
...“Terima kasih. Andai aku tak terobsesi pada Oleander-ku ini, mungkin … kehangatan seperti saat ini hanyalah sebatas mimpi. Aku mencintaimu, Oleander-ku.” – Rain...
...🌸🌸🌸🌸🌸...
Keesokan harinya, Ravi terlihat sedang fokus di ruangan kerjanya yang ada di rumah. Pria tua yang rambutnya sudah putih itu, ia terlihat sedang sibuk menyiapkan beberapa berkas-berkas yang penting untuk penyerahan jabatan CEO kepada Rain, anak yang ia cintai.
Sesaat kemudian, Ravi membuka buku merah di mana ia selalu menyimpan foto lawas Luna, mendiang istrinya. Ia menatap foto lawas tersebut sambil tersenyum.
“Luna … anak kita udah besar. Dia pintar sekali mencari istri,” tutur Ravi sambil tertawa sendiri.
“Selama ini aku berusaha keras menjodohkannya dengan wanita pilihanku, karena aku tak ingin dia bernasib sama sepertiku. Seperti aku yang merendahkanmu karena kamu dari kalangan bawah. Aku hanya tak ingin dia menyakiti istrinya dan berselingkuh, lalu menyesal dikemudian hari sepertiku.”
Ravi terdiam hingga beberapa detik. Kemudian ia menghela nafas lega.
“Tapi ternyata anak kita itu pria yang dewasa dan bertanggung jawab. Aku melihat gimana dia dengan bangganya memperkenalkan istrinya pada dunia di TV. Kau tau, dia berbeda denganku, tapi dia mirip sekali denganmu,” sambungnya sambil tersenyum.
“Haaa… aku berharap anak itu bahagia selamanya.”
Puas berbicara sendiri dengan foto mendiang istrinya. Ravi memutuskan untuk menyudahi kesibukannya di siang itu. Ia memasukkan kembali foto Luna ke dalam buku merah, lalu ia letakkan buku tersebut ke rak-rak buku yang ada di ruangan itu.
Sementara itu, di saat yang sama saat di mana pertama kali Ravi berbicara dengan foto Luna, saat itu juga Rain berdiri di depan ruang kerja Ravi. Saat ia sedang gundah ingin melanjutkan melangkahkan kaki masuk ke ruangan itu atau tidak, saat itu juga ia tanpa sengaja mendengarkan semua yang Ravi ucapkan tadi.
Ravi terbelalak kaget saat mendapati Rain yang kini sedang berdiri di depan pintu. Mata anak yang ia cintai itu memerah dan berkaca-kaca. “R-Rain.”
“P-Papa?” Rain tak mampu membendung tangisnya. Airmata perlahan meleleh membasahi pipinya.
Tanpa jeda, Ravi langsung memeluk tubuh Rain dengan sangat erat. Ia benar-benar merindukan anaknya itu. Rasa rindu yang meluap-luap karena selama ini anak itu ia siksa dengan sifat egoisnya. “Maafin, Papa.”
“Joey benar. Mama pasti sedih kalau liat kita saling bermusuhan. Meskipun sulit, tapi aku yakin … Mama nggak mau kita terus-terusan larut dalam kesedihan yang tiada henti ini,” isak Rain pilu.
“Mas Rain?”
Zayn tiba-tiba muncul di saat itu. Begitu juga Hana. Ia berdiri di sisi Zayn dengan mata yang berkaca-kaca.
“Sini,” panggil Ravi kepada Zayn dan Hana.
Zayn dan Hana bergegas mendekat ke arah Rain dan Ravi. Saat itu, Ravi langsung memeluk Zayn dan Rain secara bersamaan. Tindakan tersebut sontak membuat Rain terkejut. Apalagi saat melihat adiknya yang selama ini menyebalkan, kini menjadi berbeda dari biasanya.
“Mas, maafin aku selama ini,” tutur Zayn sambil menatap ke arah Rain.
Rain tertawa lepas dengan mata yang memerah. Ia melepaskan pelukan Ravi, kemudian ia memeluk Zayn dengan sangat erat. “Sudahlah. Apapun yang terjadi, kamu tetap adikku.”
Hana tak mampu membendung tangisnya. Anak tiri yang selama ini ia benci, ternyata berbaik hati memaafkan dan merangkul anaknya. Bahkan, tak tersisa sedikitpun dendam atas perbuatannya selama ini.
***
Lima tahun kemudian.
“Kakekkkkk!”
“Nenekkkkk!”
__ADS_1
Suasana di rumah besar Ravindra benar-benar penuh dengan kebisingan. Siapa lagi penyebabnya kalau bukan karena cucu-cucu dari Ravi Ravindra?
“Aiden, Ailen. Jangan lari-lari, Sayang,” Rain meneriaki sepasang anak kembarnya yang langsung berlari berhamburan ke arah Ravi dan Hana.
“Aku juga mau sama Kakek dan Nenek, Daddy,” rengek Grace yang saat itu sedang digendong oleh Zayn.
Zayn tersenyum, ia membungkukkan tubuhnya untuk menurunkan Grace dari gendongannya. Sesaat kemudian, Grace langsung berlari ke arah Ravi dan Hana.
“Kakekkk! Nenekkk!”
Rain dan Zayn saling bertatapan sambil tertawa terbahak-bahak. Rasanya begitu hangat saat melihat keluarga yang dulunya berantakan dan hancur itu, kini mendadak menjadi sebuah keluarga besar yang bahagia.
Begitu juga Joey dan Sara. Kedua orang tersebut saling tersenyum sambil menenteng beberapa makanan di tangan mereka.
“Joey, Sara,” panggil Hana kepada dua orang menantunya itu. Saat itu, Hana sedang menggendong Aiden.
“Sini, Nak. Biar Bibi-Bibi aja yang urusin makanan di dapur,” ucap Hana sambil melambaikan tangannya ke arah Joey dan Sara.
“Iya, Ma,” sahut Joey dan Sara secara bersamaan.
Di saat ruang keluarga itu begitu riuh dan ramai karena perkumpulan keluarga, tiba-tiba saja Ravi teringat bahwa ada yang kurang. Ia melihat ke sekeliling ruangan tersebut.
“Loh, Harry dan Zea nggak ke sini?” tanya Ravi pada Rain.
“Kakekkkk!” seru Ethan yang merupakan anak dari pasangan Harry dan Zea.
“Nah, tuh dia. Baru di cari udah nyampe,” celetuk Joey sambil tertawa.
Suasana rumah tersebut semakin ramai saat Zea dan Harry datang. Meskipun Zea dan Harry bukanlah keluarga kandung dari Ravindra, tetap saja kehadiran mereka berdua di anggap penting dan sudah di anggap seperti keluarga besar Ravindra. Pasalnya, kedekatan dan tingkat loyal Harry yang begitu tinggi membuat keluarga Ravindra menghargai pria itu.
“Jadi … sekarang udah bisa nih foto-foto keluarganya?” tanya Sara yang sejak tadi hanya diam.
“Nah iya!” seru Zayn. “Ayoklah, semuanya ke taman! Siap-siap buat foto!”
Tak membutuhkan waktu yang lama, kini semuanya keluar dari rumah dan menuju ke taman yang ada di pekarangan rumah besar Ravindra. Photographer sudah bersiap-siap di posisinya untuk memotret keluarga besar tersebut.
“Aku mau gendong sama, Kakek!” seru Grace.
“Aku juga mau sama, Kakek!” seru Aiden tak ingin mengalah.
“Ailen mau sama, Nenek!” Ailen berjalan mendekat ke arah Hana.
“Ethan juga mau sama, Nenek!”
Suasana untuk mengambil foto keluarga saja sudah seheboh itu. Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melayani tingkah laku anak-anak yang menggemaskan itu.
Cekrek!
“Haaa… akhirnya,” keluh photographer tersebut pelan sambil menyeka keringat di dahinya. “Okay. Sekali lagi. One … two ….”
“Aww!!!” tiba-tiba Zea berteriak sambil memegang perutnya. Ia mulai kontraksi dengan wajah meringis menahan sakit. Dengan sigap Harry memegang tubuh istrinya tersebut.
__ADS_1
Seluruh orang yang ada di sana serentak melihat ke arah Zea. Para ibu-ibu dibuat riweh akibat panik.
“Ambulance! Ambulance!” seru Hana.
“Iya telfon ambulance!” sahut Sara.
Di saat yang lain-lain panik menghubungi ambulance, Joey langsung berkata dengan tegas. “Langsung bawa pakai mobil aja. Nungguin ambulance lama!”
“Oh iya!” Zayn menepuk jidatnya. Kenapa dari tadi tak berfikir seperti itu.
Zayn memutuskan mengambil kunci mobilnya. Sedangkan Rain, ia sibuk mengawasi anak-anak agar mainnya tidak kejauhan dan tidak kecebur ke dalam kolam ikan yang ada di taman tersebut.
“Ughhh!” saat suasana sedang kocar-kacir. Saat itu juga lah Joey mendadak mual. Ia memegang perutnya sambil menutup mulutnya.
“Joey,” Hana memegang lengan gadis itu dengan tatapan yang khawatir.
“Ugh!” Joey benar-benar tak mampu menahan mualnya.
“Papa! Cucu kita nambah lagi!” seru Hana girang.
Ucapan Hana tersebut benar-benar membuat seluruh mata yang ada di sana terfokus pada Joey. Rain yang saat itu sedang menjaga anak-anaknya, ia langsung berlari ke arah Joey dan melupakan anaknya.
“Ailen, Aiden, Grace, Ethan, kalian mau makan es krim nggak? Ayok masuk ke dalam rumah,” bujuk Rain agar fokus anak-anak tersebut teralihkan. Setelah itu ia berlari ke arah Joey, istrinya yang sepertinya sedang hamil lagi.
Sejak dulu, rumah keluarga besar Ravindra itu tak pernah seramai dan sebising ini. Pasalnya, peraturan-peraturan tak masuk akal yang dibuat di rumah itu benar-benar membelenggu setiap manusia yang ada di sana. Tapi sekarang tidak lagi. Kehangatan telah memenuhi rumah megah dan besar itu.
Semuanya hidup bahagia dan penuh dengan kehangatan. Tak ada lagi dendam, tak ada lagi permusuhan. Ketenangan dan kehangatan lah yang menyelimuti dan menghiasa kehidupan mereka.
Rain mengecup lembut dahi Joey. Ia menatap istrinya itu dengan penuh kasih sayang. “Terima kasih. Andai aku tak terobsesi pada Oleander-ku ini, mungkin … kehangatan seperti saat ini hanyalah sebatas mimpi. Aku mencintaimu, Oleander-ku.”
...****************...
...🌸...
...🌸TAMAT🌸...
...🌸...
...****************...
Terima kasih semuanya. Setelah beberapa bulan, akhirnya OBSESI OLEANDER tamat juga. Perjalanan yang panjang ya 🥰
Btw hari ini aku sengaja ambil cuti dari kantor, biar bisa bikin novel ini TAMAT. Sumpah keteteran aku pas mengimbangi real life dengan dunia novel ini 😂
Tapi ... tanpa support, bantuan dan semangat dari teman-teman, aku nggak akan bisa bikin novel ini dengan baik.
Makasi banyak karna selalu setia dengan novel ini. 💜
Teruntuk pembaca setia, aku harap kebahagiaan selalu menyertai teman-teman ya. Bacain komentar teman-teman itu bikin aku bahagiaaaaa banget. Tapi maaf belum bisa bales satu-satu 🥹🥰🥰
See you di next novel 🥰🥰
__ADS_1