OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Kabar Bahagia dari Zea


__ADS_3

..."Besok gue ke apartemen lu buat dinner, ya! Sekaligus ada kabar bahagia." - Zea...


...🌸🌸🌸...


Tok Tok Tok!


“Masuk!”


“Maaf, Pak. Ada tamu atas nama Joey Ainsley yang ingin bertem-“


“Suruh dia masuk,” potong Luca antusias. Ia yang saat itu sedang duduk di meja kerjanya dengan wajah sembrawut karena beberapa masalah yang ada di perusahaan, tanpa sadar ia langsung berdiri dari duduknya. Kemudian menatap ke arah pintu masuk dengan jantung yang berdebar-debar. Seketika, semrawutnya menghilang.


“Joey!” serunya sesaat Joey masuk ke ruangan memunculkan diri.


“Eum … selamat siang, Pak,” sapa Joey kikuk dan was-was.


“Duduklah,” Luca mengarahkan tangan kanannya ke arah sofa yang ada di ruangan itu agar Joey duduk.


Joey pun duduk di sofa tersebut berdepanan dengan Luca yang kini duduk di depannya.


“Sudah lama sekali ya,” tutur Luca sambil tersenyum sumringah. Entah kenapa, rasanya bahagia sekali saat didatangi oleh gadis itu. Beberapa bulan terakhir ini ia dibuat gelisah karena mendapatkan pesan singkat dadakan dari Joey bahwa gadis itu tak dapat melanjutkan kontrak kerjasama dan mentransfer uang pinalti.


“Iya. Kayaknya udah beberapa bulan berlalu ya,” sahut Joey sambil tersenyum.


“Pak … saya mau minta maaf soal kontrak yang sempat saya batalin sepihak,” sesal Joey dengan wajah yang penuh penyelasan. Ia merasa sangat bersalah sambil menggenggam kedua tangannya di atas paha.


“It’s okay. Dari peristiwa kamu diculik dulu aja, aku mengerti ada banyak hal yang selalu terjadi di luar keinginan kamu.”


Entah kenapa, Luca dapat memaklumi hal tersebut. Padahal, jika di perusahaan-perusahaan lain, jika sekalinya sudah mengakhiri kontrak sepihak, pasti sulit menjalin hubungan yang baik lagi dengan perusahaan. Karena terkesan mempermainkan bahkan menyepelekan perusahaan.


Joey tersentak kaget. Bagaimana bisa pria itu memakluminya? Bukankah apa yang ia lakukan sebelumnya merupakan tindakan yang fatal? Terlebih lagi ia seolah-olah memberikan harapan palsu.


“Tapi …” Luca kembali berbicara dengan sorot mata yang lekat ke arah Joey, “aku berharap agar kamu berubah pikiran.”


“M-maksud, Bapak?” tanya Joey.


“Batalkan niatmu untuk mengakhiri kontrak ini,” tutur Luca dengan wajah yang serius. “Aku akan mengembalikan uang pinalti dan memberikan beberapa keuntungan di awal untukmu.”


...****************...


Beberapa minggu kemudian, Joey mulai disibukkan dengan rutinitasnya sebagai seorang mahasiswa aktif, seorang pemilik perusahaan, penyanyi pemula sekaligus sebagai seorang istri. Jika dipikirkan secara logika, sepertinya sulit memegang tanggung jawab berat tersebut. Tapi, berkat Rain, gadis itu dapat melakukannya dengan baik.


"Gimana kandidat sekretaris kamu yang baru?" tanya Rain kepada Joey yang saat itu sedang mengerjakan tugas kuliahnya.


"Menurutku anaknya bisa diandalkan ... kalo Om gimana? Kan Om juga mendampingi aku waktu interview kandidat yang baru tadi," sahut Joey sambil matanya fokus ke layar laptop dengan aktifitas jari yang sibuk mengetik. Ia berbicara sambil sesekali menoleh ke arah Rain.

__ADS_1


"Aku sih no," jawab Rain singkat. Pria dewasa itu pun ikut bekerja bersebelahan dengan istrinya. Saat itu ia sedang memantau perkembangan beberapa hotel dan apartemen yang di kelola oleh Ravindra Group di beberapa negara melalui tablet yang ia pegang.


"No?" Joey menghentikan aktifitas mengetiknya sambil menoleh ke arah Rain.


"Hmm..."


"Kenapa?" tanya Joey penasaran.


"Waktu ditanyain alasan dia resign dari perusahaan lama, jawabannya karena pekerjaan yang overload dan gaji yang nggak sesuai," jelas Rain. Pria itu menjawab dengan mata yang fokus menilik beberapa laporan keuangan yang dikirimkan oleh karyawannya melalui email.


"Kan wajar. Siapa sih yang mau kerja overload kalo gajinya kecil?" celetuk Joey sambil menatap kembali layar laptopnya.


"Misalkan nih, ada karyawanmu yang resign. Terus di tempat lain dia menjelek-jelekkan perusahaanmu? Gimana?" tanya Rain dengan wajah tanpa ekspresi.


"Ih! Kesel dong!"


"Kamu yakin kandidat tadi nggak bakalan menjelek-jelekkan perusahaanmu saat dia resign nanti?" tanya Rain lagi.


"Eum ... nggak sih," jawab Joey ragu-ragu. Ia menghentikan aktifitas mengetiknya sambil kembali menatap Rain.


"Mencari sekretaris, apalagi sekretaris pribadi, carilah yang benar-benar bisa kamu percaya. Memang, kamu nggak bisa tau karna belum mengenal mereka, tapi kamu harus bisa membaca sikap dan attidude mereka saat interview," jelas Rain sambil menoleh ke arah istrinya.


Joey menghela napasnya berat. Sulit sekali pikirnya mencari seseorang yang bisa ia percayai. Apalagi ia tak memiliki teman yang sedang mencari pekerjaan. Andai ada ....


"Zea!" seru Joey seketika. "Aku telfon Zea bentar deh!"


"Hallo!"


^^^"Hallo ... ngh ...."^^^


Joey terbelalak saat mendengarkan suara Zea temannya. Suara yang terdengar berat dan aneh.


"Lo sakit?!"


^^^"Ng-nggak. Ke-kenapa?"^^^


"Oh ... besok ketemuan yok? Gue samperin. Sekaligus ada yang mau gue omongin."


^^^"Ahh ...."^^^


"Hei, lu aman nggak sih?!"


^^^"Ntar gue wa ya! Daahhh!"^^^


Sesaat kemudian, panggilan terputus. Joey mengerutkan dahinya sambil menatap ke arah Rain.

__ADS_1


"Kenapa, Sayang?" tanya Rain saat melihat istrinya kebingungan.


"Itu ... suara Zea kok aneh banget ya," gumam Joey pelan sembari melihat ke arah ponselnya. Ia menunggu sahabatnya itu mengirimkan pesan.


"Ih! Apa jangan-jangan tuh anak tidur sama cowo lain lagi?! Emangnya nggak kapok apa abis dipake terus ditinggalin gitu aja sama Kakel!" imbuhnya kesal. Ia kesal karena tak tega melihat sahabatnya itu disakitin saat ia pertama kali jatuh cinta. Dan yang lebih membuatnya sebal adalah, mahkota sahabatnya direnggut hanya untuk dinikmati, tapi tidak diseriuskan!


"Ajak aja dia ke sini, ntar tanyain baik-baik. Tapi kalo dia nggak mau ya nggak usah paksa. Itu urusan orang lain, Sayang. Jangan ikut campur," lirih Rain sambil melihat kembali ke arah tabletnya.


TING!!!


^^^"Besok gue ke apartemen lu buat dinner, ya! Sekaligus ada kabar bahagia."^^^


^^^"Oiya, porsinya lebihin satu buat pacar gue! 😌"^^^


Baru saja disebut-sebut, Zea mengirimkan pesan singkat pada Joey. Ia dibuat terbelalak saat membaca pesan singkat dari sahabatnya.


"Sayang! Zea mau bawa pacarnya ke sini besok! Kita dinner berempat!" seru Joey sambil menutup mulutnya karena terkejut.


"Baguslah, besok suruh aja orang kitchen menyediakan makan malam di penthouse," sahut Rain dengan mata yang fokus ke arah tablet tanpa sedikitpun merasa terganggu karena sejak tadi istrinya tak henti-henti mengoceh dan mengganggunya bekerja.


"Om ..." panggil Joey sambil mendekat ke arah Rain. Kemudian dengan nakalnya gadis itu mengambil tablet suaminya yang sedang bekerja.


Rain melihat ke arah Joey dengan wajah yang bertanya-tanya.


"Aku ... pengen," Joey tersenyum nakal. Kemudian ia menaiki paha suaminya dan duduk di atas paha tersebut sembari menghadap suaminya.


"Ck!" Rain tersenyum penuh arti. Sesaat setelah Oleander-nya mengatakan kalimat tersebut, benda sakti miliknya perlahan mengeras.


"Ih! Om! Aku 'kan baru ngomong aja, kok itunya langsung keras?" tanya Joey saat merasakan ada yang keras menyentuh selang.kangannya.


"Mungkin karna udah malam? Udah saatnya untuk dia diberi jatah?" Rain berbicara dengan nada yang nakal sembari tersenyum setengah.


Tanpa berkata-kata, Joey bergegas melu.mat bibir suaminya sembari menggesek-gesekkan selang.kangannya ke arah benda keras yang semakin lama semakin mengeras itu.


"Om ... aku mau melakukannya di sini," liri Joey pelan.


Tanpa berkata-kata, Rain memulai aksinya memberikan pemanasan sebelum bercinta pada Joey. Kemudian, setelah pemanasan beberapa menit, benda saktinya sudah cukup sesak dan ingin segera dimasukkan. Keduanya pun melepaskan pakaian mereka secara bersamaan dan bergegas melakukan penyatuan tubuh untuk bercocok tanam dengan posisi yang masih seperti tadi.


Ruangan kerja tersebut dipenuhi dengan suara desa.han dan leng.uhan dari keduanya yang sedang terhanyut oleh kenikmatan yang membuat mereka mengawang-awang. Joey dibuat terisak-isak keenakan akibat sodokan yang Rain berikan dengan sangat bertenaga meskipun ia lumpuh di mata istrinya.


Kurang lebih dua puluh menit berlalu, mereka pun akhirnya tiba di puncaknya dengan suara eran.gan yang hebat secara bersamaan. Saling berpagutan dengan sangat erat, bahkan tubuh mereka saling menegang karena pelepasan.


"Aku belum puas," bisik Rain ke telinga istrinya yang kini terkulai lemas di atas tubuhnya. Ia pun mendorong kursi roda tersebut menuju kamar tidur dan kembali menggagahi tubuh istrinya berkali-kali sampai-sampai liang gadis itu dipenuhi cairan-****** ***** miliknya.


...****************...

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2