
..."Mencintaimu sejak belasan tahun yang lalu sudah menjadi kebiasaanku. Kini, memilikimu seutuhnya menjadi sebuah tujuan dalam hidupku." - Rain...
...🌸🌸🌸...
"Aku berangkat dulu ya," ucap Rain sambil mengecup lembut dahi Joey di depan pintu keluar.
"Bilang, kalo kamu butuh sesuatu. Aku akan mentransfer uang lebih ke rekeningmu nanti, dan jangan lupa, malam ini kita dinner ya, Sayang," sambung pria itu sambil membelai lembut pipi Joey.
"Iya," jawab Joey singkat sambil menganggukkan kepalanya.
Rain beranjak pergi meninggalkan apartemen. Kini tinggal Joey sendiri di ruangan besar dan mewah itu. Gadis itu menuju pintu balkon dan membiarkan angin sejuk yang menyegarkan masuk memenuhi ruangan. Tirai di balkon dibuat menari-nari akibat ulah angin.
Joey menghempaskan tubuhnya ke atas sofa yang bersebelahan dengan pintu balkon. Rambut hitamnya yang terurai, dibiarkannya bergoyang ria akibat sentuhan lembut dari angin. Ia membuka layar ponselnya, lalu membuka browser.
"Hmm, siapa ya nama panjang Kale?" gumam Joey sambil mengetik nama pria itu di mesin pencarian browser.
Sesaat setelah gadis itu mengetik nama Kale, langsung muncul nama Kale Garnacho. Foto yang terpampang di sana adalah foto pria yang sempat membantu Joey di rumah sakit kemaren.
"Kale Garnacho?" pikir Joey sambil melihat data-data tentang pria itu. Ia berusaha mencari tau tentang pria itu dan memikirkan bagaimana cara agar dapat menghubunginya.
"Ah! Nstagram!" Joey melihat situs akun sosial media pria itu dan bergegas menekannya, lalu ia dibawa ke aplikasi Nstagram dan langsung ke profil pria itu.
"Wow, followernya lumayan juga," celetuk Joey saat melihat pengikut pria bule blasteran itu senilai dua jutaan.
Gadis tersebut bergegas mengirimkan pesan kepada pria tersebut.
...Hallo, selamat pagi. Maaf jika aku menghubungi Bapak melalui Nstagram. Soalnya aku nggak punya kontak Bapak. ...
...Mengenai tawaran kemaren, apa masih berlaku?...
Setelah mengirimkan pesan melalui aplikasi tersebut, Joey menghela nafasnya. Berharap cemas agar tawaran yang sempat diberikan padanya kemaren masih berlaku. Sambil ia menunggu pesan dari pria tersebut, Joey penasaran ingin melihat akun Nstagram pelita hidupnya.
"Ck! Udah lama aku nggak kepoin dia," celetuk Joey sambil membuka akun Nstagram Rain.
__ADS_1
Ia melihat pengikut akun Nstagram pria itu bertambah. Padahal sebelumnya hanya tujuh jutaan, namun kini akun tersebut menjadi sebelas jutaan pengikutnya.
"Hah, aku semakin takut bersanding dengannya," ucap Joey sambil menghela nafas berat.
Joey kembali melihat unggahan-unggahan pria itu. Unggahan pria tersebut penuh dengan foto-foto bunga Oleander. Bahkan ada satu unggahan terakhir yang membuatnya terkesan. Sebuah unggahan foto bunga Oleander yang diunggah kemaren pagi dengan caption yang mengaduk-aduk perasaannya.
..."Mencintaimu sejak belasan tahun yang lalu sudah menjadi kebiasaanku. Kini, memilikimu seutuhnya menjadi sebuah tujuan dalam hidupku."...
Joey dibuat berdebar saat membaca caption yang sarat akan makna tersebut. Pupil matanya mendadak membesar dengan mulut yang setengah terbuka. Ia tersentuh dengan unggahan tersebut. Entah kenapa, matanya mendadak panas dan berkaca-kaca. Dadanya bergejolak, sesak dan ia kesulitan bernapas. Ada rasa bahagia yang menyeruak di dada.
"Sebesar itu 'kah dia mencintaiku?"
Tak terasa, airmata mulai meleleh membasahi pipinya. Sakit, rasanya sakit saat ia mengingat besarnya rasa cinta pria itu, namun perbedaan status mereka terlalu nyata bagaikan bumi dan langit. Pria itu sungguh tak tergapai. Mendapatkan cinta dari pria itu saja sudah merupakan sebuah keberuntungan yang tak ternilai di hidupnya, tapi memilikinya? Membayangkan memiliki pria itu saja membuat tubuhnya bergidik ngeri. Karena yang akan menjadi musuh nyata baginya adalah mereka-mereka yang menatapnya dengan tatapan yang mengerikan karena di cap sebagai gadis perusak rumah tangga orang demi harta dan tahta. Padahal, yang lebih dulu bertemu dan mencintai pria itu adalah dia, bukan wanita yang kini menjadi tunangan pria itu.
"Hah," Joey menghela napasnya dengan sangat kuat sambil menepuk-nepuk pipinya.
"Ayo! Sadar! Ini bukan dunia dongeng!"
...****************...
Di ruang meeting yang penuh dengan ketegangan itu, Rain terlihat sangat fokus. Pria itu ingin segera menyelesaikan pekerjaannya agar bisa segera pergi meninggalkan kantor dengan cepat.
Kurang lebih tiga jam telah berlalu, rapat penting di ruangan tersebut pun berakhir. Semua yang ada di ruangan tersebut terlihat berhamburan keluar dengan raut wajah yang tegang dan lelah. Tapi tidak dengan Rain, wajah pria itu masih segar, bahkan kini semakin bersinar.
"Pak, makan siang sudah disediakan di-"
"Temani aku ke suatu tempat," potong Rain. Pria itu memotong pembicaraan Harry sambil mengeluarkan ponselnya dari saku celana.
"Tapi, Pak. Ini udah jam tiga dan Bapak belum makan siang," protes Harry khawatir. Pria itu sudah menyelesaikan makan siang lebih awal karena tahu bahwa hari ini akan diadakan rapat penting, sedangkan Rain, pria itu tiba dikantor lima menit sebelum rapat dimulai. Jadi, ia belum makan siang sama sekali.
"Nanti aku akan makan," ucap Rain sambil bersenandung riang menatap ponselnya. Pria itu mengirimkan pesan singkat untuk gadis kesayangannya.
"Lagi apa? Maaf aku baru selesai meeting." Tanya Rain kepada Joey melalui pesan singkatnya.
__ADS_1
Harry hanya menggelengkan kepalanya melihat pria dingin yang ada di depannya kini mendadak berubah. Sekretaris pribadi Rain ini merupakan anak Pak Tono yang merupakan supir pria dingin itu dulu. Ia ditugaskan oleh Rain menjadi sekretaris pribadi saat sedang kuliah. Jadi, sambil ia kuliah, ia juga bekerja secara khusus untuk Rain.
Tak memakan waktu yang lama, kini mereka sudah berada di dalam mobil menuju ke sebuah mall terkenal di pusat kota itu.
TING!!!
Sebuah pesan masuk dari Joey. Rain bergegas membuka layar ponselnya dengan wajah yang girang.
"Aku lagi milih baju." Balas Joey singkat.
Rain kembali bersenandung saat membaca pesan yang ia terima dari gadisnya. Lalu, ia bergegas membalas pesan tersebut.
"Aku menantikan malam ini. Dandan yang cantik dan nggak usah pakai heels, kakimu belum sembuh."
TING!!!
Beberapa saat setelah Rain membalas pesan, gadis itu juga ikut membalas tanpa berlama-lama.
"Oke, Om."
Rain menghela nafasnya lega. Ia bersandar di kursi mobil sambil melihat keluar. Hujan yang mengguyur kota metropolitan itu entah kenapa membuat hatinya sangat senang. Apa karena hujan yang ia sukai atau karena perasaannya yang bahagia karena gadis yang ia cintai menerima lamarannya.
"Sepertinya ada hal baik yang terjadi, Pak," celetuk Harry. Pria itu memberanikan diri bertanya karena melihat atasannya yang sedang bahagia.
"Aku akan menikahinya," jawab Rain tanpa menoleh ke depan. Sorot matanya masih terlempar ke luar ke arah jalanan yang masih diguyur hujan deras.
BRAAKKK!!!!
Mobil yang mereka tumpangi mendadak berhenti.
...****************...
BERSAMBUNG...
__ADS_1