OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
The Biggest Love from You


__ADS_3

..."Thank you for the biggest love that you give to me. Aku janji, aku janji akan membahagiakanmu dengan segala upayaku." - Zayn...


...🌸🌸🌸...


“Jadi … maksud saya ke sini, ingin melamar Sara, anak Bapak,” ucap Zayn dengan wajah yang serius.


Saat itu, Hana mendampingi Zayn anak lelakinya. Ia menemani Zayn untuk mempersunting wanita yang anaknya cintai itu.


“Saya … sebagai orangtua Sara nggak bisa nolak kalau itu lamaran dari keluarga Ravindra, hahaha.” Alfred tertawa lepas saat mengatakan hal tersebut. Pasalnya, sudah sejak lama ia ingin sekali berbesan dengan keluarga Ravindra.


“Maaf sebelumnya. Saya ikut simpati atas kabar Pak Ravi yang saat ini sedang berada di rumah sakit. Kebetulan siang ini mau ke sana untuk jenguk Pak Ravi. Soalnya saya baru pulang dari London, malam tadi,” sambungnya.


“Pah.” Suara Sara tiba-tiba terdengar di saat Alfred sedang berbicara dengan tamu yang sedang melamar anaknya saat ini.


“Sara, pelankan suaramu,” ucap Alfred sambil menatap tajam ke arah Sara. “Sini duduk di samping, Papah.”


Sara hanya manut dan berjalan ke arah Alfred. Kemudian, ia duduk di samping ayahnya dengan wajah tertunduk. Meskipun selama ini sikap Sara terkesan berani dan blak-blak an, tapi saat di rumah ia berbeda. Ia benar-benar menjadi anak yang sopan dan mendengarkan ucapan orangtuanya.


“Maaf ya, Bu Hana. Anak saya memang gini. Maklum, sejak Mamahnya meninggal, dia jadi makin manja,” ucap Alfred sambil tersenyum ramah.


“Iya, nggak apa-apa,” sahut Hana sambil tersenyum. “Lagi pula, sebentar lagi saya juga bakalan jadi Mamah-nya Sara.”


Wajah Zayn terlihat begitu cerah dan riang. Ia benar-benar tak sabar ingin segera melangsungkan pernikahan antara ia dan Sara. Perasaan yang semula biasa saja saat melihat wanita itu tampil di televisi atau media sosial lainnya, kini berubah menjadi perasaan yang sulit dijelaskan. Perasaan bersemangat dan girang yang tak mampu diungkapkan dengan kata-kata.


“Jadi … saya berniat mengadakan pernikahan bulan depan,” celetuk Zayn tiba-tiba.


“Hah?! Bulan depan?!” Sara yang sejak tadi hanya diam dan menunduk, spontan ia mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Zayn.


“Saya setuju!” ucap Alfred dengan senyum yang lebar. Ia memegang tangan Sara sebagai isyarat agar anaknya itu tetap diam dan jangan membantah.


“Pah, kenapa harus bulan depan? Cepet banget, Pah,” bisik Sara ke telinga Alfred.


...****************...


Setelah pertemuan keluarga untuk melamar Sara, Zayn dan Hana memutuskan untuk pulang. Namun, sebelum Zayn melangkah meninggalkan rumah Sara, wanita itu menahannya.


"Mas, ada yang inginku bicarakan," ucap Sara tiba-tiba.


Zayn melihat ke arah Alfred dan Hana. Meskipun niatnya melamar Sara menggebu-gebu, tetap saja ia mati kutu saat berada di depan dua orangtua itu.

__ADS_1


"Bu Hana, gimana kalau saya yang anterin? Sekalian saya mau jenguk Pak Ravi ke rumah sakit," ucap Alfred yang mengerti akan situasi canggung tersebut.


"Boleh, boleh." Sahut Hana mengerti.


"Kalau gitu, aku dan Mas Zayn pamit dulu ya Pah, Tante," ucap Sara sambil tersenyum.


"Jangan panggil Tante, tapi Mama," Hana tersenyum ke arah Sara. Hal tersebut membuat Sara malu dan merona.


"Eh ... i-iya, Ma."


Setelah itu, Sara dan Zayn berpisah dengan kedua orangtua mereka. Kedua anak muda yang kini terikat hubungan yang serius itu, mereka memutuskan untuk naik mobil dulu meski belum tau tujuannya ke mana.


"Kita ke mana?" tanya Zayn sambil menghidupkan mesin mobilnya.


"Nggak tau. Yang penting jalan dulu aja," ucap Sara dengan mata yang terfokus lurus ke depan.


Zayn mendengarkan ucapan Sara. Ia pun melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Sara.


Kurang lebih beberapa menit telah berlalu. Mobil tersebut melaju tanpa tujuan yang jelas. Sedangkan mereka berdua belum juga terlibat dalam perbincangan apa-apa.


"Mas."


Keduanya saling berbicara secara bersamaan.


"Mas dulu aj-"


"Kamu dulu aj-"


Lagi-lagi mereka berbicara secara bersamaan. Keduanya saling menoleh dan bertatapan sekilas, kemudian tertawa. Rasa canggung itu mulai hilang.


"Apa yang membuat Mas yakin ingin menikahiku?" tanya Sara tiba-tiba. Sara memainkan jarinya karena gugup. Wajahnya tertunduk.


Zayn terdiam dengan mata yang tertuju ke depan karena fokus nyetir. Dengan nada yang lembut, pria itu mengungkapkan alasan kenapa ia begitu menggebu-gebu ingin menikahi Sara.


"Maaf kalau sebelumnya aku menjadikanmu sebagai objek untuk melampiaskan kekesalanku pada Mas Rain," tutur Zayn dengan wajah yang tiba-tiba menjadi sendu. "Ku pikir ... dengan aku merebutmu dari Mas Rain, aku bisa membuat dia terluka dan sakit hati. Tapi aku salah."


"Sebaliknya, aku yang sakit hati saat membayangkan wanita yang ku renggut mahkotanya akan menikah dengan pria lain." Sambungnya dengan suara yang berat.


"Apa ... Mas menikahiku karna perasaan bersalah karna udah-"

__ADS_1


"Nggak. Aku nggak yakin sejak kapan, tapi ..." Zayn menoleh ke kiri, ke arah Sara. "Aku mencintaimu, Sara."


Seketika Sara langsung terbelalak kaget. Jantungnya berdetak dengan sangat kencang saat mendengarkan ungkapan hati Zayn. Rencana yang ia buat untuk memiliki pria itu tidak berjalan dengan semestinya. Tapi, Zayn yang malah mencintainya dan melamarnya?!


Zayn menepikan mobilnya. Kemudian ia membuka seatbelt-nya. Lalu ia memposisikan tubuhnya menghadap Sara.


"Sara ..." Zayn mengambil tangan wanita itu dan menatapnya dengan penuh cinta. "Maaf jika pertemuan pertama kita terlalu hancur dan buruk. Aku bahkan membuatmu menjadi hina."


"Berikan aku kesempatan untuk menjadi pria yang lebih baik lagi di hidupmu. Aku ... aku belum pernah merasakan hatiku semenggebu-gebu ini untuk memiliki seseorang."


"Jadi ... sudikah kamu menjadi istriku? Aku janji aku akan menunggumu untuk mencintaiku dan-"


"Setiap pukul empat sore, ada seorang pria yang selalu duduk bersandar di bawah pohon rindang yang ada di taman kampus," potong Sara sambil menggenggam erat tangan Zayn.


"Di bawah pohon itu, dia selalu membaca buku. Setiap hari kecuali hari minggu. Dia membaca buku sampai langit mulai menjingga," jelas Sara dengan mata yang berkaca-kaca.


"Mas ... mungkin Mas baru mencintaiku. Tapi ... aku lebih dulu mencintai Mas sejak sekian tahun yang lalu. Hanya saja ... aku nggak berani memulainya. Karna aku seorang wanita."


Tanpa terasa airmata membasahi pipi Sara. Rasa senang yang begitu dalam sampai-sampai sulit diungkapkan dengan kata-kata. Perasaan bahagia saat cinta yang bertepuk sebelah tangan ini akhirnya terbalaskan.


"Ku pikir ... ku pikir ..." sulit untuk Sara melanjutkan ucapannya. Hidungnya memanas dengan dada yang terasa begitu penuh. Ia menyeka airmata yang membasahi pipinya.


"Ku pikir, aku akan menikahi pria yang nggak aku cintai."


Sara terisak sesaat. Kemudian ia menarik nafas dan menghembuskannya dengan pelan. Di saat yang sama, Zayn terdiam seribu bahasa dengan wajah yang tak dapat diartikan oleh siapapun. Bahkan apa yang ada di pikirannya saat ini benar-benar sulit ditebak!


"Hahaha ... maaf aku jadi nangis dan terbawa suasana," Sara memaksakan senyum dan tawanya di sela-sela airmata yang tak henti-hentinya bercucuran. "Ahhh ... gimana nih, airmatanya keluar terus saking bahagianya. Maaf. Hahaha."


Tanpa berkata apa-apa, Zayn langsung memeluk Sara saat itu juga. Sejak tadi hatinya benar-benar ingin meledak saat mengetahui ada seorang wanita yang mencintainya begitu dalam dan begitu lama. Ia pikir, selama ini tak ada seorangpun yang mencintainya dengan tulus tanpa pamrih. Tapi ternyata semesta tak sekejam itu. Masih tersisa satu orang yang benar-benar tulus padanya.


"Maaf ... maaf aku terlambat menyadarinya." Tutur Zayn dengan suara yang serak. Ia memeluk tubuh Sara dengan sangat erat.


"Thank you for the biggest love that you give to me. Aku janji, aku janji akan membahagiakanmu dengan segala upayaku," jelas Zayn dengan perasaan haru yang sejak tadi meledak-ledak.


"I love you, Mas Zayn," Sara memeluk tubuh Zayn dengan sangat erat.


"I love you too, Sara," sahut Zayn sambil mengecup lembut dahi wanita itu dengan penuh cinta.


...****************...

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2