
..."Will you marry me? Be my wife. Aku bakalan bikin kamu jadi wanita paling bahagia di dunia ini." - Rain...
...🌸🌸🌸...
Malam itu, tepatnya di lobby utama apartemen mewah yang ada di pusat kota, Rain berdiri terpaku di depan mobil saat melihat Joey yang tiba-tiba muncul mengenakan dress hitam yang membentuk tubuh dengan belahan kain hingga paha. Gadis itu terlihat sangat mempesona dalam balutan dress yang memamerkan tulang selangka dan bahunya yang indah. Tatanan rambut curly yang ia biarkan tergerai membuat gadis itu terlihat dewasa.
Rain tak tahan hanya dengan menunggu gadis itu menghampirinya, pria itu bergegas menghampiri kekasih hatinya dan mengulurkan tangannya.
"Kamu cantik sekali malam ini," puji Rain dengan nada yang lembut. Pria itu tersenyum saat uluran tangannya di sambut oleh gadis itu.
Joey tak mengucapkan sepatah kata pun. Ia dibuat salah tingkah karena pujian manis pria itu sampai-sampai mukanya memerah karena tak kuasa menahan malu.
"Ayo," ucap Rain sambil menuntun Joey memasuki mobil Merci yang pria itu kendarai.
Setelah mereka berdua masuk ke dalam mobil, Rain bergegas menginjak gas dan melajukan mobil tersebut menuju lokasi di mana mereka akan menikmati candle light dinner.
"Kenapa nggak balas pesanku?" tanya Rain sambil fokus mengemudi.
"Aku rindu?" tanya Joey tanpa menoleh ke arah pria yang ada di sebelahnya.
"Hmm," Rain mendehem sambil menoleh sekilas ke arah kiri melihat Oleander-nya lalu pria itu kembali fokus ke depan.
"Kok rindu? Padahal 'kan tadi pagi ketemu?" tanya Joey sambil menyandarkan tubuhnya dengan mata yang menatap lurus ke jalan.
"I don't know, tapi itu yang ku rasakan saat jauh darimu," ucap Rain spontan. "Andai bisa, aku nggak mau kita berpisah walau hanya sedetik."
Joey mendadak menelan salivanya saat mendengarkan pria yang ada di sebelahnya mengatakan hal seperti itu dengan santai. Jantungnya kembali dibuat berdetak dengan kencang. Ia terdiam dan tak mampu berkata-kata lagi.
Tak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya mereka memasuki sebuah pekarangan lobby hotel mewah di kota itu.
"Sayang?" panggil Rain. Ia menoleh ke arah Joey, melihat gadis itu mendadak terdiam dengan sekujur tubuh yang membeku.
"K-kita d-di sini?" tanya Joey terbata-bata. Seketika tubuhnya bergetar karena takut saat mengetahui lokasi di mana mereka akan melangsungkan makan malam.
"Hmm. Hotel Nerium Oleander," tutur Rain santai. "Emangnya kenapa? Kamu nggak suka?"
__ADS_1
"B-bagaimana jika kita ketahuan? Terus nanti wajahku terekspos ke mana-mana? La-"
"Sayang. Hei, look at me," potong Rain sambil memegang kedua bahu Joey dan menghadapkan tubuh gadis itu ke arahnya. Ia memijat lembut bahu gadis itu dengan tatapan yang hangat.
"Aku udah memperketat keamanan hotel ini. Tenanglah, dan ada Leons di sekitar hotel ini," Rain meyakinkan Joey sambil tersenyum hangat ke arah gadis yang ia cintai.
"T-tapi, k-"
"Sweetheart?" panggil Rain dengan nada yang sangat lembut. "Aku nggak akan biarin kamu terluka, lagi pula, ada lift pribadi khusus untuk kita berdua."
Joey hanya diam. Dia tak dapat memutuskan apakah harus percaya atau tidak, karena dia benar-benar ketakutan jika sampai hubungan gelapnya ketahuan. Ia tak mampu membayangkan jika ia di hujat lalu dipermalukan, masa depannya pasti akan semakin hancur.
Rain bergegas turun dari mobilnya, lalu ia menuju pintu mobil Joey dan membukakan pintu untuk gadis kesayangannya. Setelah itu mereka menuju lobby hotel dan disambut oleh karyawan yang sedang berbaris memberi hormat saat mereka berjalan masuk hotel, kemudian mereka menuju lift dan Rain menekan tombol 37.
Saat di lift, Rain mengeluarkan sebuah kain kecil yang agak panjang berwarna putih.
"Close your eyes," ucap Rain sambil tersenyum.
"Huh?" Joey tersentak karena melihat kain yang di tangan Rain.
Joey memejamkan matanya, lalu Rain bergegas mengikat kain tadi menutupi mata gadis itu. Kemudian, Rain meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya.
"Ayo, aku akan menutunmu. Jalan pelan-pelan saja," ucap Rain lembut. Sikap dingin pria itu benar-benar telah hilang!
Setelah lift terbuka, Joey berjalan mengiringi Rain. Sekitar beberapa langkah kemudian, Rain melepaskan tangannya.
"Om?" panggil Joey yang merasa canggung karena bingung harus berbuat apa saat matanya tertutup.
Rain tak menjawab. Pria itu hanya diam.
"Om? A-aku buka ya?" Joey berputar ke kiri dan ke kanan menajamkan pendengarannya sambil memegang kain yang terikat di kepalanya.
Karena tak ada satu patah kata pun dari pria itu, Joey bergegas membuka kain penutup matanya dan ....
"Will you marry me?"
__ADS_1
Joey tersentak kaget sambil memegang mulutnya. Jantungnya benar-benar ingin meledak saat itu juga saat melihat pria tampan yang tadi memegan tangannya, kini sedang berjongkok ala pangeran mengajak putrinya dansa di hadapannya tepatnya di dalam lingkaran lilin berbentuk love dan ditaburi bunga Oleander di mana-mana di setiap lantainya. Di tangan pria itu, ia sedang memegang kotak kecil biru tua yang berisikan cincin.
Suasana di dalam ruangan tersebut tak begitu jelas, karena lampu yang mati, cahaya remang-remang yang ada karena lilin, hanya fokus pada pria yang ada di dalam lingkaran lilin.
Joey tak mampu menahan ekspresi terkejutnya. Mata gadis itu memanas dan berkaca-kaca, terlebih saat pria yang ada dalam lingkaran lilin tersebut bangkit dari jongkoknya dan berjalan ke arahnya.
"Mencintaimu sejak belasan tahun yang lalu sudah menjadi kebiasaanku. Kini, memilikimu seutuhnya menjadi sebuah tujuan dalam hidupku," ucap Rain.
Kata-kata itu merupakan kata-kata yang pria itu unggah kemaren di Nstagram. Ternyata benar, kata-kata indah itu untuk gadis yang kini sedang berdiri kaku karena syok dengan keromantisan yang pria ini berikan.
"Be my wife? Hmm. Aku bakalan bikin kamu jadi wanita paling bahagia di dunia ini."
Rain mengambil cincin yang ada di dalam kotak kecil yang ia pegang sejak tadi, lalu ia meraih tangan Joey yang sangat dingin dan berkeringat karena gugup, kemudian pria itu menyarungkan cincin di jari manis gadis itu sambil berkata, "i really love you."
Rain mengecup lembut punggung tangan gadis itu setelah menyarungkan cincin.
"A-aku 'kan belum jawab mau atau nggak?" ucap Joey terbata-bata. Entah kenapa, ucapan tersebut keluar begitu saja dari mulutnya.
"I don't care," bisik Rain sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Joey. "Apapun yang terjadi, kamu tetap harus menjadi istriku. My one and only you."
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu." Sambung Rain dengan syahdu.
Joey tak dapat membohongi hatinya, sekeras apapun ia ingin pergi dari pria itu, tetap saja sulit. Apalagi, ia sering diperlakukan bak ratu. Saat pria itu melamarnya, ingin sekali rasanya ia menjawab iya. Tapi lagi-lagi ia dihantui oleh rasa takut karena perbedaan status sosial mereka yang begitu nyata.
Namun, dipikirannya saat ini, apapun yang terjadi ke depannya, nanti saja dipikirkan. Yang jelas, kini ia ingin menikmati keindahan dan keromantisan yang diberikan pria itu untuknya.
"Aku mencintaimu juga, Rain."
Joey mengatakan kalimat tersebut dengan wajah yang memerah bak udang rebus. Lalu, gadis itu mengalungkan kedua tangannya ke leher Rain dan langsung me lu mat bibir pria itu sambil memejamkan mata.
Rain terbelalak saat mendapatkan perlakuan agresif gadis itu. Jarang-jarang gadis kecilnya seperti itu. Tak ingin menyia-nyiakan waktu, Rain balik membalas ciuman panas yang diberikan oleh Joey. Mereka berdua saling berpelukan dan saling berciuman dengan penuh gai r ah seolah-olah sedang melepaskan rasa rindu yang telah lama terpendam.
...****************...
BERSAMBUNG...
__ADS_1