas mengintrogasi mereka," bujuk Rain kepada istrinya.


Joey pun menghela napasnya dengan kesal. Ia mendorong suaminya menuju meja makan, diikuti kedua orang tamunya malam ini. Setelah itu, Joey memapah suaminya untuk duduk di kursi, namun Harry membantunya.


Sekarang semuanya duduk berhadapanan di meja makan. Rain bersebelahan dengan Joey, di depannya ada Harry dan Zea yang juga duduk bersebelahan.


"Makanlah," ucap Rain. Ia masih saja menggelengkan kepalanya menahan tawa.


"Aku senang kamu orang yang meniru semua sifatku," gumam Rain pelan. Ia menujukan kalimat tersebut kepada Harry. Entah kenapa, ia merasa bahagia dengan sekretarisnya itu. Kelakuan pria itu benar-benar mirip dengannya.


Joey menoleh ke kiri, ke arah suaminya. Ia terlihat masih kesal. Di saat Zea ingin menyuapkan spageti ke mulutnya, Joey langsung memberikan pertanyaan sampai-sampai gadis itu tak jadi memasukkan makanan ke mulut.


"Sejak kapan? Kok bisa? Jangan-jangan lu sengaja 'kan ngerjain gue? Terus-"


"Sayang ..." panggil Rain menenangkan istrinya. "Satu-satu nanyanya."


"Yaudah. Jawab salah satunya dulu," ketus Joey kesal. Entah kenapa, ia benar-benar kesal karena sahabatnya itu tak memberitahunya apa-apa tentang dia dan Harry. Padahal, Harry itu merupakan sekretaris pribadi suaminya.


"Aku menidurinya saat malam pernikahan Pak Rain dan kamu," celetuk Harry. Pria itu langsung mengatakan secara langsung tanpa basa-basi bahkan tanpa disaring.


"Om!" seru Zea sambil memegang lengan Harry dan menatap pria itu dengan wajah yang malu. Muka Zea mendadak memerah seperti udang rebus karena ucapan Harry yang terkesan blak-blakan.


"Hah?! Kalian udah tidur bareng?!" seru Joey lagi. Matanya melotot karena terkejut.


"Om Harry. Awas aja kalo Om ninggalin Zea setelah insiden malam itu ya!" ancam Joey sambil menatap Harry dengan tajam.


Rain semakin tak mampu menahan ketawanya. Ia melihat istrinya begitu posesif pada sahabat wanitanya.


"Hmm... aku akan bertanggung jawab dan minggu depan kami akan menikah," jelas Harry sambil tersenyum bahagia.


Zea mengeluarkan sebuah kartu undangan pernikahan dari tas yang ia tenteng tadi. Lalu ia menyodorkannya kepada Joey.


Joey bergegas menyambar kartu undangan tersebut dan melihat halaman depan kartu undangan yang disodorkan oleh Zea. Gadis itu dibuat terbelalak dengan mata membulat dan bibir yang setengah terbuka.


"K-kalian ... kalian serius?! Ini bukan prank, 'kan?!" tanya Joey memastikan.


"Nih, cincin lamaran dari Om Harry," Zea memerkan jari manis tangan kirinya ke arah Joey. "Doain semoga lancar sampai hari H ya!"


"Ternyata, pria berusia lebih menggoda ya ketimbang pria yang masih muda. Lihatlah, dua orang sahabat yang bersuamikan Om-Om ini!" celetuk Rain yang sedari tadi berusaha menahan tawanya.


Malam itu, keempat orang tersebut menikmati makan malam dengan sangat bahagia diselingi tawa. Harry dan Zea bercerita banyak tentang kisah singkat yang mereka jalani. Ia juga menceritakan bahwa kedua keluarga mereka telah bertemu dan pertemuan keluarga itu berlangsung dengan sangat lancar serta menghasilkan hasil yang positif. Kedua orangtua Zea sangat menyukai Harry, bahkan orangtua Zea meminta Harry untuk meneruskan bisnis mereka.


Harry begitu beruntung. Ia mendapatkan Zea yang ia cintai, lalu mertua yang baik hati sekaligus kepercayaan untuk meneruskan bisnis yang selama ini tak ia sangka-sangka.

__ADS_1


...****************...


BERSAMBUNG...


__ADS_2