
...🌸OBSESI OLEANDER🌸...
...SEASON 2...
...“Suamiku Sayang … hatiku telah kuberikan seutuhnya untukmu. Tak ada lagi ruang kosong yang tersisa untuk pria manapun menempatinya.” - Joey...
...🌸🌸🌸...
Pagi itu, entah kenapa awan begitu mendung dan langit menumpahkan seluruh tangisnya ke bumi seolah-olah menyuruh makhluk hidup untuk tetap bermalas-malasan di balik selimut. Terlebih lagi angin pagi yang bertiup dengan lembut semakin membuat suasana menjadi romantis.
Setelah melewatkan pesta hari bahagia mereka sebagai pengantin baru semalam, pagi ini Joey dan Rain terlihat sedang duduk berdua di atas kursi roda di balkon sambil menikmati hujan. Joey duduk menyamping tepatnya di atas pangkuan Rain.
Tak masalah jika mereka berdua duduk saling berpagutan dengan mesra. Yang menjadi masalah saat ini adalah, mereka berdua duduk atas kursi roda hanya dengan berbalut selimut tebal berwarna putih, tanpa mengenakan sehelai busana pun. Benar-benar pasangan mesum yang cocok disandingkan bersama!
Benar, cinta itu tak memandang usia. Buktinya, kedua pasangan ini bisa saling melengkapi kekurangan dan kelebihan masing-masing dengan cinta mereka yang begitu dalam dan kuat.
"Om," panggil Joey sambil melirik ke arah Rain. Jari mungilnya terlihat usil karena menelisik setiap inci dari wajah pria itu. Entah kenapa ia sibuk menyentuh wajah Rain mulai dari dahi hingga ke dagu dengan tatapan yang penuh arti sembari tersenyum.
"Hmm..." dehem Rain sambil meraih secangkir kopi di atas meja yang ada di balkon, kemudian ia menyeruput kopi hangat tersebut dan meletakkannya kembali ke atas meja. Tatapannya tertuju pada rintikan hujan yang sedang turun dengan deras pada pagi itu.
“Mau punya anak berapa?” Joey menghentikan gerakan jarinya tepat di bibir pria itu.
Rain membetulkan selimut yang membungkus tubuh mereka agar angin pagi tak masuk ke dalam, ia khawatir istrinya yang tercinta itu akan jatuh sakit. Kemudian, ia memeluk dengan erat tubuh gadis itu.
“Selagi kamu bisa melahirkan sih, aku mau punya anak sebanyak-banyaknya,” celetuk Rain tanpa melihat ke arah istrinya yang sedang melotot akibat ucapan yang ia lontarkan barusan. Mungkin terdengar asal-asalan, tapi sebenarnya itu memang apa yang ada dipikirannya sejak pertama kali mengetahui bahwa ada bayi yang sedang menetap di perut gadis itu.
“Eyyy … Om pikir, aku ini kucing betina?” rengek Joey sembari memutarkan bibirnya kemudian menoyor bibir bawah suaminya karena geram.
“Hmm … kamu seperti kucing betina kalau sedang di atas ranjang,” Rain menggigit telunjuk Joey yang sedari tadi berada di bibirnya.
__ADS_1
“Ish, Om ngeselin!” Joey menarik telunjuknya dari gigitan Rain. “Aku ‘kan lagi serius.”
“Hahaha …” Rain menarik kepala gadis itu agar bersandar ke pundaknya, kemudian ia memasukkan tangan Joey ke dalam selimut dan mempererat lagi bungkusan selimutnya.
“Memangnya, kamu mau berapa?” tanya Rain sembari mengecup lembut dahi gadis itu dan mengusap lembut bahu Joey dari dalam selimut.
“Empat!” seru Joey antusias. Ia mengangkat wajahnya menatap Rain dengan senyuman yang girang. “Sejak dulu aku pengen punya anak kembar.”
“Pasti pengen dua cowo dan dua cewe?” timpal Rain sambil menatap ke arah istrinya.
Joey mengangguk pelan dengan mata yang berbinar-binar. “Tapi aku nggak tau kalo aku punya gen kembar atau nggak.”
“Ini bukan zaman kuno, Sayang,” ucap Rain sambil meletakkan dagunya ke atas kepala Joey. “Kita bisa mendapatkannya dengan program bayi kembar.”
“Tenanglah, suamimu ini punya banyak uang,” sambungnya dengan percaya diri.
“Ck! Dasar sombong!” kekeh Joey tak tahan. Meskipun sikap angkuh dan sombong pria itu menyebalkan, tak bisa ia pungkiri bahwa yang diucapkan oleh suaminya itu benar dan terbukti. Hanya saja, kenapa harus selalu pamer? Ck! Untung sayang.
Rain tiba-tiba terdiam. Raut wajahnya yang semula bahagia dan bersinar-sinar menggantikan mentari yang tak ada di pagi itu, kini mendadak datar tanpa ekspresi. Bukan karena ia tak suka istrinya itu berkarya dan menjadi wanita karier, hanya saja pikirannya dibawa melayang kepada dua sosok pria yang benar-benar menaruh perasaan suka pada istrinya itu. Kale dan Luca.
“Om?” Joey mendongak melihat ke arah Rain karena pria itu tak memberikannya respon apapun.
“Memangnya, kamu butuh uang?” Rain menoleh ke arah Joey dan menatap ke kedua bola mata gadis itu. wajah yang tak tersentuh makeup sedikitpun, tapi tetap cantik alami.
Joey menggelengkan kepalanya pelan sembari merapatkan bibirnya.
“And then?” tanya Rain penasaran.
“Pengen deket-deket Kale dan Luca?” sambungnya. Sejak tadi ia sudah tak tahan untuk tak menyebut kedua nama pria tersebut, pasalnya, hanya dengan mengingat kedua pria itu saja api cemburunya langsung tersulut.
__ADS_1
Joey tertawa terpingkal-pingkal mendengarkan ucapan Rain. Bagaimana bisa suaminya itu masih bisa cemburu pada kedua orang tersebut? Padahal sekarang status mereka telah sah menjadi sepasang suami istri. Lagipun, ia tak pernah sedikitpun merasa tertarik pada kedua orang tersebut meskipun mereka cukup tampan dan menjadi incaran para wanita.
Raut wajah Rain kian menegang saat melihat istrinya tertawa saat ia menyebut kedua nama pria tersebut. Jawabannya saat itu hanya ada dua. Ya atau tidak?
“Suamiku Sayang,” Joey menempelkan tubuhnya semakin erat ke tubuh pria itu. Tangannya mengusap pelan dada bidang pria itu di balik selimut. “Hatiku telah kuberikan seutuhnya untukmu.”
“Tak ada lagi ruang kosong yang tersisa untuk pria manapun menempatinya,” sambungnya dengan sangat lembut.
Seketika, jantung Rain berdebar-debar mendengarkan ucapan manis istrinya itu. Wajah dan telinganya dibuat memerah akibat malu dan senang. Apa karena ucapan tersebut tulus dari hati? Makanya langsung membuatnya tersipu?
“Jantung Om kok berdebar-debar?” goda Joey. Pasalnya tangan gadis itu daritadi berada di dada bidang suaminya sehingga ia dapat merasakan detak jantung yang semula normal, kini berdetak dengan kencang.
“Berhenti menggodaku,” tukas Rain sambil menggelitiki tubuh istrinya. Ia merasa malu sekaligus bahagia di pagi hari itu.
Joey tak mampu untuk tak bergerak-gerak di atas pangkuan Rain, pasalnya Rain menggelitiki tubuhnya sampai ia tertawa terpingkal-pingkal. Kursi roda yang mereka duduki sampai bergoyang-goyang akibat ulah dua manusia itu.
“Om! Udahhh…” pekik Joey sambil tertawa terbahak-bahak. “Geli tauk!”
“Katakan, kenapa kamu mau berkarier di dunia hiburan?” tanya Rain sambil menghentikan gelitiknya dan memeluk erat tubuh gadis itu.
“Aku ingin mengasah kemampuanku di bidang yang ku sukai,” jawab Joey dengan yakin.
“Are you sure?” tegas Rain dengan nada yang serius. “Dunia hiburan itu tak seindah yang kita lihat.”
“Yes!” seru Joey antusias.
“Baiklah, jika itu maumu,” Rain mengiyakan dengan nada yang berat namun ia tak dapat menghalangi impian gadisnya itu. “Tapi, jika ada hal yang membuatmu tak nyaman, katakan padaku atau langsung saja berhenti dari dunia itu.”
“Aku nggak mau istriku kenapa-kenapa,” sambungnya khawatir.
__ADS_1
...****************...
BERSAMBUNG…