
..."Setelah ini, jangankan melarikan diri, melupakanku sedetik saja, akan ku penuhi rahimmu dengan sel-sel milikku dan ku buat tubuhmu tak bisa berjalan setiap kali bangun dari tidur." - Rain...
...🌸🌸🌸...
Joey bergegas menyelesaikan makannya, setelah itu ia mencuci tangannya di wastafel dan mengambil kotak kecil yang ditinggalkan oleh Rain sebelum pergi. Seperti kotak perhiasan pada umunya, berwarna biru tua dan minimalis.
Karena kepanasan oleh pakaiannya yang tebal, Joey memutuskan untuk membuka kotak tersebut di kamar. Ia pun berlari terseok-seok menuju kamar dan segera mengunci pintu kamarnya. Setelah itu, ia melepaskan semua pakaian yang membaluti tubuhnya hingga tersisa dress tidur berwarna salem.
"Sok-sok romantis, dia pikir aku bisa diumpan pake beginian?" Joey mencebikkan bibirnya membuka kotak perhiasan tersebut.
"Oh my ...."
Gadis itu terperangah sambil menutup mulutnya saat melihat liontin yang begitu bagus yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
"B-bagus!"
Joey langsung mengeluarkan liontin tersebut dan mengalungkannya di leher, lalu gadis itu segera berkaca.
"Sumpah ini bagus banget!" gumam Joey sambil melihat ke arah pantulan tubuhnya di kaca. Ia membelai liontin yang tergantung di lehernya dengan pelan.
"Aku pake ini karna menghargai Om Rain kok. Jadi, pria mesum itu nggak usah ge'er!" gadis itu tak ingin mengakui bahwa ia senang dengan hadiah pemberian pria mesum itu.
Drrttt... Drtttt...
Sebuah panggilan masuk dari Ace.
"Hallo, Kak!"
^^^"Hallo."^^^
^^^"Kamu sibuk nggak? Maaf aku gangguin, tapi ini mendesak."^^^
Suara Ace terdengar panik dan napasnya terengah-engah.
"Ada apa, Kak?"
^^^"Barusan aku mendapatkan panggilan dari seorang staff hotel."^^^
^^^"Kata mereka, Kak Felix sedang mabuk berat dan berbuat onar, jadi aku disuruh mereka untuk menjemput Kak Felix ke sana."^^^
^^^"Jika aku menjemputnya sendiri, aku nggak tau ntar yang urusin hal-hal lain siapa. Bantuin aku ya sekali ni?"^^^
"Ayo! Jemput aku ke apartemen ya, Kak!"
Joey langsung menawarkan dirinya untuk menemani Ace menjemput Felix ke sebuah hotel. Felix merupakan kakak kandung Ace dan juga merupakan idol terkenal. Itu lah kenapa ia harus dijemput dan tidak boleh sampai ada yang tahu kalau Felix berbuat onar.
Tiga pulih menit berlalu, Ace akhirnya tiba di lobby. Joey yang sudah menunggu sedari tadi, ia bergegas masuk ke dalam mobil dan mobil tersebut pun melaju ke arah hotel yang mereka tuju.
...****************...
Bip ... Bip ... Bip ...
Ponsel Rain tiba-tiba berbunyi dan memberikan sebuah isyarat. Pria tampan yang sedang fokus menatap padatnya jalan raya dari dalam mobil pada siang hari itu, langsung bergegas membuka ponselnya.
"Di pakai juga," gumam Rain sambil tersenyum kaku.
__ADS_1
Rain mendadak mengerutkan keningnya saat menatap layar ponsel. Apalagi saat ia melihat gambar ikon Oleander yang bergerak-gerak menjauhi Apartemen Danendra di mana ia tinggal, kerutan di keningnya semakin bertambah.
"Ck! Baru ditinggal sebentar, langsung kabur!" pikir Rain. Pria itu memijat pelan pelipisnya sambil menghela napas.
"It's okay, selagi nggak aneh-aneh."
Rain kembali menatap jalanan yang padat sambil melonggarkan dasinya. Entah apa yang membuatnya kesulitan bernapas, yang jelas saat ini pria tersebut merasa tak tenang.
Sesekali mata pria tampan tersebut menatap ke arah layar ponselnya. Namun, tatapan terakhirnya berhenti saat melihat ikon Oleander di layarnya berhenti di sebuah titik yang membuatnya tak tenang.
"Harry! Putar mobilnya ke Hotel Zynburgh!" titah Rain.
"Tapi, Pak. Kita hampir sampai ke rumah-"
"Aku nggak berbicara dua kali," kecam Rain dengan sorot mata yang mengancam.
Harry yang sadar akan tatapan mengancam Rain lewat kaca spion dalam mobil pun bergegas memutarkan mobilnya dan melaju menuju Hotel Zynburgh. Sepertinya, cip GPS yang ia pasangkan di liontin pesanan khusus Rain untuk Joey telah bekerja.
...****************...
Mobil yang ditumpangi oleh Ace dan Joey telah tiba di basement Hotel Zynburgh. Keduanya menaiki lift dan turun di lobby ground.
"Kita ke resepsionis sebentar. Aku akan meminta akses menuju kamar Kak Felix," ucap Ace pada Joey. Joey hanya mengangguk mengiyakan.
Selang beberapa menit setelah ke resepsionis, Ace kembali.
"Ayo!" ucap Ace seraya meraih tangan kanan Joey.
Kedua muda mudi tersebut menuju lift dan memencet tombol 7.
Ting!
"Loh, kok nggak ada orang," ucap Ace sambil matanya berkeliling ke dalam ruangan hotel yang mewah tersebut. Joey yang tak mengerti apa-apa hanya ikut masuk ke dalam hotel tersebut dengan wajah yang bingung.
"Kayaknya Kak Felix udah pulang deh," ucap Joey.
Ace tak mengindahkan ucapan Joey. Pria itu pergi ke kamar mandi dan balkon untuk menemukan Felix, namun sosok yang ia cari tak kunjung muncul.
"Sayang, maaf ya," ucap Ace dengan wajah bersalah.
"Nggak apa-apa, Kak. Kalo nggak ada, ayok kita pulang."
"Bentar deh, aku mau mastiin dulu ke staff hotel ini. Takutnya ntar Kak Felix jalan sendiri. Gimana kalo gosip ini tersebar?"
"Bener sih. Yaudah kalo gitu ayo kita ke resepsionis lagi!"
"Nggak. Kamu di sini aja bentar. Lagian kaki kamu belum sepenuhnya pulih. Biar aku aja yang turun sendiri," Rain mengambil botol minum yang ada di atas meja dan memberikannya kepada Joey yang sedang menduduki sisi ranjang yang ada di kamar tersebut.
"Minumlah, kayaknya kamu haus dari tadi. Maaf aku membuatmu cemas dan berlari-lari," Ace tersenyum penuh makna saat melihat Joey meraih botol minum yang ia berikan. Senyumnya semakin dalam saat Joey menenggak setengah botol dari air kemasan tersebut.
"Nggak apa-apa ih! Kakak kok minta maaf mulu!"
"Hahaha... habisnya, aku nggak mau kalau gadis yang ku cintai kelelahan," ucap Ace.
Tak membutuhkan waktu lama, beberapa detik setelah Joey menenggak air kemasan tadi, seketika tubuhnya mendadak panas.
"Kak, kok aku pusing ya?" tanya Joey sambil memegang dahinya.
__ADS_1
"Loh kenapa? Atau aku ntar aja ke resepsionis nya ya!" ucap Ace sambil memegang kedua bahu Joey.
"J-jangan. Aku tunggu di sini aja, kakak boleh oergi sendiri 'kan? Karna badan ku tiba-tiba panas dan nggak nyaman," keluh Joey sambil memegang tengkuknya.
"Yaudah, ayok rebahan dulu. Kamu istirahat ya sambil aku ke resepsionis."
Joey tak menanggapi ucapan Ace, sebaliknya, gadis itu malah pasrah dan mengikuti apa yang Ace suruh.
Joey merebahkan tubuhnya ke atas ranjang sambil sesekali tubuhnya meliuk ke kiri ke kanan. Entah perasaan apa itu, ia pun tak tahu. Perasaan aneh yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, perasaan panas yang membuat sekujur tubuhnya mendadak lemas dan tak berdaya. Detak jantung yang mulai tak terkontrol, apalagi saat tangan pria tampan tersebut membelai lembut pipinya.
"Sayang? Kita ke dokter ya?" ucap Ace bersamdiwara.
"Ng-ngak, Kak. K-kakak s-sini deh!" Joey menarik lengan Ace sehingga pria muda tersebut terduduk di sisi ranjang tepatnya di sebelah tubuh Joey.
"Kak, t-tolong, i-ini p-panas ...." keluh Joey dengan wajah yang kian sendu.
Ace yang merasa sudah waktunya untuk ia bertindak karena gadis di depan matanya sudah masuk perangkap, pria itu pun mulai memberikan belaian lembut ke pipi kanan Joey.
"Aku akan membantu mu menyelesaikannya," bisik Ace dengan tatapan yang sangat mesum.
TITT!!!
Bunyi akses pintu yang terbuka.
BRAKKK!!!
Tiba-tiba pintu kamar hotel tersebut terbuka lebar dan dibanting dengan keras. Tampak dua orang pria bertubuh kekar berkulit hitam memasuki ruangan tersebut diikuti Rain dan Harry.
"Bawa dia!" suara lantang Rain menggema di ruang tersebut. "Terserah mau di apakan, asalkan dia masih hidup."
Mendengar titah dari Rain, kedua pria kekar berkulit hitam tersebut bergegas membawa tubuh Ace keluar dari ruangan tersebut.
"Brengsek!!! Lo liat aja ntar!!! Sampai gue lecet se senti aja, bokap nyokap gue nggak akan tinggal diam!" umpat Ace dengan suara yang melengking.
Rain tak mengindahkan ancaman Ace. Baginya, pria muda tersebut adalah hal sepele baginya, bahkan ia bisa menghabisi tubuh itu kapan saja dan menjadikannya santapan buaya di penangkaran buaya.
"Kita ke rumah sakit!" ucap Rain pada Harry, pria tersebut bergegas mendekati tubuh Joey yang sudah tak berdaya.
"P-Pak. Kita nggak butuh dokter. Cukup Bapak aja yang membantunya," ucap Harry saat melihat kondisi Joey yang aneh.
"Huh?"
"Gadis ini diberikan obat perang sang, jadi, jalan satu-satunya adalah menuntaskan rang sangan yang sedang bergejolak pada tubuhnya, jika tidak segera, akan berakibat fatal."
Rain menyeka paksa wajahnya. Pria tersebut terdiam sambil berfikir bagaimana cara agar dapat membantu Joey selain melakukan s e x. Harry yang merasa sudah cukup memberikan info pun segera meninggalkan ruangan tersebut dan menutup pintu.
"K-Kak Ace?" panggil Joey dengan suara yang lirih. "Panas, Kak."
Gadis muda yang sedang di bawah pengaruh obat tersebut meliuk ke kiri ke kanan, sehingga dress yang ia kenakan tersingkap dari paha mulusnya.
Rain mendadak menelan salivanya. Pria tersebut tak tau harus melakukan apa, yang ada dipikirannya saat ini adalah bagaimana cara agar ruangan ini menjadi dingin. Ia bergegas menurunkan suhu AC ruangan dan segera melepaskan dress sage yang Joey kenakan.
Terpampang dengan jelas seluruh tubuh putih mulus yang hanya berbalut bra dan panty milik gadis muda tersebut. Melihat pemandanhan indah di depan matanya, mendadak Rain terpancing, apalagi tubuh gadis itu bergoyang ke kiri dan ke kanan sehingga menciptakan lekukan yang sempurna.
"Setelah ini, jangankan melarikan diri, melupakanku sedetik saja, akan ku penuhi rahimmu dengan sel-sel milikku dan ku buat tubuhmu tak bisa berjalan setiap kali bangun dari tidur."
...****************...
__ADS_1
BERSAMBUNG...