OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Santapan Makan Siang


__ADS_3

...“Menu makan siang ku kali ini, sepertinya lebih enak dari biasanya.” – Rain...


...🌸🌸🌸...


“Tapi Om harus menikahiku dulu!”


Joey mengucapkannya dengan penuh penekanan. Meskipun ia membenarkan Rain menerima usul pernikahan dari Pak Ravi, tapi ia memiliki syarat, yaitu Rain harus menikahinya.


Rain tak mampu menahan ketawanya. Ia tertawa terpingkal-pingkal di atas kursi roda. “Maaf. Aku membuatmu masuk ke rumah sakit sebanyak dua kali dalam seminggu ini."


“Apa karena itu juga pikiranmu jadi tak waras?” ejek Rain sambil menoyor kening Joey.


Joey bersungut manja saat melihat Rain tertawa dengan apa yang ia katakan barusan. Ia merasa bahwa pria itu mengetawakan pendapatnya.


“Memangnya kamu mau di madu?” goda Rain sambil menyeringai miring. “Aku sih, senang aja kalo burungku di urut oleh dua wanita.”


“Om!” pekik Joey tak tahan. Ia menyesal telah memberikan saran yang tak masuk akal itu. Pikirnya tadi, dengan menyetujui permintaan Pak Ravindra, bisa saja itu menjadi salah satu jalan jitu untuk mendapatkan posisi CEO di Group Ravindra. Lagipula, sesuai yang dikatakan Rain, memangnya ada wanita di luar sana yang mau menikah dengan pria lumpuh?


“Jadi Om sempat kepikiran pengen punya istri dua?!” kecam Joey sengit. Gadis itu terlihat sangat kesal saat membayangkan bahwa prianya menginginkan poligami. “Tau gitu ngapain aku nikah sama Om!”


“Hahaha… makanya, kalo berlawanan dengan hati kamu, ya jangan diusulkan dong, Sayang,” ucap Rain sambil mencubit pipi tembam Joey.


“Ya, ‘kan tadi Om bilang, memangnya ada wanita di luar sana yang mau sama pria lumpuh?!” ucap Joey terus terang tanpa sadar bahwa ucapannya secara tidak langsung mengatakan bahwa pria di depannya itu cacat.


Joey langsung menutup mulutnya menggunakan kedua tangan. Ia mengutuki dirinya karena berkata tanpa berfikir terlebih dahulu.


“Sorry, Om.” Gumamnya lirih dengan suara yang samar-samar terdengar karena tertutup oleh mulut.


“Tapi, kalau dipikir-pikir, ucapanmu ada benarnya juga,” celetuk Rain sambil memegang dagunya. “Aku menerima perjodohan dari Papa sambil terus mengurus Ravindra Group.”


“G-gimana kalo ada yang mau dijodohin sama Om?” tanya Joey ragu-ragu. Ia khawatir akan ada banyak wanita yang mau dijodohkan dengan prianya meskipun pria itu lumpuh.

__ADS_1


“Aku akan berhenti dari Ravindra Group dan kamu harus menafkahiku,” ucap Rain sambil tersenyum.


“Okay! Aku setuju,” ucap Joey. Ia merasa percaya diri karena kini ia telah memiliki beberapa aset yang baginya sudah cukup jika diseriuskan. Yang ia perlu lakukan sekarang adalah, mengasah diri untuk mengelola aset-aset yang telah dihadiahkan oleh Rain untuknya.


...****************...


Setelah empat hari berada di rumah sakit, kini Joey dan Rain akhirnya pulang ke penthouse. Joey telah bisa berjalan seperti biasanya dan tak lagi ada perban yang melilit tubuhnya. Sedangkan Rain, pria itu masih terduduk di atas kursi roda dengan perban di kaki yang masih membalut.


TING!!!


Pintu lift terbuka. Joey mendorong kursi roda yang diduduki Rain menuju kamar. Setibanya di kamar, Joey menghidupkan pendingin ruangan dan membuka tirai sehingga terpampang dengan jelas langit biru yang sangat cerah di siang itu.


“Om, aku mau telfon resepsionis. Om mau makan apa?” tanya Joey sambil duduk di sisi ranjang yang berdekatan dengan meja kecil. Ia ingin meraih pesawat telepon.


“Kamu,” ucap Rain sambil menatap ke arah dua bukit Joey.


“Om…” panggil Joey sambil mengerlingkan matanya. “Ini udah jam dua belas, kita belum makan siang.”


“Kan cuma sandwich dan susu,” protes Joey.


“Yaudah, kamu pesen dulu aja. Aku mau senam jari dulu di kamar mandi,” ucap Rain sambil menggerakkan roda kursinya agar berputar dan mengarah menuju ke kamar mandi.


Joey menghela napasnya. Pasalnya, pria dewasa itu benar-benar keras kepala. Ia bangkit dari duduknya kemudian menghadang jalan pria di kursi roda tersebut.


“Oke, oke. Tapi sekali aja ya, abis itu pesen makan,” ucap Joey sambil mencebik. Ia terpaksa mengiyakan permintaan pria itu daripada harus membiarkan pria itu melakukan pelepasan spermanya menggunakan jari.


Rain menyeringai mendengarkan ucapan gadisnya. “Tapi, aku ingin melihatmu menggunakan lingerie.”


“Ish! Om banyak maunya,” gerutu Joey.


“Iya, iya.” Sambung Joey sambil mendorong kursi roda Rain mendekati ranjang, kemudian ia memapah tubuh pria itu agar bisa naik ke atas ranjang.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Joey masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa set lingerie yang pernah dibelikan oleh Rain. Kali ini, lingerie tersebut berwarna nude dengan bahan yang transparan serta g-string yang memiliki belahan tepat di tengah-tengah lipatan daging tebalnya.


“Aku mandi dulu deh,” gumam Joey sambil melepaskan seluruh pakaiannya. Kemudian ia membersihkan tubuhnya, lalu mengeringkannya menggunakan handuk. Setelah itu ia menyemprotkan parfum ke tubuhnya dan mengenakan lingerie yang seksi itu.


Entah kenapa, kali ini jantungnya sangat berdebar-debar. Pasalnya, ia akan melayani pria itu. Wajahnya mendadak memerah saat membayangkan pergumulan panas yang akan mereka lewati sebentar lagi.


“Haa… aku jadi malu,” gumam Joey lirih saat melihat pantulan tubuhnya di depan kaca.


Dengan perasaan bergetar, Joey memberanikan diri memutar gagang pintu kamar mandi, kemudian ia melangkahkan kakinya keluar menuju ranjang di mana Rain sedang menunggunya. Namun, tiba-tiba saja ia menahan langkah kaki tersebut.


“Mending aku mabuk deh, biar nggak malu-malu amat,” gumamnya lagi. Joey memutar tubuhnya menuju dapur, kemudian ia mengambil botol wine yang ada di lemari kaca yang berada di sebelah kulkas.


Joey membuka botol wine tersebut dan langsung meneguknya dari botol tersebut tanpa menuangkan ke gelas. Pikirnya, jika ia mabuk saat memimpin pergumulan itu, mungkin rasa malunya akan hilang. Jadi, sebaiknya ia cepat-cepat saja mabuk dan kembali ke kamar.


Setengah botol wine telah ia teguk dalam waktu yang singkat. Joey mulai terhuyung-huyung. Ia berjalan menuju kamar di mana Rain berada sambil memegang botol wine. Jalannya yang terhuyung-huyung terlihat menggemaskan saat tubuhnya dibaluti lingerie yang seksi.


“Om Rain…” panggil Joey nakal sambil mendekat ke arah pria itu.


“Hei. Kamu mabuk di siang-siang begini?!” tanya Rain sambil memegang kedua pipi Joey. Ia mengambil botol wine yang gadis itu pegang lalu meletakkannya ke atas meja kecil di samping ranjang.


“Hmm… aku terlalu malu memimpin anu-anu kita,” ucap Joey sempoyongan.


“Kurasa, aku dapat melakukannya dengan baik jika aku mabuk,” sambung Joey sambil mengusap pelan batang milik Rain yang sudah mulai mengeras itu.


“Ck!” Rain menghela napasnya sambil menelan salivanya. Ia tak mampu menahan perasaan senangnya yang kini sedang meluap-luap. Baginya, ini merupakan kesempatan emas jika gadis itu mabuk, karena ia tak perlu berpura-pura lumpuh. Jadi, gadis itu akan ia lahap habis sampai tak berdaya.


“Menu makan siang ku kali ini, sepertinya lebih enak dari biasanya,” gumam Rain lirih sambil menyeringai dengan penuh arti.


...****************...


BERSAMBUNG…

__ADS_1


__ADS_2