OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Mata yang Tak Pernah Berbohong


__ADS_3

..."Mata yang berbinar-binar, mendadak berapi-api saat ada pria lain yang mendekatinya dengan tujuan ingin memilikinya, i know that eyes!" - Kale...


...🌸🌸🌸...


Di sudut ruangan di apartemen yang sudah Joey tempati selama kurang lebih empat belas tahun ini, ia tiba-tiba saja terdiam setelah menanyakan hal yang menurutnya pantas ditanyakan kepada pria yang tiba-tiba mendekatinya, memberikan tawaran dan berusaha berteman dengannya. Padahal, mereka baru kenal, bahkan belum sampai dua puluh empat jam.


Pria bermata hazel dengan kulit putih dan rambut keemasan yang duduk menghadap gadis muda itu, tiba-tiba saja tertawa.


"You are very smart," ucap Kale. "Nggak kayak wanita-wanita di luar sana."


Joey mengernyitkan dahinya. Gadis itu terheran-heran sekaligus dibuat dibingung dengan apa yang diucapkan oleh pria bule itu.


"Nggak kayak wanita-wanita di luar sana?" ulang Joey dengan sedikit penekanan.


"Yes," jawab Kale.


"Ada banyak wanita yang sering ku berikan tawaran menarik, tapi mereka nggak pernah bertanya apakah aku juga akan mendapatkan keuntungan dari mereka?"


"Hah? Nggak mungkin. Itu 'kan pertanyaan yang wajar ditanyakan kalo seseorang ngasih kebaikan secara tiba-tiba," ucap Joey datar.


Kale hanya tertawa dan tersenyum mendengarkan ucapan Joey. Namun gadis itu semakin tak mengerti, maksud dari perkataan pria itu apa.


"Maks-"


Tit tit tit.


Belum sempat Joey menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba terdengar bunyi smart lock yang sedang ditekan dari luar.


"Joey!" panggil Rain yang tiba-tiba muncul saat pintu dibuka.


Secara spontan, Kale yang duduk membelakangi pintu langsung menoleh ke belakang dan Joey yang duduk menghadap pintu, seketika mengarahkan pandangannya ke pria yang ada di pintu masuk.

__ADS_1


Raut wajah Rain yang cemas tiba-tiba menjadi suram saat melihat Kale dan Joey yang sedang duduk di atas sofa saling berhadapan. Dan yang paling membuat pria dewasa itu kesal, ada apa dengan wajah cerah Kale? Kenapa pria itu tersenyum-senyum begitu di depan Oleander-nya?


Rain langsung masuk ke apartemen dengan wajahnya yang dingin dan menuju ke arah sofa yang sejajar dengan pintu masuk.


"Kenapa masih di sini?" tanya Rain dingin. Sorot mata pria itu menatap lurus ke arah gadis yang mengenakan dress tanpa lengan dengan dada indah yang terekspos. Tatapannya penuh dengan kecemburuan pada pria bule yang sejak tadi mengatakan bahwa pria tersebut menginginkan Oleander miliknya.


"Masuk ke kamar!" perintah Rain dengan suara yang penuh dengan penekanan.


Mendengar ucapan Rain, Kale langsung bangkit dari duduknya dan berniat ingin menggendong Joey, namun mendadak bahunya di tahan dengan keras oleh Rain sehingga ia tak bisa berdiri dan terduduk kembali di atas sofa.


"Mau digendong Kale?" tanya Rain sinis. Pria itu semakin membuat gadisnya tertunduk ketakutan. Sesaatpun gadis muda itu tak berani beradu mata dengan pria itu. Ia tau, bahwa pria itu sedang tersulut api cemburu.


"Bro, she can't walk!" ucap Kale sambil menatap ke arah Rain.


Rain menghela nafas dengan kasar. Lalu ia mencondongkan tubuhnya untuk menggendong Joey, setelah itu ia membawa Joey ke dalam kamar.


"Sepertinya, kamu menikmati waktumu dengan pria yang sudah ku perintahkan untuk di jauhi," tukas Rain tanpa melihat ke arah Joey yang sedang memegang lehernya saat digendong.


Rain merebahkan gadisnya ke atas ranjang dan bergegas pergi meninggalkan Joey di kamar dengan menutup pintu kamar gadis itu.


"Ck," Kale tertawa sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa.


"Kayaknya gue udah nggak usah basa basi," ucap Rain dingin.


Pria tersebut melonggarkan dasinya lalu menyandarkan tubuh ke sofa dengan kedua tangan yang ia letakkan di atas bahu sofa kiri kanan.


"Lo nyelidikin gue?" tukas Rain dengan tatapan tajam ke arah Kale.


Pria bule itu terkekeh mendengar ucapan Rain yang mengatakan bahwa ia menyelidiki pria itu dan gadis idamanannya.


"I just saw her today, memangnya sempat menyelidiki orang hanya dalam hitungan menit?" Kale balik bertanya kepada Rain.

__ADS_1


Mendengar perkataan tersebut, Rain membuang mukanya menatap ke arah balkon. Pintu tersebut terbuka dan angin masuk sehingga membuat tirai yang ada menari-nari dengan indah.


"Siapapun di ruangan itu pasti tau kalo lo mencintainya," kekeh Kale sambil menyeringai. "Sepertinya, tunangan lo juga tau."


"Mata yang berbinar-binar, mendadak berapi-api saat ada pria lain yang mendekatinya dengan tujuan ingin memilikinya, i know that eyes!" sambungnya sambil menunjuk ke arah wajah Rain.


"Hahaha..." Rain mendadak tertawa terbahak-bahak. Pria itu memijat-mijat dahinya saat mendengarkan ucapan bule yang ada di depannya.


"Mau lo apa sekarang?" tanya Rain tanpa basa basi.


"Dia." Jawab Kale yang juga tidak basa basi. Pria itu mengatakan dengan lantang dan jelas bahwa ia menginginkan bunga kesayangan pria konglomerat yang sebentar lagi akan menduduki jabatan CEO Ravindra Group.


Raut wajah Rain mendadak suram, kedua alisnya saling bertautan dengan tatapan yang sangat mematikan. Ucapan yang baru saja keluar dari mulut Kale memang tak ada sedikitpun candaan atau lelucon. Terlebih lagi, pria itu terkenal dengan sifat anti wanitanya. Tak sedikit wanita yang menjatuhkan harga dirinya untuk mendapatkan hati pria tampan berketurunan bule ini, tapi sekalipun dia tak pernah membuka hatinya pada wanita-wanita itu. Lalu, kenapa sekarang dia dengan gampangnya menaruh rasa suka pada bunga yang sudah menjadi milik orang lain.


"Kenapa?" tanya Rain sengit. "Lo 'kan udah tau, gadis itu milik gue!"


"Ck! Emangnya gue bisa ngendaliin perasaan?" tanya Kale sambil tersenyum. "She is special. Mungkin itu alasan yang tepat."


"Hah," Rain mendengus nafasnya dengan keras.


"Jauhi dia, selagi gue ngomong baik-baik," perintah Rain sambil bangkit dari duduknya. "Sekarang lo pergi dari sini dan jangan pernah muncul di depannya lagi!"


Kale juga bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Rain. Pria tersebut berhenti saat mereka berdiri sejajar dan saling membelakangi.


"Gimana ya, walaupun gue nggak muncul di depan dia, tapi gadis itu sendiri yang akan nyariin gue," bisik Kale sambil menyeringai. "Dan lo harusnya sadar, bentar lagi status lo bakalan berubah jadi suami orang. Lu nggak mau 'kan, gadis yang lo cintai dikecam orang karna jadi pelakor dan sugar baby Om-Om?"


Setelah mengucapakan perkataan menohok, Kale berjalan menuju pintu dan keluar dari apartemen itu.


Kini, hanya tinggal Rain seorang di ruang tamu. Ia berdiri menghadap balkon sambil mengepalkan tangannya. Bibirnya bergetar menahan amarah. Dia juga tak henti-hentinya mengutuki diri karena merasa tak berguna dan membuat gadis kesayangannya terluka karena perjodohan yang tak diinginkan ini.


Pria mapan itu bisa saja membuat Joey menjadi seorang wanita karier yang kaya raya dan profesional hanya dengan memberikan gadis itu beberapa perusahaan yang ia miliki, tapi tak segampang itu bagi keluarganya. Karena seorang gadis yang ingin masuk menjadi bagian dari keluarga Ravindra, akan disaring dan diselidiki sampai ke nenek buyutnya, dari manakah keluarga pendatang itu berasal? Jika ada sedikit saja keburukan yang tercatat dalam keluarga tersebut, maka pendatang tersebut akan didiskualifikasi menjadi keluarga Ravindra.

__ADS_1


...****************...


BERSAMBUNG...


__ADS_2