
...“Kakak iparku lebih cantik dari yang ku bayangkan.” – Zayn Ravindra...
...🌸🌸🌸...
Cekrek!
Cekrek!
Cekrek!
Rain tersenyum bahagia melihat Joey yang sejak tadi tak henti-hentinya memotret. Baik itu selfie sendiri, selfie berdua dan juga memtroet apa yang menurutnya menarik di sepanjang jalan. Perjalanan kali ini juga merupakan kali pertama baginya menaiki pesawat dan keluar kota.
“Senang?” tanya Rain pada Joey. Kini mereka sedang berada di dalam sebuah mobil Vellfire menuju ke penginapan yang sudah dipesankan oleh Harry.
Joey yang sedari tadi menatap ke luar jendela menikmati indahnya Kota Bali di mana berjejeran pura dan sesajen hampir di setiap pinggir jalan, kini ia menoleh ke arah Rain.
“Hmm… aku senang sekali,” sahut Joey sembari mengangguk dan mengukir senyum yang begitu lebar. Kemudian gadis itu kembali menoleh ke arah jendela, menikmati kota yang terkenal dengan tempat pasangan berbulan madu.
Rain meraih tangan kiri Joey, pasalnya gadis itu kini duduk di samping kanannya. Lalu digenggamnya dengan erat tangan gadis tersebut.
“Aku berjanji akan membawamu ke tempat-tempat indah,” gumam Rain lirih di dalam hati.
Tak lama kemudian, mobil mereka memasuki sebuah pekarangan yang sangat indah. Dari luar, bangunan tersebut terlihat begitu aestetik karena arsitektur bangunan yang sangat jarang ditemui. Terlebih lagi ada beberapa ornamen-ornamen patung serta sesajen yang tertata rapi di beberapa tempat tertentu.
Rain membuka pintu mobilnya, karena sepertinya daritadi supir telah menunggu di luar dengan kursi rodanya. Supir tersebut tak ingin membuka pintu mobil lebih dahulu karena takut lancang dan dinilai tak sopan. Setelah itu, supir tadi membantu memapah Rain duduk ke kursi rodanya.
“Biar saya aja yang dorong suami saya, Bli,” ucap Joey pada pria muda yang tadi membawa mobil yang mereka tumpangi, kemudian ia menangkupkan kedua tangannya ke dada sambil mengatakan terima kasih dengan sopan menggunakan bahasa Bali. “Matur suksma.”
__ADS_1
Rain langsung menoleh ke atas, melihat ke arah istrinya. Pria itu mengerutkan dahi karena terheran-heran. Bagaimana gadis itu tahu bahwa ‘Bli’ merupakan panggilan untuk laki-laki di Bali? Lalu, bagaimana ia bisa tahu ucapan terima kasih dalam bahasa Bali?
“Kenapa? Aku pinter ‘kan?” Joey tersenyum sumringah. Ia merasa bangga pada dirinya sendiri karena bisa berbaur dengan cepat di tempat yang sering ingin ia kunjungi sejak dulu.
“Tau dari mana?” tanya Rain dengan wajah penasaran.
“Eyyy… Om, ini tuh zaman modern. Apa-apa bisa kita search di google!” ejek Joey sembari mencebik.
Keduanya pun tertawa akibat obrolan singkat tersebut. Kemudian, Joey mendorong kursi roda suaminya dan menuju pintu masuk lobby. Di sana, ada beberapa orang yang terlihat seperti karyawan penginapan tersebut. Pasalnya, semua dari mereka menggunakan emblem di dada serta memegang handy talky sebagai alat komunikasi.
“Om Swastiastu,” sapa beberapa jajaran karyawan penginapan tersebut sembari menagkupkan kedua tangan mereka ke dada dan tersenyum dengan tulus.
Joey menganggukkan kepala sembari menangkupkan kedua tangannya ke dada untuk membalas ucapan selamat datang dari para karyawan, begitu juga Rain, pria itu mengikuti apa yang dikerjakan istrinya.
“Pak Rain, saya Adhi selaku direktur operasional di hotel ini,” ucap seorang pria paruh baya yang datang mendekat ke arah Rain. “Terima kasih karena sudi menginap di hotel kami. Sebuah kehormatan bagi kami.”
“Hahaha… terima kasih juga sudah memberikan sambutan yang hangat seperti ini,” ujar Rain sambil mengulum senyum.
“Jika tidak keberatan, staf kami ingin memakaikan gelang tridatu untuk Bapak dan Nona muda ini,” tutur Adhi. Kemudian ada seorang gadis bali yang mengenakan baju kebaya khas adat Bali mendekat ke arah mereka sembari di tangannya memegang dua utas tali yang nantinya akan di ikat di tangan Joey dan Rain.
“Gelang?” Rain mengerutkan keningnya.
“Gelang tridatu itu dapat memberikan kita anugerah dan menjauhkan diri dari marabahaya,” celetuk Joey yang sejak tadi matanya berbinar-binar melihat ke arah benda yang sedang dipegang oleh gadis berkebaya khas Bali. Sepertinya ia sangat-sangat antusias dengan perjalanan pertamanya kali ini.
“Nah… benar,” sahut Adhi sambil tersenyum girang.
“Okay,” ucap Rain sambil memiringkan kepalanya.
__ADS_1
“Maaf, apa boleh sambil di video-kan proses pemakaian gelangnya?” pinta Joey kepada salah seorang staf yang sejak tadi berdiri menyambut kedatangan mereka.
“Boleh. Boleh.” Sahut Adhi cepat.
Kemudian salah seorang gadis yang dituju oleh Joey tadi mendekat dan mengabadikan momen di mana tangan kanan dia dan suaminya diikatkan gelang tridatu. Setelah selesai, Joey melihat tangan kanannya yang diikatkan gelang tridatu dengan raut wajah yang puas dan girang. Entah kenapa, hanya dengan sebuah gelang senyumnya benar-benar melebar.
“Mas Rain?” terdengar suara bariton pria yang asing di telinga Joey sedang memanggil nama suaminya. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan mencari sumber suara tersebut.
“Ah… maaf saya lupa memberikan info,” tutur Adhi sambil sedikit menepi dan memberikan jalan pada seorang pria yang bertubuh tegap dengan berbalut baju pantai warna putih.
“Pak Zayn Ravindra juga baru tiba hari ini dan akan menginap selama beberapa hari,” sambung Adhi sambil tersenyum.
Raut wajah Rain yang semula senang dan bahagia karena berpikir bahwa bulan madu yang akan ia lalui dengan Joey berjalan dengan mulus, mendadak menjadi suram saat mengetahui bahwa Zayn yang merupakan adik tirinya juga ada di penginapan itu. Bukankah seharusnya pria itu kini sedang di Jakarta? Kedatangannya dari Amerika ‘kan hari ini?
“Hallo, Mas Rain! Dan …” Zayn menoleh sekilas ke arah Rain, kemudian ia menoleh ke arah Joey yang membuat matanya tak berhenti berkedip, “hallo, Kakak Ipar.”
Pria berambut coklat dengan wajah yang berbentuk hati itu melebarkan senyumnya ke arah Joey sambil menyodorkan tangan. Tanpa sedikitpun perasaan buruk pada adik tiri Rain itu, Joey meraih dan menjabat tangan Zayn. Pikir Joey saat itu, ia sebaiknya menjalin hubungan yang baik dengan keluarga Rain, meskipun kedua orangtua suaminya belum memberikan restu.
“Kakak iparku lebih cantik dari yang ku bayangkan,” gumam Zayn dengan tatapan yang sekalipun tak ia lepaskan dari wajah mempesona Joey.
“Pak Adhi, kami ingin segera beristirahat,” Rain yang sedari tadi merasa tak nyaman dengan kehadiran Zayn, ia memutuskan untuk tidak berlama-lama di lobby tersebut.
“Benar, Pak. Mereka masih jetlag,” ucap Zayn mengiyakan ucapan Rain sembari menatap ke arah Adhi. “Tolong sediakan makan malam saya dan kedua keluarga saya malam ini ya.”
Joey yang saat itu tak tahu apa-apa, ia terlihat girang karena adik iparnya memberikan sambutan yang hangat serta memberikan energi positif karena sikapnya yang ramah. Entah kenapa, dipikiran Joey saat ini, Zayn merupakan keluarga yang akan selalu ramah dan hangat kepadanya. Gadis itu benar-benar polos! Belum tentu semua yang baik dan mulus di mata, akan sama dengan semua yang tak terlihat di depan mata.
...****************...
__ADS_1
BERSAMBUNG…