OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Kupu-Kupu Liar


__ADS_3

...“Ck! Kamu menjadi liar ya?! Aku memeliharamu selama empat belas tahun agar menjadi seorang gadis yang tau diri! Bukan jadi Kupu-Kupu Malam!” – Rain...


...🌸🌸🌸...


BRAKKK!!!


Joey bergegas menuju kamar Rain dan mendobrak pintu kamar tersebut. Ia masuk ke kamar Rain dan mendekati pria yang sedang terlentang di atas ranjang dengan kaki yang menjuntai ke lantai. Rain menatap ke arah Joey yang berjalan mendekatinya, namun ia masih terlentang dengan posisi yang sama tanpa bergerak sedikitpun.


“Om!” pekik Joey dengan raut wajah yang memerah menahan amarah.


Rain menatap gadis tersebut dan menunggu apa yang akan gadis itu lakukan selanjutnya.


“Om nggak boleh gonta-ganti wanita!” seru Joey dengan nafas yang memburu.


“Ck! Dasar gadis aneh,” umpat Rain sambil mengalihkan pandangannya dari Joey. Pria itu memejamkan matanya dan meletakkan tangan kirinya ke atas dahi.


“Ka-kalo nanti Om sakit gimana? Nggak sehat kalo gonta-ganti pasangan!” tutur Joey dengan nada yang penuh dengan penekanan.


“Sana balik ke kamar, berisik!” usir Rain dingin.


“Om! Aku nggak bakalan bukain pintu buat wanita selanjutnya yang katanya mau dateng malam ini!”


Rain diam dan tak menjawab gadis itu. Entah kenapa, ada perasaan bahagia yang menyeruak di dada. Perasaan dikhawatirkan oleh seseorang, perasaan hangat yang ia rindukan namun tak dapat ia sentuh. Rasa bahagia yang berkecamuk di dada dan bercampur dengan rasa kecewa. Jika memang gadis ini sekhawatir itu padanya, lalu hal apa sih yang membuat Oleander-nya bersikeras untuk mengakhiri perasaan mereka?

__ADS_1


“Om, aku tau Om kesal karn-“


“Nggak usah ge’er, sana balik ke kamar kalo nggak mau ku per ko sa,” lagi-lagi Rain mengusir gadis itu tanpa melihat sekalipun ke arahnya. Entah kenapa pria itu memejamkan matanya. Mungkin menurutnya hatinya akan goyah jika ia menatap ke arah gadis tersebut.


Mendengarkan ucapan pria tersebut, Joey membuka dasternya dan memanjati ranjang tersebut merangkak ke atas tubuh Rain. “Oke, per ko sa saja aku.”


Rain membuka matanya paksa dan terbelalak melihat Oleander-nya kini berada di atasnya hanya mengenakan bra dan panty. Ia tak mampu menahan gejolak yang tiba-tiba saja membuncah dan batangnya mendadak keras.


“Hei!” sergah Rain lantang. “Balik ke kamarmu!”


“Nggak! Daripada Om kena penyakit seksual, lebih baik Om pakai saja aku!” Joey bersikeras meminta Rain menggunakan tubuhnya ketimbang harus menggunakan jasa Kupu-Kupu Malam. Meskipun alasan di balik itu semua adalah karena ia cemburu dan tak ingin melihat pria tersebut dengan wanita lain.


Rain bangkit dari tidurnya dan memposisikan tubuh Joey hingga terlentang ke ranjang, lalu kini pria itu berada di atas tubuh Joey. Ia menatap gadis tersebut dengan tatapan yang bengis dan rasa ingin segera ia lahap saat itu juga.


“Yakin dengan perkataanmu barusan?” bisik Rain sambil menyeringai. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu.


“Ck! Nggak ada niat lain,” ulang Rain kesal.


“Udah melewati malam panas dengan Kale? Oh, atau udah beberapa kali?” cecar Rain dingin.


Joey membulatkan matanya menatap tajam ke arah Rain yang menudingnya sudah tidur dengan pria blasteran tersebut. Ia tak menyangka bahwa pria itu akan berpikiran bahwa ia telah bercinta dengan pria yang baru saja ia kenal. Atas dasar apa pria ini menudingnya dengan hal-hal seperti itu?


“Oh… jadi udah bercinta beberapa kali,” Rain beropini sendiri sambil tertawa kecil. Ia meraih dagu lancip Joey dan mencengkeramnya dengan kuat.

__ADS_1


“Ck! Kamu menjadi liar ya?! Aku memeliharamu selama empat belas tahun agar menjadi seorang gadis yang tau diri! Bukan jadi Kupu-Kupu Malam!” sambung Rain dengan suara yang lantang hingga menggema di ruangan tersebut.


Rain dikuasai amarah saat membayangkan gadis kesayangannya dipakai oleh pria lain, ia juga menjadi semakin kasar dan ingin memakan tubuh gadis itu sampai benar-benar habis tak berdaya. Ingin sekali rasanya ia membuat gadis itu tau bahwa ia tak ingin ada pria lain yang menyentuh Oleander-nya, tapi ia bingung harus bagaimana? Karena jika ia memaksakan keinginannya, maka gadis itu akan semakin takut padanya.


“Aku udah jadi Kupu-Kupu Malam sejak Om mengambil kesucianku! Jadi tak ada salahnya ‘kan jika aku memberikan tubuhku pada Om Kale?!”


“Om Kale?! Om?!” Rain semakin mencengkeram kuat tangannya di dagu Joey sehingga gadis itu meringis kesakitan. Ia benar-benar marah saat mendengarkan gadisnya memanggil Kale dengan sebutan tersebut. Padahal, itu adalah panggilan yang biasa saja dan tak terdengar romantis, tapi entah kenapa hatinya mendadak terbakar saat gadis kesayangannya memanggil pria blasteran tersebut dengan sebutan ‘Om’.


“Ya. Jadi, per ko sa saja aku! Aku akan menikmatinya, setidaknya denganku Om nggak akan kena penyakit seksual.”


“Percaya diri sekali! Kamu pikir, kamu bersih setelah disentuh Kale?! Hmm? Pria itu pasti sudah memakai banyak wanita di luar sana,” sembur Rain dengan mata yang melotot.


“Aku jadi ragu memakaimu, bisa saja kamu yang sebenarnya berpenyakit karena tertular dari Kale!” tuduh Rain sambil melepaskan tangannya dari dagu gadis itu dan melemparnya ke kiri dengan kuat.


“Kembali ke kamarmu! Aku tak ingin menyentuh wanita yang berpenyakitan!” Rain mengusir Joey dengan suara yang lantang. Ia turun dari ranjang dan melepaskan kemejanya. Lalu ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi, menutup pintu kamar mandi dan membiarkan Joey terlentang di atas kasur.


“Hikss… hikss… hiksss…” Joey menutup mulutnya menahan tangis, namun tetap saja suara tangisan gadis tersebut terdengar terisak-isak saat Rain bergegas meninggalkannya sendiri.


Dengan berat hati, Joey bangkit dari ranjang tersebut, meraih dasternya di lantai dan keluar dari kamar tidur Rain. Ia masuk ke kamarnya dan membungkus tubuhnya menggunakan selimut, lalu ia menangis dengan sejadi-jadinya. Rasa sedih yang tak dapat ia jelaskan, rasa sakit yang tak dapat ia tunjukkan dan rasa cinta yang tak dapat ia tunjukkan. Ia benar-benar tersiksa dengan situasi rumit yang ia hadapi saat ini.


Di saat yang sama, Rain membiarkan tubuhnya berada di bawah aliran air hangat membasahi tubuhnya. Ia mengutuki dirinya karena telah berkata kasar dan menyakiti gadis kesayangannya. Namun tetap saja, ia cemburu dan kecewa saat gadis itu tak membantah bahwa ia telah bercinta dengan pria blasteran yang merupakan temannya. Apa mungkin mereka benar-benar saling mencintai? Dan Kale juga mencintai Oleander-nya? Jika benar, apa dia sanggup menerima kenyataan bahwa gadis yang ia cintai akan bersanding dengan pria lain?


“Haaa… semudah itu ia melebarkan pahanya pada pria lain.”

__ADS_1


...****************...


BERSAMBUNG…


__ADS_2