
...“Izinkan Papa menyayangimu.” – Ravi...
...🌸🌸🌸...
Seminggu telah berlalu, pembicaraan antara Joey dan Rain hanya sebatas kebutuhan saja. Kalau bukan menyuruh makan dan mengucapkan selamat bekerja, tak akan ada pembicaraan yang terjadi antara Joey dan Rain. Seminggu terakhir, Rain benar-benar menjadi pria yang pendiam dan tak berbicara sepatah katapun.
Malam itu, waktu sudah begitu larut. Hujan begitu deras membasahi bumi. Entah kenapa, ia turun. Padahal, saat ini merupakan musim panas.
“Ck! Yang seharusnya menangis itu aku, kenapa malah langit yang jadi cengeng!” rutuk Rain kesal sambil menghembuskan asap rokoknya.
Pria yang kini berusia tiga puluhan itu berdiri sambil menikmati hujan di balkon penthouse. Tangan kirinya menengadah untuk menampung rintikan air hujan. Hatinya begitu tenang saat rintikan hujan membasahi telapak tangannya.
“Sayang,” Joey tiba-tiba muncul di balkon dan memeluk Rain dari belakang. Gadis itu menempelkan kepalanya ke punggung kekar milik Rain.
“Hahaha, sejak kapan kamu terbiasa memanggilku sayang?” tanya Rain sambil membuang puntung rokoknya ke tong sampah yang tak jauh dari tempat ia berdiri. Kemudian ia membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Joey. Lalu ia memeluk tubuh istrinya itu dengan sangat erat.
“Aku rindu,” gumam Joey manja. Ia kembali memeluk tubuh Rain dengan erat dan menempelkan kepalanya ke dada Rain.
“Maaf,” ucap Rain tiba-tiba. Kemudian ia mengecup lembut puncak kepala Joey dan mendaratkan dagunya ke atas kepala gadis itu.
“Maaf selama seminggu ini aku jadi mendiamkanmu. Aku hanya bingung harus bagaimana dalam menghadapi peristiwa pelik ini?” tutur Rain lirih.
Joey menghela nafas pelan. Kemudian ia berbicara dengan suara yang lembut dan tenang.
“Aku nggak bisa menghakimi rasa sakit yang Om rasakan selama ini. Karena itu begitu menyakitkan dan tak ada yang tau sesakit apa itu. Tapi ….”
__ADS_1
Joey menengadah ke atas, ia menatap ke arah Rain dengan matanya yang seperti menghipnotis siapapun yang menatapnya.
“Menurut Om, apa Mama Luna akan bahagia di surga saat melihat anaknya terbelenggu dengan dendam dan tak bisa hidup bahagia?” tanya Joey pelan namun penuh penekanan.
“Aku tau, memaafkan itu nggak mudah. Tapi, cobalah lakukan itu untuk diri sendiri. Kita nggak bisa memperbaiki masa lalu, tapi kita bisa menata masa depan seperti apa yang kita inginkan,” sambung Joey lagi.
Rain terdiam. Ia tak mampu berkata-kata selain menatap mata Joey dengan penuh arti. Hati dan fikirannya berkecamuk. Satu sisi ia ingin memaafkan, namun di satu sisi lagi ia tak bisa terima bagaimana menderitanya Mama-nya saat meregang nyawa di pangkuannya.
“Aku nggak akan memaksa. Tapi … aku harap Om mau mencoba mendengarkan penjelasan dari Papa dulu. Setelah itu, Om bebas mengambil keputusan apapun. Aku akan selalu mendukung apapun yang Om putuskan,” ucap Joey penuh dengan kalimat semangat.
...****************...
“Masuklah, Papa nungguin kamu di dalam,” ucap Hana pada Zayn yang saat itu baru datang.
“Kenapa memanggilku ke sini?” tanya Zayn dingin. Ia berdiri di depan Ravi yang saat itu duduk di sofa.
Ravi tersenyum dengan sorot mata yang menatap nanar ke sebuah foto usang yang ada ditangannya. “Waktu kecil, kamu paling seneng kalau Papa gendong.”
Zayn terenyuh. Apa yang dikatakan oleh Ravi itu benar. Saat ia kecil dulu, setiap kali ayahnya pulang kerja, ia selalu berlari menyambut ayahnya dan segera minta di gendong. Ah… masa kecil memang selalu membuat siapapun menjadi melow.
“Apa maksud Papa sekarang? Terus terang saja. Aku nggak akan pernah membatalkan pernikahanku dengan Sara,” ucap Zayn dengan lugas. Dadanya membusung dengan angkuh. Wajah yang setengah terangkat dengan sorot mata tajam yang enggan menatap ke arah Ravi.
“Aku nggak peduli orang yang selama ini ada di sekelilingku tak pernah peduli dan tak pernah mencintaiku dengan tulus. Yang penting, aku punya Sara yang cintanya tanpa pamrih padaku. Hanya dengan satu orang itu saja, aku sudah bisa hidup dengan bahagia.” Sambungnya dengan gamblang.
“Maaf,” ucap Ravi dengan suara yang serak sambil melepaskan kacamatanya. Ia meletakkan kacamata tersebut ke atas meja.
__ADS_1
Zayn tersentak kaget. Keangkuhannya mendadak tersingkirkan sesaat. Ia menatap ke arah pria tua yang saat itu tertunduk sambil memijit-mijit batang hidungnya.
“Maaf, selama ini Papa udah jahat sama kamu,” ucap Ravi penuh penyesalan. Suara yang parau dan pilu itu benar-benar tak dapat dibendung dan ditutupi.
“Benar, maaf aja nggak cukup. Tapi, Papa harap … di sisa usia Papa yang tak lama lagi ini, Papa bisa mencintai dan menyayangi kamu dengan tulus. Papa nggak akan menentang apapun yang kamu ingin lakukan.” Sambungnya sambil terisak.
Ravi bangkit dari duduknya. Ia berjalan mendekat ke arah Zayn dengan mata yang bengkak dan memerah. Ia merentangkan kedua tangannya ke hadapan Zayn sambil memaksakan senyum, meskipun senyum itu terlihat bergetar dan dahi yang mengkerut karena ragu apakah pelukannya akan di sambut atau tidak oleh anak yang selama ini tak ia pedulikan itu.
“Izinkan Papa menyayangimu y-“
Zayn langsung memeluk erat tubuh Ravi. Ia tak membiarkan Ravi meneruskan ucapannya. Zayn yang semula angkuh, seketika benteng keangkuhannya itu mendadak runtuh. Ia terisak dan tersedu-sedu meluapkan rasa sebak di dada. Selama ini, ia begitu merindukan kehangatan pria yang ia anggap ayah itu.
“Memangnya, menyayangi anak sendiri harus minta izin, Pa?” isak Zayn pilu. “Andai tubuhku masih sekecil dulu, aku ingin sekali Papa menggendongku. Aku rindu saat-saat seperti itu.”
Ravi berusaha memposisikan tubuhnya untuk menggendong Zayn. Namun Zayn langsung melepaskan pelukannya sambil tertawa dalam tangisan. Matanya yang basah itu tak mampu menutupi rasa haru dan bahagia yang sudah sekian lama menghilang dari hidupnya.
“Pa, aku udah gede. Papa nggak akan sanggup menggendongku, hahaha,” tawa Zayn sambil menatap Ravi dengan penuh kasih sayang.
“Ya udah, Papa tunggu anak kamu aja. Papa bakalan gendong cucu Papa kayak Papa sering gendong kamu dulu,” ucap Ravi sambil tertawa disela-sela tangisnya yang perlahan mulai terhenti.
Di saat yang sama, di balik pintu ruang kerja Ravi, Hana terlihat sedang mengintip. Wanita tua yang sudah beruban itu pun ikut menangis haru. Sudah lama ia tak melihat kehangatan antara ayah dan anak itu. Entah kenapa, rasanya begitu menyenangkan dan sulit diungkapkan.
...****************...
BERSAMBUNG…
__ADS_1