OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Keluarga Yang Hangat


__ADS_3

...“Ayo kita bina keluarga yang hangat dan penuh dengan kebahagiaan.” – Joey...


...🌸🌸🌸...


Suasana ruangan mewah VVIP yang Ravi tempati saat itu mendadak mencekam. Joey sadar, kehadirannya di sana benar-benar tak diinginkan. Terlebih lagi hingga saat ini ia belum mendapatkan restu dari Ravi dan Hana. Apa keputusannya ke sana untuk menjenguk salah?


“Om … maaf banget kalau lancang. Aku cuma mau memastikan Om baik-baik aja, nggak lebih. Aku hanya khawatir dengan kesehatan Om,” ucap Joey dengan jantung yang berdebar-debar.


Ravi terhenyak. Lagi-lagi hatinya mendadak penuh dan sesak. Saat kedua anaknya tak peduli dengan keadaannya, bahkan ia mati sekalipun, saat itu juga ada menantu yang datang menjenguknya hanya untuk memastikan keadaannya baik-baik saja.


“Kenapa selama ini aku buta?!” gumam Ravi kesal sambil menyeka kasar wajah keriputnya. Matanya memanas dan berkaca-kaca.


“M-maksud, Om?” Joey tak mengerti dengan ucapan Ravi. Dahinya mengkerut. Ia menoleh ke arah Zea yang ada di sisinya saat itu.


Di saat yang sama juga, Hana datang mendekat ke arah suaminya. Lalu ia memeluk lengan suaminya.


“Siapa yang kamu panggil, Om?!!!” bentak Ravi dengan suara yang kasar dan lantang.


“Aku ini ayah mertuamu! Jangan panggil Om! Tapi panggil aku Papa!” ucap Ravi dengan tangis yang mulai pecah.


Tak ada lagi rasa malu dan gengsi yang tinggi pada pria tua itu. Ego yang selama ini ia junjung tinggi, seketika lenyap hanya karena ketulusan Joey yang tak berarti apa-apa bagi Joey. Di saat semua orang yang Ravi cintai menjauhinya, kenapa malah orang yang ia benci datang mendekat dan mengkhawatirkannya?!


Ravi terjatuh ke atas lantai dengan tubuh dan sorot mata yang putus asa. Wajahnya memerah dengan airmata yang tak henti-hentinya keluar. Ia tertunduk dengan bahu yang turun. Hana ikut duduk merangkul tubuh suaminya. Meskipun suaminya telah berbuat salah, tak dapat ia terima jika suaminya harus berlutut di depan gadis muda yang merupakan menantunya.


“Maafkan aku, maafkan atas semua kejahatan yang aku buat selama ini,” isak Ravi pilu. Ia membuang semua rasa malu dan gengsinya. Egonya benar-benar lenyap tak bersisa. “Maafkan aku yang tak menyambut dengan baik menantu di keluarga ini. Aku benar-benar seorang ayah mertua yang payah.”


Joey ikut berlutut di depan Ravi. Gadis itu menyetarakan tingginya dengan Ravi. Ia meraih tangan kanan Ravi dengan mata yang memanas dan berkaca-kaca. Kali ini, dada Joey yang mendadak sesak dan pilu. Rasanya begitu penuh hingga ia kesulitan bernafas.

__ADS_1


“Papa … yang berlalu, biarlah berlalu. Ayo kita bina keluarga yang hangat dan penuh dengan kebahagiaan. Sebentar lagi Papa bakalan jadi seorang kakek,” ucap Joey sambil menggenggam erat tangan kanan ayah mertuanya.


"Kamu hamil?!" seru Ravi dengan wajah yang mulai cerah. Meskipun airmata masih membasahi pipi.


"Hmm," Joey mengangguk pelan sambil mengulum senyum. "Aku hamil, Pa."


“Mama,” Joey meraih tangan kanan Hana. Lalu ia menggenggam erat tangan kanan wanita tua itu dan menyatukannya ke tangan Ravi yang ia genggam sejak tadi.


“Terima kasih karena udah menerima ku yang orang rendahan ini. Menjadi bagian dari keluarga besar ini benar-benar anugerah terindah dalam hidupku. Terima kasih udah membuka pintu hati untukku menjadi bagian dari keluarga ini,” ucap Joey dengan airmata yang mengalir membasahi pipi.


“Joey...”


Secara serentak Ravi dan Hana memanggil nama gadis itu. Mereka bertiga langsung berpelukan di atas lantai dengan perasaan yang penuh haru. Isak tangis yang terdengar bukan lagi isak tangis karena sedih dan kecewa, melainkan isak tangis yang penuh dengan kebahagiaan.


Zea yang sedari tadi berada di ruangan itu, ia hanya tersenyum dan ikut mengeluarkan airmata. Bagaimana bisa keluarga yang sebelumnya terkenal keras bisa mencair dan menjadi hangat? Andai tadi ia bersikeras melarang Joey datang menjenguk Ravi, mungkin peristiwa baik ini tak akan terjadi.


“Sekarang aku mengerti, kenapa Om Rain setergila-gila itu padamu, Joey,” lirih Zea pelan sambil tersenyum lega.


Rain berdiri di depan pintu dengan nafas yang terengah-engah. Ia langsung berlari menuju rumah sakit saat mendapatkan pesan singkat dari Brown anggota Leons yang diperintahkan untuk menjaga Joey dari jarak jauh. Mata Rain membulat dengan sempurna saat melihat pemandangan aneh di depan matanya.


“Sayang?” sapa Joey saat menoleh ke belakang ke arah Rain yang sedang berjalan dengan pelan ke arahnya.


“A-apa ini? A-apa … yang terjadi?” tanya Rain heran dan penuh penasaran.


“Papa, aku harap ini bukan sandiwara untuk menghancurkan hubunganku dengan istriku,” ucap Rain dingin sambil memapah tubuh Joey berdiri di sisinya. Lalu ia memeluk tubuh istrinya seperti seekor singa yang sedang menjaga betinanya.


“Om, ini nggak seper-“

__ADS_1


“Sayang, diam. Biarkan aku yang bicara,” potong Rain tegas dengan suara yang dingin.


Ravi berdiri bersamaan dengan Hana. Kedua orangtua yang sudah renta dan keriput itu berjalan mendekat ke arah Rain. wajah sendu dan mata memerah milik Ravi dan Hana sangat membuat Rain penasaran. Sebenarnya, apa sih yang terjadi? Lalu kenapa mereka bertiga berpelukan seperti tadi?


“Nak, sering-seringlah bawa Joey pulang ke rumah. Seperti yang Joey katakan, ayo kita bina keluarga yang hangat dan penuh dengan kebahagiaan. Papa nggak sabar ketemu cucu Papa,” ucap Ravi dengan suara yang serak.


Meskipun ia malu untuk mengatakan maaf pada Rain yang sifatnya keras kepala sama sepertinya, tapi ia berusaha memperbaiki hubungan antara dia dan anaknya menggunakan cara yang lain.


“Iya. Mama juga mau masakin makanan yang enak-enak buat Joey. Maaf, karna selama ini Mama nggak pernah menyambut menantu keluarga ini dengan baik,” timpal Hana dengan sudut yang melengkung membentuk senyuman di wajah keriputnya.


Ucapan Ravi dan Hana sukses membuat Rain terbelalak. Ia benar-benar kaget dan sangat sulit menerima kejadian yang ada di depan matanya saat ini. Bagaimana bisa benang kusut yang tak kunjung lurus selama puluhan tahun itu mendadak lurus dan rapi? Sebenarnya, apa yang terjadi?


“Sayang,” Joey melepaskan tubuhnya dari pelukan erat Rain. Kemudian ia menatap Rain dengan tatapan yang hangat dan mata yang membuat siapapun meleleh dan mencair.


“Terlepas dari semua yang terjadi, ayo kita perbaiki semua hal-hal yang rusak sejak lama. Tak ada salahnya jika melupakan dan memaafkan semua kejadian yang telah berlalu,” sambung Joey dengan lembut.


“Arghhh!!! Nggak segampang itu, Sayang!” Rain menolak mentah-mentah dengan apa yang dikatakan oleh Joey barusan.


Benar, tak ada salahnya memaafkan dan melupakan semua yang terjadi. Tapi, ia tak bisa menerima kepergian ibunya yang mati mengenaskan tepat di pelukannya. Walaupun itu sudah lama sekali, memangnya segampang itu mengobati luka yang sudah mendarah daging?!


“Ikut aku pulang!” Rain meraih tangan Joey dan menarik istrinya keluar dari ruangan tersebut.


“T-tapi-“


“Jangan buat aku marah!” bentak Rain dengan suara yang lantang.


Tanpa berani melawan, Joey izin pamitan dengan Ravi dan Hana sebatas memaksakan senyum dan menganggukkan kepala kepada dua orang yang sudah tua itu. Kemudian ia berlalu pergi mengikuti Rain yang menarik tangannya keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


...****************...


BERSAMBUNG…


__ADS_2