
..."Dengar. Meskipun aku menikahi wanita lain dan kapanpun itu, kamu nggak akan pernah bisa pergi dariku." - Rain...
...🌸🌸🌸...
Di sudut ruangan di atas ranjang empuk berwarna salem itu, Joey terlihat sedang termenung menatap langit-langit kamarnya yang polos.
Sudah empat belas tahun dia menatap langit-langit yang sama. Rasanya, baru kemaren dia menginjakkan kaki ke apartemen ini. Entah kenapa, waktu berlalu dengan sangat cepat. Mungkin karena dia terlalu menikmati kesenangan dan kebahagiaan yang diberikan oleh pria dingin itu, sampai-sampai ia tak sadar bahwa kini ia telah dewasa.
"Om Kale masih di luar nggak ya?" pikir Joey saat itu.
Gadis itu berniat meminta nomor ponsel pria yang menawarkan kesempatan untuknya menjadi penyanyi. Dia sudah membulatkan tekadnya untuk belajar mandiri dengan jerih payahnya sendiri, ya meskipun melalui jalur orang dalam. Tapi setidaknya, ia tak lagi bergantung pada Rain.
Lamunan panjang gadis itu terusik saat Rain tiba-tiba saja masuk ke kamar sambil membuka jas dan melemparnya ke sembarang arah. Sambil berjalan mendekati ranjang gadis muda itu, ia membuka kancing bajunya satu per satu.
"Om Rain," sapa Joey pelan sambil mengalihkan fokusnya ke arah pria yang muncul dari balik pintu.
Gadis tersebut berusaha duduk sambil menopang tubuhnya menggunakan kedua tangan. Ada rasa kecewa sekaligus takut yang sedang bercampur aduk menyelimuti dirinya saat ini. Rasa kecewa akan kabar yang menyakiti hatinya, sekaligus rasa takut bahwa pria itu salah paham dengan kejadian yang sempat terjadi antara dia dan Kale di taman tadi.
"Om, ada yang harus kita omongin," tutur Joey dengan suara yang bergetar. Pasalnya, pria itu dari tadi tak berbicara sepatah katapun, sebaliknya ia melepaskan kemeja dan membuka ikat pinggang yang tersemat di celananya.
Rain menaiki ranjang tersebut dengan raut wajah yang suram. Pria itu meraih kedua tangan gadis muda itu, lalu ia mengikat tangan gadis muda itu menggunakan ikat pinggangnya.
"Om, nggak usah kayak gini, kita ngomong baik-baik!" ucap Joey sambil berusaha melepaskan tangannya dari ikatan tali pinggang.
Rain mendorong paksa tubuh indah itu sehingga terbaring pasrah, lalu pria itu mengangkat dan menekan tangan tersebut ke atas ranjang, sehingga Joey tak mampu bergerak.
"Sepertinya kamu lupa, sekalinya milikku, selamanya milikku," ucap Rain dingin. Sorot mata pria itu menatap lekat ke dalam mata bulat gadis yang ada di bawahnya.
"Ini cuma salah paham!" pekik Joey dengan suara lantang. Ia merasa kesal karena pria itu berargumen sendiri tanpa mendengarkan penjelasannya.
__ADS_1
"Seharusnya Om yang jelasin! Kenapa tanggal pernikahan Om bertepatan pada tanggal ulang tahunku?!"
"Ck!" Rain berdecak sebal. Pria tersebut menghela napasnya dengan keras. Ia meraih dagu gadis muda itu dan mencengkramnya dengan kuat.
"S-sa-sakit, Om," ringis Joey saat dagunya dicengkram kasar oleh pria itu.
"Dengar," ucap Rain dingin. "Meskipun aku menikahi wanita lain dan kapanpun itu, kamu nggak akan pernah bisa pergi dariku."
Seluruh tubuh Joey bergetar, suhu tubuh yang memanas dan darahnya ikut mendidih saat mendengarkan ucapan Rain.
"Om cinta nggak sih sama aku?" lirih Joey perlahan. Mata gadis itu mulai memanas.
"Memangnya ini apa kalau bukan cinta?!" bentak Rain dengan penuh amarah. Pria itu merasa sakit hati saat Oleander kesayangannya meragukan perasaan yang ia miliki.
"Nggak, ini bukan cinta, Om," gumam Joey pelan. Gadis tersebut terdiam, kerongkongannya tercekat, rasanya seperti di cekik.
Joey tak lagi mampun menahan rasa sakit di hatinya. Rasa sesak yang menyelimuti dadanya semakin membuncah saat ia mengatakan kata 'obsesi'. Karena dengan mengatakan hal tersebut, ia menjadi ragu dengan perasaan yang sebenarnya pria itu miliki padanya. Apa benar hanya obsesi semata? Tak ada cinta. Jika memang benar cinta, seharusnya pria tersebut tak akan sanggup menyakiti seseorang yang ia cintai.
"Lalu kenapa kalau ini hanya obsesi?" tanya Rain datar tanpa rasa bersalah.
Joey mengepalkan kedua tangannya yang terikat dengan sorot mata kebencian pada pria yang ada di atasnya. Rasa cinta yang menggebu-gebu, sesaat bercampur aduk dengan rasa benci yang perlahan mulai merebak menghujam dadanya. Kini ia tak dapat membedakan lagi mana cinta dan mana benci.
"Bebasin aku, Om. Hiks... hiks... hikss..." buliran airmata perlahan berjatuhan dari sudut mata Joey. Gadis itu kembali dibuat nangis oleh pria yang ia cintai.
Melihat gadis yang ia cintai menangis, Rain melonggarkan cengkraman tangan kasarnya di dagu gadis itu.
"Kenapa harus aku? Di luar sana masih banyak wanita yang bisa Om lakukan seperti ini, masih banyak dan Om tinggal kasih mereka uang," tanya Joey sendu.
"A-aku... aku cuma gadis biasa yang dari kecil mengharapkan cinta dan kasih sayang. Dari kecil aku hidup sendiri tanpa rasa cinta dan kasih sayang yang nyata. Om tega biarin aku hidup seperti ini selamanya?" ucap Joey sambil tersedu-sedu.
__ADS_1
"Cinta? Kasih sayang? Oke, aku akan memberikan semua yang kamu minta."
"Nggak! Om nggak bisa," protes Joey lantang.
"Nggak bisa gimana?! Aku orang terkaya se-Asia Tenggara! Apa sih yang nggak bisa aku berikan?!" tutur Rain dengan nada yang penuh dengan kesombongan dan keangkuhan.
"Om! Cinta dan kasih sayang itu nggak bisa dibeli!"
"Nggak bisa dibeli?" tukas Rain sengit. "Katakan, mau berapa miliar? Mau gedung? Mau perusahaan?! Mau keliling dunia?! Kuberikan! Asal jangan pernah meninggalkanku!"
"Aku nggak butuh semua itu, Om. Bahkan empat belas tahun ini aku udah hidup dengan sangat mewah."
"Terus? Bahagia 'kan dengan hidup yang udah ku berikan?"
"Nggak," jawab Joey dingin. "Hatiku kosong dan hampa."
"Ck! Dasar gadis serakah!" ketus Rain kesal sambil menundukkan kepalanya dan mengalihkan pandangannya dari Joey.
"Serakah?" Joey menatap tajam ke arah Rain. Airmatanya yang tadi mengalir dengan deras, perlahan mulai berhenti dan mengering.
"Aku cuma mau cinta dan kasih sayang, Om bilang aku serakah? Om sadar nggak, yang serakah itu Om! Om ingin memilikiku! Lalu, di saat yang sama, Om menikah dengan wanita lain! Dan Om sangat ingin menduduki jabatan CEO Group Ravindra! Jadi sekarang siapa yang serakah?!" kecam Joey dengan napas yang menderu.
Rain mendadak terdiam dengan ucapan gadis yang ada di bawahnya. Pria tersebut dibuat terhenyak dan tak dapat berkata-kata setelah ia terpojokkan dengan kata-kata menohok yang dilontarkan gadis tersebut.
Rain tak dapat menyangkal semua ucapan yang dilontarkan oleh gadis itu. Benar, dia memang serakah. Benar bahwa ia sangat ingin memiliki gadis itu. Posisi CEO Group Ravindra, dia juga sangat ingin menduduki jabatan tertinggi di perusahaan raksasa tersebut. Tapi, pernikahannya dengan Anya, itu tidak benar. Dia hanya terpaksa melakukan itu, tak ada cinta yang menggebu-gebu tumbuh di antara mereka, semua itu hanyalah pernikahan bisnis semata.
...****************...
BERSAMBUNG...
__ADS_1