OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Hanya Aku Yang Berhak Berada Di Sisinya!


__ADS_3

..."Benar ... aku harus menjadi wanita yang kuat dan tak mudah untuk dilengserkan. Dengan begitu, tak ada yang bisa berada di sisi Om Rain selain aku!" - Joey...


...🌸...


..."Om tenang aja. Aku akan menjadi sekuntum Oleander yang beracun dan mematikan untuk orang lain. Tapi untukmu, aku akan menjadi sekuntum bunga yang indah serta penawar dari segala racun yang ada!" - Joey...


...🌸🌸🌸...


“Sweetheart?”


Pagi itu, di cuaca yang mendung dan gerimis pada bulan Desember, Rain membangunkan istrinya yang masih terlelap dengan nyenyak. Ia mengecup lembut pipi gadis itu.


“Ayo bangun,” imbuhnya lembut.


“Mhh…” Joey menggeliatkan tubuhnya sembari membuka matanya dengan perlahan. Kemudian ia memeluk tubuh suaminya dengan manja dan kembali memejamkan matanya.


“Nggak mauuu... Aku masih ngantuk,” rengek Joey manja.


Rain tersenyum. Kemudian ia mendekatkan bibirnya ke telinga gadis itu dan berbisik dengan lembut. “Katanya mau mengatasi masalah ini berdua? Hmm?”


Joey langsung membuka matanya dengan lebar dan menatap ke arah Rain. Kemudian, ia langsung duduk dari tidur dan menghadap ke arah Rain.


“Ayo! Ngantuk ku langsung ilang!”


“Hahaha….” Rain tertawa terbahak-bahak melihat tingkah menggemaskan istrinya itu. Ia tak tahan untuk tak mencubit pipi tembam gadis itu.


“Aw!” pekik Joey sambil mengusap pipinya yang dicubit oleh Rain.


“Aku tau kalo aku ini gemesin, tapi jangan sering dicubit!” rengek Joey manja sambil memasang wajah yang cemberut.


Rain kembali mendekatkan bibirnya ke telinga gadis itu dan berbisik dengan suara baritonnya yang khas. “Jangan lupa, kamu itu milikku. Jadi, aku bisa melakukan apapun yang ku mau.”


Joey mencebik sesaat mendengarkan ucapan suaminya. “Yadeh iya. Jadi, aku juga bisa ‘kan melakukan apapun yang aku mau?”


Rain menatap istrinya dengan raut wajah yang bingung dan bertanya-tanya. Memangnya, apa yang ingin gadis itu lakukan padanya?


Joey menatap suaminya dengan tatapan nakal dan jahil sembari menyeringai. Sesaat setelah tatapan tersebut, ia langsung menggelitiki tubuh kekar suaminya sampai-sampai pria itu tertawa terbahak-bahak.


Karena gelitikan tangan gadis itu sangat membuat tubuh pria itu geli, ia langsung memeluk tubuh Joey dengan erat agar tangan gadis itu berhenti.

__ADS_1


“Enough, Sweetheart,” pinta Rain lirih sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal karena menahan geli. “Nanti ada yang bangun.”


“Ish! Om! Emangnya nggak pernah puas—”


“Yes! Aku selalu lapar saat melihat tubuhmu.”


“Ih… Om… ayo! Ntar berakhir olahraga kasur kalo kayak gini!” celetuk Joey sambil menghela nafasnya.


“Jadi, hal pertama yang harus kulakukan apa?” tanya Joey sambil menatap serius ke arah suaminya.


“Olahraga,” jawab Rain singkat.


“Olahraga? Maksudnya olahraga kasur?” tanya Joey sambil mengerutkan keningnya.


Rain menoyor kepala istrinya.


“Ih! Om!” rengek Joey sambil mencebik.


“Sekarang yang mesum itu aku atau kamu?” tanya Rain sambil mempelototi Joey.


“Lagian, olahraga apalagi kalo bukan olahraga kasur yang pernah aku lakuin bareng Om?”


“No. Kamu harus melakukan olahraga yang sebenarnya,” jelas Rain, “karena … untuk melakukan semua hal, tubuhmu harus selalu sehat dan bugar.”


“Terus, abis olahraga aku ngapain?” tanya Joey penasaran.


“Kembali fokus ke kuliah kamu, kejar mata kuliah yang ketinggalan dan aku akan mengajarkanmu sedikit demi sedikit bagaimana cara mengelola perusahaan,” jawab Rain serius.


“Jangan lupa, sekarang itu kamu adalah pemilik dari Shailendra Group, Hotel Leonidas dan Hotel Nerium Oleander.”


“Om!!!” Joey terbelalak kaget. “Itu … itu ‘kan banyak dan su- … sah.”


Joey menunduk lemas. Benar … di usia yang masih sangat muda ini ia telah menjadi pengusaha yang kaya raya dengan aset serta kepemilikan saham yang besar. Meskipun semua itu pemberian dari pelita hidupnya, tetap saja ia harus mengurusnya dengan baik dan benar. Hanya saja, ia sama sekali tak memiliki pengetahuan di bidang itu.


Rain memegang kedua tangan Joey dan menatap gadis itu dengan seksama. Benar, semua itu tak mudah. Apalagi gadis itu tak memiliki sedikitpun pengetahuan tentang mengurus bisnis. Ia saja membutuhkan waktu beberapa tahun belajar di luar negri untuk handal dalam mengelola bisnis keluarganya.


"Aku tahu … ini sulit,” gumam Rain pelan. “Tapi, akan selalu ada kekuatan selama niat itu ada.”


“You are not alone. Aku akan selalu di sampingmu dan membantumu di saat kesulitan."

__ADS_1


Joey menghela nafasnya. Benar apa yang dikatakan Rain. Kekuatan itu selalu ada di saat niat dan tekad kita sudah bulat. Tapi, memikirkannya saja sudah membuatnya begitu pusing. Ia tak memiliki bakat dibidang pengelolaan hotel. Begitu juga dengan Shailendra Group, bisnis itu bergerak di bidang makanan dan minuman. Memangnya, dia bisa menguasai dua bisnis yang berbeda itu dalam waktu yang sama?


"Memangnya aku bisa, Om?" tanya Joey tak percaya diri. Ia mengangkat wajahnya dan menatap ke arah suaminya.


"Hmm... kamu bisa. Itulah kenapa kamu menjadi istriku," jelas Rain tegas. "Aku tak suka gadis yang lemah dan tak cerdas."


"Emangnya aku bodoh?" celetuk Joey sambil mencebik.


"Kapan aku bilang kamu bodoh, Sayang?" tanya Rain sambil terkekeh.


"Tadi Om bilang TAK CERDAS," Joey memberikan sedikit penekanan saat ia mengatakan 'tak cerdas'.


"Hahaha... bukan itu maksudku," kekeh Rain tak tahan. Perutnya dibuat geli karena tutur kata gadisnya yang menggelitik itu.


"Intinya, aku mau Oleander-ku ini menjadi seorang wanita yang kuat, tangguh dan mandiri," tutur Rain lagi.


"Gimana kalau suatu saat aku nggak ada? Aku nggak mau liat-"


"Om! Kenapa jadi bahas itu sih!" rengek Joey sambil cemberut. Ia memeluk tubuh suaminya. "Pokoknya, kita harus menua bersama dan menemukan ajal bersama! Nggak masalah kalo aku harus mati muda!"


"Ssttt... ucapanmu itu!" geram Rain gemas. Ia membalas pelukan istrinya dan mengelus-elus punggung gadis itu dengan penuh kasih sayang.


"Nggak mau tau! Pokoknya aku nggak bisa hidup kalo nggak ada Om di sisiku!" tegas Joey dengan lantang.


Rain tersenyum. Entah kenapa, kata-kata bahwa gadis itu tak bisa hidup tanpanya membuat hatinya terasa hangat dan benar-benar bahagia. Ia merasa sangat dicintai dan keberadaannya benar-benar berarti untuk gadis itu.


"Ya. Ayo kita menua bersama," gumam Rain sambil mengecup lembut kepala Oleander kesayangannya.


Setelah melewati percakapan romantis pada pagi itu, keduanya pun beranjak dari ranjang dan menuju ke ruangan fitness pribadi yang ada di penthouse. Ruangan fitness pribadi itu menyuguhkan pemandangan kota metropolitan Jakarta. Sangat indah, seperti sedang berolahraga di atas awan.


Joey memulai olahraga paginya dengan sedikit gerakan pemanasan, kemudian ia berlari di atas treadmill. Sedangkan Rain? Pria itu duduk di atas kursi roda dan lebih memilih mengangkat dumbbell di tangan kiri dan kanannya. Keduanya berolahraga dengan sangat bersemangat pagi itu sampai keringat mengucur di seluruh tubuh.


Sembari berlari di atas treadmill, Joey menatap langit luas yang sedang mendung dengan sedikit gerimis. Ia bertekad untuk menjadi seorang wanita yang kuat, tangguh dan mandiri sesuai yang dikatakan oleh Rain.


"Benar ... aku harus menjadi wanita yang kuat dan tak mudah untuk dilengserkan. Dengan begitu, tak ada yang bisa berada di sisi Om Rain selain aku!" gumam Joey dalam hati dengan mata yang berapi-api.


"Om tenang aja. Aku akan menjadi sekuntum Oleander yang beracun dan mematikan untuk orang lain. Tapi untukmu, aku akan menjadi sekuntum bunga yang indah serta penawar dari segala racun yang ada!"


...****************...

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2