OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Rumah Untukku Pulang


__ADS_3

...“Jadi, kalo aku udah sehat, Om bakalan pergi ke wanita itu lagi?” – Joey...


...🌸...


...“Situasi yang ku hadapi saat ini benar-benar membuatku kesulitan. Aku harap, kamu mau menjadi rumah ternyaman tempatku pulang. Bertahanlah sedikit lagi dan jadilah gadis yang kuat.” – Rain...


...🌸🌸🌸...


"Om Rain!"


Joey merengek dengan suaranya yang serak. Gadis itu mengerlingkan matanya ketika Rain mengucapkan kalimat vulgar di saat ia sedang serius.


"Hmm?" Rain mendehem sambil mengecup lembut bibir kering gadis itu. “Cemberutmu menggodaku.”


"Aku lagi serius, Om!" ketus Joey sebal.


"Ugh!" entah kenapa, tiba-tiba saja rasa sakit di kepala Joey kembali terasa dan kini malah memberikan sensasi mual. Perutnya menjadi tak nyaman seperti ada sesuatu yang mendesak ingin di keluarkan segera. Kerongkongannya seperti sedang di obok-obok.


Joey sempat terkoek-koek beberapa kali karena sensasi yang tak nyaman di perutnya saat ini. Ia berusaha bangkit dari tidur meski sedikit kesulitan karena tubuhnya yang masih meriang dan nyeri.


Melihat gadisnya terkoek-koek ingin muntah, bukannya khawatir, Rain malah tersenyum sumringah. Ia bergegas bangkit dari tidurnya dan menggendong tubuh mungil gadis kesayangannya menuju wastafel kamar mandi.


Setibanya di kamar mandi, Joey berusaha muntah, tapi tak ada yang keluar dari perutnya. Aneh, padahal perutnya mual dan sejak tadi seperti ada yang mau keluar. Merasa tak ada gunanya ia memaksakan muntah, Joey memutar tubuhnya ke belakang menghadap Rain.


"Om kok senyam senyum?" tanya Joey heran saat menyadari pria itu tersenyum sumringah sejak di ranjang tadi.

__ADS_1


“Nggak,” ucap Rain sambil menggelengkan kepalanya.


“Ish! Om, aneh!” gerutu Joey.


Lagi-lagi Rain hanya tersenyum. “Ayo, lanjut istirahat. Aku akan memesan sarapan.”


Rain mengalungkan kedua tangan Joey ke lehernya, lalu ia menggendong tubuh gadis itu menuju ranjang. “Lagi pengen makan apa?”


Joey memainkan bibirnya ke kiri dan ke kanan sambil berfikir. “Hmm… sebenarnya aku lagi pengen sesuatu, sih.”


“Apa?” Rain mendudukkan tubuh gadisnya bersandar di ranjang, lalu ia menyelimuti tubuh gadis tersebut. Kemudian, ia duduk di sisi ranjang sambil meraih ponselnya yang ada di atas meja kecil samping ranjang.


“Es kacang merah!” seru Joey semangat dengan nada yang serak.


Rain menjentik dahi Joey sesaat setelah gadis itu mengatakan ia ingin makan ‘es kacang merah’ di saat sakit seperti ini.


“Udah sakit, tapi nggak tau diri!”


“Setidaknya aku selalu sadar diri kalo kita nggak pernah bisa bersama,” gumam Joey pelan sambil mengusap dahinya yang perih akibat jentikan Rain.


Rain menghentikan jempolnya yang sedari tadi sibuk mencari menu makanan di aplikasi online. Ia melihat ke arah Joey sambil mendekatkan wajahnya ke wajah gadis tersebut. “Ulang? Aku nggak denger.”


Joey me.re.mas jemarinya sambil menunduk. Wajahnya yang sempat bersinar tadi, kini kembali mendung, tak beda dengan cuaca di pagi itu yang juga mendung.


“Setidaknya aku selalu sadar diri kalo kita nggak pernah bisa bersama,” ulang Joey dengan suara yang serak.

__ADS_1


Rain memegang pipi kanan Joey. “Kita pesan sarapan dulu ya?”


“Setelah itu, aku akan menceritakan padamu semua kekacauan yang terjadi,” sambung Rain.


“Semua?” tanya Joey memastikan sembari mengangkat wajahnya menatap Rain.


“Hmm… kalo ada yang membuatmu penasaran, tanyakan saja. Aku akan menjawab semuanya, karena aku di sisimu sampai kamu benar-benar pulih,” jawab Rain sambil mulutnya melengkung membentuk senyuman.


“Jadi, kalo aku udah sehat, Om bakalan pergi ke wanita itu lagi?”


Tersirat ketakutan dan kecemasan yang sedang berkelabat di pikiran gadis itu saat ini. Entah kenapa, ia merasa bahwa dirinya saat ini sangat plin plan. Apa yang ia putuskan kemaren, berbeda dengan hari ini. Sebelumnya dia ingin mandiri dan tak ingin bergantung pada pria tersebut lagi, tapi sekarang, entah kenapa rasa ingin memonopoli pria itu semakin kuat. Pendiriannya dibuat tak teguh akibat kehangatan yang pria itu berikan.


Rain menghela napasnya. Ia meraih tubuh lemah tersebut ke pelukannya sambil mengusap lembut punggung gadis itu.


“Situasi yang ku hadapi saat ini benar-benar membuatku kesulitan. Aku harap, kamu mau menjadi rumah ternyaman tempatku pulang. Bertahanlah sedikit lagi dan jadilah gadis yang kuat,” bujuk Rain lirih.


Hati Joey terenyuh akibat ucapan pria tersebut. Di balik kata-kata tersebut, tersimpan berjuta kekhawatiran, keputus asaan, ketakutan dan permintaan yang sedang berkecamuk. Hatinya tergerak. Apa sebaiknya ia mendengarkan dulu apa yang akan di ucapkan oleh pria tersebut? Baru setelah itu ia mengambil keputusan yang matang?


Joey membalas pelukan Rain. “Aku mau bubur kacang ijo sama roti bakar blueberry.”


“Haaa… Oleander-ku telah kembali,” Rain menghela napas lega. Ia mengecup dahi gadis tersebut dengan hati yang girang.


...****************...


BERSAMBUNG…

__ADS_1


__ADS_2