OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Om Harry...


__ADS_3

...“Bibir Om Harry enak. Aku mau mencobanya sekali lagi.” - Zea...


...🌸🌸🌸...


"Kirimkan e-tiket ku dan Joey ke Bali," ucap Rain sambil mendekat ke arah Harry yang sedang berada di ruang tamu.


"Baik, Pak."


"Gimana tadi malam?" tanya Rain sambil mengambil secangkir teh hangat yang diseduh oleh Joey. Istrinya juga telah menyeduh teh hangat untuk Harry dan meletakkannya ke atas meja kaca.


Mendengar ucapan dari atasannya tersebut, Harry mendadak tersentak dan duduk dengan tegap. Apa Rain sudah mengetahui peristiwa yang ia dan Zea telah lalui?


"Aa ...." lidah Harry mendadak kelu. Ia mengepalkan kedua tangannya dengan keras memikirkan bagaimana harus menjelaskan kejadian itu.


"Aku ingin mendengarkan saranmu sebagai tamu yang menginap di kamar hotel ini," ucap Rain sembari menyeruput teh hangat di cangkir yang ia pegang. Kemudian pria itu meletakkan kembali teh hangat tersebut ke atas meja.


Harry bernapas lega. Ternyata, yang ingin ditanyakan atasannya tentang itu. Haaa... jantungnya hampir saja berhenti berdetak saat itu juga.


"Nyaman. Sangat nyaman, Pak. Hehehe," jawab Harry sekenanya. Ia tak tahu harus mengatakan apa lagi.


"Ya sudah, kalau ada yang menurutmu tak sesuai atau tak nyaman, langsung saja katakan pada manager operasionalnya," tutur Rain sambil mengulum senyum. "Aku ingin hotel ini bukan hanya terkenal karena besarnya, tapi juga karena servis yang baik dan kebersihannya. Serta hal-hal kecil lain juga harus diperhatikan."


"Baik, Pak."


"Ambillah cuti dan istirahat selama aku honeymoon ke Bali," ucap Rain lagi.


Setelah bercakap-cakap sekitar kurang lebih lima belas menit, Harry pamit untuk meninggalkan penthouse tersebut. Kemudian ia bergegas menuruni lift dan berlari ke kamar di mana Zea sedang menunggu.


Dengan napas yang terengah-engah, Harry menempelkan akses ke gagang pintu dan membuka pintu kamar tersebut, kemudian ia masuk. Betapa terkejutnya dia saat ia tak melihat sosok gadis kecil itu.


"Ke mana dia?" gumam Harry sambil berjalan menuju kamar mandi.


Harry melihat ke dalam kamar mandi, tapi tak ada orang di dalamnya. Kemudian ia menuju balkon hotel juga tak ditemukan gadis itu. Akhirnya, Harry berjalan mendekati ranjang dan menghempaskan tubuhnya dengan perasaan yang berkecamuk. Rasa sesal karena meninggalkan gadis itu meski hanya sebentar.


...****************...


Flashback.


"Hei, Harry!" sapa Rain. "Aku sengaja memanggilmu ke penthouse untuk minum bersama."


Harry melihat ke arah ruang tamu. Di sana ada Rain yang tadi menyapanya, kemudian ada Joey dan seorang gadis yang tak asing di matanya sedang duduk di sebelah Joey.


"Come," panggil Rain yang sedang bahagia itu. Pria yang duduk di atas kursi roda itu melambaikan tangannya ke arah Harry agar ikut bergabung di ruang tamu itu.

__ADS_1


"Om Harry! Ayo!" seru Joey.


"Ini sahabatku di SMA, Zea," ucap Joey sambil membuka botol wine. Kemudian ia menuangkan minuman tersebut ke dalam empat gelas wine. Lalu gadis itu membagikan gelas tersebut.


"Nah iya, Zea." Gumam Harry dalam hati. Sejak tadi ia sedang berfikir keras di mana ia pernah melihat gadis itu. Ternyata itu adalah sahabat Joey saat sekolah.


Harry berjabat tangan dengan Zea sambil mengulum senyum. Begitu juga Zea, gadis cantik berdarah asli Indonesia itu ikut membalas senyuman Harry. Entah kenapa, senyuman sekilas tersebut membuat jantung Harry berdetak dengan cepat dan ia dibuat terperangah.


"Come on, Harry. Dia masih kecil!" gerutu Harry menyadarkan dirinya dalam hati.


Setelah duduk dengan nyaman di sofa tersebut dan bergabung dengan Rain, Joey serta Zea. Rain akhirnya mengangkat gelas wine-nya ke tengah.


"Ayo bersulang untuk pernikahan-ku dan gadis yang kucintai," ucap Rain.


"Om," Joey mendelik ke arah suaminya. Gadis itu merona saat pria itu mengatakan dengan santai di depan orang bahwa ia adalah gadis yang pria itu cintai.


"Aaa... suamimu romantis banget," celetuk Zea sambil berbisik ke arah Joey.


Joey hanya diam karena malu dan mengangkat gelas winenya ke tengah. Diikuti Zea dan Harry yang juga ikut bersulang.


"Cheers!!!" seru mereka serentak. Lalu gelas mereka saling bertabrakan di satu titik tengah tepatnya di atas meja kaca.


Sesaat setelah Joey menenggak habis wine di gelasnya, gadis itu berinisiatif untuk menuangkan wine lagi dari botol ke gelasnya. Rain yang melihat hal tersebut langsung melarang sang istri.


Zea dan Harry serentak melihat ke arah Rain. Zea terkesima karena panggilan mesra Rain pada Joey, sedangkan Harry terperangah karena sifat manis atasannya itu. Ke mana perginya pria dingin yang selama ini ia kenal? Lalu, apa benar pria yang ada di depannya saat ini adalah Rain yang ia kenal?


Joey mengangguk pelan dan manut pada suaminya tanpa sedikitpun bantahan. Kemudian ia meletakkan gelas wine tadi ke atas meja.


“J-Joey???” Zea tak mampu menutupi rasa terkejutnya melihat sahabat yang selama ini ia kenal ketus dan keras kepala, kenapa mendadak jadi gadis yang patuh? Pelet apa yang telah diberikan Rain pada sahabatnya sampai-sampai gadis keras kepala itu bisa patuh tanpa sedikitpun bantahan.


“Minumlah, kalau kurang kalian bisa mengambilnya lagi di dapur,” tutur Rain kepada Zea dan Harry yang sejak tadi tak henti-hentinya terperangah.


Akhirnya, mereka pun melewati obrolan yang panjang. Joey menceritakan pada Zea bagaimana ia bisa bertemu dengan Rain, kemudian jatuh cinta dan hal apa saja yang telah ia lewati.


“Ck! Gue pikir lo nganggep gue sahabat, tapi ternyata nggak!” ucap Zea yang sudah mulai mabuk. “Bisa-bisanya lo nyembunyiin semua ini dari gue?”


“Lo bilang bokap nyokap lo selama ini di luar negri?!” sambung Zea lagi sambil menunjuk-nunjuk Joey yang ada di sebelahnya.


“Sorry, Zea,” gumam Joey lirih. Namun gadis itu tersenyum karena ia sadar bahwa Zea saat ini sedang mabuk.


“Harry,” panggil Rain. “Bawa Zea ke kamar hotel di bawah. Suruh siapa aja yang standby di bawah untuk mengantarkan kuncinya ke kalian.”


“Baik, Pak,” sahut Harry yang mulai pengar. Ia mengerjap-ngerjapkan mata sambil mencoba fokus menatap ke arah Rain.

__ADS_1


“Hahaha… Om Harry juga mabuk?” celetuk Joey. “Kalo gitu, Om Harry juga tidur di kamar hotel. Besok aja balik.”


“Iya, gitu aja,” sahut Rain.


“Baik, Pak.”


...****************...


Beberapa menit kemudian, Harry keluar dari lift sambil memapah tubuh mabuk Zea. Ia menelusuri lorong sambil mencari kamar nomer 2037. Di depan pintu kamar hotel nomer 2037, terlihat ada seorang office boy yang sedang berdiri. Sepertinya pria itu merupakan orang yang disuruh resepsionis untuk mengantarkan kartu akses untuk masuk ke dalam kamar.


“Makasih,” ucap Harry saat menerima kartu akses dari office boy tersebut. Kemudian pria itu pergi meninggalkan Harry dan Zea di depan pintu.


Harry melihat ke kartu akses yang ada di tangannya. Ada dua buah kartu. Nomer 2037 dan 2037. Sepertinya resepsionis salah memberikan kartu, karena itu kartu yang sama untuk satu kamar. Tapi biarlah, yang penting sekarang ia mengantarkan Zea dahulu, baru setelah itu ia turun lagi untuk meminta satu kartu akses untuk ia menginap di kamar lain.


Tanpa berfikir panjang, Harry menempelkan kartu akses tersebut ke gagang pintu. Lalu ia masuk dan menyisipkan kartu akses hotel tadi ke sisipan kartu yang tertempel di tembok belakang pintu. Kartu yang satu lagi ia masukkan ke saku celananya. Sesaat setelah Harry menyisipkan kartu, lampu dan ac di ruangan tersebut menyala secara otomatis.


Tanpa berlama-lama, Harry bergegas memapah tubuh Zea ke atas ranjang dan membaringkan gadis itu. Lalu, ia membalik badan untuk pergi menuju kamar.


“Om Harry,” igau Zea sembari menahan lengan kekar milik pria tampan manis tersebut.


Harry menoleh ke belakang ke arah Zea.


“Aku takut sendiri,” ucap Zea lagi dengan matanya yang pasrah serta lemah tak berdaya akibat pengaruh alkohol. “Kamarnya besar banget.”


Harry mengerutkan dahinya. Kemudian ia memutar tubuh menghadap Zea. “Kamu mau pulang ke rumah? Biarku antarkan.”


“Iya, aku mau pulang,” ucap Zea.


“Yaudah, ayo,” Harry membantu Zea bangkit dari tidurnya. Ia memapah lagi tubuh gadis itu dan Zea juga sudah menapaki lantai.


Sesaat Zea mencoba berdiri, tubuhnya seketika oleng. Karena takut jatuh, secara refleks ia meraih kedua bahu Harry yang saat ini ada di depannya. Namun, karena Harry terkejut dengan tingkah refleks gadis itu, ia pun ikut oleng sehingga kedua tubuh mereka jatuh terhempas ke atas ranjang dengan posisi Zea di bawah dengan kaki yang menjuntai ke lantai, sedangkan Harry di atas tubuh gadis itu dengan kedua kaki yang terbuka lebar di sisi kiri dan kanan pinggul Zea.


Kedua bibir mereka tak sengaja bertabrakan. Zea yang saat itu mabuk berat, dengan pasrah ia menikmati hangatnya bibir pria gagah dewasa itu. Sedangkan Harry, pria itu terbelalak kaget. Meskipun saat itu ia sedang setengah sadar, setidaknya ia tahu bahwa bibir mereka sedang bersentuhan sekarang.


“M-maaf,” ucap Harry sambil mencoba bangkit dan menjauhkan wajah mereka berdua menggunakan kedua tangannya.


Entah setan apa yang merasuki Zea, kedua tangan gadis itu melingkar ke leher Harry. Kemudian ia menarik wajah Harry sehingga jarak wajah mereka kembali dekat dan hanya tersisa kurang dari lima senti. Deruan napas Harry mulai menyapu lembut wajah cantik gadis mabuk itu. Pria itu tak mampu menahan debaran di dadanya saat wajah mereka saling berdekatan.


“Bibir Om Harry enak,” gumam Zea lirih dengan napasnya yang mulai berat. “Aku mau mencobanya sekali lagi.”


...****************...


BERSAMBUNG…

__ADS_1


__ADS_2