OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Janji Semu yang Membelenggu


__ADS_3

..."Seketika hatiku lumpuh dan tak dapat melihat gadis lain selain dirimu dan aku berjanji tak akan pernah berpaling darimu." - Rain...


...🌸🌸🌸...


..."Andai saja ia bisa kembali ke malam itu, Joey pasti akan menertawakan janji-janji dan ungkapan cinta yang pernah Rain katakan padanya." - Sheninna Shen...


...🌸🌸🌸...


Rain melangkahkan kakinya menuju kamar, lalu pria itu membuka pintu kamarnya dengan raut wajah yang kusut. Ada banyak kekhawatiran yang sedang berkelebat dipikirannya, kekhawatiran akan keselamatan Oleander tercinta, namun segera ditepis olehnya.


"Ck! Oleander-ku tak 'kan sebodoh itu," gumam Rain sambil membuka kancing bajunya satu per satu. Dipikiran pria itu, hal yang ia khawatirkan adalah, bagaimana jika Joey kembali dan terbujuk oleh rayuan Ace? Karena bagaimanapun, pria itu adalah cinta pertamanya, pria pertama yang membuat Joey tau, apa itu cinta?


Pria itu melepaskan semua pakaian yang ada di tubuhnya, lalu ia memasuki kamar mandi dan berdiri di bawah shower air mengalir yang sudah ia hidupkan. Pria itu membiarkan tubuh binaragawannya diguyur air hangat sambil memejamkan mata. Sesekali ia menghela nafasnya dengan berat.


Selang beberapa menit kemudian, Rain keluar dari kamar mandi menggunakan handuk di pinggangnya. Pria itu menuju lemari dan mengambil piyama hitam, lalu ia bergegas mengenakan piyama tersebut.


Rain melirik jam yang ada di dinding kamarnya. "Ck! Pukul satu malam. Apa dia udah tidur?"


"Hah! Aku sudah rindu." Gumam Rain lirih. Padahal, mereka baru saja tak bertemu beberapa jam. Pria itu tak tahan jika tak melihat bunga kesayangannya meskipun sedetik. Rasanya ingin sekali ia membuat gadis itu menjadi kecil, lalu ia kantongi dan bisa ia bawa kemanapun ia pergi.


Rain pun berjalan menuju kamar gadis kesayangannya. Pria itu perlahan-lahan membuka pintu kamar Joey karena tak ingin membuat gadis yang ia cintai terjaga karena kehadirannya. Ia berjalan mendekati ranjang yang ada di dalam kamar tersebut. Sosok gadis yang ada di atas ranjang tersebut, terlihat sedang nyenyak dalam mimpi indahnya.


"Oleander-ku mimpi apa sih?" tanya Rain dengan nada yang perlahan sambil mengelus lembut pipi gadis itu. Tanpa sengaja, sebuah senyum yang jarang terlihat, kini terukir di wajah tampan pria mesum itu.


"Wajahmu terlihat damai saat terlelap."

__ADS_1


Rain menatap lekat ke arah Joey, gadis yang terpaut usia empat belas tahun lebih muda darinya. Dia menikmati kecantikan alami gadis itu dengan perasaan yang sangat bahagia. Pria yang terkenal dingin dan arrogant itu, ternyata luluh pada seorang gadis yang dulunya merupakan pengamen jalanan.


"Aku tak menyangka, waktu berlalu begitu cepat, sampai-sampai, anak kecil yang dulunya kutemukan di halte, kini menjadi bunga yang indah seperti ini."


"Ck! Racun dari bunga ini benar-benar tak terelakkan. Seketika hatiku lumpuh dan tak dapat melihat gadis lain selain dirimu dan aku berjanji tak akan pernah berpaling darimu," gumam Rain lirih.


"Aku mencintaimu, Oleander."


Rain mendaratkan bibir hangatnya ke dahi Joey, lalu, dikecupnya dengan lembut dahi gadis cantik itu dengan sangat berhati-hati.


"Aku akan tidur di sini malam ini, tapi aku janji, aku tak akan berbuat mesum," kekeh Rain perlahan dengan nada yang berbisik.


Pria itu merebahkan tubuhnya di sisi Joey, lalu ia menopang kepala Joey ke atas lengannya, dan ia membawa kepala gadis itu ke dadanya. Rain menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua, lalu gadis itu ia tidurkan dengan posisi dalam pelukan hangatnya.


"Mimpi indah, Oleander-ku. Aku sangat mencintaimu."


...****************...


Di saat yang sama, saat di mana Rain masuk ke kamar Joey, ternyata gadis itu terjaga dan berusaha tetap memejamkan matanya. Gadis itu penasaran apa yang akan dilakukan oleh pria mesum itu di malam hari jika ia tak memberikan respon apapun.


Saat Rain menanyakan 'Oleander-ku mimpi apa sih?', Joey menggerutu di dalam hatinya, mau mimpi apapun dia, memangnya, pria itu peduli apa? Bukankah di otaknya hanya ada selang ka ngan?


Namun argumen negatif yang sempat berseleweran di kepalanya terpatahkan oleh sentuhan lembut Rain ke pipinya. Gadis itu dibuat gugup saat Rain memuji kecantikannya, terlebih lagi saat Rain mengungkapkan rasa cinta yang disertai sebuah kecupan lembut yang mendarat di dahinya. Jantungnya berdetak dengan kencang dan seketika ingin meledak saat mendengarkan ucapan cinta yang ia dengarkan untuk yang kedua kalinya. Ia sudah dibuat berdebar dengan ungkapan cinta yang pertama kalinya saat Rain menurunkannya di lobby, lalu kini, ia kembali dibuat berdebar dengan ungkapan cinta yang kedua.


Belum semenit ia dibuat terbang karena ungkapan cinta Rain, tiba-tiba saja ia dibuat membeku saat pria itu mengatakan bahwa ia akan tidur di sisinya tanpa melakukan hal-hal mesum.

__ADS_1


"Hah... sudah ku duga. Pria tua ini tetaplah pria mesum yang tak pernah berubah," pikir Joey saat itu.


Ia kembali menantikan perlakuan selanjutnya yang akan dilakukan oleh Rain. Ternyata, pria itu menopang kepalanya ke atas lengannya, lalu wajahnya di bawa ke dada pria itu.


"Mimpi indah, Oleander-ku. Aku sangat mencintaimu." Ucap Rain perlahan.


Deg... deg... deg...


Seketika, jantung Joey kembali berdetak dengan kencang. Ini penyataan cinta yang ketiga kalinya! Apakah pria itu buaya? Bisa-bisanya dia mengatakan hal yang sensitif seperti itu dengan santai! Bahkan, bisa-bisanya pria itu mengatakannya kepada gadis yang empat belas tahun lebih muda darinya!


"Sial, jantungku berdetak lagi! Jangan sampai dia mendengarkannya," umpat Joey dalam hati.


Detik demi detik ia lewati sambil menunggu pergerakan selanjutnya dari Rain, ternyata tak ada. Pria itu benar-benar memegang perkataannya bahwa dia hanya ingin tidur di sisinya tanpa melakukan hal-hal yang mesum.


Joey tersenyum simpul. Entah kenapa, ia mulai mencoba menerima kehadiran pria mesum itu di dalam hatinya. Sepertinya, tak ada salahnya jika ia mencoba merasakan sedikit saja bagaimana rasanya dicintai begitu dalam oleh seseorang yang tulus kepadanya sejak kecil.


Saat itu, Joey sadar bahwa ia tak seharusnya percaya sepenuhnya pada perkataan laki-laki, karena entah kenapa, ada perasaan khawatir yang menggelitik. Andai saja ia bisa kembali ke malam itu, Joey pasti akan menertawakan janji-janji dan ungkapan cinta yang pernah Rain katakan padanya.


Saat senang, kita tak pernah sadar, 'kan? Apakah kesenangan itu nyata atau hanyalah sebuah mimpi yang sebenarnya bunga dari tidur kita?


Bahkan, bunga tak pernah tau bahwa ia dipetik oleh orang yang bertanggungjawab atau tidak? Memangnya, dia bisa menentukan siapa yang seharusnya memetik dan siapa yang seharusnya tak memetik dirinya yang sedang mekar dengan sempurna di sebuah taman?


...****************...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2